The Prince & The Curse of Granades

The Prince & The Curse of Granades
Bab 34 - Teman



Pears berjalan mendekati sebuah perkebunan dengan lahan luas yang begitu tandus.


Lalu Ia berlutut dan menggenggam tanah desa Wedelia di tangannya. Ada sesuatu yang aneh disini. Pears merasa kekeringan ini tidak wajar.


Wilayah mereka berada jauh dari jangkauan Kerajaan Runthera, Ia khawatir makhluk seperti Umoya telah menyerang mereka dan berusaha untuk merampas wilayah mereka tanpa kesadaran rakyatnya.


“Apakah kekeringan ini membawa hal-hal buruk ke desa, Tuan Juno? Maksudku, seperti suatu gangguan misterius yang menyerang para penduduk disini?"


“Aku tidak pernah melihat hal seperti itu terjadi disini, Pangeran. Kami hanya merasa aneh dengan cuaca buruk yang tidak menentu seperti angin kencang ataupun hujan di malam hari yang semakin membuat desa kami kian mengering.” Ujar Tuan Juno sambil menuntun langkah Pears dan pasukan dari Kerajaan memasuki desanya.


“Hmm.. Lain kali aku akan mengajak Paman Hugo kemari agar dia bisa melihat hal lain yang 'tak terlihat' yang ada disini.” Lirihnya.


Para penduduk terlihat berkerumun di sepanjang jalan menuju ke tanah lapang di tengah desa itu untuk menyambut kedatangan Pears.


Hati Pears teriris ketika mereka menyapanya karena kondisi mereka yang cukup memprihatinkan. Pakaian mereka yang lusuh, tubuh yang kurus, dan lingkungan yang tidak layak untuk ditempati membuat Pears semakin menyesal karena terlambat menyadari keadaan miris yang terjadi pada bagian kecil di Runthera ini.


"Tuan, Maafkan aku karena tidak mengetahui kesulitan yang terjadi di desa ini lebih awal." Ujar Pears lirih.


"Tidak ada yang perlu disesali, Pangeran tidak perlu meminta maaf, ini semua sudah menjadi resiko bagi kami karena masih bersikeras menempati desa ini. Seperti yang di katakan Pangeran Jerriel."


"Jika kalian membutuhkan bantuan, istana kami selalu terbuka dan akan mendengarkan apa yang sedang kalian alami. Dan jika kalian butuh bantuan untuk berpindah ke Vleaban, aku akan merasa lebih senang." Ujar Pears.


Tuan Juno terdiam cukup lama sebelum menjawab, "Aku akan mencoba memberi pengertian untuk mereka, Pangeran."


Pears mengangguk sambil tersenyum tipis, "Vleaban benar-benar tempat yang layak untuk kalian huni, disana akan lebih aman di bawah pengawasan kami, dan kalian juga masih bisa berkunjung kesini sesekali. Kami tidak akan mengosongkan desa ini, tapi ku mohon.. pikirkan sekali lagi tentang pindah ke Vleaban."


"Baik, Pangeran."


Lalu Pears menyapa para penduduk Wedelia yang langsung berkerumun di sekitarnya dengan ramah. Ia memberi pengarahan agar tetap tertib selama pembagian bantuan yang dikirim oleh Kerajaan.


Menjadi pengalaman pertama bagi mereka untuk bisa berhadapan langsung dengan salah satu pangeran di Runthera adalah sebuah kehormatan yang tidak akan pernah mereka lupakan.


Mereka begitu mengagumi kerendahan hati Pangeran Pears yang dengan sabar dan lembut memperlakukan setiap orang yang ada di depannya, Ia juga dengan mudahnya berbaur dengan orang-orang di sekitarnya meskipun hal ini juga menjadi pengalaman pertamanya pergi ke pelosok hanya dengan ditemani para pengawal tanpa pamannya ataupun saudaranya yang selalu menjaganya dengan baik selama ini.


Di seberang tempatnya berdiri, Pears bisa mendengar keramaian penduduk yang begitu berisik membicarakan tentangnya.


Dengan sebuah senyuman hangat Pears berjalan menghampiri mereka yang langsung menyambutnya dengan suka cita. Mereka berterimakasih atas kunjungan Pears sekaligus bantuan yang dikirimkan kerajaan.


“Jian, tolong bantu untuk membagikan yang disebelah sana. Barangkali mereka masih ada yang kekurangan,”


Seorang prajurit yang merupakan pengawal Pangeran itu langsung membungkuk patuh begitu Pears memberinya perintah.


Selagi Pears sibuk membantu menurunkan makanan dari kereta dan berjalan membagikannya satu-persatu pada penduduk yang sudah berbaris di depannya, beberapa penduduk nampak seru membicarakan tentang dirinya.


“Dia putra bungsu Kerajaan kita, namanya Pangeran Pears.”


“Lalu dimana ya kedua kakaknya?”


“Pangeran Jerriel dan Pangeran Vins? Aku tidak tahu, mungkin mereka tidak punya waktu untuk mengunjungi kita. Tapi sejak dulu, Pangeran Pears yang selalu peduli kepada rakyatnya. Dia baik dan sangat rendah hati. Seperti Raja Joon.”


“Ah, mungkin saja pangeran yang lain sedang sibuk mengurus kerajaan. Apalagi sejak kepergian Raja Joon, Runthera kita masih berjalan tanpa utusan pemimpin Kerajaan."


“Omong-omong, bukankah Pangeran kita sangat tampan?”


“Ya, dia sangat tampan! Dia sangat serasi dengan Nona Ara ya?"


“Kau benar!”


Obrolan para wanita itu tiba-tiba mendadak sunyi begitu melihat Pears berjalan mendekat dengan senyuman manis.


“Hai, ambil ini ya. Jika masih ada yang kurang, katakan saja. Kalian juga boleh ambil disana.” Katanya sambil menyerahkan dua kantong berisi makanan.


“Tapi, Pangeran. Kami sudah mendapat makanan yang lebih dari cukup.”


“Tidak apa ambil saja, terkadang makanan lebih diperlukan agar energi kalian tetap kuat untuk membicarakan tentang orang lain bersama-sama begini. Ya kan?”


Senyuman lebar di wajah Pears membuat mereka menunduk malu, bagaimana bisa Pangeran mengetahui bahwa mereka sedang membicarakannya?


“Uhmm.. maaf pangeran, kami hanya membicarakan hal yang baik tentang Pangeran dan saudaranya. Dan dia tiba-tiba menjodoh-jodohkan Pangeran dengan Nona Ara.”


Si teman wanita itu tiba-tiba memukul keras lengannya dan seolah begitu malu ketika temannya mengadukan kepada Pangeran tentang apa yang baru saja mereka lakukan.


“Silahkan makan dan jangan lupa untuk berbagi dengan teman kalian ya.” Pears hanya tersenyum dan memilih untuk berjalan meninggalkan para wanita itu.


Dengan langkah melambat, Pears mulai memikirkan tentang dua anak bangsawan yang telah datang membantu penduduknya itu. Swain dan Ara. Dan apa yang membuat mereka begitu dikagumi disini. Ia jadi penasaran seperti apakah dua orang itu.


Salah seorang prajurit menghampirinya dan melaporkan bahwa pasokan yang mereka bawa telah habis, dan ada beberapa penduduk yang masih belum mendapatkan bagian.


Pears memerintahkan prajuritnya untuk kembali ke istana dengan dua kereta agar bisa kembali ke desa dengan membawa persediaan lebih banyak. Meskipun Ia tahu itu akan membutuhkan waktu yang lama lagi, tapi hanya itu yang bisa Ia lakukan.


Dengan khawatir, Pears berusaha memberi ketenangan kepada para penduduk yang belum mendapat pasokan makanan untuk beberapa hari ke depan.


Namun di sisi lain, seorang prajuritnya nampak telah membagikan kembali pasokan makanan kepada penduduk.


“Bagaimana bisa mereka kembali secepat itu? Aku baru saja meminta mereka pergi ke istana untuk membawa pasokan, kan?” Tanya Pears.


“Ya, Pangeran. Tapi mereka tidak membagikan pasokan dari istana. Ada dua orang baik yang datang dan menyuruhnya membagikan ini.” Kata Prajuritnya yang lain.


“Dua orang?” Pears mengedarkan pandangan, “Dimana mereka?”


“Yuka! Lempar bolanya kesini!” Moon Ara berseru di balik pepohonan desa.


Yuka dengan tangan kecilnya berusaha melempar sebuah bola yang terbuat dari kulit kelapa. Dan membuat keduanya tertawa riang.


Berbeda dengan Swain yang berdiri di dekat mereka dengan wajah masam dan lengan bersilang, seperti orang tua yang benci melihat anaknya bermain.


“Moon Ara, apalagi yang kau lakukan? Ayo pulang!”


“Tunggu sebentar, Swain. Aku ingin melihat Yuka sebentar lagi.”


“Tapi disini tidak aman! Apakah kau bahagia ketika orang dari kerajaan itu melihat kita nanti? Lalu mereka menangkap kita dan menyalakan lilin itu lagi? Hah! Jangan membawaku ke dalam situasi yang rumit, Euna!”


“Kenapa mereka harus melakukan itu? Kalian kan baik, mereka tidak akan menangkap kalian seperti itu.” Cetus Yuka begitu polosnya.


Moon Ara mengendikkan alisnya menatap Swain, “Bahkan terkadang Yuka lebih pintar darimu, Swain.”


Keduanya melanjutkan bermain bola tanpa mempedulikan ekspresi wajah Swain yang semakin mengkerut.


“Kau bisa pulang dulu, aku akan menyusul.”


Alis Swain menaut heran mendengar jawaban Moon Ara yang begitu santai. Lantas Ia mendekat lalu menarik pergelangan tangan Moon Ara.


“Dengarkan aku, ayo kita pulang!”


“Ara, tangkap!” Seru Yuka, namun tangan Moon Ara yang ditarik Swain membuat bola itu terlepar melewati mereka begitu saja.


“Lihat! Swain, Lihat! Kau membuatku kalah! Sekarang kau harus mengambil bola itu.” Moon Ara menghempaskan tangan berpura-pura marah.


Swain mulai naik pitam, “Kenapa aku harus melakukannya?!”


“Lalu aku akan pulang bersamamu.” Sambung Moon Ara.


Dengan sebuah helaan nafas keras, Swain hanya bisa pasrah untuk berjalan mencari bola yang masuk ke semak-semak dan terus bergumam seperti tawon.


Kemudian saat Ia kembali, Ia sudah menemukan Moon Ara dan Yuka yang sedang berbincang dengan seorang pria asing.


Dengan cepat Swain menarik Moon Ara untuk bersembunyi di balik punggungnya, dia bahkan menarik Yuka untuk berada di dekatnya. Sementara Ia terus mengamati seorang pria 'berbau' kerajaan yang berdiri di hadapannya dengan wajah ramah yang perlahan berubah menjadi kikuk.


“Siapa kau?” Tanya Swain tajam.


“Aku Pears. Dari Kerajaan Runthera. Kalian—“


“Ka—kau pangeran?” Potong Swain sambil menunjuk Pears dengan bola milik Yuka, dan yang ditanya hanya mengangguk dengan ragu.


“Dan kalian berdua adalah Tuan Swain dan Nona Ara dari Monostera, kan?”


“Monostera?" Pekik Swain, "Uhm.. maksudku, ya kau benar! Tapi bagaimana kau bisa tahu tentang kami?!” Timpal Swain kaget.


“Rakyatku yang memberitahu. Kalian begitu dikagumi oleh mereka. Mereka bilang kalian sangat baik, dan telah banyak membantu kesulitan rakyat kami disini. Aku ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada kalian."


Swain dan Moon Ara saling pandang begitu melihat Pears membungkuk pelan untuk mereka.


Awalnya mereka pikir pangeran ini akan mengetahui siapa mereka sebenarnya, namun reaksinya diluar dugaan mereka.


“Yeah, sama-sama. Sudah seharusnya kita saling menolong. Dan bukankah tidak heran jika mereka mengagumiku yang tampan ini? Ha ha ha,” Swain mengusap dagunya dan tertawa menyebalkan. Namun tawa itu mereda begitu melihat tatapan aneh dari Moon Ara, "Maksudku kita berdua.”


“Apakah kalian kemari hanya berdua? Tanpa bersama pengawal?” Tanya Pears.


“Uhmm.. mereka sudah pulang. Aku menyuruh mereka kembali dengan membawa kereta. Kita sudah biasa berjalan kaki.” Jawab Swain cepat.


“Tapi, bukankah itu berbahaya? Kalian adalah keluarga bangsawan, dan pergi ke luar kota yang jauh dari rumah tanpa penjagaan?”


“Ah, jangan pikirkan tentang kita. Kita sudah terlatih untuk melindungi diri kok.”


Pears hanya tersenyum. Ia melihat sosok cantik di depannya yang hanya diam dan tersenyum. Pears tahu mereka pernah bertemu sebelumnya.


Mahkota bunga mawar di kepala gadis itu mengingatkannya ketika Utophia terlepas dan membuat gadis berjubah besar itu ketakutan di desa. Dan keranjang penuh bunga mawar yang masih Ia simpan. Ia hanya tidak menyangka bisa bertemu kembali dengannya.


“Dengan kejadian ini aku berharap bisa menjadi sebuah hubungan yang baik antara keluarga Kerajaan dan....?”


Sialnya Swain dan Moon Ara menjawab dua nama yang berbeda atas nama Keluarga mereka.


“Mooswa,” Kata Swain.


“Pseud--" Moon Ara yang langsung melotot kepada Swain.


“Mooswa.” Swain menekankan ucapannya. Sambil menjabat tangan Pears. "Nama nenek moyang kami adalah Wintera Mooswa, jadi marga keluarga kami adalah Mooswa."


Sekarang Moon Ara merasa geli mendengar nama aneh yang dikarang oleh Swain itu.


“Aku harap kita bertiga bisa menjadi teman yang baik. Dan jika berkenan, aku sangat mengharapkan kedatangan kalian ke Istana. Kedua saudaraku dan juga yang lain di istana harus mengenal kalian yang sudah banyak membantu salah satu desa kami. Apakah kalian bersedia?” Tanya Pears dengan sangat sopan.


“Ya.” Jawaban Moon Ara yang begitu cepat dan terdengar yakin membuat Swain seketika terbelalak.


“Kami akan datang.” Pungkas Moon Ara dengan senyuman lebar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...