The Prince & The Curse of Granades

The Prince & The Curse of Granades
Bab 28 - Arah



Siang itu beberapa tabib terpercaya nampak berdatangan ke istana.


Usai kejadian yang menghebohkan yang dilakukan oleh Minea tadi malam, beberapa tabib itu diutus untuk melihat keadaan Ratu Ryme.


Jerriel berharap satu persatu dari mereka bisa menyembuhkan Ibunya, atau sekedar mengangkat sesuatu yang telah ditanamkan oleh Minea ke dalam tubuh Ibunya semalam.


Ia merasa sangat kecewa kepada Minea, gadis yang selama ini Ia kagumi nyatanya bisa setega itu melakukan perbuatan keji pada Ibunya yang telah lama menderita. Dan kini Ia telah menganggap gadis itu sebagai seorang pengkhianat di Kerajaannya.


Ia menyesal karena menerimanya di Istana dan memberinya sebuah kepercayaan untuk menjaga Ibunya, sedangkan Minea bisa semudah itu mempermainkan kepercayaannya untuk melancarkan niatnya membunuh Ratu.


“Berikan ramuan ini untuk Ratu, Pangeran.” Kata seorang tabib, memecahkan lamunan Jerriel yang sedang menatap Ibunya dengan tatapan kosong karena pergumulan di pikirannya saat ini.


“Ramuan apalagi itu?” Tanya Jerriel tajam.


“Ini akan meleburkan racun di dalam tubuhnya.”


Rahang Jerriel nampak menggertak keras sebelum akhirnya Ia menepis sebuah botol kecil berisi ramuan yang disodorkan oleh seorang tabib itu, hingga botol itu terlempar keras dan berujung pecah di lantai.


Semua orang di ruangan itu tercekat melihat ramuan bening yang bercampur dengan pecahan botol kaca itu membasahi lantai kamar Ratu yang begitu dingin.


Jerriel bangkit dari duduknya lalu berteriak tepat di depan wajah pria itu, “Sudah kubilang Ibuku tidak keracunan! Dia diserang dengan menggunakan sihir! Apakah kalian masih belum mengerti juga?!”


Semua orang dibuat ketakutan melihat kemarahan Pangeran Jerriel yang bahkan lebih menakutkan ketimbang amukan badai, sepasang matanya yang tajam menatap kepada setiap wajah yang berada di sekitarnya seolah siap mencaci maki mereka semua.


“Jika satu persatu dari kalian terus memberikan ramuan secara bergantian apakah kalian yakin itu bisa membuatnya sembuh? Atau malah semakin memperburuk keadaannya? Atau kalian juga ingin menghabisi Ibuku seperti mereka?!”


Namun suasananya mendadak hening. Tak ada yang berani menjawab pertanyaan Jerriel. Dan mereka hanya tertunduk takut berusaha menghindari tatapan Jerriel.


“Dasar tidak berguna! Sekarang kuperintahkan kalian semua untuk pergi dari sini!!” Sergah Jerriel gusar.


Vins yang melihat Jerriel meledak-ledak itu pun mendekat. Dengan lembut Ia meminta semua tabib untuk meninggalkan kamar Ratu untuk sementara agar Jerriel bisa meredam emosinya.


Tatapan tajam Jerriel mengikuti pungung satu-persatu dari mereka yang meninggalkan kamar Ratu dengan langkah gontai.


Vins menutup pintu bersamaan dengan kegaduhan yang ditimbulkan Jerriel setelah menendang keras sebuah rak hingga beberapa hiasan yang diletakkan disana pun berjatuhan ke lantai.


"AAARGHH!!!" Jerriel mengerang keras.


"Jerriel, tenanglah." Ujar Vins tegas.


"Bagaimana aku bisa tenang dalam keadaan seperti ini, Vins?! Apakah kau tidak cemas melihat apa yang telah terjadi pada Ibu?!" Sergah Jerriel.


"Kami semua juga mencemaskan Ibu. Tapi kemarahanmu itu tidak akan membantu apapun. Cobalah untuk tetap tenang, pasti ada cara untuk menyelamatkan Ibu."


Nafas Jerriel sedang tidak beraturan karena emosinya, Ia hanya terdiam menatap Vins yang berdiri di depannya sedang mengangguk pelan. Mencoba meyakinkan Jerriel bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Namun Jerriel tahu bahwa semuanya tidak semudah yang diucapkan. Serangan makhluk itu masih terus mengancam keselamatan keluarganya dari segala arah, bahkan lewat sebuah cara yang tak terduga. Dan seperti yang sudah jelas terjadi, tidak ada yang bisa membantunya.


Emosi Jerriel perlahan mereda, kemarahannya tadi menyisakan rasa nyeri yang seolah menyesakkan dada. Lalu Ia menjatuhkan lututnya di hadapan ranjang Ibunya.


“Maafkan aku, Ayah. Aku tidak becus melindungi Ibu,” Lirihnya.


Terdengar Jerriel mulai menitihkan air mata sambil menenggelamkan wajahnya di tangan Ibunya yang dingin.


“Kenapa.. Kenapa mereka bersikap kejam kepada kita? Sedangkan Ayah dan Ibu selama ini selalu baik kepada semua orang,” Lirih Jerriel dalam tangisnya.


Vins hanya mengusap pundak Jerriel dan merasa sedih ketika menyadari ucapan Jerriel ada benarnya.


“Tapi percayalah.. tidak semua orang seperti itu, Jerriel.” Meskipun begitu Vins masih berusaha menenangkan saudaranya.


“Aku tidak bisa percaya kepada siapapun lagi sekarang, Vins.” Lirih Jerriel dengan pandangan kosong.


“Aku hanya percaya kepada kalian." Gumam Jerriel, lalu menatap Vins dengan sendu, "Seharusnya aku mendengarkan peringatanmu malam itu. Bahwa perempuan itu membawa petaka untuk Kerajaan kita.”


“Kau tidak seharusnya menyalahkan Minea seperti itu.” Lirih Vins.


“Apa maksudmu? Aku melihatnya sendiri dia sedang menyerang Ibu! Dia memiliki sihir yang selama ini dia sembunyikan dari kita semua! Dan aku tidak akan memaafkannya jika terjadi apa-apa dengan Ibu!” Sergah Jerriel, matanya yang berkaca-kaca menatap ke wajah Ibunya dengan tajam.


"Jerriel, kurasa bukan Minea yang berniat melakukan itu, tapi sesuatu yang mengikutinya sampai ke istana."


Jerriel melirik Vins dengan begitu dingin, "Apa yang kau bicarakan? Kau sedang membela seorang pembunuh yang mencoba membunuh Ibumu? Sudah jelas perempuan itu melakukannya dengan sangat sadar, Vins!"


"Tapi hal itu mengingatkanku pada pengawal Leruviana yang menyerang kita beberapa waktu yang lalu." Lirih Vins.


“Ini salah Pears karena telah membawa gadis terkutuk itu ke Istana. Seandainya dia tidak menyuruhnya kesini, ini semua tidak akan terjadi.” Desis Jerriel.


Vins berdecak, “Jerriel, berhentilah menyalahkannya. Pears juga tidak tahu bahwa akan begini akhirnya. Waktu itu dia hanya ingin membuatmu senang, kan?”


Jerriel menghela nafas dalam dan mulai terisak, lalu Ia berkata dengan lirih, “Ini semua salahku.. salahku."


"Sudah, Jerriel. Berhenti menyalahkan dalam situasi apapun. Itu tidak akan membantu memperbaiki yang sudah terjadi." Timpal Vins tenang sambil mengusap punggung Jerriel.


Sambil menghapus air matanya, Jerriel menatap Vins dan berkata, “Aku sudah berlebihan marah kepada Pears. Sejak tadi malam aku hanya berteriak kepadanya ketika dia mencoba meminta maaf. Aku harus menemuinya, dimana Pears?”


......................


Sebuah pintu besar terbuka dan menimbulkan sebuah suara decitan pintu yang terdengar menakutkan.


Di lorong yang gelap dan lembab, Pears melangkahkan kaki menuruni tangga menuju ruang bawah tanah yang digunakan sebagai penjara bagi para penjahat di Kerajaan.


Beberapa pelayan berjalan disampingnya lalu membagikan bubur seadanya untuk dimakan para tahanan.


Keadaan mereka begitu menyedihkan, mereka nampak kurus kering dan tinggal menunggu hari kematian.


Suasananya yang lembab dan kotor membuat kesehatan dan kejiwaan mereka terganggu. Beberapa dari mereka langsung menyambar bubur yang di bagikan seperti seekor serigala yang kelaparan.


Dan diantara mereka juga ada yang terus berteriak ketika melihat Pears melintas diiringi beberapa pengawal. Suara mereka yang bersahutan terdengar menggema. Ada yang meminta tolong, meminta ampunan agar dibebaskan, dan ada juga yang terang-terangan memaki Pears dengan kata-kata kasar.


Hingga salah seorang penjaga tahanan memukul jeruji besi penjara dengan begitu keras.


DUNGGG!!


"DIAM SEMUANYA! Atau aku akan membakar ruang bawah tanah ini untuk menghanguskan kalian!" Teriaknya lantang dan berhasil membuat semua tahanan itu seketika terdiam.


Mereka dihukum karena melakukan kejahatan seperti mencuri emas milik Kerajaan, para pemberontak, pelaku kekerasan seksual, para penagih pajak yang mengatas namakan kerajaan, dan kejahatan lainnya yang merugikan Runthera.


Dan kasus yang paling sadis dan terhangat adalah kasus percobaan pembunuhan oleh seorang gadis pelayan kepada sang Ratu.


Di sebuah bilik penjara yang terletak paling ujung, Pears menemukan Minea duduk di sudut ruangan di dalam penjara dan terus menangis dengan pelan.


“Ini makananmu,” Kata pelayan yang mengangsurkan semangkuk bubur lewat celah besi.


Minea mengangkat pandangan lalu terdiam ketika melihat sosok Pears yang berdiri di depan ruang tahanannya sedang menatapnya dengan nanar, kemudian Minea berjalan mendekat, “Pears...”


“Pears, aku tidak melakukannya! Aku tidak memiliki niat untuk membunuh Ratu! Aku tidak mengingat apapun lagi setelah aku membuang semua benda yang kudapat dari desa seperti perintah Pangeran Vins!” Isak Minea.


“Aku tidak memiliki sihir apapun! Dan aku tidak melakukan perjanjian dengan setan manapun seperti yang dikatakan Jerriel! Tolong percayalah padaku Pears... hiks,”


Gadis itu berlutut di hadapan Pears yang hanya menatapnya lurus, “Tolong keluarkan aku dari sini, aku tidak melakukan itu, Pears. Aku tidak mau di siksa seperti ini!! Kumohon percayalah padaku!”


Minea terus berceloteh dengan deraian air mata berharap Pears bisa mempercayai ucapannya.


Namun Pears hanya diam menatapnya datar tanpa mengatakan apapun.


Hal itu semakin memperjelas bahwa Minea telah banyak kehilangan kepercayaan yang telah di dapatnya dari keluarga Kerajaan. Dan Ia telah mengecewakan mereka dengan sikapnya yang diduga berpura-pura baik selama ini.


“Jika semua makanan sudah dibagikan. Kita bisa kembali ke Istana.”


Hanya itu yang keluar dari mulut Pears yang sedang menatap Minea dengan tajam, namun ucapannya sama sekali tidak tertuju kepada yang ditatapnya. Mengacuhkan segala penjelasan yang diucapkan Minea terhadapnya.


“Pears.. Pears! Tolong percayalah padaku!!”


Teriakan Minea yang masih menangis sangat mengiris hati Pears yang kini berjalan meninggalkannya.


Pears mempercepat langkah seiring air matanya mulai menetes ketika suara Minea yang terdengar pilu terus terngiang di kepalanya, Ia merasa kasihan padanya. Namun di sisi lain Ia juga merasa kecewa dan masih tidak menyangka akan tindakan keji yang dilakukan gadis itu.


Aku berharap kepercayaanku tidak salah kepadamu. Tapi maaf, Minea. Aku bukan Jerriel. Aku tidak bisa berbuat banyak jika semua keputusan berada di tangan Jerriel...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan like, komentar, dan vote yaa :)


Terimakasih!