
“Huh.. huh... haaah, Moon Ara!” Teriak Swain yang berusaha menyamai langkah Moon Ara yang telah jauh berjalan di depannya.
“Moon Ara tunggu!”
“Huhh.. aku detik ini menjadi manusia. Kenapa kau tidak bilang jika tempatnya jauh dan sepanas ini! Kau mau mengerjaiku ya?”
“Hey, bagaimana jika kau menggendongku saja?”
“Astaga Moon Ara, kenapa kau mendadak tuli?!!!!”
“HEY!”
“Aaduh!” Moon Ara berdecak kesal ketika kerikil yang dilempar oleh Swain mendarat dengan sadis di kepalanya.
Ia memang berusaha menutup telinga dari Swain yang terus mengeluh di sepanjang perjalanan.
Lelaki itu terus berdengung seperti tawon hanya karena kakinya mulai kesemutan akibat berjalan jauh, dan juga karena udaranya yang terlalu panas.
Panglima macam apa sih dia ini?!. Gerutu Moon Ara dalam hati.
Gadis itu berhenti lalu berbalik menatap Swain yang terus mengomel, “Kau mau membantuku atau tidak?”
“Tentu saja,” Sahut Swain.
“Maka diamlah dan jangan banyak mengeluh!” Tandas Moon Ara lalu melanjutkan perjalanannya.
Mereka berjalan di tengah tanah yang terbentang dengan begitu luas namun sangat tandus di bawah teriknya matahari yang terasa seolah membakar kulit.
“Bagaimana aku tidak mengeluh jika kita terus berjalan selama hampir setengah hari. Kau tidak tahu betapa kakunya kaki ini? huh? Kau bisa memakainya untuk menggali tanah.. coba saja.”
“Sabar, sebentar lagi kita sampai,”
“Sudah lima puluh kali kau mengatakan itu sedari tadi tapi kita tidak sampai-sampai juga hingga sekarang!” Cetus Swain.
“Tck.. Umoya ini,” Desis Moon Ara.
Moon Ara menghentikan langkahnya dan mengedarkan pandangan.
“Nah, apalagi sekarang? Kau lupa jalannya?” Tanya Swain.
“Kau lihat bukit yang disana itu?”
Moon Ara menunjuk ke arah selatan, menembus silau cahaya mentari yang menerpa mereka. Terlihat jalan menuju ke sebuah bukit yang nampak tandus.
“Kau yakin itu bukit? Bukan gundukan kotoran gajah yang mengering?”
“Sekering itulah desa yang kubicarakan padamu.”
“Bagaimana bisa mereka bertahan hidup diatas kotoran gajah yang mengering?” Celetuk Swain.
Moon Ara memilih tidak menanggapi ucapan konyol Swain.
“Nama desa itu Wedelia,”
“Aku sudah kesini berkali-kali. Aku mencoba membantu kesulitan mereka. Seperti menumbuhkan lahan tani mereka, mengalirkan sungainya yang kering, dan mengumpulkan makanan untuk hewan ternak mereka yang tersisa. Tapi kali ini aku ingin kau membantu memasak untuk dimakan oleh mereka. Pasti mereka sangat menyukainya.” Ujar Moon Ara
“Memangnya siapa pemimpin mereka? Kenapa mereka diacuhkan begitu saja?" Tanya Swain.
“Aku tidak tahu,” Jawab Moon Ara lirih sambil melanjutkan langkahnya.
Begitu mereka sudah memasuki pedesaan yang mengalami kekeringan itu, Moon Ara langsung mengayunkan kekuatan sihirnya untuk menghijaukan kembali setiap tumbuhan mati yang mereka lewati.
Pohon-pohon perlahan berbuah, rerumputan mulai bertumbuh, sayur-sayuran yang ditanam di perkebunan menjadi segar, dan persawahan mereka kembali subur.
Dengan sekali hembusan, sungai yang mengering perlahan mengalirkan debit air yang tenang. Dan semua itu membuat Swain takjub akan kekuatan Moon Ara.
“Whoa—aku tidak tahu jika sihirmu begitu hebatnya, Moon Ara. Darimana kau mendapat kekuatan seperti ini huh?”
“Aku juga tidak pernah memahaminya, Swain. Paman Shaga hanya membantuku mengendalikannya. Sehingga aku bisa berhenti membuat kekacauan ketika kekuatanku semakin membesar,” Ujar Moon Ara dengan sebuah senyum tipis yang perlahan luntur.
“Tetapi dulu Ayahku malah memanfaatkan kelemahanku yang belum dapat mengendalikan sihir ini, untuk mengacaukan musuhnya.” Sambungnya.
Swain menggelengkan kepala dengan heran, “Kurasa Raja Erys bukanlah Ayahmu, Euna. Dia selalu memperlakukanmu seperti iblis tidak punya hati.”
Andai Swain tahu bahwa Moon Ara membenci kalimat semacam itu. Tapi Ia lebih benci pada kenyataan bahwa ucapan Swain ada benarnya.
“Ara!!!”
Sebuah teriakan dari jauh mengalihkan perhatian Moon Ara dan Swain.
Seorang gadis kecil menghampirinya dengan pakaian lusuh. Tubuhnya yang kecil dan kurus membuat Swain prihatin. Separah inikah kekeringan yang mereka alami?
“Hai, Yuka,” Sapanya, lalu menyambutnya hangat ke dalam pelukannya. Moon Ara mengangkat tubuh gadis kecil itu dan memeluknya erat.
“Kenapa kau baru datang, Ara?” Tanya anak kecil itu sambil menatap Moon Ara sambil memainkan rambut panjang Moon Ara yang terurai.
“Maafkan aku ya, aku sedikit terlambat.”
Swain bisa melihat kedekatan Moon Ara dengan gadis kecil itu ketika dia bercerita tentang Ayahnya yang sempat pergi ke seberang selama berhari-hari untuk membawa makanan ke desa mereka.
Ia juga mengatakan bahwa kelinci peliharaannya mati karena kelaparan, dan sapi-sapi di desa mereka menjadi kurus dan kehausan sejak Moon Ara pergi.
“Yuka, kuharap kamu tidak sedih lagi hari ini. Karena aku membawa temanku, dia sangat pandai memasak, jadi kalian bisa makan enak hari ini. Namanya Kakak Swain.”
“Benarkah? Yeaaay! Terimakasih, Kakak Swain!!” Seru Yuka yang mengulurkan tangannya kepada Swain agar bisa memeluknya.
“Yuka bisa memanggilku Swain,” Timpal Swain lalu melirik Moon Ara dan tersenyum.
"Baiklah, Swain! Aku senang bisa bertemu dengan Swain!" Seru Yuka dengan nada bicaranya yang menggemaskan, Ia yang masih berada di gendongan Ara itu berusaha memeluk Swain dengan erat.
Setelah itu Yuka melepas pelukannya lalu menunjukkan senyuman lebarnya kepada Ara dan Swain, sementara Swain sedang termangu melihat yang baru saja terjadi.
“Nah Yuka, sekarang kau bisa membantu kami untuk memetik hasil kebun? Agar kita bisa memasaknya.”
Yuka mengangguk semangat, setelah itu Ia turun dan berjanji akan kembali setelah memanggil teman-temannya.
Mendengar ucapan Moon Ara, pipi Swain yang sudah merona semakin memerah karena malu, “Tidak ada yang memperlakukanku semanis itu sebelumnya,”
Moon Ara tertawa melihat wajah lucu Swain.
“Eh, tadi kau bilang kau sudah membantu mereka agar tidak kekeringan lagi. Tapi kenapa mereka masih kesulitan setelah kau pergi?”
“Itulah kelemahannya, sihirku tidak bisa menjadi permanen jika aku melakukannya di alam manusia. Jadi detik ini semuanya menjadi hijau, tapi dalam hitungan jam semuanya akan kembali seperti semula.”
Para penduduk desa Wedelia menemui Moon Ara dan Swain di salah satu rumah warga. Rumah itu adalah milik Pak Juno, orang baik yang sudah menolongnya ketika Ia diserang oleh Fiers di tengah hutan waktu itu.
Diantara mereka turun mengambil hasil panen yang perlahan tumbuh, memberi makan ternak mereka hingga tidak lagi kelaparan, dan memenuhi ladang dengan berbagai hasil kebun.
Tawa anak-anak kembali terdengar ketika mereka mendapat energi dan lingkungan yang baik untuk bermain. Dan para penduduk kembali bersemangat menjalankan aktivitas mereka sebagai petani dan peternak saat desa mereka tidak mengalami kekeringan lagi.
“Nona Ara, aku tahu kau akan datang sejak melihat tumbuhan perlahan kembali menghijau.” Kata Tuan Juno, Ayah dari Yuka yang merupakan seorang pemimpin desa Wedelia. Sembari meletakkan dua cangkir teh hangat di depan Swain dan Moon Ara.
“Bukankah ini memang sudah saatnya musim panen, Tuan?” Jawab Moon Ara dengan nada riang.
“Alam selalu bersahabat denganmu, aku tidak tahu dengan cara apa Tuhan melahirkanmu ke dunia ini. Karena kau selalu membawa kebaikan dan selalu menolong desa kami,”
Swain tersenyum masam melihat Moon Ara tersenyum aneh ketika dipuja-puja oleh penduduk desa.
“Bagaimana kabarnya keluarga Nona Ara?” Tanyanya.
“Kami baik, seperti yang terjadi di Wedelia sekarang ini. Ohya, Ayahku titip salam untuk kalian semua!” Kata Moon Ara dengan senyum manis.
“Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk Tuan Shaga,”
Swain mencolek belakang kepala Moon Ara lalu berbisik, “Ayahmu...?”
Moon Ara tersenyum dan menyuruhnya diam.
“Tuan Juno, aku harap kalian masih bisa meluangkan waktu untukku dan temanku yang pandai memasak ini, dengan khusus aku membawanya kesini agar kita bisa membuat acara makan bersama." Moon Ara merangkul Swain yang hanya tersenyum kikuk.
"Yaa.. anggap saja sebagai perayaan hasil panen di Wedelia hari ini. Apakah anda berkenan, Tuan?”
“Terimakasih banyak, Nona. Aku tidak bisa menolak apapun pemberian Nona Ara kepada kami.”
Tuan Juno turun dari tempat duduknya untuk bersujud syukur di depan mereka namun Moon Ara langsung menahannya untuk melakukan itu dan menuntun beliau untuk kembali duduk di kursinya.
“Aku senang jika kalian suka menerimanya,” Kata Moon Ara diiringi senyuman lebar.
Para penduduk mengumpulkan hasil panen ke tengah desa, para ibu menyiapkan beberapa alat untuk memasak dan Swain langsung mengolah semua hasil panen menjadi makanan besar untuk para penduduk.
Moon ara membantu membagikan makanan untuk mereka yang langsung melahapnya dengan semangat. Tubuh kurus mereka akan dipenuhi nutrisi dan segera sehat kembali.
“Makanlah yang banyak,” Seru Moon Ara.
“Ini untuk Nona Ara dan Tuan Muda Swain,”
Seorang wanita menghampirinya dengan membawa dua piring berisi makanan lengkap.
Moon Ara tersenyum padanya, “Kami masih kenyang. Makanan ini untuk kalian saja,”
“Tapi Nona, setidaknya makanlah sedikit bersama kami. Kalian harus menikmati lezatnya makanan ini,”
“Terimakasih, Bu. Aku akan senang jika kalian mau menghabiskannya,” Kata Moon Ara lembut.
“Baiklah, terimakasih banyak Putri.” Wanita itu membungkuk padanya lalu berjalan kembali ke arah kerumunan penduduk.
Moon Ara mengedarkan pandangan, sejak makanan siap Ia tidak melihat keberadaan Swain dimanapun.
Ia berjalan mengelilingi desa hingga Ia menemukan Swain yang sendirian di depan sebuah kandang kuda milik warga. Tampaknya Ia sedang merakit sesuatu.
“Swain, apa yang kau lakukan disini? Kau tidak ingin berkumpul dengan mereka?” Tanya Moon Ara.
“Berdirilah sedikit menjauh, Moon Ara. Aku sedang membuat sebuah kereta kuda.” Sahut Swain yang sibuk dengan palu dan kayu yang Ia susun.
Bukannya mematuhi peringatan Swain, Moon Ara justru melangkah mendekat dan mengamati hal yang sedang dikerjakan oleh lelaki itu.
“Kenapa kau membuat kereta? Ohh, kau lelah berjalan sejauh itu dari desa ini ke Goa Pseudo? Astaga, Swain. Kau ini panglima...”
Swain meletakkan palunya ke tanah lalu menatap Moon Ara dengan datar, “Biasakan bertanya sebelum berbicara sembarangan, Moon Ara. Aku membuat kereta kuda untuk penduduk desa ini, karena aku tahu mereka membutuhkan sebuah kereta yang layak untuk dikendarai saat pergi ke luar desa dan membawa makanan kesini.”
“Mereka harus pergi ke Kerajaan dan melaporkan kekeringan ini, dan meminta pasokan makanan lebih banyak. Lagipula sihirmu itu tidak bisa selamanya membantu mereka, bukan?” Sambung Swain.
Baru kali ini Ia mendengar sebuah penuturan bijak dari mulut seorang Swain yang terkadang bersikap konyol.
"Kali ini biarkan mereka meminta bantuan kepada Kerajaannya. Bagaimana bisa Kerajaan tidak merawat mereka seperti ini. Mereka benar-benar bersikap acuh dan tidak bertanggung jawab." Decak Swain.
“Kalau begitu biarkan aku membantumu,”
Moon Ara hendak mengambil tumpukkan kayu, namun Swain langsung mencegahnya.
“Lebih baik kau beritahu Tuan Juno agar mereka bersiap untuk pergi ke Kerajaan hari ini juga. Agar mereka bisa secepatnya mendapat bantuan dari Kerajaan mereka.”
Ia mengangguk dan bergegas pergi namun sedetik kemudian Ia kembali berbalik ketika mengingat ada yang ingin Ia cari di Kerajaan, “Apakah aku boleh mengantar mereka kesana, Swain?”
“Tidak! Jangan coba-coba lagi! Kau mau cari mati ya?!” Sambar Swain.
"Aku hanya ingin membantu Tuan Juno untuk menyampaikan pada pemimpin mereka tentang yang sedang terjadi disini."
"Omong kosong! Pokoknya kau tidak boleh pergi kesana. Tuan Juno dan para penduduk disini sudah cukup kesulitan, Euna. Lalu apa yang akan terjadi jika Umoya setengah manusia sepertimu datang bersamanya ke istana? Kau bisa bayangkan apa yang mereka siapkan untuk menangkapmu?"
Moon Ara tidak membantah, namun tidak juga mengiyakan. Swain menyadari sebuah senyum aneh yang terukir di wajah gadis itu kali ini.
"Kau mau mencari si Victor itu lagi dan menguliknya tentang kehidupan Pangeran di Kerajaan itu, kan?" Bidik Swain. "Jika benar begitu. Aku tidak akan menutupi kenakalanmu lagi di depan Tuan Shaga. Aku serius."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, dan vote yaa :)
Terimakasih!