The Prince & The Curse of Granades

The Prince & The Curse of Granades
Bab 27 - Penyihir Di Runthera



"Vins, apa yang kau lihat?”


Pertanyaan Hugo yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamarnya membuat Vins sedikit terkejut.


“Masuk saja, Paman.” Lirih Vins.


Hugo melangkah masuk ke kamar Vins lalu duduk di sebuah sofa yang menghadap ke arah Vins yang sedang duduk di tepi ranjangnya, “Aku tidak sengaja melihatmu bertengkar dengan Jerriel di lorong.”


“Kenapa kau menegurnya seperti itu?” Tanya Hugo dengan hati-hati.


Terdengar Vins menghela nafas sebelum meyakinkan dirinya untuk bercerita keoada Hugo tentang apa yang Ia rasakan tadi, “Aku hanya ingin melindungi mereka, tapi Jerriel menganggapku berlebihan,”


"Melindungi mereka dari apa?"


“Aku tidak mengerti, Paman. Aku merasa malam ini Minea sedang membawa sesuatu yang berbahaya di kerajaan kita.”


“Seperti apa?”


“Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku hanya melihatnya samar-samar dan kemudian menghilang, begitu seterusnya hingga aku merasa pusing. Aku merasa ada sesuatu yang mengikuti Minea.”


“Kau bisa melihat sesuatu itu?”


“Kurasa begitu. Tapi Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, Paman. Aku hanya bisa merasakannya. Itu sebabnya aku meminta Minea untuk membuang semua benda yang di dapatnya dari luar, yang mungkin saja tersimpan sesuatu yang mistis di dalamnya.”


Mata Hugo memicing penuh waspada, “Aneh sekali, sikapmu seperti seseorang yang memiliki indera keenam saja.”


Vins tercenung mendengar ucapan Hugo yang seolah mencurigainya.


“Tapi indera keenam tidak bisa dimiliki oleh seseorang begitu saja tanpa pengalaman tertentu tentang dimensi lain.” Sambungnya.


“Apakah kau baik-baik saja?” Tatapan Hugo yang kini seolah menerawangnya membuat Vins merasa semakin gugup. Bagaimana jika Hugo tahu bahwa dirinya sedang menekuni buku tentang Umoya itu?


Dan bahkan Ia pernah memasuki dunia tersebut hingga bertemu seorang pemimpin suatu sekte dan menceritakan semua gangguan yang dialami oleh keluarganya.


“Aku tidak tahu, Paman. Aku hanya merasa sedikit pusing sekarang.” Vins mengalihkan topik yang sedang tertuju padanya.


“Kau mengkhawatirkan tentang serangan Umoya itu lagi ya?”


Vins menatap Hugo dengan sendu lalu mengendikan bahunya.


“Jangan khawatir, di kerajaan kita ini memiliki sebuah pelindung yang cukup kuat untuk menahan makhluk seperti Umoya. Jadi mereka akan kesulitan untuk menembusnya.”


"Penyerangan yang dilakukan oleh pengawal Leruviana waktu itu apakah ada hubungannya dengan bangsa Umoya yang itu, Paman?"


"Dinding pelindung itu memang sempat ditembus oleh beberapa dari makhluk itu kemarin, tapi sekarang dinding itu sudah kembali seperti semula."


“Tapi bagaimana jika mereka menemukan cara lain untuk menyelinap masuk ke Kerajaan kita, Paman? Mereka adalah mahluk astral yang bisa melakukan apa saja di luar logika. Lalu apa yang harus aku lakukan?”


“Tidak akan ada yang terjadi seperti dulu, Pangeran. Percayalah padaku. Semuanya akan baik-baik saja."


“Tapi, Paman—“


“Selamat malam.” Tutup Hugo sambil beranjak dari sofa itu.


Melihat Hugo yang memotong pembicaraannya seperti itu membuat Vins merasa tidak seharusnya Ia meributkan apapun lagi.


Lagipula Hugo lebih tahu tentang segalanya ketimbang dirinya, jadi untuk apa dirinya panik sedangkan Hugo bisa setenang itu.


“Selamat malam, Paman.”


Sepeninggal Hugo dari kamarnya, Vins memutuskan untuk tidur dan melupakan semua yang bergumul di otaknya.


Namun semua ketenangan itu seakan menjadi palsu ketika kini sepasang kaki terlihat sedang berjalan dengan pasti menembus kegelapan di lorong istana.


Semua penduduk istana sedang nyenyak dalam dunia mimpi, tidak satupun dari mereka menyadari apa yang sedang memburu kesunyian malam mereka di dalam istana saat ini.


Tapi ketika ada seseorang yang tak sengaja memergokinya dan mencoba menghalangi langkahnya, sosok itu seketika menyemburkan sihirnya dan membuat orang itu tumbang seketika.


Langkahnya berhenti di depan pintu sebuah kamar utama istana. Senyuman sinis terukir di wajahnya. Lalu dalam hitungan detik pintu itu sudah terbuka dengan keras tanpa disentuhnya.


Perlahan langkahnya mendekati ranjang dimana Ratu dibaringkan dalam tidur panjangnya.


Kilatan merah mewarnai kedua bola matanya seiring sebuah api mengobar di kedua telapak tangannya. Perlahan angin yang bertiup cukup kencang memenuhi ruangan itu hingga menghempaskan beberapa benda di sekitarnya.


Korden putih di ruangan itu melambai-lambai dengan kencang, buku-buku dan beberapa benda ringan yang diletakkan di meja dan juga kabinet pun serentak berjatuhan.


Semua gerak-geriknya bukanlah seperti manusia.


Ia mendekati wajah Ratu dan menyeringai aneh. Tangan kanannya yang mengeluarkan cahaya api merah di letakkannya di atas tubuh Ratu. Cahayanya begitu kuat hingga menembus lapisan kulit Ratu.


Perlahan wajah Ratu menunjukkan sedikit reaksi atas serangan itu. Dan yang menjadi targetnya adalah jantungnya.


"Minea?"


Jerriel terpaku di ambang pintu ketika menemukan Minea berada di kamar ibunya, terlebih ketika melihat gelagat aneh yang ditunjukkan Minea saat ini.


Ia sontak mengunci tubuh Minea dari belakang dan berteriak keras di telinganya.


“APA YANG KAU LAKUKAN PADA IBUKU?!?!”


Minea sontak berteriak dan terus meronta seperti orang kesetanan.


Jerriel segera menyeret tubuh Minea menjauh dari pembaringan Ratu.


“Lepaskan aku!!” Jerit Minea sambil menghempaskan tangannya hingga membuat Jerriel sedikit terpental.


Jerriel sempat terheran melihat Minea membuatnya terhempas dengan kuat.


“Apakah kau berusaha membunuh Ibuku?!” Sergah Jerriel yang tersulut amarah begitu melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Minea mencoba mencelakai Ibunya.


Tiba-tiba sakit kepala menyerangnya kembali. Teriakan yang Ia lontarkan dan juga emosi yang telah menguasainya semakin membuat kepalanya terasa berat dan seolah berputar hebat.


Dari pantulan cermin di dekatnya, mulai terlihat helaian rambutnya kembali menyala dengan warna merah yang menyilaukan. Namun Jerriel tidak menyadari perubahan itu.


Lali Minea menatap Jerriel dengan tajam sambil tertawa keras, “Whoa... Jerriel-ku yang sudah dewasa, kau sangat pintar!” Cetus Minea.


“Baru saja aku terbangun dari tidur karena ingin meminta maaf padamu atas sikap Vins yang kasar, tapi Tuhan menunjukkan sesuatu yang lain! Aku percaya padamu tapi kenapa kau mengkhianati kepercayaanku Minea?!” Sergah Jerriel.


Menghiraukan kebencian di wajah Jerriel, Minea justru bersendakap dengan angkuhnya, “Rupanya kau tidak sepandai yang terlihat, Jerriel. Kau masih begitu lugu dan mudah dikelabui, Hahaha!”


Tanpa sadar air mata kini mengalir dari kedua mata Jerriel, “Tapi kenapa kau melakukan itu?! Kenapa kau mencoba membunuh Ibuku?!”


“Aku hanya ingin membebaskannya dari penderitaan. Aku ingin mengantarkan nyawa Ibumu langsung ke neraka!!”


Jerriel mengerang melihatnya tertawa nyaring, melupakan kepalanya yang terasa kian berat Jerriel melangkah maju lalu menyudutkan tubuh gadis itu ke tembok dengan cukup keras.


“Aku bersumpah kepada diriku sendiri, bahwa aku akan menghabisi siapapun yang mencoba menyentuh Ibuku! Termasuk dirimu Minea!!!” Teriak Jerriel di depan mata Minea yang masih tak nampak merasa bersalah itu.


Minea tersenyum miring lalu membelai lembut rahang Jerriel yang mengeras, namun segera dihempaskan oleh Jerriel.


“Mulutmu begitu manis, Jerriel. Tapi kita lihat saja siapa yang lebih dulu terkirim ke neraka. Aku atau Ibumu yang sekarat itu?”


“MINEA AKU AKAN MENGHABISIMU!!!”


Vins tersentak dari tidur lelapnya ketika mendengar teriakan seseorang yang terdengar cukup brutal tengah malam begini. Ia yang kamarnya berdekatan dengan kamar Ratu itu pun langsung bangkit lalu berlari ke sumber keributan.


Ketika sampai di ambang pintu kamar Ibunya, Vins terkejut melihat Jerriel berada di dalam kamar itu bersama Minea yang sedang disudutkannya ke dinding.


“Jerriel, ada apa?!” Tanya Vins panik.


Ia bergegas masuk untuk melerai keduanya dan menenangkan Jerriel yang nampak sangat marah itu. Jerriel masih berteriak di depan wajah Minea yang hanya tersenyum tipis menatapnya.


“Hey, kau baru saja ketinggalan dramanya.” Kata Minea dengan seringaian aneh sambil menatap Vins.


Jerriel menggertak penuh amarah sambil mengunci erat kedua tangan Minea agar tidak memberontak.


Satu persatu penghuni istana berkerumun di depan pintu kamar Ratu.


“Dia penyihir! Dia sudah mencoba membunuh Ibuku, dengan kekuatan sihirnya!” Seru Jerriel dengan emosi yang membuncah.


“Apa?! Minea—“ Pears seolah kehabisan kata. Ia bisa melihat asap berwarna merah yang mengelilingi tubuh ibunya, dan juga cahaya merah yang menyala di telapak tangan Minea saat ini.


Ia menatap Minea dengan tidak percaya sekaligus merasa sangat kecewa kepada temannya itu.


"Aku hanya membantunya agar bisa lebih cepat mati! Jangan halangi aku!" Tandas Minea lantang.


Kedua tangan Jerriel mengepal keras, Ia berjalan ke arah meja lalu meraih sebuah pisau yang digunakan untuk mengupas buah. Kemudian di sodorkannya dengan cepat di depan wajah Minea.


Bahkan gadis itu tidak merasa takut ketika ujung pisau berada tepat di depan bola matanya, Ia justru tersenyum sinis. Namun yang terkejut adalah orang-orang di sekitar yang langsung menarik tubuh Jerriel agar menjauh dari Minea sebelum hal yang lebih buruk terjadi.


“Jerriel, tenangkan dirimu. Kita bisa membicarakan ini baik-baik.” Kata Hugo.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan, Paman! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bahwa Minea mencoba membunuh Ibu dengan sihirnya! Dia penyihir! Dan dia harus dihukum dengan sangat berat!” Sergah Jerriel.


Tiba-tiba Minea berteriak dan menghempaskan tubuhnya setelah jemari Hugo menyentuh bahunya. Dan suatu benda langsung terlempar ke lantai.


Minea yang tergeletak di sudut kamar Ratu membuka mata dan merasa bingung melihat tatapan mengerikan semua orang yang terlihat sedang menghakimi dirinya saat ini.


Ia mendongak pada Jerriel yang menatapnya dengan tajam. “J-jerriel.. apa yang terjadi?“


“Jangan berpura-pura lagi, Minea! Kau akan menerima akibat dari perbuatanmu!” Tandas Jerriel tegas lalu memanggil pengawal untuk melempar Minea ke dalam penjara bawah tanah dan membiarkannya mati membusuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan like, komentar dan votenya yaaa..


Terimakasih! :)