The Prince & The Curse of Granades

The Prince & The Curse of Granades
Bab 32 - Jiwa Yang Terkurung



Menara itu.


Suara-suara memilukan. Dan suatu hal ganjil yang dikurung disana membuat Moon Ara hampir gila.


Dengan sangat jelas peringatan yang dilontarkan oleh Shaga masih berputar di pikirannya. Apalagi tiap kali Ia berada di sekitar hutan pinus itu.


"Jauhi hutan itu. Demi keselamatanmu."


Tapi bagaimana bisa ketika berada di desa Wedelia yang letaknya cukup jauh dengan hutan 'mati' dimana Granades berada itu, Ia masih bisa mendengar jerit tangis memilukan seseorang dari sebuah menara hukuman yang pernah ditemukannya waktu itu.


Suara itu sayup-sayup terdengar, tetapi seolah mengusik ketenangan Moon Ara yang berusaha mengabaikan rintihan itu.


"Ara,"


Panggil Yuka lirih, membuat Ara seketika tersadar akan situasi di sekelilingnya saat ini.


Ditengoknya Yuka yang nampak mengantuk dan berbaring di sampingnya itu kini sedang menatapnya dengan cemas, "Ada apa, Ara? Kenapa kau tidak tidur? Kau tidak bisa tidur ya?"


"Uhm.. Tidak, Yuka. Tidak ada apa-apa. Tidurlah, aku akan tetap disini." Katanya, sambil menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran ranjang dikamar Yuka lalu mengusap lembut rambut lurus bocah itu.


Yuka mengangguk lalu kembali meringkuk di dekatnya, "Ara.. apakah Ayah akan pulang malam ini dengan membawa layang-layang yang besar?"


"Kalau menurutku.. Ayahmu akan sampai di rumah besok, karena.. yeah, kau tahu kan perjalanan menuju ke istana di kota itu sangatlah jauh untuk dilalui. Dan tentu saja Ayahmu akan membawa layang-layang yang besar seperti yang kau inginkan. Dan juga banyak hal yang dibutuhkan disini." Ujar Ara lembut.


"Nanti ajari aku untuk memainkannya ya, Ara!"


Moon Ara hanya tersenyum dan mengangguk.


"Swain juga harus ikut bermain bersama kita!" Imbuh Yuka riang.


"Tentu saja. Dia harus ikut!"


"Ara.. istana itu seperti apa?" Tanya Yuka lagi.


"Istana adalah sebuah bangunan besar dan megah, memiliki taman yang indah, dan semua yang diinginkan selalu tersedia. Yang menjadi tempat tinggal ternyaman bagi keluarga Kerajaan. Seorang Raja, Ratu, Pangeran, Putri, dan semua prajurit yang kuat ada disana."


"Ara pernah pergi ke istana?"


Untuk sejenak Moon Ara tertegun mendengar pertanyaan sederhana dari Yuka. Entah mengapa Ia merasakan sedikit sesak di relung hatinya yang terdalam ketika pertanyaan itu seolah menuntutnya untuk mengingat darimana Ia berasal.


Tentu saja Ia pernah pergi ke istana, bahkan Ia pernah tinggal di dalam sebuah istana yang sangat megah sekaligus terasa begitu dingin. Dan bahkan saat ini Ia telah pergi dari istana itu.


Namun ingatannya hanya berujung di Granades. Satu-satunya istana yang Ia ingat, yang bisa dibilang sebagai rumah baginya ketika masih menjadi salah satu putri yang sempat diagungkan di tanah itu.


Yang saat ini tidak lagi dipijakinya karena sebuah kesalahpahaman dan sebuah perbedaan prinsip yang tidak lagi sejalan.


"Pernah." Jawabnya singkat.


"Waah.. pasti menyenangkan sekali bisa pergi ke istana. Aku juga ingin ke istana. Di sana pasti banyak Putri yang terlihat cantik sepertimu, dan juga Para Pangeran yang hebat. Aku ingin melihat mereka, dan... bla, bla, bla.."


Moon Ara hanya tersenyum getir mendengar celotehan Yuka tentang kehidupan di istana dari sudut pandangnya sendiri.


"Kalau kau pergi ke istana lagi, bolehkah aku ikut denganmu?"


"Boleh saja. Nanti aku akan membawamu berjalan-jalan ke istana dan melihat Para Pangeran dan Putri ya?" Ujar Moon Ara lembut, kemudian Ia mengusap punggung bocah itu hingga membuatnya perlahan terlelap.


Nyonya Juno melangkah masuk ke kamar itu dengan hati-hati ketika Moon Ara hendak turun dari ranjang Yuka.


"Nona Ara," Wanita itu menyentuh lengan Moon Ara dengan lembut, "Maafkan aku karena Yuka telah banyak merepotkanmu. Dia tidak bisa tidur dengan cepat jika tidak ditemani seperti itu."


Ara tersenyum, "Tidak apa, Nyonya. Aku senang bisa menjaga Yuka."


"Terimakasih banyak, Nona. Tapi sekarang kau harus beristirahat. Jika kau mengantuk, kau boleh tidur disini."


"Tenang saja, Aku belum mengantuk kok." Sahut Moon Ara sambil tersenyum tipis, "Oh ya, apakah Nyonya melihat Swain?"


"Tadi aku melihat Tuan Muda Swain sedang berbincang dengan orang-orang di dekat lumbung."


Moon Ara pamit kepada Nyonya Juno untuk keluar rumah menemui Swain, berniat memintanya kembali ke Pseudo lebih dulu sementara dirinya akan tinggal disini lebih lama untuk menjaga para penduduk Wedelia.


Bebaskan aku...


Aku ingin pulang...


Suara pilu wanita itu terdengar kembali dan seketika menghentikan langkahnya.


Namun kali ini suara itu tidak sendirian, sayup-sayup disusul sebuah suara berat yang menyerupai suara seorang pria yang terdengar lemah dan terluka.


Keluarkan aku dari sini..


Kumohon..


Suara lelaki misterius itu kembali terdengar dan perlahan semakin jelas. Meyakinkan Moon Ara bahwa bukan hanya ada satu jiwa yang dikurung oleh Granades di menara itu, melainkan ada jiwa-jiwa yang lain sedang terjebak disana


Diam-diam Ia berjalan menuju ke belakang rumah, melangkah diantara rerumputan kering diantara pepohonan gundul yang mengelilingi desa itu.


Seolah tanpa mempedulikan apapun lagi Moon Ara hanya membiarkan kakinya mengikuti suara-suara yang berdengung di telinganya itu, menuntunnya mendekati hutan mati itu.


Ia masuk ke hutan itu disaat Swain sedang sibuk berbincang dengan para penduduk Wedelia dan disaat seluruh umoya Granades sedang dalam situasi lengah.


Di depan gerbang masuk ke hutan itu, angin berhembus semakin kencang seiring Moon Ara merubah wujudnya menjadi Umoya sepenuhnya.


Lalu hutan pinus yang berkabut itu perlahan berubah menjadi sebuah pemukiman yang nampak terbengkalai yang berdiri di atas hamparan tanah yang tandus. Kabut masih mengelilingi wilayah yang cukup gelap itu, membuat suasananya terasa mencekam.


Kini Ia berada di depan sebuah menara yang cukup familiar. Ia melesat mencoba terbang ke atap menara tinggi itu dan menemukan seorang wanita yang begitu memilukan.


Ia terus menangis lirih dan mencoba meleburkan dinding yang mengelilinginya meskipun semua itu akan menjadi sia-sia.


"Nyonya,"


"Jangan takut, aku datang karena ingin menolongmu." Bisik Moon Ara.


“Pergi!!! Tolong jangan sakiti aku lagi!!! Kalian para Umoya terkutuk!!! Aku hanya ingin pulang!!!!”


Terpaksa Moon Ara mundur agar wanita itu berhenti membuat keributan yang bisa saja menjadikan dirinya sebagai santapan empuk pasukan Ayahnya itu.


Ia mencoba memasuki wilayah kerajaan Granades lebih dalam untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi.


Melesat secepat mungkin agar pasukan Granades tidak ada yang mengenalinya, Moon Ara mendekati benteng Kerajaan Granades lalu berkeliling di sekitarnya.


Moon Ara berusaha bersembunyi setiap kali Ia berpapasan dengan penjaga. Hingga Ia menemukan sebuah celah ruangan dimana Ia mendengar suara Ayahnya yang sedang tertawa dengan beberapa Umoya lainnya.


Ia juga melihat Fiers disana, gadis itu sedang berdiri di belakang kursi Ayahnya yang nampaknya sedang mengadakan sebuah pertemuan.


Entah apa yang mereka bicarakan, perhatian Moon Ara hanya tertuju kepada sebuah bola kaca yang sangat berkilau di tengah-tengah mereka.


Terlihat ada seseorang melayang di dalamnya. Seorang pria yang terlihat penuh luka dan tidak bergerak di dalam bola yang terus berputar lambat di tempatnya itu, yang di letakkan di sudut ruangan milik Ayahnya.


Moon Ara tidak tahu rencana kotor apalagi yang dimiliki oleh Ayahnya. Dan siapakah pria di dalam bola itu, apakah ada hubungannya dengan wanita di menara itu?


Sebelum Moon Ara mengetahuinya, Fiers sudah lebih dulu menyadari keberadaannya dan langsung menghampirinya.


Moon Ara telah berhasil menjauhi benteng itu namun tidak ada waktu bagi Moon Ara untuk meninggalkan hutan itu karena kini Fiers sedang menghadang jalannya.


Seingat Moon Ara, Ia terlempar ke sudut hutan karena serangan Fiers yang mengejarnya, lalu Ia terbangun di lorong Goa Pseudo dengan Shaga yang berdiri disamping pembaringannya, menatapnya dengan datar.


“Apakah kau masih ingin kesana lagi? Ke Granades dan memancing Fiers untuk menghabisimu sehingga bisa terkurung di menara itu lagi. Huh?” Kata Shaga dengan nada rendah.


Sambil mengerang lirih Moon Ara berusaha bangkit dari pembaringannya, “Paman.. bukan maksudku ingin menentang laranganmu. Tapi.. suara-suara itu terus mengikutiku. Mereka benar-benar membutuhkan bantuan.”


Meskipun dalam keadaan lemah gadis itu masih berusaha menyangkalnya. Sehingga membuat Shaga menghela nafas nampak muak dengan pembicaraan ini, kemudian Ia berjalan pergi.


“Aku sudah membicarakan ini denganmu, Euna. Kumohon jangan memaksa lagi.”


Moon Ara menyibakkan selimutnya hingga jatuh ke lantai lalu berusaha mengejar pamannya dengan susah payah.


“Paman bisa dengan cepat menghancurkan menara itu tanpa diketahui pasukan Ayah. Dan menyelamatkan mereka seperti yang Paman lakukan padaku. Paman adalah Umoya yang baik, bukan?


“Apapun alasannya, aku tidak akan menyelamatkan jiwa itu."


“Kebaikan, kebenaran, melawan kegelapan, dan menyelamatkan yang tersiksa. Aku percaya Paman Shaga adalah sosok Umoya yang seperti itu. Tapi kenapa—“


“JANGAN BICARA LAGI, EUNA!”


Moon Ara tercekat mendengar suara berat Shaga meninggi dan menggema di dalam Goa.


Menyadari apa yang baru saja Ia lakukan, Shaga berbalik memandang Moon Ara yang terdiam dan menunduk. Rasa menyesal mulai merundungnya sehingga kemudian Ia berbicara dengan lebih lembut kepada gadis itu.


“Euna, kau tahu 'kan?" Lirih Shaga, “Perang antara aku dan Ayahmu menjadi sejarah terburuk bagiku. Aku harap kau mengingat itu, dan menghargai apa yang sudah kujaga agar tidak terulang lagi.”


“Tapi, dengan menyelamatkan jiwa yang dikurung oleh Ayahmu untuk yang kedua kalinya, apakah itu tidak akan memulai peperangan kembali?” Sambung Shaga.


Ia mendengar Moon Ara menangis lirih. Dengan pelan Moon Ara merangkak lalu berlutut di hadapan Shaga.


“Maafkan aku paman, aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk hal-hal seperti ini. Aku terlahir untuk mengacau, ingin mengetahui apapun, ingin menolong. Tapi sikapku yang ceroboh dan otakku yang bodoh selalu membuat semuanya menjadi rumit. Ternyata ucapan Fiers dan semua Umoya di kerajaan itu benar, aku adalah putri yang sangat tidak berguna.”


Shaga mendekatinya dan membungkuk untuk menyentuh puncak kepala Moon Ara.


“Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Euna. Tidak ada yang salah dengan sifatmu. Berbahagialah karena Umoya sepertimu masih memikirkan tentang kebaikan. Kau adalah Umoya yang sempurna, tapi.. jika saja kau masih mau mendengarkan apa yang kukatakan.”


Tangannya menyatu dan Moon Ara mengangkat wajahnya menatap Shaga,


“Tolong ajari aku agar bisa menjadi Umoya yang tangguh sepertimu, Paman. Dan aku berjanji aku tidak akan melakukan apapun sembarangan lagi. Aku akan menjaga ilmu darimu.”


Shaga menyentuh bahu Moon Ara agar Ia bangkit. Sebuah senyuman lembut yang terukir diwajahnya membuktikan betapa mudahnya Ia kalah dengan ketulusan Moon Ara.


“Aku benci padamu, Euna.” Kata Shaga dengan seulas senyuman tipis, Ia telah mengaku kalah.


Dari luar goa terdengar sebuah keributan dengan suara familiar yang terdengar sangat panik.


"Euna.. Euna!!" Serunya, menggema di seluruh penjuru goa.


Dari cahaya obor yang menyala di sepanjang lorong, Ia melihat bayangan Swain yang berlari mendekat dan akhirnya berhenti di depan ruangan dimana Shaga dan Moon Ara berada.


Matanya yang berair bergerak dengan cepat melihat ke sekelilingnya hingga menemukan keberadaan Moon Ara yang membuatnya tercengang.


"Euna! Kau sudah disini?" Seru Swain dengan suara bergetar. Kemudian Ia berhambur memeluk gadis itu dengan singkat.


"Apa yang kau lakukan? Aku ada disana untuk menjagamu tapi kau malah kabur dengan cara seperti itu untuk masuk ke Granades. Bodoh! Apa yang mereka lakukan padamu huh?!"


Wajah Shaga yang semula tersenyum mendadak berubah menjadi serius ketika menatap Swain.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan sampai kau tidak menyadari dia pergi ke hutan itu? Kau mencoba melepas tanggung jawab dan tidak mampu menjaganya dengan baik?" Ujarnya.


"Bukan seperti itu, Tuan. Aku pikir dia sedang bersama Yuka di dalam rumah, dan aku sedang sibuk membantu penduduk disana untuk memperbaiki lumbung desa itu. Tapi anak ini diam-diam kabur!"


"Sudahlah tidak ada alasan lagi. Jika kau tidak becus menjadi penjaga Moon Ara, Aku akan menurunkan pangkatmu dan menggantimu dengan yang lainnya saja--" Shaga berjalan meninggalkan Swain sambil terus berceloteh menggoda Swain.


Moon Ara yang mengerti bahwa Shaga tidak serius dengan ucapannya itu hanya tertawa kecil melihat kepanikan di wajah Swain saat ini.


"Ini semua gara-gara kau!" Umpat Swain pada Moon Ara, kemudian Ia bergegas menyusul kepergian Shaga, "Tuan Shaga, tunggu!"


Sepeninggal Shaga dan Swain, hanya ada Moon Ara sendirian di ruangan itu. Membuat pikirannya melayang kembali pada sosok-sosok yang terjebak di Granades. Sangat jelas bahwa mereka berdua bukanlah bagian dari bangsa Umoya, dua sosok itu adalah manusia yang dengan sengaja dikurung disana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...