The Prince & The Curse of Granades

The Prince & The Curse of Granades
Bab 22 - Tandus



"Paman!! Paman Shaga!!"


Moon Ara berlari memasuki lorong goa Pseudo yang diterangi dengan cahaya obor yang berada di sepanjang jalan menuju ke tengah goa.


Sementara Swain di belakangnya terus berusaha mencegah gadis itu agar tidak mengusik ketenangan Shaga.


Sepulang dari kedai bir itu, Moon Ara terus memohon padanya untuk membantunya melawan sosok makhluk dari Granades yang telah merasuki salah satu penduduk di Runthera.


Tapi karena Swain menolak mentah-mentah dan memperingatkannya untuk tidak ikut campur dengan urusan Granades, gadis itu justru bersikeras akan meminta bantuan dari Shaga.


"Euna! Ssst.. Berhenti!"


"Aku tidak akan berhenti sampai seseorang mau menghalau sosok dari Granades yang masuk ke kota itu!" Timpal Moon Ara.


"Apakah kau pikir Tuan Shaga mau turun tangan untuk menolong mereka? Kita sudah bicarakan ini berulang kali, Euna. Itu bukan lagi menjadi urusanmu!"


Moon Ara menatap lelaki itu dengan tajam, "Ini bukan soal Granades, Swain. Tapi ini tentang keselamatan orang-orang di kota itu!"


"Masa bodoh dengan mereka, Euna. Berhentilah mencari masalah." Desis Swain.


"Kau sebut ini masalah? Menolong kehidupan seseorang adalah masalah bagimu, Swain? Keterlaluan.."


Mendengar jawaban Moon Ara, kesabaran Swain mulai menipis.


"Memangnya apa yang kau dapat setelah menyelamatkan mereka? Dihargai? Diagungkan? Tidak ada! Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri! Jika mereka selamat, maka mereka akan meninggalkanmu sendirian dalam masalah!" Sergah Swain.


Moon Ara hanya bisa terdiam melihat Swain meninggikan suaranya. Wajahnya memerah, tatapan matanya begitu tajam menatapnya dengan penuh amarah. Ia tidak pernah melihat Swain semarah ini sebelumnya.


"Aku keterlaluan? Disini kau yang lebih keterlaluan! Kau selalu bertindak sesukamu sendiri tanpa memikirkan sebab akibatnya!" Imbuh Swain.


"Kau ingat alasan kenapa kau di kurung selama bertahun-tahun di dalam menara terkutuk itu?! Siapa yang membuatmu dilempar ke tempat itu?! Siapa yang kau lindungi sampai-sampai seluruh Granades menghukummu dan membuangmu secara tidak hormat selama ini?! Para manusia, kan?"


"Tapi itu hanya karena salah paham, Swain!" Tukas Moon Ara.


"Dan selama itu apakah ada yang peduli padamu meskipun itu salahmu atau bukan huh?"


Moon Ara tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana itu karena memang tidak ada yang mempedulikannya lagi usai kejadian itu.


"Baiklah, kau memang berhasil menyelamatkan para manusia yang melintas di hutanmu saat itu. Tapi ketika perbuatan mereka menimbulkan masalah, apa yang mereka lakukan saat itu? Apakah mereka berusaha menolongmu? Atau mereka meninggalkanmu begitu saja? Bahkan mereka tidak mengucapkan terimakasih, kan?"


Moon Ara menyadari suara Swain yang kini terdengar bergetar, Ia tak berani menepisnya meskipun banyak bantahan ingin dilontarkannya sebagai pembelaan.


"Ayo, katakan sesuatu seperti saat kau menggebu-gebu ingin menolong mereka tadi. Kenapa sekarang diam saja?" Cecar Swain dingin.


"Dengar ya, Euna. Aku bukannya membenci manusia. Aku juga tidak membenci kebaikanmu itu. Tapi kumohon berhenti menempatkan dirimu di dalam situasi yang bisa saja harus mengorbankan dirimu sendiri!"


"Lagipula kau tahu sendiri, Hubungan antara Tuan Shaga dan Granades sangat buruk. Bangsa Umoyamu itu berusaha menghancurkan Pseudowinter milik Tuan Shaga. Meskipun begitu, Tuan Shaga masih rela menyelamatkanmu. Tapi sekarang.. kau mau menyuruhnya melenyapkan sosok Granades di kota itu? Itu sama saja kau berusaha mengadudombakan Tuan Shaga pada Bangsa Granadesmu lagi!"


"Atau itu memang tujuanmu?" Sambung Swain lirih.


Mata Moon Ara seketika membulat, lalu dengan nada rendah Ia berkata, "Apa maksudmu? Kau menuduhku sebagai pengkhianat juga? Kau pikir aku bertahan disini dengan niat mengkhianati Paman Shaga?"


Swain tertegun melihat Moon Ara yang hampir menangis di depannya. Dan hal itu membuat Swain kehabisan kata untuk menepisnya.


"Tidak, Euna. Bukan begitu. Aku tidak bermaksud--"


Belum selesai kata-kata Swain, Moon Ara telah berjalan masuk meninggalkan Swain yang sedang dirundung penyesalan karena tidak menjaga ucapannya pada Moon Ara.


Swain akhirnya juga berjalan masuk dengan langkah gontai, membiarkan Moon Ara pergi ke kamarnya.


Namun semakin larut pikirannya semakin tak menentu, Ia terus merutuki diri atas kata-kata menyakitkan yang tak sengaja Ia katakan hingga melukai perasaan Moon Ara.


Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk menebus rasa bersalahnya kepada Moon Ara.


Maka saat itu juga Swain bergegas kembali ke Runthera. Dalam wujud umoya, Ia hanya bisa berada di luar berbatasan wilayah Runthera.


Dan suatu kebetulan pada saat itu Ia melihat seorang lelaki bersama seekor kuda hitam tiba di perbatasan.


Aura yang dipancarkan oleh pria itu sekaligus kudanya benar-benar membuat Swain merasa heran. Pria itu bukanlah manusia seutuhnya dan hampir membuat Swain salah paham. Ia pikir pria itu adalah salah satu dari Umoya yang melakukan penyerangan seperti yang diceritakan Moon Ara.


Namun saat melihat lebih dalam, Swain sontak menelan kembali niatnya untuk melenyapkannya ketika menyadari pria itu bukanlah sasarannya.


Manusia yang itu memiliki jiwa separuh Umoya yang sama seperti dirinya. Sedangkan kuda itu juga bagian yang sama seperti mereka. Tapi Swain masih merasa ragu apakah pria itu adalah separuh Umoya dari Pseudowinter atau dari bangsa Umoya lain.


Tapi tiba-tiba pria itu mendapat serangan misterius dari seberkas cahaya merah yang berada di atas salah satu pohon. Awalnya seperti dugaan Swain, pria itu pasti bisa melawan serangan tersebut dengan pedang kuat miliknya.


Namun serangan itu terus menghujaninya secara bertubi-tubi, cahaya merah yang menampakkan wujudnya itu muncul semakin banyak dan seolah mengelilinginya di balik pepohonan. Membuat Swain segera mengerahkan sihirnya untuk melindungi pria itu.


Swain melantunkan sederet mantra hingga menimbulkan hembusan angin yang cukup kencang, perlahan angin itu membentuk sebuah pusaran hingga menjadi besar dan menyapu habis semua makhluk itu.


Setelah makhluk merah itu ditelan habis oleh pusaran angin buatannya, Swain meredakan pusaran angin itu lalu Ia juga membantu memperkuat dinding pelindung tersebut.


"Kita harus kembali ke istana, Swart."


Desis Hugo, berusaha mengalihkan perhatiannya dari kejadian janggal yang baru saja terjadi di depan mata kepalanya sendiri itu.


Dengan susah payah Ia beranjak berdiri lalu menaiki kudanya meskipun kaki dan tubuhnya seolah tak bertenaga.


Tanpa disadari sepeninggal Hugo, tanah di sekitar perbatasan yang dipenuhi rerumputan dan beberapa tumbuhan liar itu mengeras sampai terbelah dan menyebabkan celah yang cukup dalam. Hingga tanaman dan beberapa pohon yang tumbuh diatasnya itu perlahan mengering dan mati.


Saat ini kondisi Hugo cukup lemah setelah berbagai serangan sihir itu menghujam tubuhnya secara brutal.


Ia tidak bisa berhenti terbatuk hingga membuat dadanya sangat sesak. Kepalanya terasa pusing dan punggungnya lagi-lagi terasa berat. Hugo hanya bisa duduk di atas kudanya dengan membungkukkan tubuhnya yang lemas.


"Swart, berhati-hatilah." Gumam Hugo kepada kudanya yang seolah langsung menjawabnya dengan ringkihan, lalu kuda itu melesat lebih cepat.


Uhuk!


Uhukk Uhuuk!


Hugo masih tak bisa berhenti terbatuk. Ia menutup mulutnya dengan tangan supaya tidak ada yang mendengar suaranya ketika melintasi pemukiman penduduk ataupun para penjaga.


Hingga Ia menyadari bercak darah berwana hitam pekat yang membekas di telapak tangannya saat ini.


Ia menghela nafas gusar lalu membersihkan tangan dan bibirnya dari darah dengan menggunakan ujung mantel yang dipakainya.


Tak butuh waktu lama, mereka kini tiba di Istana. Hugo menghentikan laju kudanya di tengah halaman istana yang di kelilingi obor dan beberapa penjaga.


Ia turun dari kudanya lalu membiarkan kuda itu berjalan pergi dari hadapannya, para prajurit yang berdiri di sekitar halaman hanya diam di tempatnya tak ada yang berani menuntun kuda kesayangan Perdana Menteri Hugo.


Mereka membiarkan kuda hitam itu melangkah dengan sendirinya menuju ke kandangnya yang terletak di tempat terpisah dengan kuda lainnya. Hanya Swart, kuda yang cerdas juga mandiri dan sama misteriusnya dengan sang pemilik.


Setelah Swart menghilang dari pandangannya, Hugo berjalan masuk menuju istana. Ia terus mengatur nafasnya yang sedikit sesak dan berusaha melangkah dengan tegak, namun nampaknya upayanya itu tidak cukup berhasil karena kini seorang penjaga yang dilewatinya di pintu masuk sedang menatapnya dengan cemas.


"Perdana Menteri, apakah semuanya baik-baik saja?" Tanyanya.


Hugo hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, Ia menepuk bahu penjaga tersebut supaya dia tidak lagi mencemaskannya.


"Paman!"


Terdengar suara berat Vins berseru dari dalam istana, kemudian pemuda itu berlari menghampirinya.


"Paman, kenapa kau terlihat pucat begini? Apa yang terjadi? Ada yang menyerangmu disana?" Cecar Vins yang tak kalah cemas.


"Tidak apa. Uhukk.. Ini hanya karena angin malam ini yang sangat dingin. Sudahlah. Semuanya baik-baik saja, Vins. Uhuk uhugh..."


Vins memerintahkan salah seorang pelayan untuk memberikan air hangat untuk diminum oleh Hugo.


"Sungguh?" Bidik Vins.


"Ini hanya karena udara disana yang benar-benar dingin, Vins. Apalagi ini sudah hampir tengah malam. Kurasa aku harus pakai mantel yang lebih tebal." Ujar Hugo dengan suara lirih.


"Paman, kau selalu mengatakan itu. Pasti ada sesuatu yang tidak beres kan?"


Vins terus mencecarnya karena Ia yakin bahwa Hugo sedang menyembunyikan sesuatu. Setiap Ia kembali dari perbatasan, Hugo selalu nampak tidak sehat. Tapi pamannya itu selalu menjadikan cuaca dingin sebagai alasan.


Enggan memberi jawaban, Hugo hanya berjalan mendahuluinya.


"Paman!" Vins buru-buru menyamai langkah Hugo yang agak pincang itu.


"Jika kau butuh bantuanku. Katakan saja. Aku bisa membantumu mengawasi keadaan di sekitar Runthera dengan aman. Lagipula, aku sudah mempunyai pelindung juga, kan?"


"Pelindung?" Hugo terkekeh.


"Ya. Gelang yang kau rangkai untuk kami ini benar-benar melindungiku di saat yang tepat. Gelang ini bisa meluluhkan si pengawal Leruviana yang sempat kerasukan tadi!" Kata Vins menggebu.


"Baguslah kalau kau sudah mengerti tentang kegunaan gelang itu. Tapi, aku masih belum bisa membiarkanmu melakukan itu, Vins." Ujar Hugo dengan suara serak.


Sedangkan Vins hanya menatap Hugo dengan kecewa, "Kenapa? Apakah paman masih tidak percaya pada kemampuanku?"


"Ini demi keselamatan kita semua." Timpal Hugo dengan tegas.


Vins yang tidak menyangka akan perubahan nada bicara Hugo barusan itu seketika terdiam. Tak berani berceloteh lagi.


Ia hanya bisa berjalan mengikuti Hugo yang menuju ke aula dimana keluarga Leruviana menunggunya.


"Apa yang terjadi? Apakah hal misterius itu datang terus menerus seperti ini?" Tanya Raja Liam ketika melihat Hugo tiba dengan air wajah yang pucat.


"Aku meminta maaf atas nama Runthera atas ketidaknyamanan yang harus kalian alami malam ini, Yang Mulia." Hugo membungkuk singkat, "Kejadian seperti ini adalah yang pertama terjadi di dalam istana. Kami sedang mengatasinya dengan keras demi tetap menjaga ketenangan di dalam Runthera."


"Benar. Jangan sampai karena kejadian ini penduduk Runthera memilih untuk pindah ke tempat yang lebih aman dari serangan misterius semacam itu. Karena mereka pasti akan ketakutan jika melihat kasus ini."


"Baik, Yang Mulia." Jawab Hugo lembut, "Apakah tidak sebaiknya Keluarga Leruviana menginap malam ini? Dan melanjutkan perjalanan besok pagi?"


"Tidak. Kami harus kembali sekarang juga apapun yang terjadi. Lebih baik kami pulang sekarang sebelum hal yang lebih buruk terjadi lagi." Ujar Raja Liam bersikeras.


Hugo tidak bisa mencegahnya dan hanya mengarahkannya untuk melewati jalan yang lebih aman, Hugo melarangnya melewati hutan pinus.


Ia memerintahkan prajurit untuk mengawal rombongan Leruviana sampai ke ujung jalan kota Runthera yang terhubung dengan jalanan menuju ke kerajaan seberang yang menurutnya lebih aman di lewati saat tengah malam dan jauh dari serangan makhluk misterius.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...