The Prince & The Curse of Granades

The Prince & The Curse of Granades
Bab 30 - Sirkam Mawar Merah



Beberapa tangkai bunga aster yang diletakkan di nakas sisi kiri dan kanan ranjang Ratu Ryme itu nampak layu dan hampir mengering. Warna ungu kebiruannya telah pudar dan mulai menguning.


Para pelayan nampak silih berganti memasuki kamar utama untuk membersihkan kamar dan mengganti setiap bunga yang diletakkan di vas, termasuk sebuket bunga aster yang berada dalam genggaman tangan Ratu Ryme yang masih terlelap.


Vins hanya terdiam berdiri di sudut ruangan, menatap ke arah ibunya dengan pandangan kosong.


Kejadian malam itu masih berputar di pikirannya. Ia tidak menyangka Minea bisa melakukan hal itu kepada ibunya, bahkan gadis itu memiliki kekuatan sihir misterius yang tak pernah terduga bisa terjadi di Runthera.


Ketika masih tenggelam di dalam pikirannya sendiri, pandangan Vins menangkap sesuatu yang tak sengaja terlempar ke lantai ketika seorang pelayan sedang mengganti selimut milik Ratu Ryme.


Benda kecil itu nampak mengkilat ketika sinar mentari yang menembus jendela kamar itu menerpanya, dengan penasaran Vins melangkah mendekat lalu meraih sebuah sisir kecil yang berhiaskan permata berwarna marun yang berbentuk ukiran kelopak bunga mawar itu.


Vins memanggil salah seorang pelayan lalu bertanya, "Maaf, apakah sisir ini milik Ibuku?"


Pelayan itu mengamati benda itu sebentar lalu menunduk, "Aku tidak pernah melihat sirkam itu sebelumnya, Pangeran. Dan kami tidak pernah memakaikan sirkam seperti itu di rambut Ratu Ryme karena khawatir akan melukai kulit kepalanya."


"Atau mungkinkah benda ini milik salah satu diantara kalian?"


"Mohon maaf, Pangeran. Tapi sirkam itu terlihat sangat indah dan mahal, kami tidak mungkin bisa mempunyai benda yang seperti itu." Ujar pelayan itu.


"Baiklah. Terimakasih." Ucap Vins, lalu mempersilahkan pelayan itu melanjutkan tugasnya.


Ditatapnya sekali lagi sirkam yang cantik itu, namun kali ini terasa berbeda. Semakin Vins melihatnya dengan seksama, semakin Ia merasakan suatu hal yang aneh ketika menggenggam sirkam itu di tangannya.


"Pangeran Vins,"


Ia terkejut ketika mendengar suara seorang pelayan yang membungkuk di depannya.


Beliau hanya pamit karena telah selesai membersihkan dan merawat Ratu Ryme, bahkan Ia berbicara dengan nada yang sangat sopan namun mampu membuat Vins seolah tersentak. Dan Vins baru menyadari bahwa Ia hampir terhipnotis oleh sirkam tersebut.


"Oh, baiklah. Terimakasih." Kata Vins, lalu membiarkan mereka meninggalkannya sendirian bersama Ratu Ryme di dalam kamar itu.


Vins merasa ada yang aneh dengan benda itu, jadi Ia memutuskan untuk menyimpan benda tersebut di dalam saku jasnya.


Ia mendekat ke ranjang Ratu lalu menggenggam jemarinya dengan hangat sambil menciumnya. Kemudian Ia beranjak menuju ke kamarnya sendiri.


Vins mengunci pintu kamar lalu mengambil sebuah buku yang Ia simpan di belakang ranjangnya, sebuah buku tentang Umoya yang sudah lama Ia baca namun tak kunjung tamat.


Sambil duduk di atas permadani, Vins mulai membuka setiap halaman yang telah selesai dibacanya.


Dysplasmont.


Ia berhenti di sebuah halaman dengan judul bab yang dicarinya lalu membacanya sekali lagi.


.....membutuhkan sebuah media kuat yang mampu menahan beribu jangkauan, digunakan sebagai persembunyian yang dapat menyimpan segumpal hal tersebut hingga waktu yang dibutuhkan untuk tiba saatnya ditumpahkan ke suatu tempat, situasi, maupun media lain.


Kening Vins berkerut heran, Ia telah membaca tulisan itu berkali-kali namun masih belum memahami apa maksud dari penjelasan itu. Karena penggunaan katanya yang terkesan tertutup dan terlihat ambigu.


Namun yang bisa Vins pahami adalah bab itu menceritakan suatu perpindahan dari sebuah benda ke benda yang lainnya.


"Lalu apakah sirkam itu ada hubungannya dengan teori ini? Tapi milik siapa?" Gumam Vins.


......................


Siang itu Perdana Menteri Hugo dan para petinggi kerajaan sedang berkumpul di sebuah ruangan untuk membicarakan tentang kasus percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Minea.


Termasuk Jerriel yang hanya duduk di kursi utama tanpa banyak bicara, mengetahui hal apa yang akan mereka rundingkan kali ini membuat Jerriel berusaha menahan emosinya sendiri.


Hugo dengan tegas mengatakan bahwa yang dilakukan Minea termasuk dalam perbuatan yang melanggar peraturan di Kerajaan dan pantas untuk dihukum seberat-beratnya atas percobaan pembunuhan kepada Sang Ratu.


“Lalu apakah hukuman mati pantas untuknya, Perdana Menteri?” Tanya salah seorang petinggi di Kerajaan.


“Tidak.” Tandas Hugo singkat. Cukup tegas namun dari raut wajahnya terlihat agak bimbang.


Jawaban Hugo membuat orang-orang di meja bundar itu mengenyit heran dan terlihat kebingungan, mereka nampak penasaran namun ragu mengajukan pertanyaan atas alasan Hugo menolak hukuman tersebut untuk Minea.


Berbeda dengan Jerriel yang sontak bangkit dari kursinya dan menatap tajam kepada Hugo saat ini.


“Paman, haruskah kita membicarakan hal ini untuk yang keseribu kalinya?” Tukasnya.


Hugo menghela nafas lalu berkata dengan tenang, "Mohon duduk, Pangeran Jerriel."


Jerriel tidak mengindahkan ucapan Hugo dan melanjutkan sanggahannya, “Si pengkhianat itu telah masuk ke istana dan menyamar sebagai orang baik yang bisa di percaya, lalu dengan segala akal bulusnya disaat tak seorangpun bisa melihat gerak-geriknya, dia berubah menjadi diri aslinya yang mengerikan dan... dia ingin mencoba membunuh Ibuku. Dan sekarang Paman ingin memberinya hukuman yang tidak setimpal?”


“Bukan begitu, Pangeran Jerriel. Aku tahu dia mencoba membunuh Ratu, dan aku tidak membenarkan perbuatannya. Dalam kasus ini Minea sudah jelas bersalah. Meskipun begitu dia tidak benar-benar berniat membunuhnya,”


“Darimana paman tahu? Paman masih terkecoh dengan tipu muslihatnya selama ini?" Timpalnya sambil tersenyum sinis, "Bahkan setelah perbuatan bengisnya terpergok olehku, perempuan itu tidak berusaha menyembunyikannya atau setidaknya merasa bersalah! Dia seolah mentertawakan kemalangan yang menimpa kita. Aku tahu, dia pasti memiliki perjanjian hitam dengan para Umoya itu!"


"Terlalu cepat untuk menyimpulkan hal itu, mengingat kejadian seperti ini bukanlah yang pertama terjadi di Runthera." Kata Hugo.


Tatapan Jerriel masih tertuju pada Hugo dengan tajam, terdengar Jerriel terkekeh pelan ketika merasa tidak terima dengan ucapan Hugo.


"Aku sempat melihatnya ketika pengawal itu menyerang Pangeran Pears dan Pangeran Vins, tapi kekuatannya tidak terlihat seperti yang dimiliki Minea." Kata salah seorang petinggi.


"Benar. Itu sangat berbeda." Imbuh yang lainnya.


"Dikendalikan oleh makhluk dan yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan itu adalah kasus yang berbeda, Paman. Perempuan itu bukan dikendalikan, tapi dia yang mengendalikannya dengan sangat sadar!"


Penjelasan panjang yang ingin Ia utarakan kali ini tertahan di bibir Hugo. Melihat Jerriel yang sedang tersulut emosi, Ia tidak akan bisa menerima penjelasan apapun saat ini.


"Puluhan tabib yang memeriksanya, berbagai ramuan, bahkan paman Hugo sendiri yang begitu pintarnya pun tidak mengerti bagaimana caranya menyembuhkan ibuku hingga saat ini. Dan jangan lupakan tentang sihir yang sudah di kirim ke dalam tubuh ibuku malam itu oleh perempuan itu! Karena aku tidak akan bisa memaafkannya jika terjadi apa-apa dengan Ibu!" Sambung Jerriel.


“Pangeran Jerriel, kumohon tenangkan dirimu. Kita sedang berusaha menyelesaikan kasus ini dengan baik.” Kata Hugo dengan nada rendah.


“Aku sudah cukup tenang, Paman saja yang membuatku harus mengatakan ini lagi. Kenapa Paman mendadak tidak bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah?”


Mendengar ucapan Jerriel yang membara, sedikit demi sedikit Hugo kehilangan kesabarannya, “Pangeran Jerriel, aku perdana menteri disini dan aku adalah pengasuhmu.”


“Bukankah Paman adalah Ayah bagiku dan keluargaku juga? Lalu dimana ketegasan seperti yang dimiliki Ayahku pada diri Paman ketika melihat Ibuku diserang untuk kesekian kalinya?” Tanya Jerriel sarkastik.


“Apakah paman juga bersedia turun menemui mahluk terkutuk itu demi Ibu, seperti Ayahku Raja Joon dari Runthera yang rela mempertaruhkan nyawanya? Paman memang seseorang yang pintar, tapi Paman tidak akan mampu melakukan itu, bukan?"


Hugo sedang menatap lurus ke arah Jerriel yang terus menyudutkannya, dari tatapan matanya Ia nampak sangat marah namun pria itu berusaha memendam amarahnya di depan para petinggi Kerajaan demi menghormati Jerriel. Beruntung letak duduk mereka saat ini cukup berjauhan.


"Aku berharap kalimat itu tidak akan membuatmu menyesal, Pangeran Jerriel yang terhormat.” Kata Hugo dingin.


Diantara orang-orang di dalam pertemuan itu tak satupun ada yang berani melerai perseteruan dingin diantara mereka berdua, kecuali Tuan Helmy yang berdiri dari kursinya dan berusaha menenangkan Hugo.


"Pangeran Mahkota dan Pedana Menteri, kumohon tenangkan diri kalian dan silahkan duduk kembali. Mari kita lanjutkan pembahasan ini dengan kepala dingin, hingga mendapatkan keputusan yang tepat agar kasus bisa dengan cepat terselesaikan ya." Ujarnya lembut.


Jerriel tak membalas, Ia memilih melangkah meninggalkan meja dan berhenti di ambang pintu ruangan. Lalu tanpa menengok ke dalam, Ia berkata dengan begitu dingin.


“Maafkan aku Paman, tapi Aku hanya ingin perempuan itu mati.” Pungkasnya, lalu melangkah cepat meninggalkan ruang pertemuan.


“Aku harus memanggilnya kembali untuk melanjutkan diskusi ini,”


Seorang petinggi kerajaan yang lain berinisiatif meredakan ketegangan ini, namun Hugo dengan cepat mencegahnya.


“Biarkan dia pergi, tidak akan ada gunanya kau membujuk anak itu disaat seperti ini.” Ujar Hugo yang mengatur nafas mengendalikan emosinya.


“Baiklah,”


“Sampai di hukuman mati yang kau sangkal. Dia sudah berani mencoba membunuh Ratu dengan menggunakan kekuatan ilmu hitam yang dia punya, Perdana Menteri.” Seorang hulubalang istana menyangkal.


“Kita tidak bisa menghakiminya begitu saja tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi,” Ujar Hugl.


“Tapi Pangeran Mahkota menjadi saksinya. Dia melihatnya sendiri bagaimana Minea menyihir Ratu Ryme di dalam tidurnya.”


“Dan Pangeran Mahkota tidak mungkin menuduhnya sembarangan.”


“Aku tahu kalian semua sedang marah atas kejadian yang disebabkan oleh Minea. Tapi aku masih belum bisa memutuskan hukuman untuknya.” Perdana menteri menyatukan buku-buku jarinya di atas meja dan itu membuatnya terlihat cemas, “Aku merasa ada sesuatu yang aneh saat melihatnya malam itu.” Ujar Hugo.


“Apakah ini ada hubungannya dengan Umoya, Perdana Menteri?”


“Sedikit-banyak kurasa seperti itu. Tapi aku masih tidak bisa mengerti bagaimana caranya untuk membuktikannya kepada mereka, aku masih belum bisa menjelaskannya. Jadi untuk sementara Minea harus tetap berada di dalam penjara.” Hugo menghela nafas berat lalu mengedarkan pandangannya pada para petinggi yang sedang serius mendengarkannya, “Beri aku sedikit waktu untuk mencari tahu kebenarannya. Dan kumohon jangan menghakiminya dengan cara kalian sendiri.”


“Lalu bagaimana dengan Pangeran Mahkota?”


“Aku akan berbicara kepadanya tentang kasus ini.” Kata Hugo.


“Aku berharap Para Pangeran bersedia mendengar pernyataanmu, Perdana Menteri. Aku tidak tahu bagaimana lagi sifatnya Pangeran Jerriel setelah semua ini. Setelah kepercayaannya di renggut oleh Minea. Dia sangat keras kepala, bukan?”


Beberapa pelayan yang lewat memberi bungkukan hormat kepada Jerriel yang berjalan cepat di lorong istana setelah keluar dari ruang diskusi Kerajaan.


Tak ada yang berani menyapanya ketika melihat betapa gusarnya wajah Jerriel hari ini. Sekedar memberinya ucapan selamat siang pun, atau kau akan mendapat umpatan marah darinya.


Semua orang mengenal betapa kerasnya Jerriel. Dan mereka berpikir itu adalah hal biasa, mungkin saja Ia baru saja bertengkar dengan saudaranya atau pamannya.


Hal sekecil apapun bisa saja membuatnya marah. Apalagi setelah kejadian yang dialaminya karena perbuatan Minea terhadap Ibunya.


Langkah Jerriel berhenti ketika melihat ke arah pintu gerbang Istana yang terbuka dan melihat beberapa penjaga berkumpul di dekat sebuah kereta kuda yang berhenti disana. Seperti sedang kedatangan seseorang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tolong jangan baca doang, cepet kasih like, komentar, dan vote! 👿💢


hehe candaaa😁


tapi yo gapapa tinggalkan jejak biar semangat nulis 🥺 Thankyouuuu