
Suasana malam ini di Runthera sangat tenang.
Namun udaranya terasa begitu dingin hingga membuat Minea yang baru saja keluar dari sebuah kedai makanan milik orang tuanya itu langsung mengeratkan jaketnya.
Sejak siang Ia mengunjungi Zinnia, pedesaan yang telah menjadi tempat tinggalnya sejak masih kecil itu, untuk menjenguk keadaan orang tuanya dan juga melihat situasi dan keadaan anak-anak di gubuk belajar yang telah cukup lama Ia tinggalkan.
Gubuk itu sudah menjadi lebih terawat karena mendapat perhatian khusus dari Kerajaan, dan juga sumbangan yang mereka berikan agar anak-anak di sekitar desa itu bisa mendapat pengalaman belajar yang lebih baik.
Sepeninggal Minea yang diperintahkan oleh Pears untuk menjadi salah satu perawat bagi Sang Ratu, terdapat beberapa relawan yang diutus oleh Kerajaan untuk mengajar di gubuk itu menggantikan dirinya.
Terkadang Ia masih merindukan suasana tentram di Zinnia dan juga kesehariannya sebagai relawan pengajar di gubuk tersebut. Ia juga merindukan canda tawa anak-anak muridnya.
Namun Minea hanya bisa mengusir kerinduannya itu dengan mengunjungi mereka hari ini, Ia harus kembali ke istana sebelum tengah malam.
Jerriel yang awalnya memaksa untuk ikut menemaninya pergi ke Zinnia mungkin sedang sebal saat ini, karena Minea sengaja pergi diam-diam lebih awal supaya bisa menghindari Jerriel.
Tentu saja Ia tidak ingin terlibat dalam masalah ketika orang di istana melihat dirinya pergi bersama Jerriel karena Ia sudah muak dianggap sebagai pelayan tidak punya malu.
Minea melangkahkan kakinya menyusuri jalanan desa yang masih cukup ramai oleh beberapa penduduk. Masih belum terlalu larut untuk pergi tidur, beberapa anak kecil yang dilewatinya itu masih asik bermain, dan beberapa orang tua yang sedang asik berbicang bersama di sebuah halaman rumah.
"Kakak Minea!! Daaaah!!" Seru anak-anak kecil itu dengan riang.
"Berkunjunglah lagi besok!!"
Minea hanya mengangguk sambil tersenyum manis sambil melambaikan tangannya ke arah mereka.
"Minea, sudah mau kembali ke istana?" Sapa seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. Beliau adalah salah satu tetangga Minea.
"Iya, Nyonya Fara. Aku harus kembali sekarang." Sahut Minea lembut.
Wanita itu tersenyum, nampak bersahaja. Kemudian beliau meraih tangan kanan Minea dan memberikan sesuatu untuknya.
Sebuah kantong serut berisi sesuatu yang masih tidak dapat Ia tebak.
"Apa ini, Nyonya?"
"Hanya sebuah sirkam. Kumohon pakailah jika kau sudah sampai disana. Aku ingin kau menyimpannya sebagai kenang-kenangan dariku." Ujarnya.
"Ah, terimakasih banyak, Nyonya Fara." Ucap Minea sambil memeluknya hangat.
"Aku senang ketika mendengar bahwa kau menjadi seseorang yang dipercaya oleh Pangeran untuk merawat Yang Mulia Ratu Ryme. Pakailah sirkam ini untuk sehari-hari. Sirkam ini pasti akan membuatmu terlihat semakin cantik." Ujar Nyonya Fara.
Minea membuka kantong serut itu dan mengeluarkan sebuah sirkam berukuran kecil yang terbuat dari besi dengan hiasan permata yang menyerupai kelopak bunga mawar merah.
Sirkam itu terlihat sangat cantik dan indah, Minea sangat menyukainya.
"Cantik sekali! Aku akan langsung memakainya malam ini!"
Setelah itu Minea pamit untuk segera kembali ke istana dan melanjutkan langkahnya.
Ia sempat menolak tawaran keluarganya untuk mengantarnya kembali ke istana, dan diam-diam Minea menyesali perbuatannya itu ketika kini langit malam terlihat menunjukkan kilat yang seolah membelah langit disusul dengan gemuruh yang bersahutan. Nampaknya sebentar lagi akan turun hujan.
Ia bergegas menuju ke arah pasar dan berharap masih ada kendaraan yang bisa mengantarnya pulang.
Namun tiba-tiba dari arah belakang Ia mendengar derap kaki kuda dan dentingan lonceng yang beriringan dengan bunyi roda kereta delman.
"Butuh tumpangan, Nona?"
Suara lantang yang cukup familiar itu membuat Minea tersentak. Sontak Ia menoleh ke sumber suara dan melihat seekor kuda berbulu coklat yang menarik sebuah kereta delman yang dikendarai oleh seorang kusir yang cukup membuat Minea merasa janggal.
Dari balik tudung mantel yang membuatnya terlihat misterius itu, Minea masih bisa melihat senyuman miring milik Jerriel yang sangat tidak asing. Lagi-lagi pemuda itu melakukan penyamaran agar bisa mengendap-endap keluar dari istana.
Tapi kali ini dia pergi dengan membawa delman milik Kerajaan, sepertinya dia sudah membuat perjanjian dengan mengancam salah satu kusir di istana agar bisa membawa delman itu kesini.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Minea bingung, sambil sesekali melihat keadaan sekitar.
"Cepat naik!"
Minea hanya bisa menuruti perintahnya, lalu duduk di samping Jerriel yang mengendarai delmannya, "Pangeran Jerriel, kau sangat keras kepala."
"Lebih keras kepala siapa jika dibandingkan denganmu? Aku 'kan sudah bilang ajak aku pergi kesini. Tapi kau malah mengendap-endap pergi sendirian di saat aku sedang lengah."
"Aku pikir kau tidak akan serius ingin datang kemari."
"Apa maksudmu? Jika aku sudah mengatakannya dengan penuh penekanan, itu tandanya aku benar-benar serius! Tch, sekarang kau meragukan Jerriel, memangnya aku pernah bersikap plin-plan dengan apa yang sudah kukatakan?"
"Baiklah. Aku minta maaf."
Jerriel tersenyum tipis ketika melihat Minea membiarkannya menang dalam perdebatan kali ini, Ia lalu menjalankan kereta kudanya meninggalkan desa Zinnia.
"Bagaimana kau bisa membawa kereta kuda ini keluar dari istana, tanpa pengawalmu?" Tanya Minea.
"Tidak perlu dipikirkan, yang penting sekarang kau akan pulang dengan nyaman."
Minea memutar bola matanya dan hanya diam sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia baru sadar bahwa Jerriel baru saja membawa kabur sebuah kereta berisi rerumputan yang biasanya diberikan untuk pakan hewan ternak di Istana.
"Hey, kau akan pulang dengan nyaman berkatku. Kau tidak ingin mengucapkan apapun padaku? Tch, angkuh sekali gadis ini." Celoteh Jerriel.
Minea terkekeh melihat betapa menyebalkannya Jerriel malam ini.
"Astaga, aku sangat bersyukur Tuhan mengirimkan sebuah anugerah padaku berupa tumpangan yang dikendarai langsung oleh Pangeran Mahkota Jerriel disaat yang sangat tepat. Terimakasih banyak, Pangeran!" Ujar Minea sambil menyatukan tangannya dan berekspresi seperti hampir menangis.
Melihat reaksi Minea yang nampak berlebihan membuat wajah Jerriel menjadi semakin masam.
"Hah! Aku sudah bersusah payah kabur dari istana dan membawa kereta ini, tapi kau bahkan terlihat setengah hati saat mengatakannya." Desis Jerriel.
Terdengar helaan nafas keluar dari mulut Minea, "Lalu apa maumu? Kau masih menyimpan dendam karena aku tidak mengajakmu pergi kesini, 'kan? Caraku meminta maaf dan berterimakasih padamu sudah benar kok!"
Tiba-tiba sebuah mantel besar disodorkan oleh Jerriel di depan wajah Minea.
"Pakai itu."
Mantel berbahan kulit yang tebal dan nampak mahal itu adalah mantel yang biasanya dipakai oleh Jerriel. Dan Minea tidak akan seberani itu untuk memakainya.
"Udaranya dingin. Pakai sekarang, ini perintahku."
“Aku tidak mau ada yang meributkan soal ini di istana nanti, Jerriel. Aku takut." Kata Minea lirih.
“Apalagi? Kenapa kau selalu meributkan soal hal yang tidak penting?” Timpal Jerriel.
“Mereka akan sinis padaku jika melihat mantel kerajaanmu yang berharga ini berada di badanku. Aku akan lewat pintu belakang saja.”
"Tidak bisa, pintu belakang sudah dikunci. Terpaksa kita harus lewat gerbang utama."
Mereka masuk lewat gerbang utama dengan begitu mudah. Para penjaga membiarkan kereta kuda yang dikendarai Jerriel melaju ke halaman istana menuju ke lahan peternakan yang begitu luas.
Mereka mengira bahwa yang baru saja tiba adalah kusir yang biasanya mengirim satu kereta penuh berisi rumput. Namun ketika melihat pria yang turun dari kereta itu membuka tudung mantel hitamnya dan berjalan dengan tegap menuju ke istana, mereka baru menyadari bahwa pria itu adalah Pangeran Jerriel.
Jerriel menghentikan langkahnya, menghiraukan para penjaga yang memberi hormat padanya. Ia menoleh ke belakang ketika menyadari bahwa Minea tidak mengikuti langkahnya. Gadis itu bahkan belum juga turun dari kursi delman.
Jerriel menggerakkan kepalanya sebagai isyarat agar Minea mengikutinya, lalu dengan ragu-ragu Minea yang mengenakan mantel milik Jerriel di bahunya itu pun turun dan melangkah pelan mendekati Jerriel yang masih menunggunya.
Diam-diam Jerriel tersenyum melihat tingkah aneh Minea yang menurutnya lucu itu. Apalagi tubuh kecil Minea yang seolah tenggelam di dalam mantel besar miliknya itu.
Jerriel membiarkan Minea berjalan di belakangnya sambil terus menunduk takut. Sampai mereka tiba di lorong istana dan bertemu dengan Vins yang sedang membaca buku di koridor.
Vins sontak bangkit dari duduknya dan memandangi dua orang di depannya dengan tatapan tajam. Ia nampak sangat terkejut sekaligus heran, tatapannya sangat mengganggu bagi Jerriel.
“Kau kenapa? Kau menatap kami seolah melihat hantu,” Tukas Jerriel yang risih.
“Kalian darimana?” Tanyanya serius.
“Kita dari desa untuk bertemu dengan anak-anak muridnya Minea.” Jawab Jerriel tegas.
“Ini terlalu malam untuk kalian pergi sesuka kalian.”
“Aku tahu apa yang ingin kulakukan dan apakah itu baik atau tidak. Kau tidak perlu mengguruiku, Vins.” Tugas Jerriel.
“Tidak perlu khawatir, Vins. Mereka hanya menemui penduduk desa malam ini,” Imbuh Pears dengan nada lembut, Ia baru saja tiba dari ujung lorong yang berbeda.
Nampaknya Pears mengetahui tentang pertemuan Jerriel dan Minea.
Sedangkan Minea menunduk tak berani menatap mata Vins yang terlihat menyelidik, dan membuatnya merasa bersalah karena memakai mantel milik Jerriel. Pasti Vins kurang menyukai pemandangan ini.
“Kenapa mantel itu bisa dipakai olehmu, Minea?”
Jerriel mengernyit, “Dan kenapa kau harus mengintrogasi kita seperti itu?”
“Aku harap kau diam, Jerriel.” Kata Vins singkat. Lalu mendekati Minea dan terus mengamatinya dengan tajam seolah mencari sesuatu.
“Dan kau, tunjukkan padaku yang kau bawa malam ini.”
Minea perlahan membuka sebuah kantong yang di dapatnya dari desa, berisi pemberian dari orang tua para muridnya.
Vins menatapnya tajam dan berkata dengan tegas, “Aku mau kau membuang semua yang kau bawa dari luar.”
“Tapi ini hanya pemberian dari saudara. Makanan dan beberapa hadiah untuk kenang-kenangan, Pangeran.” Jawab Minea pelan.
“Aku bilang apapun itu, buang semuanya!" Sergah Vins keras.
"B-baik, Pangeran. Aku akan membuangnya." Kata Minea terdengar bergetar.
"Sekarang pergilah ke kamarmu dan bersihkan dirimu!”
Mendengar nada bicara Vins yang meninggi itu pun membuat Minea hanya semakin menunduk ketakutan, Ia mengangguk lalu sedikit membungkuk dan berjalan meninggalkan mereka dengan tergesa-gesa.
Jerriel yang tidak terima melihat sikap Vins yang mendadak kasar pun langsung meremas kerah bajunya.
“Begitukah sikapmu kepada seorang wanita, Vins?!”
Vins menatap datar wajah Jerriel yang marah di depannya. Lalu dengan keras mendorong Jerriel hingga melepaskan genggamannya pada pakaiannya.
“Kau memperlakukannya seperti pencuri!” Sentak Jerriel.
“Aku hanya sedang melindunginya dari bahaya,” Jawab Vins datar.
“Bahaya apa? Apakah karena dia pergi denganku?! Jadi menurutmu aku berbahaya?!” Sergah Jerriel marah.
“Kau hanya tidak mengetahuinya, Jerriel!” Tukas Vins tak kalah emosi.
“Kalian, kumohon jangan bertengkar. Ini sudah malam. Jangan membuat orang-orang di istana cemas tentang ini.” Pears berusaha melerai kedua saudaranya yang sedang berseteru.
“Aku memang memberikan mantelku untuk dia karena di luar sedang dingin. Dan seharusnya kau bisa mengatakannya dengan baik-baik!”
“Jika kau tidak tahu apa-apa, maka diamlah. Kita sedang membicarakan hal yang berbeda!” Timpal Vins.
Jerriel tidak mau mendengar penjelasan Vins lagi. Ia mendorong Vins agar menyingkir dari jalannya hingga punggung Vins menabrak dinding lorong.
“Mungkin dia hanya lelah.”
Pears menepuk bahu Vins yang hanya menatap nanar ke arah punggung Jerriel yang berlalu.
Pears meraih buku milik Vins yang terjatuh karena Jerriel, dan baru menyadari raut wajah Vins yang kini sedang menahan sakit sambil memegangi kepalanya.
“Vins, apakah kau sedang sakit??”
Ia menggeleng dan hanya mengatakan bahwa sedang sakit kepala karena kurang beristirahat. Kemudian Vins meninggalkan Pears sendirian di lorong istana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa tinggalkan like, komentar, dan vote yaa.
Terimakasih! :)