
“Kenapa gerbangnya terbuka?”
Suara Jerriel mengheningkan suasana dan membuat para penjaga menyingkir dari jalan masuk Istana supaya Jerriel bisa mendekat.
Sebuah kereta kuda sederhana yang dikendarai oleh seorang lelaki paruh baya ada di depan pandangannya. Pasti para penjaga berusaha mencegahnya masuk ke Istana.
Lelaki paruh baya itu turun dari kereta dan berjalan dengan sedikit lemah menuju ke arah Jerriel. Kemudian Ia berlutut di hadapannya.
“Yang Mulia,” Suaranya terdengar pelan.
“Apa yang bisa kubantu untukmu, Tuan?”
“Namaku Juno. Aku datang dari desa Wedelia, menempuh perjalanan sehari semalaman hanya untuk bertemu dengan Yang Mulia, Pangeran Mahkota Jerriel."
Dengan lirih Jerriel berbicara pada dirinya sendiri, “Aku pikir desa itu sudah lama tidak ada.”
“Bangunlah, Tuan.” Jerriel menyentuh pundak lelaki itu dan memintanya berdiri. “Atas dasar apa kau datang kemari?”
“Di desa kami sedang mengalami kekeringan yang hebat. Lahan kami, perkebunan, dan peternakan kami mengalami kerugian dan kematian yang terus bertambah setiap harinya. Dan setiap keluarga disana mengalami kelaparan. Kami ingin memohon bantuan dan perhatian untuk desa kami, Yang Mulia.”
Jerriel menegakkan punggungnya. “Bukankah waktu itu Kerajaan telah meminta kalian untuk meninggalkan desa itu, dan memberikan sebuah daerah yang lebih baik untuk dihuni. Lalu kenapa kalian masih saja bersikeras untuk menempati desa gersang itu? Apa yang kalian cari disana?”
Jerriel tidak menyadari nada bicaranya yang meninggi dan membuat orang-orang di sekitarnya menunduk takut.
“Maafkan kami, Yang Mulia. Kami tidak bisa meninggalkan desa itu karena kami tidak ingin mendapat sesuatu yang baru dari wilayah yang bukan tempat kami berasal, kami tidak bisa menerimanya.”
Mendengar penuturan lelaki paruh baya itu, Jerriel merasa keangkuhan penduduk di desa itu begitu besar meskipun dalam keadaan yang memprihatinkan.
“Lalu apa yang kalian dapat dari itu? kekeringan? Kelaparan? Kesusahan? Katakan padaku,” Timpal Jerriel tegas.
“Kami hanya tidak ingin meninggalkan nenek moyang maupun semua keluarga kami yang dikubur di tanah itu.” Imbuh Tuan Juno lirih.
“Kalian masih bisa mengunjungi mereka sesekali meskipun kalian harus pindah ke tempat yang lebih baik untuk kalian huni. Vleaban adalah desa terbaik yang sudah kami sediakan untuk semua penduduk di Wedelia. Dan hal itu tidak akan membuat kalian mati dalam kesengsaraan di desa kering itu. Kerajaan sudah berusaha merawat kalian bukan?” Sangkal Jerriel.
Tuan Juno menunduk dan menyatukan kedua tangannya, “Atas nama penduduk desa, aku meminta maaf atas keangkuhan kami, Yang Mulia. Namun saat ini, hanya kalian yang bisa menolong kami.”
“Aku sudah bilang kepada kalian untuk berpindah ke wilayah yang lebih bagus daripada tempat kalian itu. Tapi kalian menolak dan mempertahankan desa tandus itu, sekarang sudah rasakan sendiri 'kan akibat dari keangkuhan kalian?”
Beberapa penjaga di sekitarnya merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dilontarkan Jerriel kepada rakyatnya yang sedang kesusahan.
Jerriel menghela nafas lalu melipat kedua tangannya dengan angkuhnya, “Sekarang kau boleh kembali ke desamu dan menunggu bantuan yang akan kukirim dari sini.”
Lalu Jerriel bergegas meninggalkan Tuan Juno dan para penjaga istana yang hanya mampu terdiam memandanginya itu ketika Pears menghampirinya dan merasa sedikit curiga dengan situasi kaku yang sedang terjadi saat ini.
“Ada apa ini, Jerriel? Kenapa kau tidak membiarkannya masuk dulu?”
Pears merasa prihatin dengan keadaan lelaki paruh baya yang tampak lemah itu. Ia berjalan mendekatinya, dan meminta penjaga untuk mengambilkan segelas air dan sedikit makanan untuk lelaki itu.
Jerriel menghentikan langkah, lalu tanpa membalikkan badan Ia berkata, “Dia datang dari desa Wedelia."
“Bukankah desa itu sudah lama tidak terdengar? Mereka sudah dipindah ke wilayah Vleaban, kan?”
“Kami masih menempati desa itu, Yang Mulia. Karena kami tidak ingin meninggalkannya.” Jawab Tuan Juno lirih.
“Dia bilang di desa mereka sedang mengalami kekeringan, kau harus kesana untuk memberi bantuan, Pears.” Kata Jerriel.
“Aku akan mengantarmu pulang, Tuan. Kami akan membawa pasokan makanan untuk penduduk disana.” Kata Pears tulus. Ia tidak tega melihat kondisi lelaki paruh baya itu yang dengan cepat meneguk sampai habis minuman yang diberikannya.
Pears mengusap bahu Tuan Juno, lalu memandang Jerriel dengan serius.
“Kau juga harus melihat keadaan mereka, Jerriel. Dengan melihatmu memberikan perhatian saja akan membuat mereka merasa senang.”
“Aku tidak bisa pergi bersama kalian kesana. Ada suatu hal yang harus aku selesaikan soal kasus si pengkhianat kerajaan. Aku Pangeran Mahkota dan aku harus membantu para petinggi istana untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara yang sepantasnya.”
Pears tersenyum lembut, “Setidaknya berkunjunglah walau sebentar.”
“Lalu siapa yang mengurus masalah Minea? Kau? Apa kau bisa?” Jerriel tersenyum singkat, “Sudahlah! Kau bisa kesana sendirian, Pears. Bukankah kau tidak ada urusan lain di kerajaan ini? Atau jika kau merasa takut pergi kesana sendirian, pergilah bersama Paman Hugo agar dia bisa menjagamu.”
Tanpa menoleh lagi Jerriel melangkahkan kaki memasuki istana.
Mendengar ucapan Jerriel yang terdengar tajam meninggalkan sedikit luka di hati Pears. Ia tidak menyangka bahwa kakaknya akan mengatakan itu di depan orang-orang. Ia merasa bahwa keberadaannya di kerajaan ini hanyalah kosong semata.
Sudah jelas selama ini Jerriel menganggap bahwa Pears tidak berguna. Berbeda dengan dirinya yang selalu memimpin kerajaan dengan baik, berbeda dengan Vins yang seolah menjadi perisai kerajaan dengan begitu hebatnya. Pears tidak bisa melakukan apapun seperti mereka, dan tidak akan pernah bisa.
Hal itu lagi-lagi selalu mampu membuat Pears mendadak murung.
Berusaha melupakan kalimat menusuk yang dilontarkan Jerriel padanya, Pears menyibukkan diri dengan membantu menyiapkan sebuah kereta yang akan membawa pasokan makanan untuk penduduk desa kekeringan itu.
Vins yang entah datang darimana itu tiba-tiba menepuk pundak Pears dan membuatnya memutar bola matanya.
“Sekarang kau juga mau merendahkanku huh?”
Alis Vins terangkat, tak menyangka bahwa Pears akan menuduhnya seperti itu, “Eh? Tidak! Aku tidak bermaksud begitu, Pears. Aku hanya—“
“Panahanku memang tidak sepandai dirimu, tapi aku bisa melindungi semua pasukan dengan pedangku yang lebih kuat dari anak panahmu, Vins.” Timpal Pears.
Vins yang mengetahui bahwa Pears sedang bergurau pura-pura tersinggung itu hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut Pears.
"Tentu saja. Kau 'kan Pangeran Pears." Kata Vins. "Lenganmu sudah membaik?"
Pears menggerakkan lengannya yang telah bebas dari jerat bidai, balutan tebal itu telah dilepas karena kondisi tulang lengan Pears kian membaik.
“Semuanya sudah siap?” Terdengar sebuah suara berat dari arah belakang dua pemuda itu.
“Aku sudah menyiapkan Utophia untuk perjalanan berhari-hari.” Pears tersenyum lebar ketika Hugo menghampiri mereka setelah mengecek semua yang dibutuhkan untuk berangkat ke desa Wedelia.
“Dan aku akan segera menyusul,”
“Ah, paman.. apakah kau juga meragukanku? Aku bisa pergi kesana sendirian. Dan kalian selesaikan saja tugas kalian disini. Lagipula, mereka meminta pertolongan pada Pangeran Pears. Bukan seluruh penghuni istana, kan?” Sahut Pears tidak terima.
“Desa Wedelia sangatlah jauh, Pears. Butuh waktu hampir sehari lamanya untuk menempuh perjalanan kesana, dan jangan lupakan soal serangan yang bisa saja terjadi di luar kesadaranmu.”
“Paman.. aku muridmu, bukankah kau sudah mengajarkan aku tentang ilmu itu? seperti yang kau ajarkan kepada Vins dan Jerriel. jadi kumohon, jangan terlalu memikirkanku.”
Pears bersendakap heran, lalu menatap Hugo dengan sangat curiga. "Lagipula kenapa kau begini? Sementara ketika Jerriel ataupun Vins yang pergi jauh, kau hanya membiarkan mereka. Paman masih tidak mempercayaiku ya?"
"Paman tidak perlu cemas karena malaikat yang kau kirim akan melindunginya dari marabahaya. Pears juga sudah memahami cara untuk melindungi diri dari serangan itu. Semuanya akan baik-baik saja." Ujar Vins.
Senyuman manis terukur di wajah Pears ketika mendengar dukungan yang diungkapkan Vins.
Hugo tersenyum lembut lalu menyentuh puncak kepala Pears dan memejamkan matanya. Sesuatu telah disalurkannya ke seluruh tubuh Pears selagi pemuda itu terus berceloteh agar Hugo mempercayainya untuk berkelana.
“Aku mempercayaimu,”
Setidaknya satu kalimat yang keluar dari mulut Hugo itu mampu membuat Pears tersenyum lebar.
“Perjalananku akan menyenangkan kalau begini,”
Beberapa kereta telah penuh terisi persediaan, para pengawal berkuda berdiri tegap di sekitar untuk menjaga mereka di sepanjang perjalanan.
Dan Pears duduk di dalam kereta kencana bersama Tuan Juno dan mengizinkannya untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang.
“Terimakasih, Pangeran. Karena masih bersedia menolong kami dan melihat keadaan desa kami.”
Pears tersenyum, “Itu sudah kewajiban kami sebagai pemimpin kerajaan untuk mengurus rakyat. Jika rakyat kami masih mengalami kekurangan seperti ini, maka semua upaya kami dan kejayaan kerajaan kami selama ini tidak akan ada gunanya.”
“Aku sangat berterimakasih atas keberanianmu datang dan melaporkan kesusahan kalian ke istana. Sudah berapa lama kekeringan ini terjadi, Tuan Juno?”
“Beberapa bulan belakangan ini, Pangeran. Tanah di desa kami mengalami keretakan dan menghisap habis sungai yang menjadi satu-satunya sumber air semua penduduk kami,”
Pears terkejut mendengar pengakuan Tuan Juno, “Apa? Lalu kenapa kalian baru melaporkannya sekarang? Apa yang kalian lakukan untuk bertahan hidup selama itu?”
“Kami mendapat sedikit makanan dari desa sekitar yang wilayahnya dapat kami jangkau. Dan terkadang salah satu keluarga bangsawan juga memberi bantuan. Mereka datang ke desa kami untuk membantu dan memberi kami pertolongan.”
“Benarkah? Betapa baiknya, siapa mereka?”
“Mereka bilang, tempat tinggal mereka di Monostera. Seorang gadis bernama Ara dan saudaranya yang bernama Swain selalu mampir untuk membantu. Setiap datang berkunjung mereka seolah membuat desa kami kembali segar, Pangeran. Mereka bagaikan dewa.”
Sedangkan Pears terus termenung memikirkan tentang nama yang disebutkan Tuan Juno.
Monostera letaknya sangat berjauhan dengan desa Wedelia, bagaimana bisa keluarga terpandang yang tinggal di pemukiman kelas atas yang hanya ditinggali oleh para bangsawan di Runthera itu bisa menemukan desa itu dan dengan suka rela memberi bantuan.
“Apakah aku bisa bertemu dengan mereka disana?”
“Entahlah, Pangeran. Terkadang mereka datang, dan seringkali tidak. Jika beruntung, kita bisa melihatnya, dan kekeringan untuk sementara akan berganti menjadi segar.”
Pears semakin penasaran dengan semua cerita Tuan Juno.
Pears berharap bisa bertemu dengan keluarga bangsawan yang dimaksud oleh Tuan Juno disana untuk mengucapkan terimakasih secara langsung.
Setelah itu Pears benar-benar membiarkan Tuan Juno beristirahat di tempat duduknya yang nyaman di dalam kereta kencana yang sedang membawa mereka meninggalkan pusat kota Runthera.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...