
Kereta kencana yang membawa Pears dan Tuan Juno melesat cepat melewati sebuah wilayah yang dikelilingi pepohonan lebat.
Beberapa jam yang lalu rombongan itu telah meninggalkan perbatasan kota, dan kini mereka memasuki wilayah pelosok desa yang nyaris tidak pernah lagi dikunjungi oleh keluarga Kerajaan sejak puluhan tahun yang lalu, setelah kelahiran Pangeran Vins dan Pears ketika Ratu Ryme harus terbaring lemah dan harus mengalami tidur panjang.
Hal ini menjadi pengalaman pertama bagi Pears pergi ke wilayah yang cukup jauh dari jangkauan penjaga istananya, dan Ia baru menyadari sisi lain dari mewahnya kota Runthera yang selama ini Ia ketahui.
Pears tersenyum lembut ketika hembusan angin sejuk menyapu kulit wajahnya yang tengah menikmati pemandangan dari jendela kecil di pintu keretanya.
Berbeda dengan bangunan-bangunan megah di Runthera, suasana pedesaan itu terasa begitu asri dan tentram.
Perkebunan membentang luas sejauh mata memandang, pepohonan rindang dan rumah-rumah tradisional milik warga yang terbuat dari kayu dan batu masih berdiri kokoh di sekitarnya.
Jalanannya masih terbuat dari tanah dan bebatuan kecil yang terdapat rerumputan dan tumbuhan liar di kiri dan kanannya.
Dari kejauhan Pears bisa melihat beberapa warga yang sedang sibuk memetik hasil kebun mereka ketika tiba-tiba keretanya berhenti bersamaan dengan ringikan kuda dan pekikan kusir yang mengendalikan keretanya itu.
Pears melihat ke depan dengan cemas, "Apa yang terjadi, Tuan?"
Tak terdengar jawaban, karena kusirnya itu telah lebih dulu turun untuk memastikan situasi. Khawatir bila tanpa sadar mereka mencelakai seekor hewan liar.
Pears melirik Tuan Juno yang sedang terlelap di kursinya dan enggan menganggu tidurnya, Ia hanya berjalan turun untuk melihat hal apa yang sedang terjadi sehingga membuat perjalanan mereka harus terhenti.
Namun anehnya Pears tidak menemukan siapapun disana. Kusirnya yang sempat turun dari kereta tadi seketika menghilang entah kemana tanpa mengatakan apapun padanya.
Begitu pula para pasukan berkudanya yang lain. Padahal beberapa saat yang lalu Pears jelas masih mendengar suara mereka di depan dan belakangnya keretanya.
Ia memutari keretanya sembari berseru memanggil mereka, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka selain dirinya yang sedang sendirian di tengah desa yang tenang itu.
Menyadari semua pasukannya menghilang, Pears dirundung kecemasan akan situasi janggal yang terjadi di depannya saat ini.
Di tengah kepanikan itu, langkah Pears terhenti ketika seekor burung gagak yang telah terbujur kaku tiba-tiba terjatuh di depannya. Darah segar mengalir dari tubuh hewan itu, samar-samar Ia bisa mendengar hewan itu merintih dan membuat Pears mulai ketakutan.
Pears berjalan mundur hendak kembali ke keretanya namun seketika semua hal di sekelilingnya berubah. Pedesaan yang rindang itu berubah menjadi sebuah kota terbengkalai yang dipenuhi kabut dan debu. Langit yang di penuhi awan mendung yang pekat semakin membuat tempat itu nampak mencekam.
Entah dimana Ia berada saat ini, Pears hanya berusaha untuk bisa mencari jalan keluar dari tempat antah berantah itu.
Namun ketika hendak melangkahkan kakinya, Pears sontak terjembab ke tanah dan baru menyadari bahwa pergelangan kaki kirinya kini terjerat pada sebuah besi yang sangat berkarat, yang terikat pada sebuah dinding besar yang nampak seperti sisa bangunan yang telah lama runtuh.
Semakin Ia berusaha melepaskan jerat itu, semakin lukanya terasa seolah menyayat kulit kakinya. Hingga menimbulkan luka dengan darah bercampur nanah yang mengerikan di sekitar kakinya.
Pears berteriak kesakitan hingga suaranya menggema di tempat sunyi yang seperti kota mati itu. Ia hanya bisa merintih di tanah dan sesekali mengamati sekelilingnya, tempat ini sangat asing bagi Pears.
Tepat di seberang penglihatannya, berdiri sebuah kastil yang begitu kokoh dengan dinding besar yang mengelilingi bangunan itu. Kastil itu terlihat megah dan tinggi menjulang, nampak menakjubkan sekaligus menakutkan.
Namun Pears hanya sendirian, terikat di sisa reruntuhan bangunan yang berdiri di tengah tanah lapang yang dipenuhi bangunan-bangunan tua yang porak poranda.
Dan yang sangat membuatnya hampir gila adalah, bagaimana bisa Ia berada di tempat seperti ini?
Tak lama kemudian sayup-sayup Ia mendengar suara rintihan burung gagak yang sekarat tadi, suaranya semakin jelas terdengar ketika kini tiga orang wanita bergaun merah tua mendekat ke arahnya.
Pears sontak bangkit dan bergerak mundur menghindari tiga sosok wanita berkulit pucat itu, namun salah satunya terus mendekat ke arah Pears sembari menenteng seekor burung gagak yang sekarat meskipun darah segarnya terus menetes di tanah.
"Jangan mendekat!! Siapa kalian?! Aku ada dimana?!" Sergah Pears marah.
Wanita itu hanya tersenyum sinis, kini wajahnya sudah berada tepat di depan wajah Pears.
"Pelankan suaramu, Pears. Jaga bicaramu di tempat seperti ini." Ujarnya lembut namun terdengar menyeramkan bagi Pears.
"Kau tahu namaku?" Pekik Pears, waspada.
"Tentu saja. Aku.. telah sangat lama mengenal siapa dirimu. Tapi tenang saja, tidak perlu bingung jika kau tidak mengenalku," Katanya, masih dengan nada bicara yang sama.
"Cepat katakan dimana aku sekarang?!" Tukas Pears.
"Disini adalah rumah barumu." Ucapnya lembut.
"Ini pasti hanya mimpi buruk!" Timpal Pears, berusaha menenangkan dirinya.
"Omong kosong! Siapa yang membawaku ke tempat seperti ini?!"
Seringaian aneh terukir di sudut bibir wanita itu, "Kau yakin ingin mengetahui siapa yang membuatmu kesini?"
"Siapa? Katakan!"
"Mereka adalah kedua orang yang sangat kau cintai. Orang tuamu sendiri."
Untuk sesaat Pears tercenung mendengar ucapannya.
"Aku tahu, kau pasti akan sulit untuk bisa menerima kenyataan ini. Tapi wanita yang telah mengandungmu, dan pria yang biasa kau sebut sebagai Ayah itu adalah sosok kejam yang telah membuatmu harus terjerat di tempat ini, Pears."
"Tidak mungkin!!" Seru Pears gusar.
"Suatu saat, kau pasti akan menyadarinya. Aku mengerti, telah banyak yang kau lalui dan membuat hidupmu semakin tertekan. Keluargamu, saudaramu, dan orang-orang sekitar yang berpura-pura baik kepadamu. Yang tidak lain hanyalah menganggapmu kosong, lemah, dan tidak berarti. Berbanding terbalik dengan kedua saudaramu yang sangat diagungkan. Kehadiranmu selalu tidak dipandang, selalu tersisihkan, dan diremehkan oleh orang-orang. Aku sangat memahami bagaimana rasanya berada di posisimu itu, Pears."
Pears yang masih terengah itu hanya menatap wanita itu dengan tajam, tanpa bisa mengatakan apapun karena dari lubuk hatinya yang terdalam Ia membenarkan apa yang dikatakan olehnya.
"Kau pasti berpikir, bagaimana aku bisa mengetahui itu semua, kan? Sudah kubilang, aku telah sangat lama mengenal siapa dirimu, Pears." Sambungnya, dengan seulas senyuman dingin.
"Kau tidak tahu siapa aku, ataupun keluargaku. Berhenti mengatakan omong kosong di depanku!" Sanggah Pears.
"Kau hanya perlu menerima kenyataan, Pears. Ucapanku sangat benar sehingga membuatmu marah ketika mengingat bahwa itu semua nyata adanya. Aku bisa membantumu untuk membalaskan dendammu, jika saja--"
Jemari lentik itu menyentuh wajah Pears, namun dengan cepat Pears menampik tangan wanita itu dan membuatnya nampak gusar.
"Patuhlah kepadaku jika kau ingin selamat." Bisiknya.
"Argghh! Lepaskan aku!!" Teriak Pears keras.
Mengacuhkan teriakan Pears, wanita itu justru mencengkram keras rahang Pears sehingga membuat mulut Pears terbuka.
Lalu Ia mengangkat burung gagak sekarat itu di atas wajah Pears sehingga membuat darahnya mengucur tepat ke dalam mulut Pears yang tidak bisa melakukan apapun itu.
“Pangeran,”
“Pangeran....”
“Pangeran Pears!”
Ia seketika terbangun ketika merasakan ada yang mengguncang tubuhnya. Pears bangkit dari tidurnya dan melihat Tuan Juno menunduk padanya.
Pears terbangun dengan nafas terengah-engah, keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya, dengan cepat matanya bergerak melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa Ia sudah kembali ke kenyataan setelah mengalami mimpi buruk itu.
Ia sedang berada di dalam keretanya yang sudah berhenti, sontak Ia membuka pintu keretanya dan memastikan bahwa semua pasukannya masih lengkap dan situasi di sekelilingnya masih normal.
Namun mimpinya tadi benar-benar terasa sangat nyata, bahkan Ia mulai merasakan sedikit nyeri di pergelangan kaki kirinya, dan juga sececap rasa aneh yang membekas di lidahnya.
“Maafkan aku, Pangeran. Bukan bermaksud mengganggu tidur Pangeran. Tapi, kita sudah sampai di desa Wedelia.” Kata Tuan Juno, merasa bersalah.
Pears kembali duduk lalu mengatur nafasnya untuk kembali ke kenyataan, “Baiklah. Tidak apa, Tuan. Terimakasih banyak.”.
Berusaha melupakan hal mengerikan di dalam mimpinya itu, Pears mengusap kedua matanya lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling desa tandus ini.
Pepohonannya gundul, rumputnya mengering, tanahnya tandus, dan semua tumbuhan layu. Daerah itu benar-benar seperti sebuah lahan kering sisa kebakaran hutan yang hebat. Bagaimana bisa manusia bertahan hidup di tempat seperti ini?
Ia melompat turun dari kereta dan merasakan betapa sakit punggungnya setelah tidur dalam posisi duduk di dalam kereta kuda yang sedang berjalan.
Satu hari lamanya mereka menempuh perjalanan menuju ke desa itu.
Pears berjalan mendekati Utophia dan melepaskan kuda berbulu coklat kesayangannya itu dari kereta. Ia memimpin langkah prajurit dan kusir yang membawa kereta milik Tuan Juno dan beberapa kereta milik Kerajaan berisi persediaan makanan ke tempat yang di tunjukan oleh Tuan Juno.
“Bagaimana bisa tempat ini menjadi begitu kering?” Pears melihat ke sekelilingnya dengan sangat prihatin.