
Ketika sudah bersiap diri dan berpenampilan rapih seperti biasanya, Jerriel yang tampak begitu tampan dalam setelan jas itu berjalan meninggalkan kamarnya.
Tanpa terlihat segaris senyuman pun di wajahnya yang selalu serius, Jerriel melewati para pelayan dan penjaga yang membungkuk ketika berpapasan dengannya di lorong istana.
Kemudian ia berbelok ke ruang pertemuan dan menemukan Pears yang sedang berkutat di sekeliling meja jamuan makan malam, tak kalah sibuk dengan para pelayan yang silih berganti menata ruang pertemuan.
Beberapa petinggi Kerajaan terlihat sudah menempati kursi di meja pertemuan ini. Namun dia terlihat paling antusias malam ini.
“Tolong siapkan kursinya...”
“Tolong tambah kuenya...”
“Apakah sup ini benar-benar sudah matang?... “
“Mana tehnya?...”
“Jangan letakkan lilinnya disitu ya...”
“Apakah serbetnya sudah cukup?...”
“Apakah korden di jendela itu tidak mengganggu saat tertiup angin?... “
“Apakah ruangan ini sudah bagus?”
“Uhmm.. Bagaimana dengan makan malam diluar ruangan?”
Dia terlihat seperti menyiapkan sebuah acara besar lebih dari sebuah jamuan makan malam dengan keluarga Bangsawan.
“Pangeran Pears, ini sudah lebih dari cukup.” Kata Hugo, mencoba menenangkan Pears yang tampak gugup itu.
“Aku hanya.. terlalu antusias menyambut mereka, Paman.” Pears mendengus lalu duduk di samping Hugo dengan sedikit kesal, Ia sudah melakukan banyak hal dari yang kecil sampai yang terpenting tapi kenapa rasanya masih saja ada yang kurang?
“Percayalah, gadis itu pasti menyukai apapun yang kau siapkan.”
Mendengar penuturan Hugo yang terkesan menyudutkannya, Pears hanya bisa tertawa menyembunyikan rasa malunya.
“Apa yang Paman bicarakan? Aku menyiapkan ini untuk kita semua, bukan hanya untuk seseorang saja.” Timpalnya.
Pears akhirnya menyadari keberadaan Jerriel yang telah cukup lama hanya terdiam di ambang pintu aula istana. Ia melambaikan tangan agar Jerriel segera bergabung lalu Pears menarikkan kursi untuknya. Sebagai salah satu upayanya untuk mengalihkan topik pembicaraan dengan Hugo.
Untuk sesaat suasana mendadak hening ketika Jerriel harus duduk berseberangan dengan Hugo. Mengingat terakhir kali mereka bertatap muka dalam situasi yang tidak mengenakan.
Pears yang mengetahui perubahan itu segera menuangkan teh ke cangkir di depannya untuk mereka berdua dan berkata,
“Ini teh langka, daun tehnya di petik langsung dari sebuah perbukitan di pegunungan Utara. Dan konon katanya siapapun yang meminum teh ini saat masih hangat, maka suasana hati mereka akan langsung berubah menjadi jauh lebih baik. Jadi.. Jerriel dan Paman, silahkan bersulang ya,”
Hugo hanya tersenyum simpul sambil menatap Jerriel, kemudian Ia mengangkat gelasnya. Sementara Jerriel tak bergeming sedikitpun, hanya melirik segelas teh itu dengan tidak minat.
“Bersulang untuk Pangeran Jerriel yang tak pernah keluar kamar sejak memaki Pamannya di ruang pertemuan.” Ujar Hugo.
Mendengar itu, sebuah senyum tipis tampak terukir di wajah Jerriel yang semula serius, “Aku tidak pernah melakukan itu,”
Hugo mengendikkan bahu dan tertawa kecil. "Tentu saja kau melupakan itu."
Lalu tangan Jerriel bergerak meraih cangkir teh di depannya, “Bersulang untuk Paman Hugo yang seharusnya menjadi Raja, tapi dia tidak pernah menemukan Ratunya.”
Mereka bertiga tertawa mendengar balasan Jerriel yang sedikit nakal. Tidak ada yang berani menggoda Hugo seperti itu kecuali Jerriel.
Mereka tahu Hugo saat ini seharusnya sudah berkeluarga dan mempunyai seorang anak yang seusia Jerriel, tapi Pamannya yang awet muda itu selalu tertutup tentang kehidupan asmaranya.
"Bukan tidak pernah menemukannya, Jerriel. Paman itu sangat berhati-hati untuk memilih pasangannya." Kata Pears. "Atau Paman ini adalah sosok Pria yang tidak suka berkomitmen dengan seorang wanita?"
"Oh, kedengarannya itu lebih mengejutkan jika benar terjadi. Benar begitu, Paman?" Goda Jerriel.
Hugo tertawa kecil, "Jadi.. kalau aku sudah menikah, maka aku akan menjadi Raja? Teori darimana itu?"
"Bisa saja. Ah, tapi.. benar atau tidak dugaan itu?"
Hugo bersendakap sambil mengerutkan dahinya, "Apakah aku harus mengatakan yang sesungguhnya, atau aku harus memberikan jawaban yang bisa menghibur kalian?"
"Tuh kan. Kalau dilihat dari jawabannya yang ambigu, kenapa aku jadi curiga jika sebenarnya Paman sudah memiliki istri dan anak di luar sepengetahuan kita?" Ujar Pears yang semakin menggiring opini pada Jerriel. "Paman sengaja menyembunyikan keluarga kecilnya di sebuah desa di Runthera dan akan mengunjunginya diam-diam ketika sedang mengawasi keadaan sekitar seperti biasanya. Itu masuk akal 'kan, Jerriel?"
"Jika benar, Paman Hugo sangat keterlaluan. Kita sudah sangat lama hidup bersama, bahkan Paman Hugo tahu dimana saja dan berapa jumlah tanda lahir yang aku punya, tapi Paman menyimpan banyak rahasia di kehidupannya seperti itu. Aku akan menganggapnya sebagai pengkhianatan." Ujar Jerriel serius.
Sekali lagi Hugo hanya bisa tertawa melihat tingkah Pears dan Jerriel yang semakin jauh menerka-nerka tentang kehidupannya tang sangat tertutup.
"Bagaimana kalau ternyata aku sudah memiliki cucu, dan cicit, dan cucu dari cucu-cucu ku? Yang nantinya akan memanggil kalian dengan sebutan kakek buyut? Bayangkan saja." Gelak Hugo yang semakin membuat Pears dan Jerriel tertegun atas ucapan Hugo.
"Paman jangan menjadi semisterius itu, kumohon. Itu tidak benar, kan?"
"Tidak benar. Itu hanya khayalan liar kalian saja kok. Sekarang tutup mulut kalian atau kabar bohong itu bisa menyebar ke seluruh Runthera." Ucap Hugo sambil tersenyum misterius sebelum meneguk secangkir tehnya.
"Oh ya, Pears. Aku hampir lupa menanyakan satu hal. Kenapa kau mengadakan pertemuan ini? Dan siapa yang kau undang kali ini?" Tanya Jerriel dengan raut wajah yang kembali serius.
"Mereka adalah Ara dan Swain Mooswa keluarga Bangsawan yang tinggal di Monostera, mereka telah banyak membantu para penduduk yang sedang kesulitan di Wedelia. Jadi sebagai bentuk ucapan terimakasih, aku ingin mereka datang kesini. Kau tidak keberatan kan, Jerriel?"
"Sejujurnya aku keberatan, Pears."
Jawaban Jerriel yang terdengar tegas membuat senyuman di wajah Pears perlahan memudar.
"Aku tidak mempermasalahkan pertemuan yang kau buat kali ini. Tapi lain kali tolong lebih berhati-hati, kau tidak harus membawa setiap orang asing ke istana dengan alasan hanya karena menurutmu mereka baik dan ingin membalas budi. Kita tentu saja tidak bisa mengetahui apa isi pikiran mereka, siapakah mereka sebenarnya, adakah maksud tertentu dibalik kebaikan mereka. Karena jika mereka sudah berhasil masuk ke istana, kita tidak akan bisa mencegahnya."
Pears seketika terdiam mendengar penuturan Jerriel yang cukup menyadarkannya. Tatapan mata Jerriel yang tajam membuatnya tertunduk, terbesit rasa takut dan sedikit kesal di dalam hatinya karena kalimat yang diucapkan Jerriel ada benarnya.
Namun Ia juga merasa agak tersinggung karena seolah Jerriel masih menyalahkan dirinya dan tidak bisa mempercayai keputusan Pears dalam berteman.
"Aku harap kau bisa lebih memilah pertemananmu di luar sana, Agar tidak terjadi lagi seperti yang dilakukan seorang temanmu yang terakhir kali kau bawa ke istana itu. Atau kau bisa membahayakan semua orang di dalam istana, terutama Ibu." Sambung Jerriel dengan nada bicara yang lebih lembut.
Mendengar itu, Pears hanya menghela nafas dan melunakkan hatinya.
"Baiklah, Jerriel. Untuk ke depannya aku akan lebih berhati-hati. Aku minta maaf karena selama ini aku tidak meminta izin padamu terlebih dahulu sebelum membawa seseorang ke istana." Ujar Pears menyesal.
Meskipun sempat marah karena pertemuan ini, tapi Jerriel tidak ingin merusak keceriaan Pears yang telah sangat antusias menyiapkan semuanya. Apalagi setelah mendengar betapa semangatnya Pears ketika menceritakan dua bangsawan yang dia maksud itu. Mereka berdua pasti telah berhasil mengambil hati Pears hingga membuatnya mempercayai mereka seperti itu.
"Tidak apa. Aku bisa mengerti kok. Kau pasti malas meminta izin padaku karena jawabanku hanya akan selalu 'tidak'. Dan kau tidak suka mendengarnya." Ujar Jerriel acuh, dan membuat Pears hanya bisa tertawa kecil.
Kemudian Ia melihat sekelebat cahaya merah disela-sela rambut hitam Jerriel yang rapih itu. Yang perlahan helaian rambut merah itu menyala seolah bersahutan dan membuat raut wajah Jerriel sedikit pucat dan nampak tidak nyaman.
"Jerriel? Kau baik-baik saja?" Tanya Pears sambil menyentuh punggung tangan Jerriel yang terasa dingin.
"Oh? I-Iya, tidak apa. Aku baik-baik saja.." Sahut Jerriel lirih.
Pears tahu bahwa Jerriel berusaha menutupi rasa sakitnya, namun kini perhatiannya tertuju pada pergelangan tangan Jerriel yang kosong.
Ia memastikan tangan Jerriel yang satunya, namun kedua pergelangan tangan Jerriel yang tertutup lengan jas yang panjang itu tidak terdapat gelang pelindung yang diberikan oleh Hugo.
Sementara Hugo sedang berbincang dengan yang lainnya, Pears berbisik pada Jerriel, "Mana gelangmu? Kau tidak memakainya?"
Jerriel menarik tangannya dari Pears, "Aku meninggalkannya di kamar Ibu."
Pears menghela nafas, Ia tahu bahwa Jerriel pasti akan melakukan ini. Maka Pears melepas gelang di tangannya lalu Ia masukkan ke saku jas Jerriel.
"Pakai punyaku dulu. Kau harus terus memakainya, Jerriel." Kata Pears.
"Memangnya apa yang akan terjadi kalau aku tidak memakainya? Tanpa gelang itu pun aku bisa menjaga diriku sendiri." Desis Jerriel acuh.
"Sudahlah, pakai saja." Tukas Pears.
Lalu seperti sebuah sihir, perlahan helaian rambut merah Jerriel yang menyala itu mulai meredup ketika gelang itu melekat di tubuh Jerriel. Namun samar-samar helaian itu masih menyala, dan membuat Jerriel masih menahan rasa sakit yang berusaha Ia sembunyikan.
......................
Dua pedang yang sangat panjang dan tajam tiba-tiba menyilang di depan pandangan Swain dan harus membuatnya menghentikan laju sepedanya dengan sigap.
Swain masih terkesiap, tidak menyangka akan dihadang seperti itu ketika Ia mengayuh sepedanya memasuki sebuah lorong pendek yang menuju ke jembatan yang mengarah langsung ke gerbang istana.
Dengan tajam Swain melirik dua penjaga yang berdiri di sisi kiri dan kanan jalan, dua orang itu yang menghadang jalannya dengan pedang panjang.
"Hey! Menurut kalian apa yang baru saja kalian lakukan huh? Untung saja aku sigap menarik rem. Kalau tidak, pedang kotor kalian itu akan membuat wajahku yang tampan menjadi berdarah berantakan berluka-luka!"
"Swain, tenanglah." Ara yang juga masih terkejut karena harus berhenti secara mendadak itu hanya mengusap bahu Swain dari belakang.
"Tidak bisa begitu, Euna. Dua penjaga amatir ini hampir mencelakai kita! Satu detik saja terlewat, ujung hidungku akan terpotong dan jatuh ke tanah, tahu?!" Sergah Swain.
"Mau kemana kalian?" Tanya seorang penjaga yang mendekat ke arahnya, masih enggan menurunkan pedangnya.
"Lihatlah, bahkan dia tidak meminta maaf ataupun menyesal sedikitpun." Cibir Swain.
"Kalian ini mau kemana?!" Tanya penjaga itu lebih tegas.
"Kemana lagi? Mata kalian tidak bisa melihat kemana arah jalan ini berujung huh? Apakah ada tujuan lain yang bisa dilalui dengan jalan ini?! Kita mau pergi ke istana!" Swain masih berbicara dengan gusar.
"Tidak sembarang orang diperbolehkan masuk ke istana. Jika tidak ada kepentingan segera pergi dari sini!"
"Aku juga tidak akan masuk kesana jika tidak diundang oleh Pangeranmu! Dia yang meminta kita datang kesini!" Tukas Swain tak kalah gahar.
Ara beranjak turun dari boncengan sepeda mendekati penjaga itu agar Swain tidak lagi marah-marah.
"Mohon maaf sebelumnya, nampaknya disini ada sebuah kesalahpahaman. Aku adalah Ara, dan dia adalah Swain. Kami tinggal di Monostera dan Pangeran Pears telah mengundang kami untuk kesini. Kami datang dengan cara seperti ini karena terjadi kendala di perjalanan, jadi dengan terpaksa kami harus menaiki sepeda tua ini." Ujar Ara dengan lembut.
Dua penjaga itu nampak saling melempar pandangan, lalu dengan kesepakatan yang tak terucap mereka menurunkan pedang dari hadapan Swain dan memberi keduanya jalan menuju ke Istana.
"Bagus. Lalu.. adakah yang ingin kalian katakan pada kami? Aku menunggu.." Kata Swain.
"Maafkan kami Tuan dan Nyonya Mooswa. Kami menyesal karena sudah menghunuskan pedang dengan tidak sopan. Izinkan aku mengantar kalian untuk masuk ke istana."
Swain tersenyum cukup puas, sementara Moon Ara disampingnya menatapnya aneh.
Keduanya berjalan di belakang seorang penjaga tersebut. Swain menuntun sepeda tua itu, dan Ara berjalan di dekatnya sambil mengagumi pemandangan di sekitar istana.
Dibawah jembatan yang mereka lewati terdapat sebuah sungai luas yang mengalirkan debit air tenang. Terdengar deburan air terjun pendek yang terdapat di ujung sungai yang mengalir ke sungai di bawahnya. Istana yang begitu megah itu dikelilingi dinding berwarna putih, dengan jajaran pohon rindang dan taman bunga aster di sepanjang jalannya. Membuat Ara tak berhenti terpukau melihat keindahan Istana Kerajaan Runthera.
Di depan pintu gerbang, penjaga itu berbincang sebentar dengan penjaga lainnya.
"Tuan dan Nyonya, silahkan masuk. Mereka akan mengantar kalian menuju ke dalam, dan izinkan aku untuk membawakan sepeda anda." Kata penjaga itu.
"Jaga sepeda ini baik-baik ya, jangan sampai hilang! Atau akan kubuat hidungmu itu terbelah menjadi dua dan jatuh ke tanah!"
Ara menepuk punggung Swain yang masih saja mengganggu penjaga tersebut. Kemudian mereka melangkah memasuki istana mengikuti seorang pria yang dimaksud.
Ketika melangkah menyebrangi halaman istana yang sangat luas dan memiliki pemandangan yang lebih indah dan menyejukkan, tiba-tiba terlintas pertanyaan di pikiran Ara yang membuatnya buru-buru berbisik kepada Swain.
"Swain, apakah kau berpikiran sama denganku?"
"Aku tidak bisa membaca pikirkanmu, tapi kurasa.. Ya, sama."
"Kenapa di dalam sini tidak nampak sama sekali lilin pengusir setan? Padahal di sepanjang jalan tadi, aku bisa mencium asap lilin itu meskipun berjarak cukup jauh. Aneh sekali, bukan?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...