
Revan ingat kapan terakhir kali ia bisa bercanda bersama kedua orang tuanya. Ingatannya pun masih menyimpan jelas memori mengenai kapan terakhir kali mereka menghabiskan waktu bersama dan bercerita untuk saling mengenal satu sama lainnya.
Namun itu sudah berlalu terlalu lama dari masa sekarang.
Sekarang, Revan sudah dewasa; sedang gambaran-gambaran manis yang tersimpan di hatinya itu, terjadi di waktu kanak-kanaknya.
Setelah kakeknya meninggal di usia Revan yang kedelapan, mereka pun pindah ke Australia.
Sang kakek meninggalkan warisan yang cukup banyak, sehingga kedua orang tuanya pun tergiur untuk memulai usaha dengan bermodalkan harta peninggalan itu.
Pada awalnya, mereka bertiga hidup dengan berpindah-pindah kota di Negara Australia, hingga akhirnya, mereka mengenal Darwin yang memiliki iklim tropis seperti negara asal mereka, Indonesia ~ dan itu, membuat mereka memutuskan untuk menetap di sana.
Sayangnya, kepindahan mereka ke Darwin, bukanlah sebuah awal dari sesuatu yang baik.
Kedua orang tua Revan semakin sibuk dengan pekerjaan mereka. Sosok Maia dan Sadewa pun jadi tak memiliki waktu untuk anak mereka.
Usaha Sadewa dan Maia, mungkin semakin bersinar dari bulan ke bulannya. Hidup mereka semakin berkecukupan dan pada akhirnya bergelimang dengan kemewahan.
Sayang, ada yang harus dikorbankan untuk itu.
Yaitu mental Revan.
Revan yang kekurangan kasih sayang pun menjadi tak tentu arah. Ia mencari kebahagiaannya sendiri dengan caranya, meski itu dengan cara yang kotor dan menjijikkan sekalipun.
Revan remaja sudah mengonsumsi obat-obatan terlarang. Diam-diam, ia pun sering mabuk-mabukkan dan berakhir di ranjang bersama seorang wanita bayaran.
Revan merasa dirinya telah hancur sejak awal. Oleh sebab itu, ia yang sudah menyentuh dunia kelam pun semakin menenggelamkan dirinya ke kekelaman itu.
Revan tak peduli meski pada dasarnya, ini bukan sepenuhnya salah orang tuanya. Baginya, hanya Maia dan Sadewa yang bertanggung jawab atas segala kekacauan dalam hidupnya.
Namun, hidup kita berada di bawah kendali kita sendiri, dan Revan melupakan itu.
Kenyataannya, menyalahkan orang lain tak akan ada gunanya jika kita tidak ikut melihat kesalahan di dalam diri kita juga.
Salahku adalah salahku, dan salahmu tetaplah salahmu.
Pada akhirnya, Revan semakin mengotori dirinya sendiri. Ketika orang tuanya sibuk bekerja siang dan malam, ia pun mabuk-mabukkan dan menghabiskan waktu dengan wanita-wanita dewasa untuk memuaskan hasrat seksualnya yang membara.
Lagi-lagi, orang tuanya tak pernah tahu dan tak pernah peduli tentang itu. Revan pun begitu hebat memainkan perannya sebagai anak baik yang berbakti kepada ayah dan ibunya.
Namun, tentunya itu hanyalah topeng belaka.
"Revan, jangan lupa kerjakan tugas sekolahmu! Jangan hanya tahu bermain saja!"
"Jangan dekat-dekat dengan gadis itu. Tidakkah kamu tahu, ayahnya baru saja tersandung kasus korupsi? Jangan mencemari nama ayah dan ibu dengan kamu mendekatinya!"
"Apa yang terjadi dengan wajahmu? Kamu berkelahi?"
"Minggu ini, ayah dan ibu harus pergi ke luar kota selama beberapa hari. Tetap di rumah dan jangan keluyuran!"
"Ini uang sakumu bulan ini. Jika tidak cukup, nanti minta tambahan ke Ayah saja."
"Mau menjadi arsitek? Pekerjaan macam apa itu? Seharusnya, kamu menjadi pengusaha seperti ayah dan ibu—jelas terbukti sukses."
"Ayah dan ibu sibuk. Nanti, biar pelayan yang merawatmu dan memberimu obatnya."
"Kamu anak yang baik dan penurut. Cepat ganti bajumu. Hari ini, datanglah ke pesta bersama ayah dan ibu. Jangan membuat kami malu dengan baju kampunganmu."
"Jangan banyak protes! Kami berkerja juga untukmu. Kamu tidak akan bisa makan enak setiap hari jika ayah dan ibu tidak bekerja sampai seperti ini! Busana mahal yang kamu pamerkan ke teman-temanmu, itu juga berasal dari uang kami."
"Ayah dan ibu tidak mau tahu! Kamu harus menurut! Kuliah dan ambillah jurusan bisnis! Jangan egois dengan hanya memikirkan mimpimu menjadi arsitek yang hanya omong kosong itu. Dengan pekerjaan tidak menghasilkan seperti itu, kamu mau jadi apa? Menjadi pengusaha lebih terjamin."
Revan berdecak sebal ketika mengingat kata-kata itu. Kedua orang tuanya melarangnya ini dan itu tanpa peduli dengan apa yang Revan butuhkan sesungguhnya.
Kasih sayang—itulah yang Revan butuhkan dan yang Revan inginkan.
Revan, kemudian mengacak rambutnya ketika tiba-tiba, ia kembali merasa mual. Ini sudah yang ke sekian kali selama seminggu ini. Ia pun tak tahu apa yang terjadi.
Ia pergi ke toilet dan memuntahkan semua isi perutnya. Namun yang keluar hanyalah cairan bening nan lengket yang terlihat menjijikkan di matanya. Ia ingat, ia, bahkan belum makan dari tadi pagi.
Revan sendiri tak tahu ada apa dengan dirinya, karena akhir-akhir ini, ia menjadi tak enak badan dan selalu menginginkan hal yang tak bisa didapatkannya.
Kemarin misalnya ~ Revan menginginkan bakso, namun itu harus dibuat langsung oleh Sadewa. Ia jadi konyol membayangkannya. Tingkahnya, seperti seorang wanita hamil yang tengah mengidam saja.
Revan, kemudian beranjak ke balkon kamarnya. Ia merenung di sana sambil memikirkan cara untuk memenuhi keinginannya. Akan tetapi, suara dobrakan yang tiba-tiba, amat mengejutkannya.
"ANAK KURANG AJAR! APA YANG KAMU LAKUKAN, HA?!"
Revan pun terkesiap ketika dalam sekelebat, sosok Sadewa menamparnya. Pemuda itu memegang pipinya yang memerah sambil melayangkan tatapan herannya ke sang Ayah.
"Apa yang terjadi? Papa menamparku tanpa alasan."
"TANPA ALASAN MATAMU?! TERIMA INI DASAR ANAK KURANG AJAR!"
'PLAK!'
'PLAK!'
'PLAK!'
"Cukup Sadewa! Kita harus membicarakan masalah ini dengan kepala yang dingin!"
Revan menyorot ibunya. Wanita itu tampaknya sedang marah juga dan rahangnya pun mengeras. Revan sungguh tak mengerti apa alasannya. Ah, apa karena mereka sudah tahu perbuatan anaknya selama ini di luar sana?
"Ternyata kamu hanya berpura-pura menjadi anak baik. Mengecewakan! You betrayed our trust!" desis Sadewa. Pria itu menatap tajam sosok putra tunggalnya itu.
"Apa maksud—"
"Kamu memperkosa dan menghamili seorang gadis," tukas Maia dengan penjiwaan yang dingin. Ia pun mendengus, kemudian memalingkan mukanya.
'Hamil? Siapa? Perempuan mana yang aku hamili?! Apa aku seceroboh itu?! Tapi aku selalu menggunakan pengaman dan aku pun selalu mengingatkan partner ranjangku untuk meminum kontrasepsi. Kecuali ... saat badai itu!'
Revan pun terkesiap dan menatap kedua orang tuanya dengan perasaan yang berubah waswas. Wajahnya berubah pucat ketika mengingat bagaimana sikap Maia dan Sadewa yang amat membatasi dalam hal pergaulan—dan keduanya pun memegang prinsip no s^x before marriage.
Tunggu—jangan bilang ia akan dinikahkan dengan gadis itu!
"Apa dia ... gadis di pesta itu?" tanya Revan. Lalu, ia terdiam dan mencoba mengingat-ingat siapa nama korbannya itu. "Li ..., La ..., E ..., Elli ..., Ella, ah, ya ... ELLE! ELLE! Apa dia—"
"Bagus jika kamu mengetahuinya. Kamu akan menikahinya," sahut Maia.
"Tidak! Apa maksudnya, Mama?! Aku tidak mau menikahi dia! Ini bukan salahku! Dia sendiri yang datang ketika ..., ketika ..., ketika aku sedang—" Revan tak berani melanjutkan kata-katanya. Jelas, saat mabuk itu, dia masih mengingatnya, dan ia melakukan perbuatan kotor itu, semata-mata untuk menuntaskan libidonya yang meningkat karena mabuk dan suasana badai yang entah kenapa terasa menggairahkan baginya. Namun, tak mungkin pula ia berkata sejujur itu.
"Kami tidak mengajarimu untuk menjadi pria yang tidak bertanggung jawab! Apa pun itu, pemerkosaan itu tetaplah salahmu. Kamu yang mabuk dan dia di sana, niatnya hanya ingin melindungi diri," tutur Maia, dengan suaranya yang tegas.
"Mama!"
"Jangan mengelak Revan! Kamu akan tetap menikahinya. Lakukan itu dengan baik, karena kami pun sudah berkata kepada mereka, bahwa itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan kamu yang sebenarnya adalah anak baik-baik. Selain itu, pernikahan ini juga bisa berdampak baik pada kemajuan perusahaan kita. Jadi, jangan mengecewakan kami kembali," tukas Sadewa.
"Demi perusahaan? Apakah kalian memang tidak pernah memikirkan perasaanku?"
"Apa maksudmu?"
"Lupakan. Tapi, jika aku menikahinya, bukankah pernikahan kami tidak bisa diresmikan?"
"Siapa yang bilang kalian akan menikah resmi? Pernikahan kalian sederhana dan tanpa resepsi. Biar bagaimanapun, Elle belum memenuhi usia dan ia juga harus melanjutkan pendidikannya," ucap Maia. "Apakah kamu tidak merasa bersalah? Kamu sudah menghancurkan masa depannya. Dia, seharusnya bisa mendapatkan yang lebih baik daripada ini, entah untuk pernikahan ataupun pendidikannya," sambungnya.
"Kalau begitu kenapa repot-repot menyuruhku menikahinya?"
"Dia sedang mengandung anakmu! Kamu harus mengingatnya!"
"Kalian peduli padanya, tapi tidak padaku!"
Revan menggeram kesal, kemudian berjalan cepat melewati kedua orang tuanya yang tak sempat menghentikan kepergiannya.
Revan pun kembali pergi ke luar untuk kembali menjernihkan pikirannya—mencoba menghibur dirinya dengan melakukan balap liar, mabuk-mabukkan, atau mungkin bermain wanita. Ah, sudah pasti ia tak akan pulang malam ini.