
Hari ini, Elle berangkat ke sekolah bersama keempat kawannya. Kemarin, keadaan gadis tersebut memang sudah membaik, sehingga ia bisa beraktivitas lagi seperti biasa. Hanya saja, tentu, mereka menjadi harus lebih berhati-hati jika tak mau hal yang tidak diinginkan terulang kembali.
Namun, kali ini, Elle merasa ada yang salah.
Ini semua ... terasa berbeda.
Elle bisa merasakan bagaimana orang-orang menyorotnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
Sebagai gadis yang cukup populer, Elle sendiri sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Ia selalu dipuji dan ditatap dengan sorot penuh kekaguman, bukan seperti sekarang ini. Elle cukup peka untuk menyadari bahwa mereka menatapnya dengan sorot penuh rasa kasihan, namun di sisi lain juga menghina.
Elle benar-benar tak mengerti apa yang terjadi, sehingga ia pun memutuskan untuk mengabaikannya dan tetap berjalan bersama teman-temannya. Namun agaknya, yang lain juga merasa tak nyaman dengan tatapan-tatapan penuh kejanggalan itu.
"Kenapa mereka menatap kita seperti itu?" keluh Joanne. Remaja tersebut mendengus pelan sambil memalingkan wajahnya dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Did something happen?" tanya Gabriel. Ia menggosok hidung mancungnya, kemudian menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar.
"Jangan tanya aku! Baik aku, Celine, ataupun Elle, kami sama sekali tak ikut dalam grup penggosip itu. Sepertinya, kamu juga, kan Gabriel?" Joanne menyanggah dengan cepat dan Gabriel pun menanggapinya dengan sebuah anggukan.
"Aku iseng ikut, tapi jarang sekali ikut berinteraksi di sana. Kebanyakan memang hanya omong kosong, namun beberapa cukup berguna," sahut Aziel.
"Coba buka!" suruh Joanne. Gadis itu membelokkan langkahnya dan melewati sosok Gabriel yang berada di sisi kanannya. Ia, lalu mendekati Aziel yang berhenti berjalan dan kini bersandar pada tembok sambil memainkan ponsel pintarnya. Ketiga teman yang lain, mau tak mau pun ikut tak melanjutkan gerakan kaki mereka.
"Sebuah audio telah tersebar kemarin sore. Viral sekali! Tapi tentang apa? Dan komentarnya ..., kenapa menyebut-nyebut nama Elle?!" Joanne berdecak. Ia yang tak sabar pun segera merebut smartphone Aziel dan menekan tombol play untuk memainkan file audio M4A itu.
"Dengar, Elle ... apa pun yang terjadi, percayalah kalau kami akan selalu ada di sisimu."
"Tapi aku takut. Aku belum siap menjadi ibu. Tapi ..., tapi aku juga takut membunuhnya."
"Kami ada di sini. Kamu akan menolongmu. Katakan saja jika kamu memerlukan sesuatu."
"Bagaimana jika aku gagal?"
"Jangan pikirkan itu. Gagal atau tidak, itu adalah bagian dari masa depan. Kamu, seharusnya memikirkan masa sekarang. Itu yang lebih penting."
"Lagi pula, Elle ... kamu harus optimis dan percaya pada dirimu sendiri, juga pada orang-orang terdekatmu."
"Benar. Hamil, melahirkan, dan merawat anak—menjadi seorang ibu bukanlah hal mudah. Kami tahu kamu lemah, jadi jangan sungkan untuk merepotkan kami."
"Kamu jangan terlalu mengorbankan banyak hal. Justru, biarkan kami yang berkorban untukmu—untuk Elle kami yang tersayang. Aku, bahkan tak masalah jika harus ikut merawat anakmu dan menjaganya untukmu, asal kamu jangan pesimis lagi mengenai mimpimu."
"Ya. Ketika menjadi seorang ibu atau orang tua, memang ada hal yang akan kita korbankan. Namun, bukan berarti kita harus mengorbankan segalanya. Biar bagaimanapun, hidup yang berjalan itu tetap menjadi hakmu. Selain itu, berkorban juga tak boleh kamu lakukan sendirian. Karena itu kamu membutuhkan kami."
"Tapi—"
"Elle, bukankah kemarin kamu sudah memiliki tekad. Ke mana perginya itu sekarang?"
"Ter—"
"Detail sekali! Mereka mendapatkan rekaman dengan durasi yang panjang. Siapa yang melakukannya?" Gabriel mengerutkan keningnya dengan heran. Ia mengusap dagunya yang mulai berhiaskan jambang tipis itu.
"Ini tidak mungkin!" lirih Elle. Gadis itu meluruhkan tubuhnya yang mungkin akan terjatuh kalau Celine tidak sigap menopangnya.
"Elle ..., jangan panik dulu!" Gabriel mendekati Elle dan menepuk pelan kepalanya. Tatapannya jelas menyiratkan kekhawatiran yang tak terbendung. Ia menatap Celine yang bergegas membawa gadis tersebut ke sisi koridor yang terdapat kursi-kursi panjang di sana.
Untung saja, di posisi mereka sekarang, suasana sedang sepi.
"Siapa pelakunya?" Gabriel menatap kedua sahabatnya yang tampak fokus itu.
"Si tukang gosip sialan, Helen. Cih, buaya betina dan antek-anteknya itu berani membuat masalah dengan kita!" geram Joanne. Gadis itu mengepalkan tangannya dengan kuat. Urat-urat di lengan dan lehernya pun sudah tampak menonjol. Bibirnya pun telah maju sebanyak satu sentimeter.
"Jaga dia. Biar aku yang membuat perhitungan!" Gabriel angkat suara sambil berlalu pergi. Joanne ingin mengehentikan, namun buru-buru Aziel menghentikannya.
"Nona pembuat masalah, kakak sepupuku itu satu kelas dengan Nona yang juga pembuat masalah itu. Jadi, biarkan saja dia yang menyelesaikannya. Tuan muda yang tampan dan bijaksana ini, tak akan membiarkan penyihir jahat seperti Nona Kathrina sampai membuat masalah lagi untuk yang ke sekian kali."
"Tutup mulutmu, Berengsek!" Joanne menepis tangan Aziel yang memegang pergelangan tangannya. Tatapannya yang sangat tajam, terasa seolah mampu mencabik-cabik tubuh lawan bicaranya itu. Aziel pun bergidik ngeri.
"Kata-katamu manis sekali Nona Kathrina."
"Lebih baik, kalian menghubungi orang tua Elle. Mereka memang sibuk, tapi akhir-akhir ini, untuk waspada jadi lebih mudah untuk dihubungi. Kondisi Elle sedang tidak baik," kata Celine, menengahi. Kedua remaja yang sedang bertengkar itu, pada akhirnya pun bekerja sama untuk melakukan sarannya.
...««« DI SISI LAIN »»»...
Gabriel menarik kasar pergelangan tangan seorang gadis yang seragamnya lebih ketat dari umumnya itu. Ekspresinya mengeras dan ia terlihat sangat marah, namun sosok yang menjadi rivalnya itu, tampaknya tak peduli.
"Apa maumu?" tanya Helen. Ia melipat tangannya di depan dada, menatap angkuh sosok pemuda berkulit putih dengan wajah campuran oriental dan western itu.
"Helenia Wang, kamu sangat suka mencari masalah. Aku rasa, kamu memahami yang yang kumaksud," desis Gabriel.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Lagi pula, mencari masalah adalah bagian dari hidupku," jawabnya dengan suara yang terdengar manis, namun amat memuakkan di telinga Gabriel.
"Dari mana kamu mendapatkan rekaman suara itu?" tanya Gabriel.
"Tentu saja dengan merekamnya langsung." Helen menjawab dengan cepat. "Tapi, aku menyuruh temanku saja yang melakukannya. Mereka mengikuti kalian waktu itu. Sebenarnya, aku memang penasaran—namun, jika aku turun tangan langsung, akan terlalu menarik perhatian. Aura kecantikanku ini terlalu bersinar dan menyilaukan. Bukankah begitu, Gabby?" katanya, percaya diri. Ia terkekeh pelan di akhir kalimatnya.
"Kamu benar—auramu terlalu menyilaukan hingga membuatku buta. Kamu memang busuk! Juga, jangan memanggilku seperti itu, Sialan! Aku benar-benar akan memberimu perlajaran!" tukas Gabriel dengan garang. Akan tetapi, Helen sama sekali tak terlihat takut olehnya.
"Pelajaran? Pelajaran seperti apa?" Helen tersenyum sambil menyejajarkan wajahnya dengan wajah Gabriel. Ia meraih tangan pemuda itu, lalu menariknya menuju dadanya. "Apakah seperti ini?" bisiknya, sambil menggigit bibir dengan sensual.
Helen menatap kepergian Gabriel dengan wajah yang kesal. Ia menghentakkan kaki, lalu mendengus kasar. "Sial!" umpatnya.
.........
"Elle dipanggil ke Ruang Guru."
Gadis itu pun tersentak ketika mendengar titah yang disampaikan melalui ketua kelasnya itu. Ia pun menunduk ketika menyadari tatapan seisi kelas tertuju kepadanya.
Elle bisa merasakan dadanya sesak dan panas. Kepalanya mendadak pusing, lalu muka serta matanya seakan ingin terbakar. Pandangannya memburam. Ia ingin terjatuh, namun tak bisa. Ia ingat dengan kata-kata oleh orang tua dan sahabatnya. Setidaknya, ia tak boleh menyerah untuk mereka.
Tubuh Elle bergetar. Beberapa anak pun menghampirinya, lalu menepuk pundaknya. Mereka menatap Elle dengan iba.
"Kamu gadis yang kuat, Elle ...!"
"Benar—kamu anak terpintar di kelas ini. Jika sekolah sampai berani mengeluarkan kamu, maka kami akan membuat petisi agar kamu tidak jadi dikeluarkan."
"Lagi pula, Elle gadis populer. Anak-anak dari kelas lain pun tak akan sungkan ikut memberikan dukungannya kepadamu. Meskipun ada yang tak menyukaimu, namun aku yakin lebih banyak yang menyayangimu dan peduli kepadamu."
"Jangan takut! Hadapi karena kami ada di belakangmu. Kalau nanti ada yang melakukan suatu hal yang buruk kepadamu, bilang pada kami, karena kami akan mendukungmu dan melindungimu."
"BENAR! ELLE IS THE STAR AND THE LOVE OF OUR CLASS!"
Elle yang mendengar seruan itu pun mengangkat wajahnya, tak menyangka ia akan mendapatkan dukungan seperti itu. Dalam hati, ia merasa senang, meski di sisi lain juga merasa takut. Ia tahu, ia tak bisa menghindari perasaan itu.
"Terima kasih ...! Aku ..., aku tak akan mengecewakan kalian!" kata Elle dengan senyumnya. Ia pun mengusap cairan bening yang hampir luruh dari ujung kedua netranya.
"Aku akan mengantarmu," ucap sang Ketua Kelas.
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju Ruang Guru. Beberapa anak yang kebetulan sedang lewat—entah untuk ke toilet, membolos, atau apa—memperhatikam mereka, terutama Elle yang sedang menjadi buah bibir.
Sang Ketua Kelas hanya mengantar sampai depan Ruang Guru. Tak lupa, Elle pun melontarkan ucapan terima kasihnya sebelum memasuki ruangan dengan jantung yang berdetak cepat seperti ketika mendengar musik rock atau dangdut dalam volume yang keras.
"Masuklah Elle ...! Jangan hanya diam di situ saja," kata salah seorang guru.
Elle pun segera melangkahkan tungkainya menuju guru-guru yang tengah menatapnya itu. Tubuhnya mulai berkeringat. Ia merem^s kuat roknya sendiri.
"Kami sudah mendengar kabar itu. Coba jelaskan! Apakah itu benar?"
"YA!" Elle menjawab dengan suara yang lantang, namun terdapat vibrato pada ujungnya. Air matanya kembali menggenang, namun buru-buru ia menggosoknya. "Tapi itu bukan salahku! Aku diperkosa dan hamil karenanya!" tegasnya.
"Kapan itu terjadi?"
"Ketika badai Darwin beberapa waktu lalu," jawab Elle.
"Waktu itu .... Maaf, aku sudah menawarimu tumpangan, namun kamu menolaknya. Seharusnya, aku tak pergi saat itu dan tetap membujukmu. Kalau aku sedikit lebih bersikeras, mungkin ini tak akan terjadi kepadamu." Mr. Jack angkat suara. Ia menatap Elle dengan pandangan yang iba, namun sebenarnya, Elle sangat membenci tatapan semacam itu.
"Benarkah? Bagaimana jika Anda yang melakukannya, Sir?" tanya Elle.
"Lancang! Begitukah sopan santunmu, Elle! Ini semua, pada dasarnya terjadi karena salahmu yang tak bisa menjaga diri!" Salah seorang guru menyela dengan kasar. Ia menuding Elle hingga membuat gadis itu menggerakkan kepadanya ke belakang beberapa sentimeter.
"Anda yang tenang Nyonya. Selesaikan masalah ini dengan kepada dingin," tutur Mr. Jack.
"Tenang apanya?! Anak muda zaman sekarang maunya hanya bebas saja dan tidak peduli pada budaya lama. Aku meragukan ucapannya yang diperkosa itu. Bisa jadi dia melakukannya dengan kekasihnya. Atau ketika diperkosa, mungkin ia juga menikmatinya—mereka melakukannya berkali-kali, hingga jadilah anak haram itu!"
"Beginikah kualitas guru di sekolah putri kami?" Elle terkesiap mendengar suara itu. Air matanya yang sebelumnya mulai menetes kembali diusapnya. Ia berbalik dan menatap keberadaan kedua orang tuanya, dan uang berbicara tadi adalah Shanee.
Elle tahu itu. Ibunya adalah pahlawannya. Ibunya, pasti akan membelanya—bahkan ketika itu harus menentang sosok Axton yang keras kepala.
"Mom!" Elle memeluk ibunya dan menenggelamkan kepalanya dalam rengkuhan wanita tersayangnya itu. Ia tak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak menangis.
"Nyonya dan Tuan! Bagus jika kalian ada di sini. Berdasarkan hasil voting, telah memutuskan akan mengeluarkan Elle dari sekolah. Biar bagaimanapun, sekolah kami adalah sekolah yang tetap moderm mementingkan nilai tradisional. Kami menjunjung tinggi moral!"
"Apa katamu? Apa maksudmu putriku tidak bermoral? Dia yang diperkosa dan dia yang mendapat julukan tidak bermoral! Di mana otak kalian?!" Shanee menyentak. Wanita itu menatap tajam sosok-sosok di hadapannya yang kini tengah menyudutkan putrinya.
"Benar. Sebagai wali kelasnya, saya pun tahu Elle anak yang seperti apa. Dia anak yang baik dan manis. Nilainya selalu tinggi di kelas."
"Saya juga mendukung Elle untuk tidak dikeluarkan," kata Mr. Jack, ikut bersuara.
"Biar bagaimanapun, kalian kalah suara."
"Dengar, jika kalian berani mengeluarkan putriku, aku bisa menuntut kalian. Pendidikan adalah hak semua orang dan tidak terbatas pada apa pun," kata Axton.
"Tapi Sir, kami sebenarnya juga tak ingin mengeluarkan Elle. Ini berhubungan demi prinsip sekolah kami."
"Prinsip seperti apa yang kalian agungkan? Mengambil hak belajar seorang remaja, seperti itukah prinsip? Justru, pendidikanlah yang diperlukan untuk memperbaiki moral. Jika seorang anak berbuat kesalahan, lalu dikeluarkan dari sekolah karena itu dengan tujuan untuk membuatnya jera, lalu di mana ia bisa belajar untuk memperbaiki kesalahannya? Jika moral seorang anak telah hancur, setidaknya kalian tidak punya hak untuk ikut menghancurkan masa depannya dengan mengambil haknya menempuh pendidikan. Hukum dia, tapi jangan biarkan dia berhenti belajar," jelas Shanee. "Lagi pula, jika anak yang kehilangan moralnya saja tetap berhak mendapatkan pendidikan; putriku yang anak baik ini seharusnya juga mendapatkannya, bukan? Kalian, seharusnya bertindak adil. Semua orang harus mengakui bahwa pendidikan adalah hak setiap orang."
Mendengar kata-kata Shanee, semua orang pun tersentak. Elle dan Axton pun menampakkan hal serupa, karena wanita itu, benar-benar mengungkapkan maksudnya dengan cara yang sangat jelas. Sang putri pun tersenyum bangga mendengar itu. Ia jadi mengerti apa yang harus dilakukannya. Orang tuanya adalah panutannya, maka ia pun akan mengikuti jejak mereka. Ia akan—
Ia akan ikut memberi ancaman kepada guru-gurunya.
"Teman-temanku sekelasku sudah bilang kalau mereka mau mengumpulkan petisi untuk mendukungku jika aku sampai dikeluarkan. Kalian ..., tentu tau aku murid yang populer dan banyak orang mengenalku sebagai gadis baik-baik. Di sekolah ini, banyak yang menyayangiku dan mereka, pasti akan mendukungku. Jadi ..., menentang kalian bukan hal mudah. Lagi pula, aku anak pintar yang berprestasi, well ..., masih banyak sekolah yang mau menerimaku sebagai muridnya terlepas dari tragedi apa yang terjadi kepadaku," tegas Elle, membuat kedua orang tuanya tersenyum sedangkan para guru tercengang.
Guru-guru yang berada di pihak Elle saling menatap dengan wajah yang puas, yang cenderung netral tampak lega, sedang yang menentang Elle ekspresinya pun menjadi pias. Bagaimana tidak, mereka kalah debat dengan seorang anak SMA dan kedua orang tuanya; ketiganya benar-benar berbakat dalam berbicara.