
"Nak Revan, bagaimana keadaan Elle?"
Shanee dan Axton tampak tergesa-gesa menanyakan hal tersebut kepada sang menantu. Wajah keduanya tampak dipenuhi kegelisahan.
Suami istri tersebut, tentu saja terkejut mendengar berita mengenai putri mereka yang akan segera melahirkan. Setelah menerima kabar tersebut, mereka pun langsung bergegas pergi menuju alamat yang diberikan Revan—mengabaikan beberapa pekerjaan mereka sebagai sepasang pengusaha.
Revan menatap kedua orang tua Elle dengan ekspresi yang sulit dimengerti. Sebelum menjawab, lelaki tersebut sempat meneguk ludahnya dua kali. "Air ketubannya pecah. Aku membawanya ke sini dalam keadaan pingsan," katanya.
"Bagaimana bisa? Ini baru tujuh bulan, bukan? Seharusnya masih ada waktu dua bulan lagi," sahut Axton. Ia menatap Revan dengan mata yang menyipit, sedikit merasa curiga. Sang menantu yang diperlukan seperti itu pun merasa canggung dan menggaruk kepalanya.
"Ah ..., ini kecelakaan. Elle terjatuh dari tangga. Sepertinya, bayi kami memang harus terlahir prematur. Ini semua karena aku yang tak pintar menjaganya," bohong Revan. Lelaki itu menundukkan kepalanya agar aktingnya semakin terlihat meyakinkan di mata kedua mertuanya.
"Tapi, bukankah rumah kalian bukan rumah tingkat yang memiliki tangga? Mustahil Elle mencoba naik ke atap dengan bantuan tangga khusus kan? Dalam keadaan hamil besar seperti itu, tak mungkin dia melakukannya," lirih Axton. Dia kembali menajamkan sorotnya pada Revan.
"Tangga rumah tetangga kami. Dia sedang berkunjung ke sana untuk meminta tips parenting pada tetangga kami yang lebih berpengalaman ketika itu," asalnya, penuh dusta. Namun ia yakin, Axton dan Shanee, pasti akan mempercayai hal itu. Terbukti ketika keduanya mengangguk seusai mendengar pernyataan Revan.
"Aku sedang di rumah ketika itu. Maksudku ... kalian tahu, aku sangat sibuk dengan pekerjaanku. Aku sangat kaget ketika tetangga memberitahuku bahwa Elle jatuh dari tangga. Seharusnya, aku meluangkan lebih banyak waktu untuknya—untuk menemaninya di saat-saat sulit seperti ini. Bahkan, aku tak bisa membawa Elle berkunjung kembali ke rumah lamanya untuk bertemu kedua orang tuanya. Maaf, kalian jadi harus repot-repot," tuturnya, dengan nada yang meyakinkan.
"Kandungan Elle memang lemah. Kamu memang harus lebih protektif karena itu. Lagi pula, tak masalah juga kalau memang harus kami yang mengunjungi kalian dan bukan sebaliknya. Kami bisa mengerti kondisi kalian. Biar bagaimanapun, kondisi kami juga lebih memungkinkan, jadi kami mengalah," ujar Shanee. Revan tersenyum tipis mendengar itu.
Seusasi percakapan itu, suasana terasa canggung selama bermenit-menit lamanya. Ketiganya sedang menunggu Elle dari depan ruang bersalin ~ ketika tiba-tiba, sosok laki-laki langsung melayangkan pukulannya yang bertubi-tubi kepada Revan.
'BRUAGH!'
'BRUG!'
"Ba—jingan," geram sosok itu.
'DUGH!'
'BUGH!'
'BRUAGH!'
'TAK!'
"Kamu tidak menjaga adikku dengan baik, Sialan! Terima ini!"
'DUAGH!'
'TAK!'
"DEVANO, HENTIKAN! JANGAN BERBUAT KERIBUTAN!" bentak Shanee. Wanita itu memijat pelipisnya, sedang Axton tampak tengah menarik tubuh putra sulungnya itu.
"Tapi—"
"Berisik! Ini rumah sakit! Ingatlah, adikmu sedang dirawat!" kata Axton memperingatkan.
Di sisi lain, Devano yang mendengar itu pun mencoba menenangkan dirinya, meski sebenarnya, itu terlalu sulit untuk dilakukan. Pada akhirnya, ia pun hanya bisa bergerak mondar-mandir hingga membuat sosok Axton merasa jengkel melihat itu.
"Duduklah ...! Tenangkan dirimu ...!"
"Bagaimana bisa tenang, Dad? Adik kesayanganku sedang kritis? Ini semua terjadi karena kalian menikahkan Elle dengan bajing^n ini! Dia telah memperkosa Elle, tapi kalian malah membuat Elle terikat dengannya. Seharusnya ini tak perlu!" tukas Devano. "Kalian bahkan melakukannya tanpa memberitahuku dan meminta pendapatku. Jika dua cecunguk dari Keluarga Brown itu tak memberitahuku ketika aku sampai di Darwin, aku tak tahu kapan kalian bisa memberitahuku mengenai kebenaran ini," sambungnya.
'Seharusnya, aku tak perlu ganti nomor ponsel agar teman-teman Elle bisa terus menghubungiku dan memberiku informasi. Meski tiga dari keempatnya adalah sangat menyebalkan, namun itu lebih baik daripada terjadi hal seperti ini,' keluh Devano, dalam hati. "Aku tak menyangka kalian bisa menyembunyikan hal sebesar ini dariku," katanya.
"Dev—" Perkataan Shanee tersela oleh kehadiran seorang suster.
"Kondisi pasien lemah dan metode melahirkan harus segera diubah menjadi secara caesar. Kami membutuhkan persetujuan keluarga dan jika pasien kehilangan banyak darah nanti, mungkin, kami juga akan membutuhkan donor darah dari pihak keluarga. Golongan darahnya O dan kami sedang kehabisan stoknya sekarang," kata perawat tersebut.
Devano yang mendengar itu pun langsung menoleh, karena di keluarga mereka, hanya ia yang memiliki golongan darah sama seperti Elle, sedang Axton dan Shanee memiliki darah tipe A heterozigot dan B heterozigot.
Devano, tentu akan dengan sukarela memberikan darahnya demi adiknya. "Golongan darahku dan adikku sama. Jika nanti memang dibutuhkan, ambil saja darahku sebanyak yang kalian perlukan," katanya.
"Operasi caesar berhasil kami lakukan. Namun pasien kehilangan banyak darah dan mengalami komplikasi. Histerektomi total harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa pasien," kata seorang dokter yang keluar dari ruang operasi. Orang-orang yang mendengar itu pun tersentak kaget. Mereka saling melemparkan tatapan ke satu sama lainnya.
"Pengangkatan rahim?!" Devano memekik pelan penuh rasa keterkejutan. "Lakukan apa pun untuk menyelamatkan adikku. Aku juga siap memberikan darahku," katanya, kemudian. Kulitnya tampak lembab oleh keringat. Diacaknya rambutnya yang berwarna cokelat keemasan itu, sebab rasa khawatir yang berlebihan.
"Selamatkan putriku apa pun yang terjadi," lirih Shanee dengan nada memerintah. Sang dokter pun mengangguk mendengar itu.
.........
Mereka melihat lampu yang telah mati sebagai pertanda bahwa operasi sudah berjalan selama hampir dua jam itu, telah selesai dilakukan. Devano langsung berdiri dari tempatnya ketika melihat peristiwa itu. Tak berapa lama, seorang suster pun keluar dari ruang tersebut.
"Apa yang terjadi? Bagaimana keadaannya?" Jantung Devano berpacu dengan amat cepat. Ia menatap perawat tersebut dengan perasaan yang campur aduk. Rasa khawatir yang berlebihan, menyelimuti nuraninya. Ia sungguh tak mau terjadi hal-hal buruk kepada adiknya.
"Operasi berhasil dilakukan. Pasien akan segera dipindahkan ke Ruang Pemulihan. Keluarga boleh menjenguk secara bergilir nantinya," ungkap suster itu. Devano bernapas lega mendengar itu. Ia, kemudian menatap Axton yang baru saja datang seusai menengok bayi Elle yang berada di Ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit).
"Bagaimana keadaan bayinya?" tanya Shanee.
"Itu lumayan bagus. Ketika kondisinya sudah stabil nanti, kita boleh membawanya pulang," jawab Axton. "Kamu sudah menyiapkan namanya, Revan? Untuk anak lelakimu dengan Elle," tanyanya, kemudian. Ia menatap Revan yang tengah menunduk di tempat duduknya.
"Ah? Nanti kalian tanyakan saja langsung ke Elle." Revan tampak terkejut ketika ditanya seperti itu. Jujur saja, bahkan, selama ini ia tak pernah peduli kepada darah dagingnya sendiri; entah anaknya akan lahir atau tidak, baginya, itu bukan hal penting.
.........
"Bagaimana keadaanmu, Ell?"
Elle tersenyum ketika mendengar vokal yang familier itu. Milik kakaknya.
Ketika Devano sudah dalam posisi yang bisa dijangkaunya, ia mencoba memeluk tubuh lelaki itu. Namun kondisi badannya yang tak memungkinkan pascaoperasi, membuat Devano menghentikannya. Sang kakak, kemudian mengelus pelan kepala adiknya.
"Jangan memaksakan diri ..., dan maaf—seharusnya aku menemanimu," lirihnya, menatap sang adik dengan sorot penuh rasa bersalah.
"Ini bukan salahmu."
"Tinggalkan Revan! Dia tak pantas untukmu," tukas Devano. Atas perintah itu pun, Elle pun gelagapan. Sebelum kakaknya yang datang, suaminya juga sempat ke sini. Dia datang untuk memberinya ancaman dengan membawa bayi mereka yang baru lahir.
Revan, bahkan tak segan bilang bahwa ia akan bisa membunuh darah dagingnya sendiri. Elle hampir tak percaya mendengar lelaki itu mengatakannya—namun nyatanya, Revan memanglah sosok yang kejam. Elle mempercayainya, meski sebenarnya, Revan tak akan berani melakukannya.
"Dia bersikap baik," bohongnya, terpaksa. "Aku sudah mencintainya," lanjutnya, yang diikuti dengan desauan ringan. Ia tersenyum menatap kakaknya. "Aku baik-baik saja. Sungguh!" Ia berucap dengan meyakinkan.
"Ah, ya ..., terima kasih sudah memberikan darahmu, Kak!" seru Elle, mencoba mengalihkan pembicaraan. Perempuan itu memegang tangan kakaknya yang terasa hangat. Hatinya ikut menghangat merasakan itu.
"Bukan masalah. Donor darah membuat tubuhku menjadi lebih segar dan sehat. Tubuhku akan memproduksi darah lagi. Kamu pasti mengerti donor darah bermanfaat bagi kesehatan, kan?" sahut Devano. Ia tersenyum dengan cerah. "Kamu sudah punya nama untuk bayimu?" tanyanya, kemudian.
Elle tampak terdiam selama beberapa saat, mencoba mengingat nama-nama yang telah dipersiapkannya sejak sebulan lalu. Namun sesungguhnya, ia tak menyangka akan menggunakan nama-nama itu, lebih cepat dari apa yang ia duga.
"Aku sudah mendiskusikan itu dengan Revan sejak lama," dustanya. "Ellaura nama yang bagus, kan? Itu mirip dengan namaku," sambungnya, dengan percaya diri. Akan tetapi, ia malah melihat ekspresi sang kakak yang berubah aneh.
"Apa kamu berpikir anakmu perempuan? Apa si bajing^n itu tak memberitahumu kalau anak kalian laki-laki?" Devano menatap heran ke arah adiknya.
'Revan ...! Dia membohongiku! Apa dia pikir ini lucu?!' geram Elle dalam hati. Ia tersenyum lemas menatap kakaknya. "Revan suka bercanda kepadaku. Anak kami namanya Erland," katanya, kemudian.
"Erland Jovanka Lin. Itu nama yang bagus. Namanya akan mengikuti nama belakang kita," tutur Devano, dan Elle pun tak menolaknya.
Elle, kemudian bertanya mengenai keadaan anaknya. Ia sangat senang ketika tahu bahwa putranya itu baik-baik saja. Devano juga berjanji akan segera membawa Elle bertemu dengan Erland—setidaknya, ketika kondisi adiknya itu sudah lebih stabil.
Dalam hati, Elle berjanji akan terus menjaga dan menyayangi Erland. Karena meski kehadirannya, pada awalnya sama sekali bukan hal yang diinginkan Elle, namun sekarang, ia sudah menerima kenyataan itu.
Biar bagaimanapun, Erland adalah bayi yang baru lahir. Ia masih suci dari dosa, bersih, dan belum ternoda oleh kotornya dunia. Di satu sisi, Elle sendiri tak tega mengingat putranya memiliki ayah seperti Revan yang suka semena-mena.
'Aku merasa mendapatkan kembali kekuatanku. Perjuanganku setidaknya tak sia-sia karena anakku sudah lahir,' batinnya, seorang ibu yang mengetahui fakta bahwa ia sudah kehilangan rahimnya seusai perjuangannya.