
Elle tidak pernah menginginkan hidupnya berubah sedrastis ini.
Gadis tersebut pun tak menduga bahwa pernikahannya dengan Revan, sungguh bukan awal yang baik.
Ia pun tersadar, bahwa Revan memang benar-benar sosok yang buruk.
Setidaknya, itulah yang dia pahami selama dua minggu ini. Karena Revan terus mengancamnya dan berkata hal-hal buruk mengenai dirinya. Revan, bahkan berani membuka seluruh kedoknya di hadapan Elle. Mengenai kepura-puraan yang dilakukan pemuda itu selama ini.
Elle menjadi tertekan dan syok. Namun, gadis itu tetap mencoba mengendalikan dirinya demi anak yang berada di dalam kandungannya. Sayangnya, Revan tak puas sampai di situ.
Diam-diam, Revan pun menyuruh Elle tidur di lantai setiap malamnya. Juga melakukan perbuatan-perbuatan mesum yang membuat Elle teringat pada traumanya.
Tampaknya, Revan benar-benar ingin membuat istrinya itu menderita.
Elle sendiri pun tak tahu apa yang akan terjadi seusai ini. Karena waktu telah berlalu, dan kini saatnya ia pergi dari kediaman lamanya dan menuju tempat tinggal barunya bersama Revan.
Hidup berdua dengan laki-laki yang dibenci, sungguh sebuah mimpi buruk bagi Elle. Suaminya itu, mungkin akan melakukan banyak hal buruk yang membuatnya tersiksa, entah itu secara fisik ataupun nonfisik.
Kini, Elle tengah memandang ke luar mobil di mana Revan yang menjadi pengemudi di sampingnya. Sorot gadis tersebut terlihat kosong dan tak berjiwa.
Tempat yang mereka lewati, seluruhnya hampir dipenuhi dengan bangunan yang sebagian besar menjulang tinggi. Elle sendiri tak tahu sudah berapa lama perjalanan mereka atau sampai di mana mereka sekarang. Arlojinya tak terbawa dan ponsel pintarnya pun tersita.
Sepengetahuan Elle, rumah milik Revan terletak di ujung Darwin, pada sebuah daerah yang cukup padat penduduk.
Ketika tiba-tiba Revan menghentikan laju mobilnya, Elle pun tersentak dan segera tersadar dari lamunannya. Gadis itu menyorot keluar mobil, tepatnya pada bangunan-bangunan di sekitarnya.
Revan memasukkan kendaraannya ke dalam halaman sebuah rumah, lalu langsung turun seusai itu. Ia tak membawa barang apa pun, sebab itu memang rumahnya dan segala keperluannya memang sudah tersedia di sana.
Elle membawa cukup banyak barang. Namun tampaknya, Revan tak sudi memberikan bantuannya. Pada akhirnya, Elle pun membawa sendiri dua koper besar dan satu ransel itu untuk dibawa masuk ke tempat tinggal barunya.
Rumah itu, ukurannya tak tergolong besar, melainkan hanya terdiri bangunan satu tingkat yang mendekati ukuran sedang dengan halamannya yang tergolong cukup luas. Desain rumahnya pun terlihat sederhana dan halamannya pun hanya terdiri dari rerumputan, juga beberapa tanaman hias impor.
Setelah masuk, Elle bisa melihat interior rumahnya yang minimalis. Lalu, tatapannya tertuju pada sebuah piano klasik yang tampak kontras dengan pemandangan di sekitarnya. Kemudian, Elle sedikit melirik ke sisi lain alat musik itu, di mana di sana terdapat sebuah jendela besar yang menampilkan lanskap senja dengan jelas di luar sana.
Elle mengalihkan pandangannya ke Revan yang tengah merebahkan dirinya di atas sofa.
"Apakah ini bisa digunakan?" tanya Elle, sambil menunjuk piano tersebut. Revan hanya melirik sekilas sebelum memberikan jawabannya.
"Aku tidak tahu. Coba saja sendiri. Itu hadiah dari rekan bisnisku setelah rumah ini selesai di bangun," jawab Revan dengan mata yang terpejam dan suara yang terdengar malas. Elle yang mendengar itu pun tersenyum tipis.
"Di mana kamarnya?"
"Di sana," katanya, sambil menunjuk sebuah pintu bercat putih. Dengan susah payah, Elle pun segera menarik barang-barangnya untuk mendekat ke sana, sedang di sisi lain, Revan yang melihat pun tak peduli.
Elle membuka pintunya setelah melepaskan pegangannya pada dua koper dan meletakkan ranselnya ke lantai. Melihat isi kamar, ia pun kembali menoleh ke arah Revan.
"Ini kamarmu. Apakah tidak ada kamar lain?" tanyanya.
"Kita sekamar. Tapi taruh barangmu di kamar sebelah, lemariku tidak cukup," sahut Revan. Mendengar itu, Elle pun menggeleng pelan.
"Tapi—"
"Jangan protes! Ini rumahku, jadi aku yang menentukan. Sekamar denganku atau tidur di luar," ancamnya. Ia menatap Elle dengan tajam, membuat gadis itu beringsut mundur dengan ketakutan.
Revan, kemudian beranjak dari sofa tempatnya bermalas-malasan. Ia mendekati Elle, membuka pintu, lalu menyudutkannya ke sisi ruangan.
"What do you want to do?" tanya Elle, dengan gugup. Ia memalingkan muka, tak berani menatap suaminya.
Revan beranjak, kemudian melemparkan dirinya ke atas ranjang dan bersandar pada sisinya. Ia melihat Elle dengan sorot tajam dan tangan yang terlipat di depan dada. "Kemarilah ...! Naik ke atas tubuhku," suruhnya, sambil memainkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Aku belum membereskan barang."
"Lakukan nanti."
"Tapi kandunganku lemah. Aku takut—"
"Kalau kamu takut terjadi sesuatu dengan kandunganmu, maka lakukan dengan cara lain." Sembari mengatakan itu, Revan pun tersenyum penuh arti.
"Cara lain?" cicit remaja tersebut. Ia menatap Revan dengan kebingungan.
Revan, lalu menggeser tubuhnya ke sisi ranjang. Ia membuka ritsleting celananya jinnya, lalu menurunkan cel^na dalamnya. Elle yang melihat itu pun mengalihkan pandangannya.
"Lakukan dengan mulutmu," tutur Revan, dengan nada memerintah.
Elle menggerakkan kepalanya secara horizontal dengan keras. Ia meluruhkan tubuhnya, lalu menenggelamkan wajahnya di balik lutut—membuat Revan yang memperhatikannya pun meradang.
"Cepatlah!" sentaknya.
Kesal, Revan pun berjalan mendekati Elle, lalu secara paksa menarik paksa kepala gadis itu menuju sel^ngk^ngannya, memaksa perempuan itu melakukan *^** oral.
Elle membelalakkan matanya tak percaya. Air matanya jatuh karena diperlakukan kasar seperti itu. Ia ingin memberontak, namun tenaganya kalah kuat.
Sekarang, Elle jadi semakin membenci dirinya sendiri. Menyesal, karena ia tak bisa menjadi sekuat Joanne yang seorang atlet dan Celine yang memang ahli beladiri. Ia, bahkan tak bisa menjadi setangguh Helen yang bisa mengabaikan segala hujatan orang-orang atas segala watak buruknya.
Gadis itu mengepalkan tangannya dengan kuat; dalam kepasrahannya, ia menyimpan kepedihan dan kebencian yang amat kuat.
Akan tetapi, hari itu hanyalah sebagian kecil penderitaan yang diterima Elle, karena hari-hari berikutnya, Revan lebih melukainya lagi—membuat Elle merasa ingin sampai pada puncak kesabarannya.
Pertama, Elle tak diizinkan menggunakan ponsel pintarnya, kecuali jika ada telepon dari ayah dan ibunya, yang membuatnya harus berpura-pura bahagia sebab ancaman dari Revan. Elle, juga tak diperbolehkan berkomunikasi dengan sahabat-sahabatnya.
Pernah sekali Elle mencoba memberontak, namun setelah itu, Revan memukulinya dan ia pun dikurung di dalam ruangan yang kedap suara, hingga tak ada seorang pun yang bisa menolongnya.
Kedua, secara diam-diam, Revan mengancam guru home-schooling-nya hingga Elle pun kehilangan kesempatan belajarnya.
Ketiga, Revan sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk dan tak jarang pula membawa wanita yang tentunya berbeda setiap kalinya.
Keempat, Revan berkata bahwa ia sangat membenci Elle dan menikahi Elle hanya untuk menyiksanya.
Elle selalu bertanya kepada dirinya sendiri, mengenai dosa apa yang dilakukannya, hingga mengalami nasib buruk seperti ini. Bahkan, ia merasa tak ada lagi satupun sosok yang bisa menolongnya—karena Revan sudah menutup pintu yang bisa membuat orang lain bisa memasuki permasalahan mereka, dan lelaki tersebut juga tak membiarkan seorang pun menarik keluar Elle dari ruang berbahaya itu.
Ketika Elle ingin pergi dan berpisah, Revan pun tak mengizinkannya.
Elle benar-benar merasa kehilangan harga dirinya, sebab ia tak diinginkan namun juga tak mau ditinggalkan dan tak diizinkan meninggalkan.
Hidup Elle, kini sepenuhnya berada di bawah kendali Revan. Lelaki tersebut memanfaatkan trauma istrinya agar bisa menjadi sosok yang sepenuhnya mendominasi dalam hubungan mereka yang memang tak sehat ~ bahkan penyakit.
Berkat Revan, Elle pun jadi mengerti mengenai rasanya hidup yang tak selalu manis. Ia telah mengubur mimpi indahnya untuk hidup bahagia di sepanjang hidupnya dengan sedalam-dalamnya. Ia baru menyadari, bahwa mimpinya sangat tidak realistis.
Elle membayangkan dirinya seperti kupu-kupu yang terbang indah dengan sayap cantiknya, tapi pada akhirnya terjatuh dan kehilangan sepasang sayapnya. Nahasnya lagi, kemudian, ia pun dimangsa oleh sang predator.
Apakah Elle memang akan berakhir dalam kepahitan seperti ini?