
Suasana di kediaman Elle, kali ini tak sepi seperti biasanya ~ ketika Axton dan Shanee sedang tak berada di dalamnya. Kali ini, sepasang suami istri itu sedang berada di sana untuk menemani putri mereka, meski tampak juga keberadaan keempat sosok teman sang anak.
"Terima kasih karena kalian terus mendukung Elle," kata Shanee sambil tersenyum tipis. Ia menghidangkan beberapa camilan, lalu beberapa saat kemudian, Axton pun datang dengan beberapa gelas minuman.
"Itu sudah kewajiban kami, Sayangku ..., sebagai pelindung dari Tuan Putri yang amat kamu cintai," sahut Aziel sambil melirik ke arah Axton yang melayangkan sorot sebal ke arahnya. Yang lain pun merasa canggung melihat itu, kecuali Gabriel yang secara terang-terangan malah tertawa.
"Menggoda sosok berwibawa seperti Uncle dan Aunty memang sangat menyenangkan," ucap kakak sepupu Aziel itu.
"Tutup mulutmu atau aku akan menyumpalnya dengan kaus kakiku," desis Axton. Ia mendekati Aziel dan menjitak pelan kepala pemuda tersebut.
"Paman tidak boleh melakukan kekerasan." Aziel meringis dan memegang kepalanya, menunjukkan reaksi berlebihan, meski Axton melakukannya dengan sangat pelan.
Ayah dari Elle kemudian mendengus dan ikut mendudukkan dirinya di atas sofa, bergabung dengan yang lain. "Ada hal pribadi yang harus kita bicarakan, Elle ...!" tuturnya, kemudian. Semua orang pun mengalihkan pandangan ke arahnya, termasuk Shanee yang tiba-tiba terlihat gelisah.
"Ada apa, Dad?" tanya Elle yang ditanggapi Axton dengan gelengan. Pria itu menatap keempat kawan Elle.
"Kami akan pergi," kata Celine, cepat. Namun yang lain, entah kenapa merasa keberatan mengenai itu. Mereka penasaran, khawatir, sekaligus merasakan firasat yang buruk.
"Mereka teman-teman dekat Elle. Kurasa, tak masalah jika mereka mengetahuinya," sahut Shanee. Wanita itu menghirup napasnya panjang melalui hidung, lalu mengembuskannya dengan panjang pula lewat bibirnya. Matanya terpejam sambil menikmati oksigen yang mengisi paru-parunya.
"Ini berhubungan dengan masa depanmu, Elle ...!" kata Axton.
"Apa itu, Dad?"
"Kami sudah mendiskusikan ini beberapa waktu lalu dengan orang tua Revan. Kami sudah memutuskan kalau kamu akan menikahinya demi bayi yang sedang kamu kandung," jelas Axton.
Elle dan kawan-kawannya, yang mendengar itu pun membelalakkan matanya tak percaya. Mulut Gabriel yang dipenuhi oleh camilan pun tampak menganga, hingga remahan-remahan itu berjatuhan dan mengotori lantai dan seragam sekolahnya.
"Ini gila! Di mana otak kalian hingga mau menikahkan Elle dengan orang yang membuatnya trauma?!" Joanne berbicara dengan nada tinggi. Wajahnya memerah dan matanya pun melotot. Urat-uratnya yang menonjol, menunjukkan kalau ia sedang sangat marah.
"Benar! Ini bukan keputusan yang tepat," sambung Celine, yang biasanya selalu diam. Kali ini, gadis itu turut menunjukkan raut muka marah yang sama dengan Joanne.
"Tutup mulut kalian. Kalian tak memiliki hak dalam hal ini. Aku membiarkan kalian mendengar, bukan untuk ini," tukas Axton dengan wajah yang jengkel. Shanee pun menegurnya.
"Aunty, kamu juga tidak setuju, kan?" tanya Gabriel, yang melihat keraguan di wajah Shanee. Namun sang wanita, malah tak menanggapi.
"Mom, Dad ..., kenapa? Why should I marry his? He's a bad guy." Elle menyorot sendu ayah dan ibunya. Ia ingin membantah, namun tak berani. Biar bagaimanapun, ia adalah tipe anak yang penurut. Ia akan mengalah atas kedua orang tuanya yang kerasa kepala itu.
"Kami dengar dari orang tuanya, Revan adalah anak yang baik. Itu terjadi dengan tidak disengaja. Revan dijebak oleh temannya dan mabuk saat itu. Ketika itu, itu juga baru pertama kalinya untuk Revan," jelas Axton.
Mendengar itu, Elle pun mengepalkan tangannya dengan kuat. Bibirnya bergetar. Ia memejamkan mata dan mencoba menetralkan emosinya, meski itu terasa amat sulit.
"Lalu kalian percaya?" tanya Celine, dengan suaranya yang tegas. Ia keheranan dengan pernyataan tersebut.
"Tentu. Orang tua Revan adalah pengusaha terpercaya yang juga merupakan rekan kerja kami. Kami pun beberapa kali bertemu Revan. Dia memang terlihat seperti anak baik-baik." Axton menatap kelima anak muda itu sebelum melanjutkannya perkataannya. "Aku tak butuh sanggahan lagi," sambungnya, ketika melihat ekspresi remaja-remaja tersebut.
"Persetan! Kamu sudah gila, Pria Tua! Bagaimana bisa kamu mempercayai ucapan tanpa bukti itu?! Omong kosong!" bentak Joanne. Dengan berani, gadis tersebut menunjuk Axton.
"Bukan tanpa bukti. Biar bagaimanapun, kami sudah melihatnya secara langsung. Kami sudah bertemu dengannya, sedang kalian belum sama sekali."
"Siapa peduli? Tanpa bertemu saja kami sudah tahu seberapa berengseknya dia," sahut Joanne sambil menatap Axton dengan nyalang.
"Mom, tidakkah ini ...—"
"Ini demi kebaikanmu, Elle ...! Kamu membutuhkan seseorang untuk melindungimu dan memberi kasih sayang dari seorang ayah untuk anakmu—keluarga kecil yang utuh. Lagi pula, ibu tidak ingin kamu menerima perkataan buruk dari keluarga jauh kita," kata Shanee. Wanita tersebut tersenyum lembut ke arah putrinya. "Kamu harus paham, bahwa Mom dan Dad tidak pernah menginginkan hal terburuk untuk putri tersayang kami," lanjutnya.
"Tidak ada bantahan, Elle ...!" Axton menginterupsi.
Elle menggelengkan kepalanya sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak. Ia pun beranjak pergi ke kamarnya dengan perasaan yang sangat kecewa. Keempat sahabatnya berteriak memanggil namanya, namun ia tak peduli.
Shanee pergi menyusul Elle dan mencegah teman-teman Elle untuk mengikutinya. Sebagai seorang ibu yang amat dekat dengan putrinya, maka untuk saat ini, sudah menjadi tugasnya untuk menenangkan putrinya tersebut.
Shanee melangkahkan kakinya perlahan. Dengan hati-hati, ia membuka pintu kamar Elle dan mengintip gadis tersebut dalam posisi masih di luar. Setelah beberapa detik menunggu, ia baru masuk ke dalam ruang pribadi putrinya itu.
"Elle ...!"
"Kenapa harus seperti ini, Mom?! I don't want this. I just want to live according to the plan I have prepared for the next few years," keluhnya. Shanee pun terdiam sejenak sebelum pada akhirnya ia merapikan bed cover yang berantakan itu, kemudian mengambil posisi di samping gadisnya.
"Semua akan baik-baik saja, Elle ...!"
"Tapi bagaimana jika tidak seperti itu kejadiannya? Bagaimana jika semuanya malah menjadi hancur?" Elle menatap sang ibu dengan wajah yang telah basah oleh air mata. Melihatnya, Shanee pun mengusap mata dan pipinya dengan gaya yang halus.
"Maka berusahalah agar sesuatu itu menjadi baik. Kita hidup bukan hanya untuk menerima takdir buruk yang kita terima, namun juga untuk mengubahnya menjadi lebih baik," tutur Shanee, bijak. Ia mengelus pelan surai putri kesayangannya, lalu, dibawanya sosok Elle ke dalam rekuhannya.
"Bukankah ada banyak hal yang tak bisa kita kendalikan?" tanya Elle untuk yang ke sekian kali.
"Yang terpenting, kita berusaha melakukan yang terbaik."
"Kenapa aku harus menikah dengannya, sedang kita tidak saling mencintai?" Elle menyorot dalam netra ibunya. Diteguknya ludahnya dari mulut yang terasa kering itu.
"Itu demi anak kalian. Lagi pula, cinta bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu."
"Bagaimana jika tidak?"
"Maka berusahalah."
"Jika aku jatuh cinta kepadanya dan dia tidak—lalu, apakah aku harus berjuang sendiri untuk mendapatkan cintanya? Memangnya, dia akan menerimaku? Bagaimana jika yang terjadi nanti benar-benar tidak bisa kukendalikan? Bagaimana jika dia malah menyakitiku?"
Shanee tercekat mendengar pernyataan Elle. Wanita itu terdiam, bingung ingin membalas apa. Akan tetapi, sesaat kemudian, ia tersenyum. "Hubungi kami. Minta perlindungan kepada kami. Ibu dan yang lain pasti akan melindungimu dan merebutmu kembali darinya," tukasnya.
Elle tak tahu harus bertanya apa lagi. Di otaknya, masih tersimpan banyak pertanyaan; namun semakin ia bertanya, semakin bertambah pula daftar itu. Pada akhirnya, ia memilih diam sampai ia menemukan sebuah hal yang sangat penting.
"Bagaimana dengan Kakak?"
"Dia ... akan kita beritahu nanti. Namun dia sedang sangat sibuk. Kamu mengerti, kan, maksudnya?" Elle yang mendengar itu pun mengembuskan napasnya panjang dengan kecewa. Ia tahu, ketika tak ada seorang pun lagi yang membelanya, maka masih ada Devano—kakaknya yang menyebalkan sekaligus perhatian di saat yang bersamaan.
Kini, tanpa Devano, siapa lagi yang bisa menariknya dari masalah ini?
Tapi, di sisi lain, pernyataan Shanee memang benar. Devano sedang sibuk bekerja di luar kota dan berencana akan melanjutkan S-2 untuk beberapa waktu ke depan. Elle sangat tidak ingin menganggunya.
Lagi pula, Devano yang temperamental mengenai adiknya itu, apakah mampu menahan diri untuk tidak menghajar Revan jika mengetahui permasalahan yang terjadi?