
Perempuan itu memainkan piano dengan melodi yang sendu—dengan harmoni yang amat serasi dan tempo yang lambat. Air mata tampak menetes dari wajah orientalnya. Sedangkan tangan kanannya bermusik, maka tangan kirinya pun memegang perutnya yang membesar. Ia tak menggunakan kedua tangannya, meski seperti itulah cara umumnya.
Elle memang bisa memainkan alat musik tersebut, karena ketika masih berusia empat tahun, Elle sempat mengikuti kursus piano bersama kakaknya, Devano. Kursus yang berjalan selama empat tahun itu, pada akhirnya terusaikan sebab kakak beradik itu merasa jenuh.
Elle tak menyangka bahwa pada akhirnya, ia akan kembali memainkan alat musik yang sudah lama tak disentuhnya ini. Yang meskipun dulu ia kebosanan karena terus memainkannya, kini malah membuatnya merasa rindu—sebab itu mengingatkannya pada sosok kakak lelakinya.
Kemampuan Elle, meskipun pada awalnya sangat kaku, kini pun bisa kembali seperti ketika sepuluh tahun lalu, bahkan lebih baik dari masa itu.
Elle berhenti sejenak memainkan pianonya. Ia menatap ke bawah, ke perut yang di dalam sana, ada bayinya yang tengah menendang—seolah bersemangat dengan apa yang dilakukan ibunya. Remaja yang sebenarnya sudah tak bisa disebut gadis itu, kemudian menarik tipis kedua sudut bibirnya.
"Kamu memang anak yang kuat. Cepatlah lahir dan temani Mommy di sini," lirihnya. "Apakah kamu ingin menjadi seorang musikus suatu hari nanti? Sepertinya, kamu selalu bersemangat tiap kali Mommy memainkan piano ini," lanjutnya. Sesaat setelah itu, ia pun, kemudian kembali menekan tuts-tuts pianonya, namun tak berlangsung lama sebab sesuatu, sekarang tengah membuatnya merasa tertegun.
Elle menatap pintu yang terbuka, lalu menyorot kehadiran Revan dari baliknya. Kali ini, lagi-lagi, lelaki itu membawa perempuan baru—seolah ia tak pernah puas hanya dengan satu perempuan. Istrinya sendiri, bahkan sudah tak bisa lagi menghitung, sudah berapa kali Revan melakukan hal semacam itu secara terang-terangan; bahkan yang secara sembunyi-sembunyi pun, Elle sudah tak ingin memikirkannya lagi.
"Apakah kamu belum puas?" tanya Elle, sambil melirik ke arah Revan dan wanita berpakaian terbuka di sampingnya. Tubuh mereka saling menempel dengan tangan Revan yang memeluk erat pinggang ramping dari perempuan dewasa nan seksi itu.
"Belum," jawabnya. Dengan tanpa malu, kemudian, Revan pun menunjukkan bibirnya dengan penuh gairah ke bibir wanita yang dibawanya. Elle yang tak kuasa pun hanya bisa mengalihkan pandangannya sambil mengumpat dalam hati. Dengan gambaran seperti ini, sungguh ia tak akan pernah terbiasa meski sudah sering melihatnya.
"Apa kamu sudah kehilangan rasa malumu? Seharusnya, kamu ingat jika aku adalah istrimu dan saat ini tengah mengandung anakmu."
"Who cares? Meski kamu istriku, tapi our marriage, not even a marriage that is considered official by our country. Aku bisa meninggalkanmu kapan saja," sahutnya, santai. Sekali lagi, ia pun berulah dengan meraba dan menekan bagian belakang wanita tersebut, hingga membuat sang wanita mendesau pelan seolah tengah menggoda Revan.
Elle menggeram dengan tangan yang terkepal. Ia menggosok matanya, lalu mengembuskan napas panjang. "Juga meninggalkan anak kita?" tanyanya.
"Anak kita? Aku tak peduli. Banyak wanita yang mau bersamaku dan aku pun bisa membuat banyak anak dengan mereka. Apa pentingnya keturunan dari seorang pel^cur sepertimu?" katanya, pedas.
"Tapi kamu sendiri juga menyukai banyak pel^cur, kan? Kamu selalu menghabiskan waktu dengan mereka. Lagi pula, jika kamu sungguh tidak peduli, kenapa masih mau mempertahankan pernikahan ini?" Elle mengangkat kepalanya, lalu menyorot dalam ke arah sang suami yang sedang fokus dengan wanitanya.
"Sayang, jangan pedulikan wanita itu. Mari bersenang-senang malam ini." Elle mendesis mendengar Revan mengeluarkan kalimat itu. Ia, kemudian melihat keduanya masuk ke dalam kamar; kamar yang sama dengan yang ditempati oleh Revan dan Elle sendiri.
Meski Revan mengizinkannya tidur di ranjang, namun Elle sendiri sering tak bisa tidur. Ia mengalami insomnia akut dan itu terjadi karena perasaan jijiknya ketika mengingat apa yang dilakukan Revan dengan wanita lain di kamar itu.
Beberapa saat kemudian, Elle mendengar suara desauan yang bersahutan. Elle mencoba menutup telinga, namun sekuat apa pun ia berusaha, indra pendengarannya tetap bisa menangkap bunyi-bunyi laknat itu.
Elle, kemudian beranjak dari kursinya di depan piano dan mendekati sofa agar bisa merilekskan diri di sana. Sayang, apa yang terjadi, malah membuatnya semakin frustrasi.
Revan tak menutup pintu kamarnya, membuat Elle bisa melihat dengan jelas aktivitas di dalam sana. Sebagai istri, meski ia tak dianggap dan tak menganggap Revan sebagai suaminya, tetap saja ia merasa geram.
"Kak Revan, bisakah kamu menutup pintunya? Setidaknya, tunjukkan rasa malumu sedikit agar aku tetap bisa mengenalimu sebagai manusia, bukan binatang yang mungkin tak akan malu kalaupun harus bercint^ di depan umum," ujarnya sarkas, dengan suara yang agak diperkeras.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Elle dengan nada meninggi. Menghabiskan waktu dengan Revan, benar-benar ikut mengubah karakter Elle yang sebelumnya manis, menjadi lebih kasar seperti sekarang.
"Memberi pel^cur pelajaran. Dasar pengganggu! Jika kamu cemburu, bergabunglah dengan kami," tukas Revan dengan ekspresi dan suara yang sinis.
"Menjijikkan!"
"Menjijikkan?" Revan menaikkan alisnya, lalu kembali melayangkan tangannya ke wajah Elle. Tak tanggung-tanggung, ia melakukannya lima kali berturut-turut, hingga membuat pipi sang istri memar dan membengkak.
Elle memegang pipinya sambil meringis nyeri. Perempuan itu, kemudian memegang perutnya ketika menyadari tatapan suaminya yang dipenuhi kemarahan.
Revan menarik Elle, kemudian mendorongnya hingga terjatuh ke lantai. Pria tersebut, kemudian mendengus kasar.
"Sudah kubilang, aku akan membuatmu menderita," katanya, lalu beranjak memasuki kamarnya kembali serta tak lupa menutup pintunya. Suara desauan dan erangan, kemudian kembali terdengar.
Elle meringis nyeri sambil memegang perutnya. Ia menidurkan diri di atas lantai yang dingin, saking tak kuatnya mengarah rasa sakit itu.
"Sakit sekali ...! Benar-benar seorang b^jingan," desisnya.
Elle, tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang mengalir dari sela-sela pahanya. Calon ibu itu, kemudian menggertakkan gigi-giginya, menyadari apa yang sedang terjadi kepada dirinya dan buah hati di dalam kandungannya. Air ketubannya sudah pecah!
"R—REVAN!" laungnya, namun sang suami tak menanggapi.
"REVAN—AIR KETUBANKU PECAH, AKU MAU MELAHIRKAN!" teriaknya lagi. Setelah itu, ia mendengar pintu kamar yang terbuka dan Revan menatapnya sambil marah-marah. Ketika Elle pingsan, lelaki itu pun merasa panik. Sejahat apa pun ia, ia sama sekali tak ada niat untuk membunuh Elle—ia hanya ingin membuatnya menderita, meski tanpa disadarinya, ia telah membunuh perlahan sosok Elle dengan cara yang amat kejam.
Revan menggeram, lalu bergegas menyiapkan mobilnya, ketika tiba-tiba, wanitanya memanggilnya.
"Mau ke mana, Sayang?"
"Istriku mau melahirkan. Pergilah!" usianya dengan kasar. Perempuan dewasa tersebut, kemudian pergi dengan wajah yang sebal setelah menghentakkan kakinya beberapa kali di hadapan Revan.
Revan kelimpungan memasukkan Elle ke dalam mobil. Ia melakukan kendaraannya itu dalam kecepatan tinggi, dan sampai ke rumah sakit sepuluh menit kemudian. Tatapannya dari kursi kemudi, tak henti-hentinya terus melirik Elle yang tersandar lemah di sampingnya.
Revan jadi menyesal telah mengusir perempuan tadi, karena semestinya, ia meminta bantuannya untuk menjaga Elle di kursi belakang, jadi, ia tak perlu serepot ini.
Kondisi Elle tampak sangat lemah. Wajah remaja tersebut terlihat pucat seperti mayat.
Sebelum kehilangan kesadarannya, Elle membatin sambil memikirkan banyak hal. Mengenai masa depannya dan apa yang akan terjadi setelah ini. Entah dia akan selamat atau tidak; entah dia akan mampu atau tidak; entah dia bisa terlepas dari Revan atau tidak.