The Melody Tells

The Melody Tells
Pria Berjas Putih



Setelah kepindahannya, Elle sangat bersyukur bisa menjalani hari-harinya dengan baik bersama Erland, malaikat kecilnya.


Karier Elle sebagai desainer busana, dari hari ke hari pun semakin jelas perkembangannya. Di enam bulan pertama, ia berhasil membuka butiknya sendiri dengan berbekal uang tabungan selama bertahun-tahun. Namun, empat bulan kemudian, bisnisnya terancam kebangkrutan dan mungkin akan benar-benar bangkrut kalau saja keempat sahabat Elle tidak membawa kenalan-kenalan mereka untuk berbelanja di butiknya.


Keberuntungan bermulai dari sana. Orang-orang yang dibawa teman-temannya, ternyata merasa bahwa produk-produk Elle adalah produk yang berkualitas hingga mempromosikannya ke orang-orang kenalannya. Butik Elle semakin ramai pembeli setelah itu.


Pada awalnya, Elle mulai menambah keuntungannya dengan membuat variasi-variasi baru dan menaikkan harga busana yang dijualnya. Lama kelamaan, tepat satu tahun kemudian, ia pun berhasil membuka cabang di kota lain, yaitu di Alice Springs yang merupakan kota terbesar kedua setelah Darwin, di Australia bagian utara.


Namun, membuka cabang baru ternyata hampir sama seperti ketika membuka usaha baru. Elle harus bekerja dengan sangat keras agar usahanya ramai pengunjung. Dengan dibantu Joanne sebagai pengurus di cabang itu, mereka pun melakukan promosi besar-besaran. Nahas, setelah tiga bulan, pengunjung mereka pun masih bisa dihitung dengan jari.


Setidaknya, itulah sebagian dari perjuangan Elle untuk membangun usahanya sendiri. Tentunya, itu bukanlah hal yang mudah karena ia pun harus turut mengorbankan beberapa hal penting dari hidupnya. Namun, untuk apa yang telah ia miliki sekarang, maka ia menganggap bahwa semua itu telah sepadan dengan kerja kerasnya.


Sangat cukup bagi Elle melihat banyaknya orang-orang yang menghargai karya-karyanya. Sangat luar biasa bagi Elle melihat bagaimana orang-orang terdekatnya mendukungnya. Sangat menyentuh bagi Elle melihat putranya Erland bisa tumbuh dengan baik, sehingga itu memotivasinya untuk memberikan yang terbaik pula bagi anaknya itu.


Orang-orang awam tak akan bisa bilang bahwa Elle mengabaikan waktunya untuk anaknya demi kariernya. Karena memang tidak demikian—dan mereka yang berani berpikir demikian, bahkan akan langsung tertampar ketika melihat kedekatan ibu dan anak itu.


Bagi Elle yang sekarang, keberadaan Erland adalah hal yang sangat penting dan berharga—meski dulu, pernah sempat ia tak menginginkannya. Namun bukan berarti juga ia harus mengorbankan mimpi-mimpi lamanya. Ia sangat bersyukur karena memiliki orang-orang di belakangnya yang mendukungnya. Sebab di dunia ini, ada banyak ibu—ada sangat banyak orang tua yang harus menanggalkan mimpi-mimpi lamanya ketika mereka telah memiliki buah hati.


Elle telah mengerti, bahwa setiap orang tua punya cara yang berbeda-beda untuk menyayangi anak mereka dan setiap orang pun mungkin tak akan memiliki cara yang sama pula untuk membahagiakan orang-orang yang disayanginya.


Elle memahaminya sekarang. Saat remajanya dulu, Axton dan Shanee memang sangat sibuk, terlebih dengan kakaknya. Namun Elle sadar, ketika itu, ia tak pernah sendirian, karena masih ada keempat sahabatnya dan keluarganya pun tak bersikap cuek seperti orang tua Revan, mantan suaminya.


Orang tua Elle masih menanyakan, bagaimana perasaan Elle ketika di sekolah dan bagaimana hubungan Elle dengan teman-teman lainnya. Mereka menanyakan apakah Elle mengalami kesulitan atau tidak dalam belajarnya atau dalam masalah sosialnya—dan jika ada, mereka akan membantu menyelesaikan itu dengan sebisa mereka. Axton dan Shanee memang sangat peduli kepadanya, meski keduanya pernah melakukan suatu kesalahan fatal yang amat berpengaruh pada putrinya itu.


Terkadang, duku, ketika sedang marah-marah dan melampiaskan kebenciannya kepada Elle, Revan pun—entah dengan sengaja atau tidak—menceritakan masalah hidupnya. Mengenai orang tuanya yang bahkan tak pernah bertanya ia sedang baik-baik saja atau tidak. Mengenai orang tuanya yang hanya menilai putranya dari luarnya saja dan tidak mengenalnya dari dalam.


Elle mengerti, Revan merasa kesepian sehingga pada awalnya, ia menjadikan kenakalan-kenakalannya sebagai pelarian.


Namun, sesuatu yang terus dipelihara dan dibiasakan, pada akhir akan ikut melekat pada diri seseorang—dan itulah yang terjadi dalam hidup Revan, ketika dunia kelam bukan lagi menjadi pelariannya, melainkan ... kebiasaan dan bagian dalam hidupnya.


Akan tetapi, fakta itu, meski membuat Elle kasihan, tak akan pernah mengubah fakta mengenai segala kesalahan yang telah dilakukan Revan kepadanya. Revan tetap salah karena ia telah memperlakukan sosok tak bersalah seperti Elle dengan buruk; dan Revan juga salah karena ia hanya mencintai dan menghargai kesenangannya saja, dirinya sendiri dengan segala yang dimilikinya.


Mungkin, orang lain akan berpikir bahwa Elle adalah sosok yang sangat naif, karena ia, tetap mengharapkan yang terbaik bagi sosok Revan yang telah menyakitinya. Paling tidak, ia cukup menginginkan Revan tak mengulangi kesalahannya dan lebih menghargai nilai yang ada pada dalam dirinya,


Biar bagaimanapun, Revan adalah ayah dari anaknya. Elle, tak akan mungkin lagi memberi kesempatan pada pria itu untuk memasuki kehidupannya; namun, jika dia berubah, Elle bisa memberinya kesempatan untuk lebih dekat dengan putra mereka, Erland.


Setidaknya, Erland telah melupakan segala hal buruk yang terjadi di masa bayinya. Atau tidak akan ada juga sosok yang tega untuk menceritakan masa lalu kelam kedua orang tuanya kepada si kecil Erland yang manis.


...««« BACK TO THE STORY »»»...


Anak itu melipat tangannya di depan dada dengan ekspresinya yang super datar. Seragam sekolah dan tas ransel yang dikenakannya, menunjukkan bahwa ia adalah seorang pelajar yang baru saja pulang setelah menghabiskan sebagian waktunya pada tempatnya menimba ilmu.


Ia sedang menunggu jemputannya. Mommy-nya yang biasanya selalu hadir di ruang gedung sekolah, kurang lebih sebelum bel pulang berbunyi, kali ini tak demikian. Bahkan kini, sudah setengah jam lebih ia menunggu dan hampir seluruh teman-temannya sudah dijemput.


Beberapa guru sempat menghampirinya dan memberinya tawaran untuk diantar pulang atau untuk sekadar menemani—namun ia selalu menolaknya. Ia selalu merasa tak nyaman karena banyak orang yang menanyainya mengenai sesuatu yang ada pada dirinya, sebab ia terlihat berbeda dari kebanyakan anak lainnya.


Entah dari mana anak sekecil Erland mewarisi bakat berakting yang luar biasa seperti itu. Namun nyatanya, semua orang terdekatnya memang selalu percaya akan kepalsuannya—meski di satu sisi lain yang juga terlihat oleh mereka, ia memiliki sikap yang sangat mirip dengan Celine, sahabat ibunya yang kaku, dingin, dan memiliki selera humor buruk.


"Aku sedang mau es krim. Tapi Mommy lama sekali ... dan aku tidak membawa uang," gumamnya. "Akan lebih baik jika aku ke sana dulu dan menunggu Mommy di sana," sambungnya.


Erland melirik kedai es krim di seberang sana. Ia mengembuskan napasnya, melirik ke kanan dan kiri sebentar, lalu berjalan dengan hati-hati menuju ke sisi lain jalan. Nahasnya, ia pandangannya telah melewatkan sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan di atas batas normal. Ia hampir tertabrak, kalau saja lelaki itu tak menyelamatkannya dengan segera.


Keduanya berguling bersama dengan Erland yang berada di pelukan sang pria. Pemilik kedai es krim pun menghampiri karena ia terkejut juga melihat kejadian barusan. Ia memberikan uluran tangannya.


"Benar-benar tidak taat aturan! Jalanan memang sedang sepi, tapi ketika melewati wilayah yang rawan dan dipenuhi anak-anak seperti ini, mereka seharusnya lebih berhati-hati!" Perjual es krim itu menggeram kesal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalian baik-baik saja?" tanyanya, kemudian.


"Sure. Thanks for the help, Sir ...! Ah, bagaimana keadaanmu, Boy?" Sang penyelamat bertanya. Ia menepuk-nepuk pelan jas putih dan wajahnya yang kotor, lalu melakukan hal yang serupa pada sosok yang ditolongnya.


"Aku baik. Terima kasih, Paman ...!"


"Siapa namamu?" Pria tadi bertanya.


"Erland, bukan? Aku sering mendengar orang-orang memanggilmu begitu." Penjual es krim itu menatap Erland, lalu terdiam. Sejujurnya, ia sendiri melihat bagaimana Erland bersikap berbeda ketika bersama ibunya dan ketika tidak bersama ibunya. "Ibumu pasti terlambat menjemputmu. Jarang sekali dia seperti itu," komentarnya.


"Uhmm .... Namaku Erland." Erland mengangguk. Ia menatap pria berjas putih itu dengan berbinar ~ suatu hal yang amat jarang dilakukannya. "Siapa namamu, Paman? Apakah kamu ... seorang dokter?" tanyanya, kemudian.


"Aku Aaron. Aku memang seorang dokter," jawabnya. Ia mengelus kepala Erland dengan gemas.


"Kereeen! Aku mau juga ...—" Erland tak melanjutkan ucapannya, namun ia meneruskannya di dalam hati. 'Aku mau juga ayah seseorang dokter." Maka, dua pria dewasa di sebelahnya pun berpikir kalau ia bercita-cita menjadi seorang dokter.


"Kalau begitu rajinlah belajar ...!" kata Aaron. Erland membelalakkan matanya dalam sekelebat hingga tak ada orang yang menyadarinya. Ia mengerti kesalahpahaman itu, namun ia tak mencoba meluruskannya.


"Nak, kenapa kamu mau menyeberang? Berbahaya bagi anak kecil sepertimu jika melakukannya sendirian. Lain kali jangan melakukannya lagi! Ibumu akan sangat sedih jika kamu terluka." Pemilik kedai es krim itu berlutut dan menyejajarkan tinggi badannya dengan tinggi Erland yang lebih tinggi dari anak sebayanya.


"Tapi aku sudah berhati-hati. Aku hanya melewatkan mobil itu karena mobilnya melaju terlalu cepat," jawabnya, jujur. Kedua pria dewasa pun mengangguk paham. "Aku mau membeli es krim, namun aku tidak membawa uang dan Mommy belum menjemput," sambungnya.


Aaron terkekeh pelan, lalu menawarkan untuk membelikan, meski sang pemilik kedai, sudah bilang bisa memberi es krim gratis khusus untuk Erland, karena dia anak yang manis. Erland sendiri yang menolak penawaran itu dengan alasan ia ingin menghargai usaha pembuatnya—jawabannya itu, tentu saja membuat kagum dua sosok yang mendengarnya.


Seusai itu, Aaron pun menemani Erland menunggu jemputannya. Ini pertama kalinya anak kecil itu bisa merasa nyaman ketika bersama dengan orang lain. Diam-diam, ia pun mengagumi sosok tampan berjas putih itu.


Aaron mengajak Erland bercerita. Ia melakukannya dengan cara yang tak membuat Erland merasa terbebani. Hal itu, membuat keduanya semakin dekat.


Dua puluh menit kemudian, seorang wanita datang menghampiri mereka berdua. Erland pun langsung menghampiri dan memeluk sosok ibunya itu, lalu ia juga sedikit menceritakan tentang apa yang baru saja terjadi.


Elle berterima kasih kepada Aaron. Pria itu mengangguk, lalu pamit pergi. Elle merasa pernah mendengar suaranya, namun ia tak bisa melihat dengan jelas sosok Aaron yang sebenarnya memang tengah menggunakan masker, namun dilepas sejenak ketika ia berbincang dengan Erland agar pembicaraan mereka bisa terasa nyaman.


Elle mengabaikan perasaan familiernya itu, lalu mengajak anaknya untuk segera pulang setelah memberitahukan alasannya telat menjemput ~ yaitu karena butiknya kedatangan pelanggan merepotkan. Sepasang orang tua yang entah bagaimana, pada suatu hari nanti akan menjadi bagian dari hidupnya.