
"How are you, Elle? Kami benar-benar khawatir karena tidak bisa menghubungimu kemarin malam."
Elle tersentak kecil ketika merasakan sebuah tepukan di bahunya yang kedatangannya, diiringi dengan sebuah pertanyaan. Ia, kemudian menoleh dan menatap pemilik suara yang familier itu.
"Riel ...?! Aku baik. Maaf—sungguh, ponselku mati, semalam. Aku lupa tidak mengisi ulang baterainya," jelas Elle. Ia menarik tipis kedua sudut bibirnya sambil menatap tak enak ke arah temannya itu.
"Kebiasaan," kata Gabriel. Ia menepuk pelan surai Elle yang memiliki tinggi hanya dua sentimeter lebih rendah darinya itu. "Kamu harus benar-benar belajar dari Celine yang tak pernah membiarkan persentase baterai handphone-nya berada di bawah angka delapan puluh," sambungnya.
"Eli memang sangat perfeksionis. Tidak heran jika di begitu," sahut Elle. Gadis itu, kemudian kembali melangkahkan kakinya sambil melanjutkan perbincangannya dengan Gabriel.
"Di mana yang lain?" tanya Elle, karena ia melihat bahwa Gabriel hanya sendirian pagi ini.
"Aziel sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya di dalam kelas. Celine—aku lihat, di sedang membaca buku di kelasnya. Lalu, kamu tahu kebiasaan Jo, kan? Normalnya, dia baru masuk bertepatan dengan ketika bel masuk berbunyi," ungkapnya. Mendengar itu, Elle pun menggerakkan kepalanya secara vertikal—mengangguk—pertanda paham.
"Temanmu yang lain?" tanya Elle kembali. Ia, kemudian tersenyum sambil menghentikan langkahnya dan menatap adik kelas yang menyapanya. Biar bagaimanapun, Elle dan teman-temannya termasuk murid populer di sekolahnya.
"Dari klub basket?" Elle pun mengangguk, membenarkan hal yang ditanyakan Gabriel. "Mereka sedang latihan. Sebentar lagi akan diadakan turnamen antarsekolah di Darwin," lanjut pemuda tersebut.
"Bukankah Jo mengikutinya dalam cabang sepak bola? Lalu kamu, kenapa tidak ikut latihan?" Elle menatap penuh tanya ke arah sahabat karibnya itu.
"Jo adalah ketua regu mixed football, jadi dia pasti ikut. Lalu ..., anggota tim basket di sekolah kita terlalu banyak, jadi dibagi dalam beberapa regu. Meski aku pemain utama di regu A, tapi ini giliran regu B yang mendapat kesempatan untuk mengikuti turnamen," jelas Gabriel. Ia, kemudian menghentikan langkahnya sambil menatap Elle yang terus berjalan. "Kamu lupa dengan letak kelasmu, Elle?" tanyanya.
Elle terkesiap dan menghentikan langkah majunya. Ia mundur satu meter, dan ketika itu, ia telah berhadapan dengan pintu kelasnya. Menyadari kesalahannya, gadis tersebut pun tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya.
"Kamu jadi sering kehilangan fokusmu," tutur Gabriel. "Jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu memikirkan hal-hal itu. Ada aku dan yang lainnya di sini dan kami siap menolongmu kapan pun kamu membutuhkannya," sambungnya.
"Aku tahu." Elle menyelipkan anak-anak rambutnya ke belakang telinga sambil menyorot sosok Gabriel dengan lemah. Melihat itu, Gabriel pun tak bisa menahan dirinya untuk gak mencubit hidung remaja perempuan tersebut.
"Masuklah ke kelasmu ...! Nanti, jam istirahat pertama, kami menunggumu di kantin. Sampai jumpa!"
"Ya, see you!" jawabnya, dengan nada lirih.
Elle, kemudian masuk ke dalam kelasnya sambil memikirkan kejadian semalam. Sesungguhnya, ia amat terusik mengingat keberadaan Revan, pria yang telah berbuat jahat kepadanya itu. Namun di sisi lain, ia pun amat puas ketika melihat sosoknya yang dirundung penderitaan.
Di satu sisi, sebenarnya, Elle sangat takut jika kabar kehamilannya, sampai diketahui oleh orang-orang, terutama kedua orang tuanya. Elle pun takut, jika suatu hari nanti, Revan sampai mengetahui bahwa yang dikandung Elle merupakan anaknya dan Revan berniat akan merebutnya.
Biar bagaimanapun, meskipun kehadiran janin dalam kandungannya bukan sesuatu yang diduga, bahkan tak diinginkannya, namun Elle sudah menerima keberadaan anak itu dan memutuskan akan membesarnya sendiri dengan bantuan orang-orang terdekatnya.
...««« SAAT JAM ISTIRAHAT PERTAMA »»»...
Elle menatap keempat kawannya secara bergantian. Ia berdeham pelan, lalu menyesap pelan segelas hot lemon tea hingga tersisa tiga perempatnya.
"Jadi ..., apa yang terjadi, Elle?" tanya Joanne. Gadis itu melipat tangannya di depan dada dan menatap penasaran ke arah sosok oriental berparas manis tersebut.
"Mungkin, dia mengalami Couvade Syndrome," kata Elle, singkat.
Mendengar pernyataan Elle, keempatnya pun mengangguk. Mereka kembali menyantap makanan masing-masing dan membiarkan keheningan—yang biarpun di sekeliling mereka tengah ramai—menyelimuti mereka.
"Tapi, apa itu? Cou—vade Syn—drome?" tanya Aziel, sambil mengeja. Ia menggaruk tengkuknya, merasa tak paham.
"Istilah lainnya adalah kehamilan simpatik. Itu kondisi di mana seorang pria turut merasakan gejala kehamilan," jelas Joanne. Aziel pun mengangguk, sambil menerapkan senyum lebar di wajahnya.
"Ini kabar baik. Si Bajing^n yang melukai Elle kita menderita. Langit mendengar harapanku." Aziel mengatakannya sambil tertawa. Elle pun tersenyum menanggapinya, sedang ketiga orang lainnya saling menatap bingung.
"Kami sedang mencoba terlihat biasa saja agar tidak membuat Elle tersinggung," tukas Gabriel. Pemuda tersebut, kemudian menggeleng. "Tapi ternyata tidak berguna," sambungnya, dengan menyeringai.
"Aku juga mendoakan segala keburukan untuk Sialan satu itu. Semoga, dia mati dengan cara yang paling mengenaskan!" rutuk Joanne, dengan wajah yang memerah.
"Elle, apa kamu melakukan pemeriksaan rutin?" tanya Celine, tiba-tiba. Elle pun mengangguk, sedang yang lain hanya menatap dengan bingung.
"Aku pernah bercerita kepada kalian soal kakak dokter yang menolongku itu. Mereka membantuku," jelas Elle.
"Apa kalian dekat?"
"Aku merasa iya. Mereka sangat baik kepadaku."
"Lain kali ajaklah aku," kata Celine. Yang lain memandang itu dengan tak suka.
"Aku juga ingin menemani Elle," sahut Joanne.
"Aku juga," tukas Aziel dan Gabriel bergantian.
Elle pun menggeleng ketika melihat tingkah teman-temannya. Ia tertawa kecil sambil mengusap kedua matanya. Sejak kebenaran itu diketahui oleh keempat sahabatnya, Elle memang mulai kembali ceria seperti sebelum-sebelumnya.
"Bergilir saja. Aku merasa aneh kalau membawa empat orang sekaligus hanya untuk menemaniku," tutur Elle dengan ekspresi cerahnya. Namun tiba-tiba, wajahnya memucat. "Aku ... pusing. Sepertinya, aku akan ... ping—" Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, dan tubuhnya pun meluruh. Jika saja Celine tak sigap menangkapnya, tubuhnya itu, pasti akan terjatuh ke lantai.
.........
"Paman dan Bibi, bukankah kalian orang tua Elle? Aku melihatnya pingsan di kantin tadi."
Sontak saja, Axton dan Shanee pun saling menatap ketika mendengar kabar itu dari seorang siswa laki-laki. Wajah mereka berubah kecut. Karena khawatir, keduanya pun minta diantar menuju ruang kantin.
Kedua orang tua Elle, beberapa hari lalu dipanggil oleh kepala sekolah. Tentunya, itu bukan untuk sesuatu yang buruk, melainkan sesuatu yang baik dan membanggakan. Shanee dan Axton, ada di sana untuk mendiskusikan prestasi Elle bersama beberapa guru dan Kepala Sekolah.
Ketika lulus nanti—selagi ia tetap menjaga prestasinya—Elle bisa mendapatkan rekomendasi dari SMA-nya untuk memasuki universitas-universitas terbaik di Singapura, bahkan juga di luar negeri. Bahkan, Elle juga bisa mengambil jurusan fashion design di Paris, Perancis seperti impiannya. Ia bisa melihat Eiffel tower dan menikmati suasana di sana yang katanya romantis.
Meski Axton dan Shanee agak merasa berat harus melepaskan satu-satunya putri mereka, namun mereka tak bisa bersikap egois. Sebab biar bagaimanapun, sudah tugas mereka untuk terus mendukung Elle.
Namun, tentunya ada yang lebih penting dari memikirkan masa depan. Yaitu masa sekarang.
Ketika di kantin, Axton dan Shanee, tentu saja terkejut ketika melihat keadaan putri mereka. Gadis itu sungguh pingsan. Lalu, tampaklah sosok Gabriel yang tengah menggendongnya—berniat membawanya ke ruang kesehatan agar segera ditangani di sana.
"Tunggu! Kami akan membawanya ke rumah sakit saja. Elle terlihat sering tidak sehat akhir-akhir ini," kata Axton.
Teman-teman Elle pun terkesiap. Jika Elle dibawa ke rumah sakit, jelas saja, rahasia besar yang tengah mereka simpan akan terbongkar. Biar bagaimanapun, mereka pun sudah berjanji untuk terus menolong Elle—dan sesuai permintaan gadis tersebut, mereka berempat harus membantunya untuk menyembunyikan kehamilannya semampu mereka.
Itu artinya, mereka pun harus menghentikan orang tua Elle untuk membawa Elle ke rumah sakit!
"Aunty, Uncle ..., Elle baik-baik saja. Tak perlu dibawa ke rumah sakit, cukup ke ruang kesehatan agar Elle bisa beristirahat di sana," kata Joanne, dengan wajahnya yang masam.
"Sayangku, percayalah bahwa Tuan Putri akan baik-baik saja," tutur Aziel sambil menyorot Shanee. Gabriel yang merasa geram pun menginjak kakinya.
"Tidak perlu. Kami hanya ingin memastikan di rumah sakit. Akhir-akhir ini, Elle lebih banyak mengalami tidak enak badan dari sebelumnya. Tentu mengkhawatirkan kalau dia sakit setiap seminggu sekali," kata Shanee.
Axton, kemudian mengambil alih Elle dari gendongan Gabriel dan tanpa bisa dicegah lagi, mereka pun membawa Elle pergi. Sebelum itu, keduanya pun sempat berpesan agar Elle dimintakan izin untuk pulang lebih awal, mengingat gadis itu sedang tak enak badan.
Ketika itu, teman-teman Elle hanya bisa memandang kepergian sang gadis dengan tatapan kosong.
Perjalanan ke rumah sakit tidak memerlukan waktu lama. Dengan kecepatan maksimal 50 kilometer perjam, dalam waktu tak sampai dua menit, mereka telah sampai ke rumah sakit yang hanya berjarak 1, 2 (satu seperlima) kilometer itu.
Axton membopong Elle untuk memasuki rumah sakit. Shanee pun mengikuti dari belakang. Gadis yang tengah kehilangan kesadaran itu pun segera ditangani. Beberapa menit mereka menunggu, namun pernyataan dokter malah membuat jantung mereka seakan ingin terlepas dari tempatnya.
"Nona ini sedang hamil. Apakah kalian tidak mengetahuinya?" kata sang Dokter. Shanee yang tak percaya pun meluruhkan tubuhnya ke dinding dan menopangkan dirinya di sana, sedang Axton mengusap wajahnya dengan kasar.