The Melody Tells

The Melody Tells
Akhir yang Menjadi Awal



Hari ini, sidang yang akan memutuskan mengenai permasalahannya dengan Revan, akan terlaksana. Elle melakukannya demi mengukuhkan statusnya sebagai ibu Erland, sedang Revan secara hukum, tak memiliki hak atas anak mereka itu.


Dalam kasus ini, Elle, sebenarnya tak ingin memberikan tuntunan apa pun. Namun tak mungkin pula ia membiarkan Revan terbebas begitu saja. Jadi, ia mengajukan kepada hakim agar Revan mendapatkan hukuman berupa denda, alih-alih dipenjara meski dia memang pantas mendapatkannya.


Bukannya ia masih mau bersikap naif. Meski salah satu alasannya tak mau memenjarakan Revan adalah karena kedua orang tua pria itu yang memohon kepadanya beberapa hari lalu, namun, alasan utamanya adalah karena ia ingin menjaga nama baik keluarganya dan anaknya. Ia tak mau ada permasalahan yang timbul jika ada pihak luar yang mengetahui mengenai pernikahan Elle dengan Revan; dan Elle juga tak mau anaknya terkena imbas karena memiliki ayah yang merupakan seorang narapidana atau mantan narapidana. Itulah pertimbangan utamanya.


Sidang berjalan dengan lancar karena Revan dan keluarganya benar-benar tak menyanggah apa pun di dalam tuntutan. Hakim, sebenarnya tampak geram dan ingin memberikan hukuman yang lebih berat dari apa yang dituntutkan Elle. Pada akhirnya, Revan dihukum dengan cara diambil sebagian besar properti pribadinya—bukan milik orang tuanya—dan harus mengikuti sosialisasi mengenai cara menjadi suami dan ayah yang baik selama dua tahun penuh atau akan mendapatkan denda besar pada setiap absen dalam pertemuan.


Meski tak bisa menyembuhkan luka di hati Elle, namun ia merasa lega sebab Revan mendapatkan hukuman yang sedemikian rupa. Setidaknya, suatu hari nanti, Elle tak ingin Revan mengulangi lagi perbuatannya. Dengan begitu, bukan hanya kehidupan Elle yang bisa berubah menjadi lebih baik lagi, tapi juga Revan dan keluarganya.


Pada hari itu, Elle dan Revan pun resmi berpisah dan menyelesaikan permasalah mereka. Seusainya, Elle benar-benar tak pernah mendengar kabar lagi mengenai pria itu bersama kedua orang tuanya. Ketiganya hilang, bak ditelan bumi.


Kehidupan Elle, dari hari ke hari semakin baik ~ meski ia belum bisa sepenuhnya menuntaskan traumanya. Setidaknya, dia bisa melanjutkan kembali sekolahnya, di sekolah yang baru.


Sebenarnya, mengingat ia sudah ketinggalan banyak sekali pelajaran, semestinya, Elle harus mengulang kelasnya. Beruntung, pihak sekolah yang mengetahui prestasi dan kecerdasan Elle sebelumnya, memberi penawaran. Yaitu lompat kelas, asal Elle bisa mengikuti ujiannya dengan baik—dan tentu saja Elle berhasil dengan segala usahanya dengan dibantu oleh ketiga temannya.


Selain itu, yang membahagiakan bagi Elle adalah tumbuh kembang putranya yang berjalan dengan baik. Elle sangat bersyukur mengetahui Erland tak mengalami masalah-masalah yang sering dialami oleh bayi-bayi prematur.


Erland kecil, benar-benar mirip dengan Elle meski memiliki kulit kecoklatan seperti Revan. Rambutnya yang kini telah tumbuh dengan lebat, tampak mirip seperti rambut kakek dan kakak Elle, yaitu cokelat cerah. Selain itu, segala aspek mengenai Erland, sangat mirip dengan Elle—terutama senyumnya.


Erland sungguh-sungguh tumbuh menjadi anak yang sangat manis dan tentunya pintar. Di usia setahun, ia pun sudah bisa mengatakan kata 'Mommy'.


Elle pun, sedikit demi sedikit mulai mengerti mengenai ke arah mana minat putranya. Meski masih sangat kecil, Erland sangat suka mendengarkan musik dan lagu-lagu—kecuali jika yang menyenandungkan itu adalah Aziel, Gabriel, dan Joanne.


Bahkan, Elle sendiri pun mengakui bahwa suara ketiganya adalah perpaduan yang sangat sempurna untuk ...—


"Suara kalian menghancurkan gendang telinga," kata Celine sambil menutup telinga Erland. Ia mencoba menenangkan anak sahabatnya itu yang tengah menangis dengan keras. Memang selalu seperti ini, Erland tak pernah kuat jika harus mendengar suara nyanyian dari ketiga teman ibunya. Bagi balita itu, itu ... mungkin terdengar seperti melodi kematian.


"Elle menitipkannya kepada kita, namun kalian malah membuatnya menangis," keluh Celine. Gadis itu memijit pelipisnya sambil menatap tajam ketiga sahabatnya yang super jahil itu.


Elle yang baru saja datang, langsung mengambil alih Erland. Ia menyaksikan anaknya yang tengah menangis dengan sosok waras Celine yang berusaha menenangkan, sedang ketiga insan lainnya, justru tertawa terbahak-bahak sembari menyanyi seperti orang gila.


"Dia akan menjadi musisi hebat suatu hari nanti, pasti tahu bagaimana kualitas vokal yang baik," tukas Elle, sembari menggelengkan kepalanya. Ia menimang-nimang putranya, lalu mengembuskan napasnya panjang. "Makanannya sudah kutaruh di meja. Kalian ambil sendiri," tuturnya, kemudian.


"Kamu marah, Elle?" tanya Gabriel. Lelaki itu menghentikan aksinya, lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia melihat sahabatnya itu tengah mendengus kesal.


"Anak manis, kemarilah ...! Kakak akan membelikanmu es krim dan permen—jadi jangan menangis lagi, ya?" Aziel mendekati Elle dan membisikkan kalimat barusan kepada Erland.


Gabriel pun tak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa, sedang Celine, ekspresinya sudah tak bisa dijelaskan lagi seperti apa. "Aku yang akan menangis jika kamu melakukannya, Aziel ...! Erland belum bisa makan es krim ataupun permen. Tapi, jika kamu mau, mau bisa memberikannya kepada ibunya—atau kepadaku juga boleh. Aku mau es krim rasa vanilla!" seru Joanne. Aziel menatap aneh ke arahnya.


Setelah Erland kembali tenang, mereka berempat pun makan bersama dengan makanan yang dibeli oleh Elle tadi. Mereka sedang berada di rumah Joanne. Acara makan-makan kecil itu, Elle sendiri yang merencanakannya. Ia mentraktir teman-temannya sebagai perayaan atas keberhasilan mereka dalam ujian kelulusan.


Setelah ini, mereka juga sudah mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sekelompok anak muda itu juga sudah memiliki universitas dan jurusan kuliah tujuan masing-masing. Sebentar lagi, kelimanya, mungkin akan berpisah dan tak akan memiliki kesempatan bertemu yang banyak lagi karena disibukkan oleh beberapa hal. Karena ini pula, Elle berinisiatif untuk kegiatan kecil ini.


"Katanya, Paris adalah kota yang romantis. Aku juga mau ke sana!" Aziel berseru sambil menatap penuh semangat ke arah Elle yang telah diterima di salah satu universitas favorit di Paris, Prancis. Ini, tentu juga sebuah kabar membahagiakan, karena ini sangat sesuai dengan impian ibu muda tersebut.


"Kamu yakin tidak mau membawa Erland? Dia masih kecil ...," tanya Gabriel, merasa empati.


"Aku tidak tega jika harus membawanya. Aku rasa, akan lebih aman dia di sini. Ada Shi Ren yang merawatnya, juga keluargaku yang akan menjaganya. Aziel juga pasti akan mengunjunginya selama setahun ini, sebelum dia lulus, kan?"


"Selagi komunikasi masih bisa dijaga, aku yakin akan baik-baik saja. Elle sedang berada di dua sisi sekarang. Yaitu mimpinya dan anaknya—namun dia tak perlu memilih, juga tak boleh, karena lagi pula, ada kita berempat dan terutama keluarganya juga yang mendukungnya. Elle harus menjalani kuliahnya dengan baik sambil memantau Erland dari jauh. Aku yakin dia bisa," kata Celine dan yang lain pun membenarkannya.


Begitulah hidup berjalan. Dengan benang merah yang saling terikat satu sama lainnya—antara satu manusia dengan manusia lainnya, antara kehidupan satu dengan kehidupan lainnya, dan antara takdir satu dengan takdir lainnya. Kita membiarkannya mengalir, namun juga mengusahakannya agar tetap berjalan di bawah kendali kita. Karena ... segala sesuatu tak akan berubah jika kita sendiri juga tak berusaha untuk mengubahnya.


Seperti itu pula bagaimana penderitaan Elle berakhir. Sebab ia sendiri yang berusaha mengakhirinya untuk memulai suatu awal yang baru bersama orang-orang terkasihnya. Akhir yang menjadi awal.