The Melody Tells

The Melody Tells
Benang Merah



Larut malam itu, perempuan tersebut pergi diam-diam bersama pangeran kecilnya, untuk kabur dari sang suami yang kasar dan sama sekali tidak bertanggung jawab.


Ketika sang bayi menangis, sang perempuan muda mencoba menenangkan. Ia tak membawa begitu banyak barang, kecuali beberapa keperluan penting anaknya dan juga sejumlah uang. Selain karena ia sedang terburu-buru, ia juga tak akan mampu membawa barang bawaan dalam jumlah besar. Jadi, tak perlu merepotkan diri dengan hal itu.


"Tenanglah, Mommy ada di sini. Kita ... akan bisa memulai hidup baru seusai ini. Tanpa ayahmu. Kamu tidak membutuhkan dia lagi, Erland Sayang ...! Karena dia tidak menginginkan kita, dia selalu menyakiti kita, dan dia juga bukan panutan yang baik untukmu," lirihnya.


Elle menengok ke sekelilingnya, lalu menghentikan mobil taksi yang melintang di jalanan sepi itu. Sang sopir menolak, karena ia sendiri memang sedang tidak beroperasi. Namun Elle tetap memaksa dengan segala caranya, hingga sang sopir yang iba pun memberi bala bantuannya.


Di dalam mobil yang sedang melaju itu, Elle tak henti-hentinya memandangi wajah putranya. Erland sedang tertidur pulas dan melihat itu, entah kenapa hati Elle terasa sangat bahagia dan lega. Perasaannya menghangat setelah sekian lama terbekukan oleh segala perilaku buruk Revan kepadanya.


Elle telah membangkitkan seluruh keyakinannya. Ia percaya, bahwa keputusannya, pastilah yang terbaik ~ untuk dirinya maupun Erland. Elle tak mau pria kecilnya sampai meniru segala perbuatan kotor Revan suatu hari nanti—meski Revan adalah ayahnya sendiri.


Elle sadar, bahwa hanya diam saja dan berpasrah, pada dasarnya bukanlah keinginannya. Ia, bahkan baru memahami, bahwa sebenarnya, bertahan dengan Revan, hal ini bukan ia lakukan demi putranya, melainkan karena rasa takut yang sedang coba ia lawan sekarang ini.


"Kamu terlihat masih sangat muda, Nona ...! Atau mungkin, aku harus memanggilmu nyonya? Apakah dia benar-benar anakmu? Aku merasa bahwa sebenarnya, kamu masihlah remaja," tanya sang sopir dari balik kursi kemudinya. Elle pun tersenyum sambil mengeratkan pelukannya ke sang buah hati.


"Aku memang masih remaja dan dia sungguh putra kandungku," jawab Elle, jujur.


"Lalu, suamimu? Kamu menikah di usia muda? Kenapa?"


"Aku menikah dengannya karena saat itu aku sudah hamil dan dia ... adalah ayahnya. Tapi, bahkan sebelum kejadian itu, aku benar-benar tak pernah dekat dengannya. Itu terjadi karena ... ya, dia memaksaku." Elle terdiam setelah menceritakan kejadian itu. Meski sudah menceritakan masalah pribadinya, ia justru merasa lega. Lagi pula, sudah lama ia tak menjadi sosok dirinya yang sebenarnya karena terus menjadi sosok lain yang penuh dusta.


"Sungguh? Kamu terpaksa menikah dengannya? Dia seorang, ya ... begitu. Ah—aku tak menyangka ada orang yang masih berpikiran kuno dan sempit seperti itu. Menikahkan seorang korban dan pelaku sebagai bentuk pertanggungjawaban, menurutku sangat konyol dan tidak efektif. Itu hanya mengantarkan korban pada penderitaan baru," kata sopir perempuan itu. Ia, kemudian melirik Elle dan bayinya sekilas. "Ah—maaf jika terlalu banyak bertanya. Aku jadi menyinggung hal-hal pribadi," lirihnya, kemudian.


Elle tak mempermasalahkan itu. Selama dalam perjalanan, mereka pun terus berbincang-bincang ringan, dan itu membuat perasaan Elle menjadi lebih baik lagi. Elle, sekarang jadi memahami apa yang diperlukannya, yaitu bercerita mengenai perasaannya dan segala yang ada dipikirannya. Ya, ia tak boleh bersembunyi lagi.


"Kita sudah sampai."


"Terima kasih sudah mengantarku dan menjadi teman bicaraku yang baik. Ini biayanya. Maaf sudah mengganggumu dan memaksamu menerimaku sebagai penumpangmu," ucap Elle sambil menyodorkan sejumlah uang. Ia menyorot penuh rasa bersalah ke perempuan dewasa yang wajahnya pucat karena kelelahan itu.


"Tak masalah. Aku senang bisa menolongmu. Semoga, segalanya nanti bisa berjalan dengan baik. Permisi," pamitnya. Setelahnya, Elle hanya bisa menatap dari kejauhan bagaimana mobil tersebut mengecil dan hilang.


Elle, kini pun memandang kediaman lamanya dengan perasaan yang campur aduk. Penderitaannya, mungkin akan segera berakhir. Keluarganya akan menyelamatkannya, meski sebenarnya, lebih tepat kalau ia yang menyelamatkan dirinya sendiri.


Kemudian, Elle bergegas mendekati pintu rumahnya. Dengan jantung yang bergemuruh, ia pun memencet belnya, berkali-kali dengan penuh semangat. Sekitar dua menit kemudian, ternyata Shi Ren yang membuka pintunya.


"Nona? Anda ...?" Shi Ren menatap heran ke arah putri majikannya yang datang larut malam dengan menggendong bayi kecilnya sendirian. Namun, ia cukup memahami, bahwa mungkin sedang terjadi masalah antara sang Nona dengan suaminya, sehingga sang Nona pun memutuskan untuk pergi dari rumah dan pulang ke rumah orang tuanya.


"Ini ... biar saya saya saja yang menggendong Tuan Kecil. Saya akan memberinya baju hangat. Malam sedang sangat dingin dan tidak baik untuk bayi," katanya. "Di dalam hanya ada Nyonya, tapi beliau sedang tidak enak badan. Saya baru saja membuatkan teh hangat untuknya. Saya juga akan melakukannya untuk Anda," sambung sang pelayan.


Elle menarik kedua sudut bibirnya, kemudian mengucapkan terima kasih. Setelahnya, ia segera melangkah mendekati kamar yang biasanya ditempati oleh ibu dan ayahnya.


"Shi Ren?"


Shanee merasa bahwa ada yang sedang mengawasinya. Ia, kemudian melirik ke arah pintu, lalu menaikkan alisnya tak percaya ketika melihat keberadaan putrinya di sana.


"Elle? Kamu ke sini? Malam-malam begini?!" Shanee bergegas menaruh cangkirnya ke atas meja, lalu merubah posisinya menjadi berbaring biasa. Kepalanya ia sandarkan ke sisi ranjang. Ia menatap putrinya dengan ekspresi yang sulit diartikan ketika memahami bahwa sesuatu yang tak baik sedang terjadi.


Elle pun beringsut mendekati ibunya. Ketika posisi mereka sudah dekat, keduanya hanya saling diam selama beberapa menit, lalu saling memeluk satu sama lainnya. Kali ini, Elle menangis dengan menumpahkan segala air mata yang selama ini ditahannya.


"Menangislah, Elle ...! Mau menceritakan kepada ibu apa yang sedang terjadi?" Shanee mengelus kepala putrinya dengan lembut. Ia menyorot dalam mata Elle yang kini tengah mendongak menatapnya. Shanee, kemudian menyuruh anaknya itu agar duduk di sisi ranjang agar mereka bisa lebih leluasa.


Elle menghela napasnya panjang, kemudian memulai kisahnya. Semuanya ia ceritakan, mulai dari dua minggu awal pernikahan mereka, hingga seusao kelahiran Erland. Shanee yang mendengar itu pun sangat terkejut. Ia tak menyangka bahwa masalahnya sebesar itu.


Sebagai salah satu penyebab pernikahan Elle dengan Revan, Shanee pun merasa bersalah, namun Elle tak ingin menyalahkannya karena Elle sendiri pun memahami bahwa ibunya hanya menginginkan segala yang terbaik untuknya. Biar bagaimanapun, ia hanya manusia biasa yang bisa salah juga.


"Mom? Di mana Dad dan Kakak?" tanya Elle. "Mereka ... masih bekerja? Bahkan selarut ini?" sambungnya, tak percaya.


"Ini karena kakakmu. Dad hanya sedang menunggunya, mungkin juga dia sedang ketiduran karena terlalu lama menunggu Devano yang tidak kunjung selesai dengan pekerjaannya," jawab Shanee dengan kerongkongannya yang masih tercekat berkat cerita putrinya barusan. Elle hanya mengangguk menanggapi pernyataan ibunya.


Elle meminum teh hangatnya yang disiapkan oleh Shi Ren sembari menunggu dua pria yang selalu melindunginya itu. Sesekali, ia berpindah ke kamar sebelah, di mana Shi Ren tengan menjaga sosok Erland. Elle membiarkannya sebab ia sendiri pun, bahkan sudah merasa lelah.


Setelah hampir sejam menunggu, suara mobil, akhirnya terdengar dan disusul dengan suara bel yang terus berbunyi. Namun, itu jelas saja bukan Axton dan Devano, sebab Axton memegang kunci dan ia bisa membuka pintunya sendiri—sang ayah tak membutuhkan bantuan orang dalam untuk memasuki rumahnya sendiri.


Elle mengerutkan keningnya. Lalu, tiba-tiba Shi Ren datang dan mengatakan bahwa Revan datang mencarinya dan sedang menunggu di ruang tamu. Dengan kabar itu, Elle, lantas saja menjadi panik. Akan tetapi, ia tak bisa menyalahkan pelayannya yang tak mengerti permasalahan sebenarnya.


Elle memberanikan diri menemui Revan meski Shanee sudah melarangnya. Wanita itu terlalu lemas hingga tak kuasa menemani putrinya. Dengan tubuh gemetar Elle pun menemui Revan sendirian.


"Aku pulang dan melihatmu tak ada di rumah. Aku yakin sekali kamu ada di sini. Di mana anak haram sialan itu?" katanya, sambil menarik kuat tangan Elle.


Elle meronta sambil menggeram kecil. Ia memukul-mukul, namun tak berhasil. Ia menampar Revan, namun pria itu, masih tak melepaskan lengannya jua. Shi Ren kepanikan, sedang Shanee berusaha menghubungi suami dan putranya yang sedang nonaktif, berharap mereka menunjukkan status online-nya tiba-tiba. Setidaknya, ia tak akan tahu hasilnya jika tidak berusaha.


Beberapa menit kemudian, ketika Elle sudah hampir dibawa masuk ke mobil Revan, mobil yang biasanya dibawa oleh Axton dan Devano pun datang. Ketiga perempuan merasa lega. Tak lama, Devano keluar dan sebagai sosok pertama yang tampak.


Devano langsung memukul Revan berdasarkan instingnya untuk melindungi sang adik. Ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Elle diperlakukan kasar oleh Revan. Devano bergegas mengusir suami adiknya itu, yang tampaknya, bahkan tak ingin memberi perlawanan.


Seusai itu, Devano menatap Elle dan meminta penjelasan. Axton kemudian keluar dari dalam mobil dalam keadaan yang kacau seusai bangun dari tidurnya yang tak nyenyak. Pria itu kaget karena setelah mendapatkan kembali kesadarannya dari dalam mobil, hal yang pertama kali dilihatnya adalah bagaimana putranya memukuli menantunya.


Axton dan Devano kemudian menatap Elle yang masih syok. Keduanya membawa Elle masuk ke dalam rumah. Kini, Elle pun kembali bercerita.


Keluarganya, tentu saja merasa sangat marah atas apa yang terjadi kepada Elle mereka. Mereka menyampaikan dukungannya kepada Elle, lalu memberikan kata-kata motivasi untuk memberi kekuatan lebih pada gadis itu. Apa pun keputusan Elle nanti, asal tetap berpisah dari Revan, maka mereka akan mendukungnya.