
Elle termangu sambil menatap bayangannya yang terpantul di cermin besar tersebut. Mini dress berwarna gading tanpa motif yang dikenakannya itu, benar-benar membuatnya tampak memukau. Sebuah jepit rambut berbentuk bunga matahari yang terpasang di surainya yang tersanggul sedemikian rupa, memberi kesan manis tersendiri.
Remaja itu, kemudian mengoleskan tipis lip balm ke bibirnya. Penampilannya yang sederhana itu, nyatanya tak bisa menutup pesona yang memang memancar dari aura kecantikannya.
"Elle, cepatlah!"
Laungan Axton dari bawah sana, segera menyentak Elle. Gadis itu menatap arloji yang melingkari pergelangan tangannya, lalu berbegas beranjak dari tempatnya berpijak.
Malam ini, ia akan pergi ke sebuah pesta bersama kedua orang tuanya. Elle sendiri, sebenarnya menolak, namun, sikap Shanee dan Axton yang terus bersikeras, membuat gadis tersebut lebih memilih untuk mengalah.
Entah kenapa, Elle merasa takut. Ia tak ingin bertemu dengan orang baru. Ia takut kejadian seperti waktu itu akan terulang kembali, meski ia tahu, bahwa tak semua orang atau lebih tepatnya pria, sama seperti pria waktu itu.
Kejadian nahas yang telah berlalu berminggu-minggu lalu, nyatanya sangat membekas di pikiran remaja perempuan itu. Mentalnya telah terluka, dan ia sendiri pun tak terlalu yakin itu bisa sembuh dengan sendirinya. Belum lagi dengan fakta bahwa ia tengah mengandung dari benih si bajing^n itu.
Biar bagaimanapun, sepintar apa pun ia, Elle hanyalah gadis berusia 17 tahun yang bahkan belum lulus SMA. Ia masih labil. Terkadang, ia juga menjadi mudah menyerah. Bahkan, ada kalanya pula ia tak mampu memahami perasaannya sendiri. Mood yang berubah drastis. Rasa sepi yang tiba-tiba menyergap. Sungguh, Elle tak bisa sendiri. Gadis lemah sepertinya, sungguh membutuhkan orang lain untuk menemani dan memahami.
'Aku hanya berharap semua berjalan dengan lancar dan tak terjadi hal-hal tak diinginkan,' batinnya. Elle, kemudian memijakkan kakinya di anak tangga terakhir dan tersenyum tipis sambil menatap kedua orang tuanya.
"Kamu terlihat semakin cantik dengan gaun itu," puji Axton.
"Tentu, dia putriku dan aku sendiri yang memilihkan busana itu dengan menyesuaikan seleranya," sahut Shanee.
Elle menyorot kedua orang tuanya yang terlihat tak kalah menawan dengan putrinya.
Axton menggunakan setelan formal yang terdiri kemeja putih serta jas dan celana abu-abu. Sebuah dari kupu-kupu merah menghiasi kerah shirt-nya, sapu tangan dengan warna senada pun turut terlihat di sakunya. Sepasang sepatu pantofel hitam khas seorang pekerja pun terpasang di kakinya.
Shanee memakai kemeja putih longgar yang bagian depannya dimasukkan ke dalam celana kulot abu-abunya. Rambutnya yang sepanjang bahu itu dibiarkan tergerai. Ia pun turut mengenakan sepatu pantofel hitam di mana versinya memiliki hak sekitar empat sentimeter. Make up yang dikenakannya pun, sama naturalnya seperti Elle.
Setelah memastikan kesiapan satu sama lain, mereka, kemudian bergegas pergi menuju tempat acara. Acara itu, dimiliki oleh salah seorang rekan kerja yang baru saja melahirkan anak keduanya, dan itu bertepatan dengan ulang tahun anak pertamanya—oleh sebab itulah pesta tersebut diadakan.
Perjalanan, memakan waktu sekitar 35 menit. Setelah melihat keberadaan sebuah bangunan tingkat dua bergaya modern itu, Axton yang sedang merangkap sebagai sopir pun segera memasukkan mobilnya ke halaman yang terlihat luas. Ketiganya, kemudian turun dari kendaraan tersebut.
Mereka melangkah beriringan. Elle yang terlihat anggun itu tampak diapit oleh kedua orang tuanya. Pemandangan yang manis itu, menarik perhatian orang-orang yang hadir di pesta.
Elle merasa gugup melihat banyaknya orang di sana. Semuanya, berasal dari kalangan menengah ke atas; dan kalangan atas yang mendominasi di sana.
Ketika Axton dan Shanee sibuk menyapa rekan-rekan kerja mereka, Elle memutuskan untuk menyendiri di sudut ruangan dan menikmati hidangan yang ada. Di sana, bukannya tidak ada remaja sepertinya yang bisa dijadikan teman mengobrol, hanya saja, Elle sedang ingin sendiri. Ketika ada yang mengajaknya berbicara, ia pun menjawab sejujur-jujurnya.
Sambil memakan kuenya, Elle pun mengedarkan pandangannya secara acak ke setiap bagian ruangan. Namun pandangannya, tiba-tiba terpaku ke satu sosok di sana. Seorang pria yang tampak menawan dengan busana semi-formalnya. Akan tetapi, bukan itu yang menarik bagi Elle—melainkam figur wajahnya.
Tidak, ini bukan karena ketampanannya. Tapi karena ...—
Elle tak asing dengan wajah itu.
Itu adalah wajah yang sama dengan wajah di berengs^k kala itu.
Itu ... wajah pemerkosanya.
Elle tampak tertegun. Tubuhnya bergetar. Ia memalingkan muka dan mencoba menghindar. Nahasnya, si pria, ternyata sudah menyadari keberadaannya. Kini, ditatap olehnya sosok Elle dengan sorot yang sangat dalam.
Elle merutuk. Sekarang, ia mengerti mengapa ia merasa tak asing dengan sosok itu. Karena mereka memang pernah bertemu. Elle tak ingat itu kapan, namun pasti dalam pesta juga seperti sekarang, mengingat dulu, Elle memang sering ikut datang ke acara seperti ini bersama kedua orang tuanya.
'Tidak, Elle ...! Tenanglah ...! Jangan buat orang lain curiga!' batinnya.
Dari kejauhan sana, tiba-tiba kedua orang tuanya memanggil. Mereka, kemudian menghampirinya bersama tiga orang lainnya. Sepasang paruh baya dan seorang pemuda berkulit eksotis.
Elle bergeming. Gadis itu meneguk ludahnya dengan kasar. Ia menunduk dalam, tak berani menatap sosok pemuda yang dibawa orang tuanya; meski begitu, ia jelas tahu, bahwa pemuda tersebut tengah menatapnya dengan sangat tajam.
Elle ketakutan. Elle tak tahu apakah lelaki itu mengingat kejadian nahas itu atau tidak. Tapi, dari caranya memperlakukan Elle, pria itu, pasti mengingatkan.
"Elle—kenalkan, ini rekan bisnis Mom dan Dad. Yang ini, kamu bisa memanggilnya Nyonya Maia, lalu yang ini adalah Tuan Sadewa, dan yang ini ... namanya Revan," kata Shanee dengan senyum lebarnya.
Elle pun terpaksa ingin tersenyum. Namun wajahnya, benar-benar terasa kaku. Tubuhnya gemetaran. Dengan membawa tas jinjing berisi barang-barang bawaannya, ia pun segera berlari ke toilet yang ia ketahui berada di ujung sana.
Ketika itu, Elle tak sengaja menabrak beberapa tamu lainnya. Ada yang minumannya tumpah, ada yang terjatuh, dan ada juga yang marah-marah. Akan tetapi, Elle benar-benar tak peduli tentang itu.
Elle pun menutup pintu toilet dengan keras dan menguncinya. Ia menyandarkan dirinya ke dinding dan langsung meluruhkan tubuhnya di sana. Ia menutup muka dan menteskan air mata. Digigitnya kuat bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara isakan yang ia takutkan terdengar sampai ke luar.
Elle memukul-mukul dadanya yang terasa sesak dan panas. Panas itu menjalar ke perutnya. Tubuhnya terasa sangat lemas. Dengan tergesa-gesa, ia pun mengambil ponselnya dari dalam tas dan menelepon teman-temannya yang kebetulan sedang online.
"Elle! Aku pikir, kamu tidak akan menghubungi kami karena sedang sibuk berpesta," kata Joanne dari seberang sana.
"Dia ada di sini," lirih Elle.
"Dia? Dia siapa? Jangan bilang—" Suara Gabriel terdengar tercekat.
Aziel, kemudian ikut bergabung dalam perbincangan dan menawarkan panggilan video. Mereka berbincang dan Elle diminta untuk tetap menahan dirinya jika tak ingin ketahuan.
Celine pun turut memberi saran agar Elle berpura-pura sakit agar orang tuanya cemas dan mereka bisa pulang lebih cepat. Selain itu, karena Elle pun sempat membuat masalah, dengan alasan itu, perbuatannya, mungkin sedikit bisa dimaklumi.
"Aku benar-benar ingin menghajarnya." Gabriel terdengar menggeram.
"Berani sekali dia menyakiti Elle, teman kita yang paling manis ini," seru Joanne.
"Aku tak suka berkata kasar. Tapi aku punya jutaan umpatan kotor untuk seseorang yang telah menyakiti nonaku ini." Gabriel menimpali.
"Aku ada untukmu." Hanya tiga kata yang diucapkan Celine, namun itu, terasa benar-benar bermakna.
Elle mengusap air matanya, lalu mencoba meneguhkan hatinya. Ia harus mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri. Terlebih, ada hal lain yang sedang menantinya.
Biar bagaimanapun, sosok Revan hanya satu dari sekian masalah yang akan dihadapinya. Ia sedang mengandung. Hal ini, mungkin akan berpengaruh pada sekolahnya, fisiknya, dan terutama mentalnya.
Elle meyakinkan dirinya sendiri, jika ia tak belajar menguatkan diri mulai sekarang, maka nanti, ia akan kesulitan. Apalagi, menjadi seorang ibu bukanlah hal mudah dan ia akan merasa sangat berdosa jika gagal melakukannya. Ini sudah menjadi konsekuensi atas pilihannya untuk mempertahankan janin itu, dan Elle pun memahaminya.
Ketika Elle sedang mencoba mengatur napasnya, tiba-tiba suara gebrakan terdengar dari luar. Gadis itu pun terkesiap dan segera membuka pintunya. Ia hanya menunduk sambil sekilas menatap sosok Revan yang memerah wajahnya.
Revan bergegas mendorong Elle keluar dengan kasar, lalu tanpa menutup pintu, ia pun memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Muka pemuda itu tampak sangat pucat. Elle memandang itu dengan tak berkedip.
Elle ingat, selama kehamilannya, meski beberapa kali mengalami mual-mual, namun itu sangat jarang. Hanya beberapa hari awal kehamilannya saja ia mengalami hal semacam itu. Jika Revan muntah-muntah seperti itu, mungkin saja ini efek kehamilan simpatik atau Couvade Syndrome.
Melihat itu, Elle menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Entah kenapa, ia merasa bahagia melihat lelaki terjahat dalam hidupnya itu menderita. Tapi menurut Elle, Revan memang pantas mendapatkannya.
Tak lama, orang tua Elle dan Revan menyusul ke sana. Elle pun langsung pura-pura lemas hingga membuat Axton dan Shanee merasa khawatir dan segera mengajak Elle pulang setelah pamit kepada pemilik acara. Revan, Sadewa, dan Maia, tampaknya juga melakukan hal serupa karena kondisi anak mereka yang juga tengah tidak baik-baik saja.
Masalah yang terjadi pada Revan, pasti akan menjadi topik seru jika Elle ceritakan kepada teman-temannya nanti. Elle sudah menyiapkan itu di dalam benaknya.