The Melody Tells

The Melody Tells
Mengubah Segalanya



Perempuan itu tengah memandang bayi di gendongannya dengan tatapan mata yang tak hanya cerah, namun juga basah—seolah ia tengah melihat wujud dari harapan melalui malaikat kecilnya tersebut.


"Berhentilah menangis, atau ayahmu akan memarahi Mommy lagi," lirihnya sambil menepuk-nepuk pelan kepala sang anak. Ia menimang-nimang bayi tersebut dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Apakah kamu juga takut kepadanya? Ayahmu memang pria jahat berhati kejam, Erland ...!" bisiknya.


Elle sendiri tak peduli, meski nanti, ia akan dikutuk karena berniat menodai bayi tak berdosa itu dengan kebencian yang selama ini dipendamnya seorang diri. Namun, apa yang dikatakannya tadi, memang benar sebuah fakta. Revan sungguh-sungguh pria jahat.


Awalnya, Elle berharap mengenai sedikit perubahan pada Revan setelah kelahiran anak mereka. Kita tak pernah tahu kalau saja, sewaktu-waktu, nurani Revan tersentuh oleh kehadiran buah hati kecilnya. Akan tetapi, Elle sudah membuang jauh-jauh angan semu itu—mungkin dengan cara yang sama seperti dengan caranya membuat seluruh impiannya mengenai Paris dan mode. Ia, bahkan sudah berhenti menggambar sejak sejak lima bulan lalu, sebelum Erland putranya, terlahir ke dunia ini.


Elle merasa benar-benar kacau. Karena Revan semakin menjadi dengan kegilaannya.


Sejak Erland di bawa ke rumah satu bulan lalu, lelaki itu menjadi semakin tak kenal waktu untuk bersenang-senang. Setiap larut malam, ia akan pergi, dan baru akan kembali keesokan harinya. Setelahnya, ia pergi kerja dan baru pulang sekitar jam tujuh malam.


Revan hanya bermalas-malasan di rumah selama tiga jam kehadirannya, lalu kembali pergi entah ke mana untuk pulang kembali keesokan harinya. Ya, begitulah siklus yang membuat Elle merasa muak itu.


Meski hanya menghabiskan sebagian kecil waktunya di dalam rumah, namun Revan semakin sering mengeluh dan marah-marah. Ia masih beberapa kali memukul Elle meski tak sesering ketika Elle hamil dulu.


Revan sering sekali berkata kasar, tanpa sungkan di hadapan anaknya sendiri. Elle sangat bersyukur karena putranya masih terlalu kecil untuk memahami itu, dan mungkin akan melupakannya ketika sudah sedikit lebih besar nanti.


Salah satu hal yang tak menyenangkan, pernah terjadi sekali, ketika Elle sedang sibuk mengganti popok putra kecil mereka, namun Revan malah marah-marah karena tangisan sang anak yang amat mengganggunya dan mengatainya sebagai perempuan tak berguna karena sudah tak bisa menghasilkan keturunan lagi. Elle sangat terkejut mendengar fakta tersebut, bahwa rahimnya sudah diangkat. Anehnya, setelah itu, Revan pun langsung memaksanya melakukan hubungan badan; meski sebelum itu pula, ia sendiri pun sempat bilang, bahwa Elle adalah wanita menjijikkan.


Namun, berkat bentakan Revan yang satu itu, setidaknya, Elle jadi bisa mengetahui mengenai kondisi dirinya yang sebenarnya. Selain itu, mungkin pula keluarganya juga tak tahu bahwa Elle belum mengetahuinya, jadi mereka pun tak pernah menyinggungnya karena takut perempuan itu terluka. Elle mencoba memahami hal tersebut, alih-alih berpikir negatif mengenai keluarganya yang menyembunyikan kebenaran.


Meskipun sedih karena telah kehilangan rahimnya, namun Elle mencoba untuk tetap kuat. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia tetap berharga dengan segala yang ia punya. Ia manusia dan bukan binatang ternak hanya dipelihara untuk diper^s segala keuntungan darinya. Sebagai perempuan, Elle tetaplah makhluk hidup dan ia pun bukan mesin pembuat anak meski kehidupan memang berasal dari seorang perempuan, wanita, ataupun betina.


Axton, Shanee, maupun Devano, sebenarnya cukup sering berkunjung ke tempat tinggalnya—setidaknya seminggu sekali untuk kedua orang tuanya itu, sedang untuk kakaknya adalah lima hari sekali.


Devano belum kembali ke kota asalnya. Ia memutuskan untuk meng-handle seluruh pekerjaannya melalui Darwin demi memastikan keadaan Elle dan keponakannya. Namun tentu saja, meski sering berkunjung, ia pun tak tahu bahwa Elle mengalami kekerasan dalam rumah tangganya.


Revan dan Elle menyembunyikan masalah itu dengan baik. Karena Revan selalu melukai Elle di tempat yang tak terlihat dan ia selalu mencari waktu yang tepat agar luka yang ditimbulkannya punya waktu untuk sembuh sebelum kunjungan berikutnya.


Kemampuan Elle dalam menyembunyikan rasa sakitnya pun tak perlu diragukan lagi. Ia pintar berpura-pura bahagia. Ia pintar menyembunyikan perasaannya dari orang-orang terdekatnya.


Masalah komunikasi dengan sahabat pun sudah teratasi. Elle hanya bercerita bahwa ia hanya mencoba menenangkan diri dan mereka pun mencoba memahami meski alasan tersebut sungguh terlalu aneh.


Setidaknya, Elle sudah kembali bisa berkomunikasi lebih bebas dengan orang-orang terdekatnya; tidak seperti dulu yang sangat terbatas. Ia tak lagi sekesepian dulu, sebab sekarang juga sudah ada Erland yang menemaninya.


"Bajing^n kecil itu sangat berisik!"


"Dia anakmu—jika tidak menyayanginya, setidaknya cukup panggil dia dengan namanya sebagai bentuk martabatmu," kata Elle. Ia menggenggam tangan pria kecilnya, lalu mengerutkan keningnya karena melihat Revan yang sepertinya akan pergi lagi. Pria itu mengenakan shirt-nya, juga jaket kulit dan mengenakan parfum sebanyak-banyaknya hingga membuat Elle menutup hidungnya dan hidung anaknya.


"Mau pergi lagi? Apa kamu benar-benar tidak lelah pergi setiap larut malam, lalu pulang pagi untuk pergi lagi, dan pulang ketika malam kembali melintang? Selama sebulan ini, kamu sungguh tidak merasa bosan dan lelah?" Elle menatap suaminya dengan penuh rasa tidak percaya. Perempuan itu menggelengkan kepalanya sembari terus menimang Erland yang mulai tenang.


"Aku istirahat di luar rumah, karena di sana lebih menenangkan untukku? Lagi pula, untuk apa bosan jika aku pergi untuk bersenang-senang?" katanya, membuat Elle mendengus.


"Kamu benar. Pasti menyenangkan bisa bergonta-ganti pasangan tidur setiap malamnya. Semoga kelaminmu tetap aman dan tak terkena penyakit apa pun. Semoga juga kamu tak terkena masalah lagi dengan menghamili seorang perempuan," sahutnya, menyindir. Revan tersenyum sinis mendengar itu.


"Tenang saja. Aku tak pernah lupa menggunakan pengaman. Jika kamu merasa menyenangkan, kamu bisa mencobanya juga suatu hari nanti, ketika aku sudah melepaskanmu. Kamu memang sangat cocok menjadi pel^cur!" tukas Revan, pedas. Elle tertawa sumbang mendengar itu.


"Kalau begitu, kapan kamu akan melepasku?"


"Melepasmu? Tunggu saja. Sekarang belum waktunya."


"Kapan waktunya?" Elle mengerutkan keningnya sambil menatap geram ke arah suaminya.


"Sampai mereka sendiri yang memisahkan kita," ucapnya terakhir, sebelum benar-benar pergi.


Elle pun terdiam mendengar pernyataan Revan yang seolah tak memberinya harapan. Bagaimana mungkin ia terus menanti agar bisa terlepas dari jerat sialan ini? Bagaimana mungkin mereka tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi, sementara mereka terus menyembunyikannya. Mungkin tidak akan, sampai salah satu dari Revan ataupun Elle yang membocorkannya sendiri.


Namun Elle terlalu takut. Ia takut jika suatu hari nanti, Revan akan merebut Erland jika mereka berpisah. Ia juga takut membuat orang-orang di sekitarnya terluka jika tahu mengenai hal yang sebenarnya.


Hidup bersama Revan benar-benr membuat Elle menjadi seorang aktris hebat ~ pembohong yang ulung. Elle selalu berusaha terlihat baik-baik saja dan berbohong kepada setiap orang mengenai keadaannya yang sebenarnya, bahkan meskipun itu dirinya sendiri.


Elle tak pernah bercerita kepada siapa pun meski ia kerap merasa hampa; meski ia kerap merasa tertekan karena mengingat peristiwa nahas di badai itu; meski ia kerap merasa tak sanggup untuk merawat buah hatinya.


Tanpa sadar pun, meski Elle tetap sama naifnya dengan dirinya yang dulu, setidaknya ia menjadi lebih kuat dari saat-saat menyedihkan itu. Ia sudah tak menjadikan menangis sebagai kesehariannya. Ia sudah bisa menerima dirinya sendiri, juga takdirnya.


"Aku sudah muak dengan semua ini. Bagaimana bisa segala sesuatunya berubah sedang kita tidak mencoba mengubahnya sendiri?" keluh Elle. "Tidak! Kecuali aku memang berniat merubahnya!"


Tapi, bagaimana dengan Erland? Jika suatu hari Revan ingin merebutnya, apa yang bisa ia lakukan?


"Tidak ada. Karena ... pernikahan kami tidak sah secara negara dan ... Erland, secara hukum adalah anakku. Maka dia tak akan bisa melawanku di pengadilan nanti."


Elle menarik kedua sudut bibirnya dengan lebar. Ia menatap putranya, memeluknya erat, lalu menciumi wajahnya. Sekarang ..., ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.