
Gadis itu menyorot sendu sosok yang tampak di dalam cermin tersebut. Bayangannya sendiri. Tampak cantik dan menakjubkan di mata orang lain, namun di matanya sekarang, itu tak pernah lebih dari seorang gadis malang yang harus menikah dengan pria berengsek yang telah membuatnya merasa trauma.
Elle tak pernah menyangka hari ini akan tiba.
Elle tak pernah menginginkan semua ini terjadi.
Elle sangat membenci hari ini—hari yang tak pernah diinginkannya sama sekali.
Menikahi Revan bukan keinginannya.
Hamil di luar nikah di usia sebelia ini, juga bukan kamauannya. Menyembunyikannya pun bukan kemauannya.
Kejadian permerkosaan itu juga bukan bagian dari rencananya.
Andai bisa memutar waktu, Elle akan lebih memilih berdiam diri di tempat saat itu. Tak perlu mencari tempat berlindung. Di tempat terbuka akan terasa lebih aman.
Tak peduli kalaupun mungkin, nanti dia akan terbawa angin. Atau ketika atap halte roboh dan menimpanya. Raganya mati, itu lebih baik daripada harus menderita seperti ini. Ia telah kehilangan jiwanya yang dulu. Semua, kini jadi terasa sangat berbeda.
Ellea Jovanka Lin, entah bagaimana ia bisa melewati hari-harinya nanti—bersama pria yang tak dicintainya sama sekali, Revan Aldebaran.
Jika katanya cinta bisa datang seiring dengan berjalannya waktu dan karena terbiasa, lalu bagaimana dengan kebencian? Bagaimana jika pernikahan ini bukannya memberinya cinta dan kebahagiaan, malah semakin memupuk rasa bencinya kepada Revan?
Elle sendiri bukan gadis pendendam. Ia bukan tipe orang yang senang menyiksa dirinya sendiri dengan kebencian. Tidak—selama ini, dia memang selalu dan terlalu naif.
Meski begitu, ia tetap ingin Revan mendapatkan karmanya. Tidak secara berlebihan. Elle hanya ingin lelaki tersebut mendapatkan balasan sesuai apa yang dilakukannya.
Biar bagaimanapun, Revan telah menghancurkan hidup Elle; lantas salahkah jika Elle berharap kalau lelaki itu akan hancur juga pada akhirnya?
Elle pun ingin menjadi orang yang jahat. Namun nuraninya menolak itu. Karena ia pun, pada dasarnya mencintai kedamaian dan ingin hidup dalam ketenangan. Ia hanya berharap, bahwa ia tak perlu bersusah payah dan bersedih hati mengenai hidup, lalu bisa bernapas dengan bahagia—selamanya, bersama orang-orang yang dicintainya.
Memang impian yang teramat naif.
Sejak viralnya berita mengenai kehamilan Elle, dua pekan pun sudah berlalu.
Selama itu, Elle pun jadi lebih memahami mengenai siapa saja orang yang benar-benar menyayanginya dan siapa yang sebenarnya membencinya.
Sesungguhnya, Elle cukup kecewa karena ada beberapa teman sekolah yang menghujatnya. Mereka menyalahkannya atas suatu hal yang sama sekali bukan bagian dari dosanya. Elle ingin mengabaikannya. Namun, sebagai gadis polos yang belum benar-benar mengerti dunia, ia sangat tidak terima jika ada yang menerapkan label negatif kepadanya.
Elle bukan pelacur.
Elle bukan perempuan penggoda.
Elle bukan seorang sugar baby.
Elle bukan gadis munafik yang sedang berpura-pura baik.
Orang tua Elle selalu menjaganya dengan baik.
Axton dan Shanee bukan orang tua yang tidak bertanggung jawab.
Anak Elle bukan anak haram.
Apakah sosok yang belum terlahir, juga pantas disalahkan atas hal-hal yang bahkan tak dimengertinya?
Kenapa mereka malah menyalahkan Elle dan keluarganya, bukannya Revan yang menjadi biang masalah dari ini semua? Namun yang lebih gila, Elle malah akan menikahi biang masalah itu—menjadikannya teman hidup yang tak terduga.
Ah—Elle sungguh ingin menangis sekarang. Tapi, tidak—ia memang sudah menangis sedari tadi. Air matanya terus mengalir keluar, tanpa henti sejak satu jam lalu. Para make-up artist tampak kewalahan dengan hal itu. Elle pun tak peduli, meski ia merasakan matanya perih oleh perbuatannya sendiri.
"Nona, tolong jangan menangis ...! Permudahlah pekerjaan kami," katanya. Elle terdiam tak menanggapi, membuat tiga make-up artist itu menghela napas panjang karena frustrasi.
"Sudah kubilang, seharusnya, kita menggunakan waterproof make-up!"
"Nona ini masih muda dan kulitnya cukup sensitif. Aku berpikir make-up jenis itu tak akan cocok untuknya. Apalagi, ia juga belum terbiasa menggunakan make-up seperti ini."
"Tapi sekali-sekali juga tidak apa-apa, kan?!"
"Tapi ini juga bukan hanya mengenai jenis make-up. Kita juga harus memasangkan maskara dan bulu mata palsu. Akan susah kalau nona ini tetap menangis."
Ketika tiga make-up artist itu berdebat, seseorang masuk ke dalam ruangan. Tubuhnya yang jangkung itu, amat menarik perhatian; terlebih, dengan figurnya yang amat menawan.
Ia berjalan dengan tenang. Ekspresinya pun datar. Mata beriris zamrudnya, terasa menginterupsi sekitar.
"How are you, Elle?" tanya Celine. Gadis berambut cokelat itu mendekati sahabatnya dan memegang kedua bahunya dari belakangnya—mengambil alih posisi seorang make-up artist dan ikut menatap bayangan Elle di dalam cermin.
"Kamu terlihat buruk," katanya, jujur. Elle tetap diam, sedang para make-up artist yang melihat itu, justru merasa tercengang sekaligus tersinggung di saat yang bersamaan.
"Temanmu terus menangis, Nona ..., jadi—"
"Tapi—"
"Elle sudah cantik meski tanpa menggunakan riasan. Kalian hanya cukup menutupi matanya yang sembab dan memberinya pelembab bibir agar tidak terlihat pucat. Itu akan lebih baik. make-up kalian membuatnya terlihat tua," cibirnya, dengan suara yang amat tegas.
"Tapi, Nona ..., kami hanya ingin menyesuaikan dengan mempelai pria."
"Mempelai prianya memang sudah dewasa, dan Elle memang masih remaja—biarkan semua orang melihat itu." Tatapannya yang tajam, terasa mengancam bagi para pekerja sewaan itu. Pada akhirnya, mereka pun menurutinya, meski dengan berat hati. Lagi pula, pernyataan Celine memang benar. Selain itu, tak ada juga permintaan khusus dari pihak klien, jadi mereka berinisiatif sendiri mengenai ini. Jika orang tua sang gadis tak menyukai konsep baru mereka, maka itu pun bukan salah mereka.
"Di mana yang lain?" tanya Elle, angkat suara. Ia melirik sekilas ke bayangan Celine yang juga terlihat dari cermin.
"Diusir karena berbuat jahil kepada Revan. Aku tidak ikut, jadi tidak kena juga," jawabnya. Elle yang mendengar itu pun mengembuskan napas panjang.
"Kali ini, apa yang mereka lakukan?" Elle kembali bertanya dengan suara yang kali ini amat pelan. Beruntung, Celine tetap bisa mendengarnya.
"Bukan sekali saja jahilnya. Tapi yang membuat mereka diusir adalah karena mereka membuat Revan tergelincir di toilet, lalu mereka menyiapkan jebakan lain berupa seember telur busuk yang dicampur dengan perasaan kaus kaki Gabriel yang sangat bau, juga lem yang membuatnya jadi agak lengket. Revan benar-benar terlihat kacau karena itu. Kakinya juga sempat terkilir, tapi sekarang sudah baikan," ungkapnya. Tanpa diduga, Elle tertawa kecil karena itu. "Seperti yang kamu harapkan, kan, Ell?" tanyanya, sambil tersenyum tipis.
Para make-up artist hanya bisa mendengarkan percakapan dua gadis dengan keheranan. Rasanya terlalu aneh ketika mereka melihat mempelai wanita merasa bahagia sebab mempelai laki-laki mendapatkan petaka oleh kawan-kawan mempelai wanita sendiri. Mereka tidak terbiasa, sungguh.
Namun di sisi lain, mereka pun merasa senang karena Elle berhenti menangis dan itu bisa mempermudah pekerjaan mereka.
"Jika kamu merasa tidak bahagia nantinya, kapan saja, pergilah. Temui kami, sahabat-sahabatmu atau orang tuamu. Meski mereka berdua yang menginginkan pernikahan ini, namun jika kamu tidak bahagia karenanya, mereka tak akan diam juga," tutur Celine. Elle mengangguk pelan melihat itu. Senyum yang sebelumnya menghilang, kini terukir kembali di wajahnya. Ia senang mendengar Revan mendapatkan masalah.
.........
Acara berjalan dengan lancar. Elle pun telah resmi menikah dengan Revan meski pernikahan mereka tak didaftarkan secara legal.
Para hadirin bertepuk tangan setelah keduanya mengucapkan janji suci itu. Mereka terdiri dari beberapa kolega dekat dan beberapa teman kepercayaan kedua belah pihak.
Revan dan Elle tampak sangat serasi. Selain karena rupa yang sama-sama rupawan dan busana yang sepasang, ekspresi mereka pun tak kalah seragamnya. Keduanya memasang ekspresi datar dan tanpa senyuman—seolah mereka telah membuat kesepakatan kalau mereka benar-benar ingin menunjukkan, bahwa mereka sungguh tak merasa bahagia dengan pernikahan itu.
Orang-orang pun, kini bergantian memberi kata selamat tanpa mengetahui rahasia kelam di balik pernikahan itu.
Setelah agenda tersebut selesai dan dilanjutkan dengan acara makan-makan, Elle pun diajak oleh Revan menuju tempat yang sepi dan jauh dari kerumunan.
Elle tampak cemas. Apalagi, cara Revan menariknya, sama sekali tak bisa dikatakan lembut. Kini, ketika Revan memojokkannya di sudut ruangan, ia jadi merasa tak karuan—dan ini, mengingatkannya pada kejadian nahas itu.
"Apa pun yang terjadi ke depannya, jangan mengadu hal buruk apa pun tentangku kepada mereka. Jangan lakukan jika tak ingin aku menyiksamu," desis Revan. Elle yang mendengar itu pun merasa merinding. Melihat ekspresi itu, Revan pun tertawa. "Aku benar-benar akan membuatmu menderita," lanjutnya.
Revan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Elle. Sorot keduanya pun bertemu dalam jarak yang amat dekat. Mereka, bahkan bisa merasakan napas masing-masing yang hangat satu sama lainnya.
Elle merem^s gaun pengantinnya. Jantungnya berdetak dengan terlalu kencang. Ia merasa takut dan teringat pada traumanya.
Revan mencengkeram dagu Elle, membuat gadis yang sebelumnya menunduk itu kembali menatapnya. Dengan gerakan yang cepat, ia pun membuat bibir keduanya pun bertaut. Elle memandang itu dengan terkejut.
Ciuman Revan terasa kasar. Tangan lelaki itu, bahkan telah menggerayangi tubuh sang istri. Elle merasa merinding ketika merasakan itu. Lidah Revan terasa membelit lidahnya dan mengabsen setiap bagian di rongga mulutnya. Gigi mereka saling bertubrukan. Saliva mereka pun bertukar.
Elle merasa aneh dengan hal ini. Ia sama sekali tak merasakan n^fsu yang terbangkit dari dalam dirinya. Ia justru merasa jijik dengan dirinya sendiri. Ia takut—ia takut Revan akan melakukan yang lebih dari ini.
Tiba-tiba Elle pun merasa pening. Perutnya yang nyeri, membuatnya secara paksa menghentikan ciuman itu dengan menggigit keras bibir Revan hingga terluka. Ia, kemudian menatap ke bawah, di mana cairan merah mengalir dari sela-sela pahanya. Revan melihat itu pun mengumpat seketika itu juga.
Revan mengusap bibirnya yang berdarah, lalu menatap Elle yang sudah terduduk lemas di lantai. Ia mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke kamar secara diam-diam, lalu mengabarkan kepada para orang tua. Pesta sederhana pun langsung dibubarkan dan tenaga medis pun dipanggil.
Celine menggenggam tangan Elle, mencoba memberinya kekuatan. Sahabatnya itu telah pingsan, dan dokter tengah memeriksanya. Setidaknya, Celine adalah seseorang yang disebut Elle sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya.
Keduanya, sama sekali tak berharap ada hal buruk yang terjadi pada kandungan Elle, karena itu akan membuat pernikahan Elle dan Revan terasa percuma. Pengorbanan Elle, tak boleh sia-sia.
Bertepatan dengan Elle yang mendapatkan kembali kesadarannya, dokter pun selesai memeriksa. Mereka pun berkumpul di dalam kamar tamu di kediaman Elle sekeluarga.
"Kandungan Non—maksudku Nyonya Elle sangat lemah. Jangan terlalu banyak tertekan serta kurangi aktivitas fisik. Saran saya, lebih baik, Nyonya Elle mengganti sekolahnya dengan home-schooling. Ini solusi yang tepat mengingat ada banyak resiko yang membahayakan janin di luaran sana," ungkap sang dokter.
Orang-orang pun menarik napas lega dan mulai berdiskusi setelah itu. Elle benar-benar akan menjalani home-schooling. Guru pembimbingnya, dipilih langsung oleh Axton dan Shanee, agar keduanya bisa memastikan sendiri mengenai keberlangsungan pendidikan putri mereka.
Kesepakatan telah dibuat, dan Elle pun hanya menurutinya. Lagi pula, ia hanya akan menjalani home-schooling itu, setidaknya, sampai ia melahirkan bayinya.
"Aku berencana ingin membawa Elle ke tempat tinggal baru kami. Rumah pribadiku yang telah kusiapkan untuk aku tinggali bersama pasangan hidupku kelak. Biar bagaimanapun, Elle telah menikah denganku, maka dia berhak menempati rumah itu," kata Revan, tiba-tiba, dan membuat semua orang menjadi terkejut.
Kini, Revan tersenyum tipis. "Kami ingin belajar hidup mandiri," bujuknya, mencoba meyakinkan. Ia bisa merasakan keraguan-keraguan itu.
"Jangan—"
"Tunggu dua pekan lagi—sampai keadaan Elle lebih baik dari sekarang," Axton memotong ucapan Celine dan pernyataannya, justru membuat yang lain merasa terkejut—tak terkecuali putrinya sendiri.
"Dad?"
"Ini demi kebaikanmu," tukas Axton. Revan pun tersenyum sambil menatap Elle penuh kemenangan. Lelaki itu, jelas menyimpan maksud lain di balik semua ini.