The Melody Tells

The Melody Tells
Waktu yang Mengalir



"Elle, bisakah aku meminjam otakmu sebentar?"


Semua orang tersentak ketika mendengar pertanyaan yang diutarakan oleh Joanne itu. Aziel dan Gabriel pun tertawa kencang, sedang Elle mengerutkan keningnya tak paham.


"Bisa lulus strata satu dengan gelar Cumlaude dalam tiga tahun benar-benar seperti sebuah keajaiban. Padahal, kita semua juga tahu kamu sempat tertinggal pelajaran." Joanne menopangkan kepalanya pada meja, lalu menekuk bibirnya ke atas. Ia menatap Elle dengan perasaan yang sesak, merasa iri karena sahabatnya bisa lulus dengan cepat.


"Setidaknya, Elle kuliah di jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, sedang kamu? Kamu bahkan terlalu sering mengeluh. Kenapa pula mengambil jurusan matematika jika kamu sangat buruk dalam pelajaran itu," sahut Gabriel, dengan nada menyindir. Ia menggelengkan kepala, menatap mengejek ke arah Joanne.


"Justru karena itu aku memilih jurusan matematika, supaya kemampuanku meningkat," sanggah Joanne. Ia menatap Gabriel dengan tajam, lalu melempar tisu kotor ke arah Aziel yang tak henti-hentinya tertawa. "Menyebalkan!" geramnya.


"Setidaknya perkuat dulu dasarmu, bodoh! Dalam penjumlahan dan pengurangan yang sederhana saja, kemungkinan salahmu masih lebih dari lima puluh persen," kata Gabriel. "Aku tahu, sebenarnya, kamu hanya ingin mengikuti jejak orang tuamu yang sama-sama ahli matematika, bukan? Hey ..., jadilah dirimu sendiri," sambungnya.


"Tapi sudah terlanjur dan sudah sejauh ini. Jadi ... aku ingin tetap menyelesaikan apa yang sudah aku mulai." Joanne mengembuskan napasnya penjang. Ia menegakkan posisi duduknya lalu mengacak rambutnya yang panjangnya hanya seleher itu.


"Minimal, Joanne harus punya tekad. Aku sudah melihatnya. Ya, meski dia sangat dan sangat sering mengeluh, tapi nanti, aku yakin dia pasti bisa menguranginya." Elle angkat suara. Ia tersenyum dengan sangat cerah. Sebuket bunga yang didapatkannya ketika kelulusannya tadi pun masih dipegangnya. "Aku juga bisa sampai di sini karena tekad. Jika tidak memilikinya, mungkin aku sudah berakhir ketika saat itu," lanjutnya.


Joanne berdeham pelan mendengar pernyataan Elle. Ia merasa bersalah karena sudah membuat sahabatnya mengungkit kembali masa lalu. Namun Elle sama sekali tidak mempermasalahkan itu; justru orang-orang terdekatnyalah yang terlalu sensitif.


"Setelah kembali ke Australia, apakah kamu benar-benar jadi ingin pindah rumah?" Gabriel mengalihkan pembicaraan. Ia menatap sahabat perempuannya yang tak henti-hentinya tersenyum itu. Dalam hati ia merasa lega, karena masih bisa melihat ekspresi bahagia itu lagi.


"Sure! Aku mau hidup mandiri bersama Erland, nanti. Selama di sini, aku juga sudah belajar banyak hal. Aku juga ingin melatih diri agar bisa merawat Erland sendiri dan tidak terus bergantung pada kalian," tuturnya. Ia menatap kawan-kawannya dengan pandangan yang lembut. "Jika modalku sudah cukup, aku pun akan membuka butikku nanti," sambungnya.


Elle mengembuskan napasnya panjang. Meski ia sempat kehilangan harapan, namun kini, ia telah mendapatkan asanya kembali. Dua bulan seusai perpisahannya dengan Revan, ia pun sudah aktif menggambar kembali.


Tentu, memulai kembali bukan hal yang mudah. Ia selalu teringat pada masa ketika mantan suaminya itu memergokinya sedang menggambar, lalu merobek kertasnya begitu saja. Padahal jelas, desain itu pun Elle buat dengan proses pemikiran yang panjang.


Ah ..., tidak! Elle harus melupakan saat-saat itu!


"Aku sangat menantikannya. Kami pasti akan menolongmu. Cuti kuliah bisa diambil!" Joanne berseru dengan penuh semangat. Ia menatap Elle dengan sorot yang amat cerah. Ia tersenyum lebar hingga menampakkan gigi-giginya yang putih dan rapi.


"Tapi aku tidak yakin." Elle menggaruk tengkuknya sambil memandang bingung keempat sahabatnya. Ia pun dibalas dengan pandangan yang sama bingungnya pula.


"Kenapa?"


"Setelah ini, aku ingin mencari kerja dulu. Ya—mencari pengalaman sekaligus mencari uang untuk ditabung. Tabungan itu akan menjadi tambahan bagi tabunganku yang sekarang, dan itu yang aku akan kugunakan membuka usahaku," ungkap Elle. Teman-temannya pun mengangguk, mencoba memahami pemikiran perempuan itu.


Meski sebenarnya Elle bisa meminta atau meminjam modal kepada kedua orang tuanya, namun ia tak mau melakukannya. Alasannya, karena ia benar-benar ingin mencoba peruntungan dan memulai semuanya dari awal. Lebih tepatnya, dia mau bersikap sedikit lebih mementingkan egonya sendiri agar tak dianggap masih bergantung pada keluarganya lagi. Biar bagaimanapun, Elle sudah tergolong sebagai perempuan dewasa, dan ia bahkan sudah memiliki seorang anak. Bukan hal yang terlalu aneh jika ia berpikiran demikian.


Elle tersentak mendengar panggilan itu. Kemudian, ia pun tersenyum cerah dan beranjak dari kursi tempatnya duduk. Ia, kemudian merentangkan tangannya, bersiap memeluk sang putra yang baru saja datang dengan kakek, nenek, berserta pamannya.


"Kamu semakin berat, Erland ...!" kata Elle. Ia memeluk putranya sebentar, lalu mencubit pipinya dengan lembut. Diciuminya wajah yang selalu dirindukannya itu.


"Don't kiss me!" Perilaku Erland yang mendorong kepala ibunya pelan dan mundur beberapa langkah, membuat orang-orang mengerutkan keningnya bingung. Elle pun menaikkan alisnya, lalu bertanya kepada anaknya dengan wajah yang dibuat kesal.


"Temanku ada yang dicium Mommy-nya dan dia menjadi badut. Ada noda merah di hidungnya," sahut Erland dengan vokalnya yang masih agak cadel. Elle tertawa mendengar itu, lalu mengacak rambut sang putra.


"Itu karena lipstik. Mommy jarang menggunakan itu, lebih suka hanya menggunakan pelembab bibir. Tidak akan ada bekas jika Mommy yang mencium Erland," gelak Elle. Yang lain, hanya menatap itu dengan hati yang menghangat.


Waktu pun terus mengalir. Detik akan berubah menjadi menit, dan menit menjadi jam, lalu jam menjadi hari, kemudian hari menjadi tahun.


Semuanya berlalu dengan cepat, seolah apa yang ada di masa lalu baru saja terjadi kemarin.


Elle, mungkin tak akan bisa melupakan masa lalunya—bagian terkelam dalam hidupnya. Namun, ia akan terus mencoba agar kegelapan itu tak menenggelamkannya.


Kini, Elle pun bukan lagi seorang perempuan yang hanya bisa berharap untuk masa depan yang cerah. Ia bukan lagi seorang gadis yang berpikiran sempit dengan berharap semua masalah akan selesai dengan sendirinya dan entah dengan cara apa, tanpa dirinya mau berusaha.


Elle hidup di masa sekarang, bukan pada masa lalu ataupun masa depan. Ia akan menjalani masa kini dengan sebaik-baiknya, agar tak perlu ada masa lalu yang disesalkan dan masa depan yang tak sesuai harapan.


Karena pada awal waktu tercipta, kita belum mengenal masa lalu dan ketika waktu berakhir, kita pun tak akan lagi mengenal masa depan. Ya—meski waktu sendiri, mungkin sungguh hanyalah sekadar ilusi.


Setelah masa-masa kelam itu, semuanya mulai berjalan kembali sesuai rencana Elle ketika remaja; meski hadir juga variabel yang tak diduganya, yaitu sang anak yang kini amat disayanginya.


Elle pun sungguh bekerja keras agar bisa membuka usahanya seusai pulang ke Australia. Beruntung, tempatnya kerja pun memiliki tempat penitipan anak, dan Erland pun tak mengeluh karena senang bisa bertemu teman-teman baru.


Semua ketakutan Elle mengenai pertumbuhan putranya, telah sirna. Ia yang dulunya sempat takut karena Erland tak kunjung bisa berjalan sebagaimana anak seusianya pun, kini tak lagi demikian—sebab ia telah menerima Erland sepenuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya.


Erland Jovanka Lin adalah putra kesayangannya yang meski sangat lemah dalam humor, namun amat berbakat dalam musik. Elle bangga memiliki Erland sebagai anaknya.


Hanya saja, Elle masih memiliki masalah besar dalam hidupnya yang harus segera dituntaskannya. Ia belum bisa menyembuhkan traumanya. Ia masih berpikir negatif dengan berlebihan jika dekat-dekat dengan lelaki. Ia masih sering bermimpi buruk jika saja tak ada Erland yang menenangkannya. Ia pun sering merasa tak nyaman jika menemui tempat yang terasa mirip dengan hal-hal yang berhubungan dengan traumanya.


Elle ingin mengembalikan mentalnya seperti sedia kala. Ia ingin kembali seperti Elle remaja yang hidup tanpa kecemasan yang berlebihan seperti dirinya sekarang. Sehingga ia pun memutuskan untuk melakukan terapi psikologis yang dulu sempat ditolaknya.