
"Bagaimana bisa ini terjadi, Axton? Kenapa bisa Elle—" Shanee mendesah berat sambil menutup mukanya yang memerah. Rahangnya mengeras dan urat-uratnya pun menyembul. Lalu, jangan pernah menanyakan mengenai bagaimana perasaannya. Karena Shanee sendiri, merasa tak akan mampu menjelaskan itu.
"Sepuluh pekan. Apakah dia sudah mengetahuinya dan menyembunyikan itu dari kita?" Axton memandang hampa ke depan. Pria berparas kebarat-baratan itu menghela napasnya dengan berat.
Sungguh, berita ini terlalu mengejutkan bagi mereka.
Orang tua mana yang tak terkejut, ketika mengetahui putri mereka yang baru berusia 17 tahun sedang hamil? Mungkin, ini tak akan terlalu aneh jika Elle memiliki seorang kekasih. Namun, sepanjang apa yang mereka tahu, Elle belum pernah sekalipun berpacaran dengan pemuda mana pun. Lalu, siapa ayah dari bayinya?
"Jika aku tahu, aku akan menghajarnya. Dia sudah membuat masa depan putri kita terancam," geram Axton. Sudah sangat lama rasanya ia tak merasa sekhawatir itu, sejak dua dasawarsa lalu, ketika ia hampir kehilangan Shanee dan segala kenangan indah mereka.
"Apa yang terjadi? Apakah ... ini benar-benar karena kesalahan Elle atau sebuah ketidaksengajaan?" lirih Shanee. Wanita itu memijat pelipisnya. Rasa pusing yang dalam sekelebat menyergapnya, sungguh membuatnya semakin tak tenang saja. Ia ... butuh kepastian akan kejadian yang sebenarnya.
"Ketidaksengajaan? Tapi Elle tak mungkin sengaja melakukannya. Dia memiliki tekad di hatinya. Tak mungkin juga ia berbuat sembrono seperti itu tanpa memikirkan akibatnya. Mimpi-mimpinya yang menjadi taruhan," sahut Axton. Ia menyorot heran sosok istrinya itu.
"Maksudku ..., ini mungkin lebih buruk dari apa yang kita pikirkan. Sepuluh minggu lalu, ada badai di Darwin dan Elle menghilang. Dia bilang dia sempat bertemu penjahat dan pulang dalam keadaan kacau. Meski Elle bilang kalau ia baik-baik saja, namun, tetap saja itu terasa janggal," tukas Shanee. Wanita itu menunduk dan memejamkan mata dengan kedua tangannya yang saling menggenggam. "Aku harap ini hanya praduga. Ini terlalu buruk untuk terjadi," katanya, dengan suara yang seolah terbuat dari angin.
"Jangan bilang kalau maksudmu ... Elle diperkosa?" tanya Axton dengan merendahkan nada di dua kata terakhirnya. Kedua keningnya berkerut. Wajahnya memucat. Sosok yang biasanya tampak tegas itu, kini melemah. Ia menyorot sang istri yang keadaannya tak jauh beda darinya.
Shanee mengangguk, menanggapi rasa penasaran suaminya. Axton yang melihat itu pun menggeleng, seolah tak percaya. "Benar. Itu terlalu buruk jika sungguh terjadi. And ... I really really don't hope so," katanya.
"Kita harus memastikan langsung kebenarannya," ungkap Shanee. Axton pun menyetujuinya. Mereka menatap pintu ruangan yang merupakan tempat di mana Elle dirawat saat ini. Gadis tersebut memang belum sadar dari pingsannya.
"Nona sudah sadar dari pingsannya," tutur seorang perawat wanita, yang baru saja keluar dari dalam ruangan. Ia celingukan ke sekelilingnya, lalu melirik ke arah Axton dan Shanee setelah menyadari keberadaan keduanya.
.........
Elle mengusap matanya perlahan ketika ia baru tersadar dari pingsannya. Bisa ia rasakan pandangannya yang memburam dan kepalanya yang berputar. Ia pun menggeleng pelan setelah penglihatannya menormal dan ia pun menyadari, ia berada di ruangan yang tidak familier baginya, namun ia jelas tahu ia ada di mana.
Elle mengedarkan pandangannya. Sebuah ruangan yang didominasi warna putih tampak di netra dan bau obat-obatan yang khas pun tertangkap indra penciumannya. Ia menukikkan alisnya ke dalam, lalu menyorot sosok wanita berbusana seragam perawat rumah sakit di sampingnya.
Sosok suster itu memegang pergelangan tangan Elle, memeriksa denyut nadinya, dan kemudian tersenyum lembut. Namun yang demikian, justru tak membuat suasana hati Elle menjadi tenang.
Elle merasa bahwa ulu hatinya tengah dilanda nyeri. Pikirannya kalut dan keringat dingin pun mulai bercucuran dari dahi dan seluruh pori-pori kulitnya.
Elle tak mengerti, keberadaannya di tempat ini dalam keadaan seperti ini apakah hal yang buruk atau bukan. Namun tentunya, ia harus waspada sebab rahasia terbesar miliknya, tengah terancam.
Remaja tersebut pun kemudian terdiam dan mulai berpikir keras mengenai siapa sosok yang membawanya ke rumah sakit. Jika itu keempat sahabatnya, jelas saja posisinya masihlah aman—akan tetapi, jika itu murid lain atau guru, jelas hasilnya akan berbeda jauh dari apa yang diharapkan olehnya.
"Kamu sedang berada di rumah sakit," ungkap suster, tersebut sambil tersenyum tipis.
"Aku tahu," lirih Elle sambil menganggukkan pelan kepalanya. "Siapa ... yang ... membawaku ke ... sini?" tanyanya kemudian, dengan ragu.
Elle menyorot wanita berseragam perawat itu dengan dalam. Ia amat berharap, bahwa jawaban yang didapatkannya memang adalah keempat temannya, salah satu, dua, atau tiga dari mereka. Namun ia jelas mengerti, kalau sahabat-sahabatnya itu, mungkin tak akan melakukan hal ini, mengingat mereka haruslah berhati-hati.
"Orang tuamu sendiri yang mengantarmu ke sini," jawabnya, dengan lembut.
Elle terkesiap. Jantungnya terasa berdetak dengan sangat cepat, kemudian berhenti tiba-tiba. Jika begitu faktanya ... bukankah ini lebih buruk dari apa yang dia kira?
Jika orang tuanya sendiri yang mengantar ke sini, lantas, apakah mereka sudah tahu kebenaran mengenai kehamilannya?
Tapi ..., bagaimana bisa orang tua Elle membawa Elle ke rumah sakit, sedang keduanya sedang fokus bekerja dan putri mereka pun tengah berada di sekolah?
"Jangan membuat dirimu tertekan. Itu tidak baik untuk kesehatan bayi di dalam kandunganmu," tutur suster itu. "Oh—apakah kamu sudah mengetahuinya dan berniat untuk mempertahankannya?"
Elle terdiam. Sesungguhnya, ia merasa tak nyaman jika ditanyai seperti itu oleh orang yang tak dikenalnya. Ya, meski pada kenyataannya, suster tersebut memang tampak sangat lembut dan perhatian. Namun selain itu, Elle juga berharap, bahwa sang perawat juga merupakan sosok yang peka dan pengertian.
"Tak apa jika tak ingin menjawab. Aku akan memanggilkan orang tuamu," katanya. Elle tak bisa mencegah meski sebenarnya, ia ingin melakukannya. Tubuhnya terasa terlalu lemas dan tidak memiliki tenaga. Kerongkongannya tercekat dan lidahnya pun kelu. Ia bungkam dan tak bisa berkata-kata.
"Elle, bagaimana keadaanmu?"
Elle terperanjat karena ia mengenali suara penanya tersebut. Itu jelas suara Shanee, ibunya. Elle pun menyorot sang empu vokal, lalu mendapati wajah yang menyiratkan banyak hal itu. Di sampingnya, sosok pria yang merupakan Axton pun turut menampakkan hal serupa.
Elle tak memberi respons kembali. Ia terlalu syok atas apa yang tengah terjadi.
"Kenapa diam? Takut kepada kami jika rahasiamu terbongkar?" Axton angkat suara. Ia mendekati Elle dan menatap gadis tersebut dengan tajam. Namun demikian, tangannya terulur untuk mengelus surai sang putri.
"Kami sudah mengetahuinya? Katakan ... siapa yang melakukannya?"
Elle masih tak mau menjawab. Gadis tersebut menatap sang ayah dengan takut. Matanya pun memerah.
"KENAPA DIAM? JAWAB ELLE!" Axton meninggikan nada suaranya. Urat-urat lehernya yang tampak menonjol, menunjukkan bahwa dirinya sedang benar-benar marah.
Sebagai seorang ayah, tentu saja Axton turut merasa kalut. Meskipun hubungannya dengan sang putri tak sedekat seperti hubungan Elle dengan ibu dan kakaknya, namun tetap saja ia menyayangi gadis tersebut dan akan mengkhawatirkannya jika tertimpa masalah seperti ini.
Rasa cemas yang berlebihan membuat Axton tak bisa lagi mengendalikan emosinya. Dadanya sungguh terasa berat.
Axton, kemudian mundur beberapa langkah dan menyandarkan dirinya ke dinding. Tubuhnya meluruh di sana.
Kini, beralih ke Shanee yang masih terlihat tenang. Ia berada di samping Elle dan mengelus tangan putrinya itu. Ia mencoba untuk tak terbawa emosi. Biar bagaimanapun, menyelesaikan masalah, paling tepat harus dilakukan dengan kepala dingin. Setidaknya, ia tak boleh terlihat lemah mental di hadapan sosok putrinya.
"Ceritakan kepada kami, Elle ...! Kamu pasti tahu, kalau apa pun yang terjadi, kami tidak akan pernah meninggalkanmu, kan? Can you give us your trust?" kata Shanee dengan lembut. Ia tersenyum menatap putrinya.
Elle yang diperlakukan dengan cara seperti itu pun merasa lemas saat itu juga. Air matanya yang sedari tadi menggenang, kini meluruh. Tubuhnya pun bergetar. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"I—ini ..., ini b—bukan mau—ku ...! Aku dipaksa! Aku dipaksa, Mom ..., Dad!"
Shanee dan Axton yang mendengar pernyataan tersebut pun terperanjat. Sang lelaki pun berjalan mendekati sosok kedua wanita.
"Badai itu ...! I—ini karena kecerobohanku! Ini salahku! Seharusnya, aku bisa melindungi diriku sendiri! L—lihat ..., hidupku sudah hancur sekarang ...! Aku ..., aku masih mau menikmati masa mudaku! Aku belum siap menjadi ibu! Aku belum siap melakukan pengorbanan sebesar itu! Aku belum siap jika sewaktu-waktu anakku menangis sebagai pertanda aku harus mengganti popoknya! Aku takut aku gagal melakukan tugasku sebagai seorang ibu, tapi aku juga takut jika harus membunuhnya! Aku takut aku tak bisa meraih mimpiku! Aku lemah! Aku hanya gadis lemah! Bagaimana bisa aku menanggung hal sebesar ini?"
Elle menangis hingga tubuhnya ikut bergetar karenanya. Shanee yang tak tahan melihat itu langsung memeluknya dan menciumi pucuk kepala dari gadis kesayangannya itu. Wanita tersebut turut memejamkan matanya dengan air mata yang mengalir. "Ini bukan salahmu, dan ingatlah ..., kamu tidak sendiri, Elle ...!" lirihnya.
Di sisi lain, Axton mengepalkan tangannya. Perasaannya sungguh campur aduk hingga ia sendiri pun tak akan mampu menjelaskannya. Matanya telah berkaca-kaca, namun ia masih sanggup menahannya. Melihat putrinya dalam keadaan seperti itu, benar-benar mengguncang mentalnya.
"Siapa yang melakukannya? Kamu tahu?" tanya Axton dengan kerongkongan yang tercekat. Shanee pun menatapnya dengan sorot memohon. Tentu, hal seperti itu, sangat tidak tepat untuk ditanyakan—setidaknya di saat sekarang. Selain pertanyaan tersebut bisa melukai nurani Elle, kemungkinan besar pun mereka tak akan mendapatkan jawabannya. Orang yang memperkosa Elle, kiranya adalah sosok asing yang sama sekali tak dikenal gadis itu.
"R—Revan ...! Kak Revan pelakunya! Laki-laki kemarin di pesta itu! Dia melakukannya kepadaku ketika mabuk!" sahut Elle, dengan berapi-api. Shanee dan Axton sungguh tak menduganya. Mulut keduanya menganga tak percaya.
.........
"Elle, kamu baik-baik saja? Orang tuamu sudah mengetahuinya?" tanya Gabriel. Pemuda itu menatap sosok sahabatnya yang terbaring lemah di atas ranjang. Ia dan ketiga temannya yang lain pun berdiri di sisi ranjang tersebut.
"Sudah," jawab Elle, singkat.
"Reaksi mereka?" Joanne menatap Elle dengan khawatir. Ia menggenggam tangan teman dekatnya itu dengan sangat erat—seolah takut gadis tersebut akan pergi ke jurang yang dalam jika ia tak melakukannya
"Mereka mendukungku. Tentu saja! Mereka orang tuaku dan memang itu yang harus mereka lakukan!" sahut Elle.
"Ke mana orang tuamu pergi?" Gabriel menaikkan alisnya sembari bertanya demikian. Namun Elle hanya menggeleng, sebab ia memang sama sekali tak mengetahuinya.
Sedang di sisi lain, Axton dan Shanee, ternyata tengah menemui orang tua Revan dan mendiskusikan masalah kedua anak mereka. Dengan bujuk rayu yang mematikan dari Maia dan Sadewa, orang tua Elle pun terperangkap di dalamnya dan mereka pun membuat kesepakatan gila mengenai masa depan sepasang muda-mudi itu.