The Melody Tells

The Melody Tells
Tangan yang Bertaut



"What do you think, Lady?"


Sebuah pertanyaan yang terdengar itu, membuat Elle segera tersadar dari lamunannya. Ia pun melirik pria itu yang duduk berhadapan dengannya, lalu tersenyum.


"Hanya memikirkan ... apakah anak lelakiku sudah sampai di rumah dengan aman atau belum. Tadi ..., aku menitipkannya pada temanku," jawabnya. Ia, lalu melihat lawan bicaranya itu ikut menarik kedua sudut bibirnya.


"Jika begitu ..., jangan lupa sampaikan salamku pada Erland ...!" balasnya, dengan ekspresi cerah yang membuat Elle menaikkan alisnya keheranan. Namun sesaat kemudian, ia mulai menemukan titik terang.


"Aku pikir hanya kebetulan jika psikiaterku dan penyelamat anakku memiliki nama sekaligus profesi yang sama. Terima kasih atas pertolonganmu kala itu, Aaron ...! Putraku sangat menyukaimu dan dia terus bercerita tentangmu berulang-ulang—hal yang sangat diluar kebiasaannya." Elle berbicara dengan nada yang terdengar bercanda. Pria di seberangnya pun menanggapi.


"Aku begitu tersanjung mengetahui hal itu," sahut Aaron.


Keduanya, kemudian tertawa bersama dengan dipenuhi atmosfer canggung. Keduanya saling menatap sejenak, kemudian menunduk dan tertawa lagi entah untuk masalah apa, karena tak ada satu pun hal lucu yang tengah terjadi di sekitar mereka. Atau mungkin, mereka tengah menertawakan diri mereka sendiri dengan kekikukkan mereka masing-masing.


Aaron pun mulai berpikir ingin mencairkan suasana dengan cara yang seperti apa. Ia, kemudian menatap Elle dengan senyumnya yang menawan. "Ini pertemuan kedua kita—dan hari ini, aku berencana mengajakmu melakukan terapi di luar," katanya.


Elle tampak merubah ekspresinya menjadi lebih waspada. Aaron yang menyadari itu pun mencoba menjelaskan. "Aku akan mengajakmu ke taman kota. Itu tempat umum dan aku tak akan macam-macam di sana," ucapnya.


Elle yang mendengar pernyataan Aaron pun merasa tertegun. Ia mengelus tengkuknya, merasa malu karena lawan bicaranya mengetahui isi pikirannya. "Maaf." Hanya itu yang bisa dikatannya, sebagai wujud penyesalan. Ia tahu, seharusnya, ia memang tidak berpikir sembarangan. Bahkan, jika Aaron memang memiliki niat buruk kepadanya, maka pria itu, akan mewujudkannya sedari tadi—karena mereka, sekarang pun hanya sedang berdua di ruangan yang tertutup ini.


"Tak perlu dipermasalahkan. Aku bisa memahami kenapa kamu berpikir begitu." Aaron menatap Elle dengan raut muka yang dipenuhi aura positif. Pria itu, kemudian menyugar rambutnya yang berwarna brown, sedikit panjang, dan ikal itu. Sejenak, Elle pun merasa kembali ke masa remajanya—masa di mana ia sering menjadi pengagum rahasia dari siswa tertampan di sekolahnya. Bahkan, perlu Elle akui, bahwa Aaron adalah tipenya. Eh!


Buru-buru Elle membuang pikirannya. Meski diakuinya bahwa ia masih memiliki trauma, selalu waspada, dan selalu membatasi pergaulan dengan setiap laki-laki yang ditemuinya, namun tak bisa dipungkiri, bahwa ia tetap adalah seorang perempuan yang menyukai setiap bagian dari keindahan dunia; termasuk pria tampan—dan orang di hadapan Elle ini, adalah termasuk salah satunya.


Tapi, lupakan hal itu! Karena itu ... hanyalah sisi lain Elle yang tak pernah diketahui oleh siapa pun selain dirinya. Sebuah rahasia antara seorang insan dan penciptanya.


"Di pertemuan kemarin, bukankah aku belum bertanya mengenai apa saja perkembangan yang sudah kamu rasakan selama menjalani terapi beberapa tahun ini?"


Elle pun berdeham pelan sebelum menjawab pertanyaan dari Aaron. Namun ia tak tahu, bahwa psikiaternya itu, malah akan mengerti kode darinya.


Meski tidak mengetahui secara detail, namun setidaknya, Aaron memahami bahwa Elle, mungkin baru saja merasa canggung kepadanya. Entah karena apa, namun ada kemungkinan, perempuan itu baru saja memikirkan sesuatu yang dirasakan aneh oleh dirinya sendiri mengenai Aaron atau siapa pun itu.


"Memang belum," jawab Elle. Ia mengembuskan napasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Selama menjalani terapi bersama Nyonya Fu, meski belum bisa memperbaiki mentalku, tapi setidaknya ..., aku merasa lebih bisa memahami diriku dan apa saja yang kubutuhkan; memahami bahwa aku tetaplah berharga meski semua itu telah terjadi kepadaku; memahami bahwa hidup akan terus berjalan dan sudah menjadi tugasku untuk menjalaninya semampu yang aku bisa—memberikan yang terbaik untuk diriku sendiri. Hidupku ada di bawah kendaliku sendiri; namun variabel-variabel di luar itu, aku tak bisa mengaturnya."


Aaron mengangguk, lalu tersenyum setelah mendengar jawaban Elle. Ia, kemudian mengajak pasiennya itu untuk bergegas pergi ke tempat tujuan mereka, taman kota—menggunakan mobilnya.


Hari ini, taman kota tidaklah ramai. Tengah hari belum melintang dan orang-orang pun masih sibuk dengan pekerjaan mereka.


Elle pun bisa merasakan hangatnya sinar mentari yang menerpa kulitnya. Pandangannya mengedar ke sekeliling, di mana tanaman-tanaman hijau dan bunga-bungaan tumbuh. Lalu, ia pun tersenyum ketika melihat sunflowers yang ikut tampak di sana.


Elle, kemudian baru teringat bahwa, ia sendiri juga tengah mengenakan dress rancangannya sendiri yang memiliki ikat pinggang berornamentasikan bunga matahari. Bahkan, ia pun baru tersadar tentang bagaimana maniaknya ia terhadap bunga matahari itu, meski ia pun sudah tumbuh dewasa seperti sekarang.


Elle melirik ke samping, di mana Aaron seharusnya berada di sana. Namun, pria itu menghilang—membuat Elle kebingungan mencarinya. Beberapa saat kemudian, ia pun dapat menemukan keberadaan sosok tersebut ~ tengah melakukan interaksi berzama pemilik toko bunga di seberangnya.


Elle hanya diam di posisinya dan menunggu Aaron selesai dengan aktivitasnya. Ketika kembali, psikiater itu malah menyodorkan sebuket bunga kepada sang pasien yang hanya menerima dengan perasaan terkejut.


"Rangkaian bunga matahari—untuk putramu," kata Aaron.


"Benarkah? Tapi ..., dia punya alergi dengan serbuk bunga. Ia tak bisa menerima ini. Aku pikir, kamu akan memberikan pada keluargamu atau ... pasanganmu mungkin?" Elle tersenyum kaku sambil mengelus lehernya sendiri. Tidak—namun ia sempat berpikir bahwa Aaron ingin memberikan buket itu untuknya, sebelum kemudian, ia buru-buru menepis pikirannya yang dirasa konyol itu.


"Keluargaku akan tertawa jika aku melakukan ini—dan aku ... aku juga tidak memiliki pasangan. Lagi pula, jika Erland tak bisa menerimanya, ibunya ... juga bisa, kan?" Ia tersenyum.


Elle memperhatikan Aaron yang telah melepas jas putihnya lalu melepas kacamata yang sejak awal pertemuan mereka selalu bertengger di hidungnya. Percaya atau tidak, Elle kembali terpesona—namun ia tak menunjukkan itu secara terang-terangan.


Tanpa kacamata, kedua netra Aaron yang beriris abu-abu gelap dan langka itu, terlihat lebih jelas. Sejenak, Elle merasa tertawan oleh manik yang terlihat dalam dan menimbulkan kesan misterius itu.


"Kalau begitu, aku akan menerimanya," balas Elle sambil tersenyum.


"Ketika kecil, apa yang sering dan paling suka kamu lakukan?" tanya Aaron, tiba-tiba. Elle yang mendapat pertanyaan seperti itu dan belum memiliki persiapan pun tampak kaget. Aaron tertawa pelan karena melihat ekspresi yang dirasanya lucu itu. "Boleh aku menggenggam tanganmu?" tanyanya lagi, kemudian—dan tentunya, itu membuat Elle semakin kebingungan. Namun entah mendapatkan dorongan dari mana, ia tak menolak pria itu.


Berikutnya, Aaron melakukan hal yang tak diduga Elle sama sekali. Lelaki itu naik pada tempat duduk panjang yang seperti dinding mengitari taman. Beruntung, Elle yang memiliki postur tinggi pun bisa mengimbanginya.


"Ketika kecil, aku suka melakukan hal semacam ini bersama keluargaku. Naik ke tempat seperti ini dan berusaha menjaga keseimbanganku. Dulu, yang berada di posisimu adalah kakak perempuanku, atau ayah, atau ibuku. Kakakku tak suka melakukannya kecuali jika aku memaksanya. Dia memang orang yang paling serius diantara kami berempat," tutur Aaron. Elle hanya mendengarkannya sembari terus berjalan beriringan dengan pria tersebut. "Bagaimana denganmu?" tanyanya.


"Aku ingat .... Dulu, aku dan kakak lelakiku sangat suka main lari-larian di sekitar rumah kami—menyenggol tetangga dan membuat mereka marah. Lalu, setelah kami pulang, kami akan dimarahi oleh Mom dan Dad atau Bibi Shi Ren yang akan menegur kami. Jika kebetulan Mom dan Dad sedang tidak sibuk, maka setelahnya, kita akan memasak bersama, lalu aku dan Dad akan mengacaukan dapur. Aku sedikit benci mengakuinya ..., tapi masakanku seburuk masakan Dad dan bakat memasak ibuku hanya menurun ke kakakku," ungkap Elle, lalu meringis. "Aku juga ingat, dulu, aku sangat suka mendandani kakakku. Membuat pakaian-pakaian aneh dari kain dan kakakku, dia menyukainya. Itu adalah hal favorit kami waktu itu .... Atau teman-temanku yang akan menggantikannya," tambahnya.


Keduanya, kemudian tertawa bersama—lepas, seperti burung yang terbang di langit. Masa kecil adalah saat-saat manis yang begitu indah untuk diingat. Kala itu, kita belum mengenal dunia—belum mengerti mengenai sisi kelam dari tempat yang kita tinggali; meski ada beberapa anak yang harus terlalu cepat mengerti itu.


"Erland adalah tipe anak yang cenderung serius. Bisa dibilang dia ... kaku. Sifatnya agak mirip seperti temanku, Celine. Tapi, dibandingkan dia, Erland adalah anak yang lebih mudah bergaul," ucap Elle. "Dia sangat menyukai musik. Aku sedikit bisa bermain piano, maka aku pun mengajarinya. Dia benar-benar berbakat dan cepat belajar, dan aku pun bangga mengakuinya," sambungnya. Aaron pun mengangguk dan tanpa sadar, tautan di jemari mereka semakin menguat.