The Lady Who Owns The CEO

The Lady Who Owns The CEO
Rahasia



Setelah memastikan Erin baik biak saja, Resma segera berpamitan untuk pulang dan kembali melanjutkan pekerjaan nya.


" baiklah kalau begitu bibik pulang dulu, ini bibik bawakan makanan untuk mu, jangan lupa di makan, jaga kesehatan mu ya " ucap Resma dengan menyodorkan sebuah pelastik merah yang dimana terdapat beberapa makanan yang barusan di bawanya.


" ini bibik yang buatkan? " tanya Erin


" iya bibik yang buat kan, kau makanlah nanti " titahnya lagi yang kini tersenyum lembut.


" (tersenyum) makasih bibik, aku akan memakannya nanti " ucap Erin membalas senyuman wanita itu.


" baiklah, kalau begitu bibik pergi dulu " titah Resma kesekian kalinya dan seraya beralalu meninggalkan apartemen tersebut menuju kembali ke sebuah toko yang dimana dirinya selama ini merintis sebuah usaha kecil kecilan.


Erin terdiam sejenak entah apa yang tengah gadis itu pikirkan saat ini.


Pov Erin


" mau sampai kapan aku berdiam diri di rumah, apa aku harus berjalan jalan sebentar? Hampir beberapa minggu aku mengurung diri seperti ini, namun tidak akan membuatku baik baik saja, malah adanya aku yang makin tertekan jika terus terusan di apartemen " batin Erin berpikir cukup keras mengingat kondisinya yang sudah seperti orang gila menurutnya.


" huh lebih baik aku pergi keluar dan mencari udara segar terlebih dahulu, seklian aku akan mampir ke market untuk membeli beberapa keperluan rumah yang sudah menipis " titahnya pelan.


Setelah selesai mengganti baju, Erin beranjak pergi meninggalkan apartemenya untuk pertama kali setelah sekian lama mengurung dirinya di apartemen.


Garda 24


" (menarik nafas dalam dalam) huuhh setelah sekian lama tidak keluar ternyata udara disini masih segar " gumam ku dengan mata yang ku pejamkan seraya menikmati hembusan angin yang menerpa seluruh wajah dan tubuhku.


Tidak terasa sudah hampir beberapa minggu belakangan aku tidak mendengar kabar Lio, bahkan siapapun saat ini, dunia ku terasa behitu tenang namun.. Sedikit rumit tu ku jelaskan.


Akan kah aku harus menjalani semuanya dengan sendiri seperti ini? Menghindari mereka yang begitu dekat dengan ku? Sepertinya itu tidak perlu, bagaimanapun aku akan menjalani semuanya.


Namun saat hendak ku pijakan kaki ku di sebuah jalan tol, setika sebuah mobil yang berlalu begitu cepat kini berhenti secara tiba tiba dan membuatku kaget secara bersamaan.


ingin ku maki rasanya orang gila seperti itu, seenaknya berkendara tanpa melihat situasi.


" apa dia sudah gila? apa dia buta, hampir saja aku tertabrak " cetusku sedikit emosi, menatap mobil merah menyala milik seseorang.


Bammm


Suara pintu mobil di tutup dan tampak seorang pria muda dengan hanya menggunakan pakaian kemeja hitam, tampak pria itu cukup tinggi, dengan postur tubuh yang terbilang ideal para pria.


" nona? Apa kau baik baik saja? " ucapnya dengan nada sedikit panik dan berjalan menghampiri ku yang terdiam paku di sana.


deg..


" eng! " gumam ku yang tersadar saat pria itu berbicara kepadaku.


" kau baik baik saja? " tanya lagi dengan menatap ku dari ujung kepala hingga kaki ku, memastikan apakah semuanya baik baik saja.


" aku baik baik saja " ucap ku spontan merasa tak enak saat dirinya menatapku seperti itu.


" ohh baiklah, maafkan aku, aku terburu buru mengendarai mobil ku, sampai aku tidak lihat kalau ada seseorang yang ingin menyebrang " titahnya sedikit menjelaskan.


" mmh tidak masalah " jawab ku singkat.


" ngg, baiklah kalau begitu aku permisi dulu tuan! " timpal ku dengan berlalu tergesa gesa menyebrangi jalan tersebut.


Namun tidak dengan sosok pria tersebut yang kini masih menatap jauh kepergian Erin yang perlahan lahan menghilang dari pandangannya.


" astagah apa yang aku pikirkan, aku tidak boleh telat, bisa bisa perusahaan kakak dalam masalah, ck lagi pula kenapa dia memberitahuku secara mendadak " cetusnya sesaat dirinya tersadar.


Dengan cepat pria itu berlalu kembali kemobilnya dan melajukan kembali mobil tersebut menuju kesuatu tempat yang cukup jauh.


Di sebuah market yang cukup besar.


Erin yang baru saja tiba di market tersebut, kini tampak terlihat kebingungan dengan apa yang harus dirinya beli untuk keperluan dirinya, Erin beranjak menelusuri seluruh isi market itu sembari memilah satu persatu barang yang harus dirinya beli, namun saat Erin berada tepat di sebuah rak yang dimana terdapat begitu banyak merek susu khusus untuk ibu hamil, Erin tampak tertegun menatap seluruh rak tersebut.


" ck apa yang aku pikirkan! " gumam Erin beranjak pergi dari sana kembali menelusuri kembali seluruh isi market tersebut.


Namun tampak dari arah yang berbeda, sepasang mata kini tengah terlihat asik mengawasi langkah demi langkah gadis itu, entah siapa sosok tersebut dan apa yang sosok tersebut inginkan dari gadis itu.


" aku rasa ini cukup untuk keperluan beberapa bulan kedepan, sebelum aku kembali bekerja besok " ucap Erin yang kini berlalu menuju sebuah kasir, untuk segara membayar barang belanjaan yang dirinya bawa.


Setelah selesai membayar, Erin beranjak meninggalkan market tersebut dan berlalu menuju kesuatu tempat, yaitu sebuah taman yang tak jauh dari tempatnya berada.


Setibanya di taman, Erin beranjak duduk di sebuah bangku kayu yang berada tak jauh dari sebuah air mancur, namun secara bersamaan dari arah yang berbeda seorang pria kini beranjak menghampiri Erin yang masih berada di sana.


" sudah lama ya tidak bertemu nona? " ucapnya saat dirinya telah berada tepat di hadapan gadis itu.


Erin spontan mengalihkan pandangannya menatap kearah suara tersebut yang berbicara kepadanya.


" kau? Dari mana kau tau aku ada disini? " tanya Erin dengan wajah terlihat bingung


" mmh itu rahasia? (melirik Erin dari ujung kepala hingga kaki), kau tampak kurusan nona? Apa kau sakit? " tanya nya sembari duduk di sisi gadis itu.


" eng, t tidak aku tidak sakit " sahut Erin.


" boleh aku duduk di sini nona? " tanya nya lagi kepada Erin.


" untuk apa kau bertanya, sedangkan kau saja sudah duduk di sampingku terlebih dahulu " cetus Erin yang kini menatap kembali jauh kesebuah bunga.


" nona? " panggilnya kesekian kali.


" mmh, apa? " jawab Erin cuek.


" apa kau tidak ada niat untuk bertemu dengan tuan ku lagi? " tanya pria itu yang ternyata Juan.


" (melirik Juan spontan) untuk apa? Untuk apa aku bertemu tuan mu lagi? " tanya Erin sinis.


" untuk meminta tanggung jawab dari tuan Rey, agar tidak terjadi sesuatu kepadamu nantinya nona " ujarnya dengan pelan.


" tidak perlu, aku bisa menjagaku sendiri, dan ana...(terdiam sejenak) " ucap Erin terhenti.


" dan apa? " tanya Juan penuh selidik.


" tidak ada, aku tidak berbicara apa apa " jawab Erin lagi.


" (menatap penuh selidik) baiklah, kalau kau butuh bantuan ku, kau bisa menghubungi ku nona " ucap Juan seraya memberikan sebuah kertas kecil yang berisikan nomor ponsel miliknya.


" (melirik sekilas) tidak perlu repot repot, aku bisa menjaga diriku sendiri " ucap Erin lagi dan lagi, untuk meyakinkan pria itu bahwa dirinya baik baik saja.


" jangan sungkan, bawalah bersamamu itu, aku akan pergi sekarang, ada sesuatu yang harus aku kerjakan saat ini, sampai bertemu lagi nona!? " ucap Juan lagi dan kini berlalu terlebih dahulu meninggalkan Erin yang tengah menatap bingung pria itu.