The Lady Who Owns The CEO

The Lady Who Owns The CEO
Reynan Arzenta



" tuan Rey, mari duduk, saya akan meminta skretaris saya Windi untuk membuatkan minuman dan beberapa snek untuk anda " ucap Lio seketika.


" Windi? Tapi yang saya lihat di kartu tanda pengenal, bukan Windi tapi Erin Ardelina, apa dia sekretaris di perusahaan ini? " tanya Rey tanpa basa basi.


Deg..


" Erin? B bagaimana anda mengenal Erin tuan Rey? " tanya Lio dengan seksama.


Rey terdiam sejenak sembari menatap sekilah wajah Lio yang penuh rasa penasaran.


" ohh tidak, hanya saja aku bertemu dengannya sekali dan itupun kebetulan saja, aku datang kemari hanya ingin bertemu denganya, tapi aku salah ternyata sekretaris mu bukan gadis yang ku cari " jelas Rey seketika beranjak bangun dari duduknya dan kini berlalu pergi begitu saja.


" Erin dan tuan Rey pernah bertemu? Apa jangan jangan malam itu!? " gumam Lio seketika kembali di penuhi rasa amarah.


" tidak itu tidak boleh terjadi, jangan sampai Erin melakukannya dengan pria itu, bisa bisa aku kalah saing bersamanya " timpal Lio lagi.


Di luar perusahaaan Inside Group


di depan sebuah mobil berwarna hitam glosy Rey yang belum pergi dari sana kini menatap jauh kearah dimana gedung tersebut berada


" apa di kota ini punya sesuatu yang menarik untuk di kembangkan? " tanya Rey seketika membuat kedua anak buahnya kini menatap kearahnya.


" m maksud tuan Rey? Tuan ingin.... " sahut Juan seketika menggantungkan kalimatnya.


" cari gedung kosong yang bahkan pembangunan nya di hentikan, aku akan membeli gedung dan membangun perusahaan ku di sini " ujar Rey lagi.


" ehh, tuan yakin? Bagaimana jika nyonya Rina mengetahui hal itu? " tukas Juan lagi.


" apa salahnya jika aku membangun perusahaan baru di sini, lagi pula Rina hanya istri pertama tuan Ardana dia bukan ibuku, hanya ibu tiriku " jelas Rey lagi.


" aku akan pulang menemui mama ku, jangan lupa cari terus gadis itu mengerti!? " titah Rey lagi dan lagi.


" baik tuan " sahut keduanya itu dengan cepat.


Di lain sisi di sebuah rumah milik Selin, Erin yang ternyata tiba di sana sesaat dirinya baru saja pulang dari sebuah mall untuk membeli ponsel baru untuk nya.


" kemana ponsel mu? Kau membeli ponsel lagi untuk kedua kalinya, dasar gadis pelupa " cetus Selin kepada Erin.


" ish lagi pula tu ponsel dari pemberian Lio kepadaku, ya jadi aku tidak terlalu memikirkan nya lagi " sahut Erin.


" yasudah baiklah " sahut Selin pasrah.


" lalu bagimana dengan mu? " tanya Selin lagi.


" mmh aku? Kenapa dengan ku? " tanya Erin bingung.


" kemarin malam kau tidak pulang, aku sangat khawatir, kau kamana saja semalaman? " tanya Selin lagi.


" ohh aku tidur bersama pria itu saja " ucap Erin tanpa rasa bersalah.


" ffuth, hukk hukss " Selin Seketika tersedak saat Erin berbicara barusan


" apa? Tidur bersama pria? Apa kau gila? " tukas Selin seketika emosi.


" kenapa? " tanya Erin lagi.


Selin tak bisa berkata kata dengan apa yang dirinya dengar saat itu, betapa begitu gilanya teman satunya itu yang tak merasa bersalah sedikit pun.


" ku anggap kau gila, lepas dari Lio si pria brengsek itu kau.. Kau malah melampiaskan kekesalan mu dan tidur bersama pria asing astaga Erin " timpal Selin tak habis pikir melihat teman nya itu.


" sudahlah jangan di bahas, lagi pula itu ke khilafan ku " tukas Erin lagi.


" bagaimana jika kau hamil anak pria itu? " timpal Selin lagi.


" tidak akan, lagi pula itu tak mungkin terjadi, hanya sekali mana mungkin pembuahan terjadi hanya dalam satu kali proses, aneh! " cetus Erin lagi.


" astagah apa dia benar benar sudah gila " sahut Selin menatap kearah perginya Erin dari kamarnya begitu saja.


daaap daaapp


Suara langkah kaki memasuki sebuah rumah besar dan megah.


" tuan Rey sudah pulang? Setelah satu bulan akhirnya tuan muda pulang juga!? " ucap seorang pelayan rumah tersebut kepada Rey yang baru saja tiba di rumahnya.


" dimana mama ku? " tanya Rey kepada pelayan tersebut.


" nyonya Sarah ada di kamarnya tuan " jelas pelayan wanita tersebut kepada Rey.


namun sesaat Rey hendak melangkah kan kakinya menuju kesebuah anak tangga seketika sebuah suara kini menyapanya dari arah yang berbeda.


Rey sontak mengalihkan pandangannya menatap kearah seorang wanita paruh baya yang merupakan istri pertama sang papah yang bernama Rina Adinata kusuma.


" Rey? Kau sudah kembali nak? " tanya Rina dengan lembut kepada Rey.


" mmh " sahut Rey dingin


" mah? Siapa yang datang? " tanya seorang pria muda dari arah yang sama dengan wanita tersebut.


Rey spontan menatap sekilas kearah pria yang berada di belakang wanita tersebut dengan tatapan dingin Rey menatap kearah pria tersebut yang juga menatap kearahnya.


" Reynan, kau sudah pulang? " tanya pria tersebut kepada Rey.


" mmh " sahut Rey lagi


" bukan kah kau bilang rumah ini bukan rumah mu, dan sekarang... "


" aku ingin menemui mama ku, apa itu salah? Lagi pula aku hanya sesaat disini, setelah itu aku akan pulang, kau tidak perlu khawatir soal itu aku tidak tertarik tinggal di sini " jelas Rey.


" Zifran? Apa yang kau katakan kepada Rey, dia adik mu dia putra keluarga Kusuma juga " jelas Rina kepada putra kandungnya itu.


" tapi dia anak dari istri keduanya papa, lagi pula dia tidak ada hak atas keluarga Kusuma " jelas Zifran lagi.


" tidak perlu kau jelaskan soal itu kepadaku Zifran Ardelion, kau kira aku mau keluarga kusuma mengakui ku sebagai anggota keluarga mereka, meski mama ku adalah cinta pertama papa mu tuan Ardana " jelas Rey dengan amarah.


" Reynan Arzenta? " panggil seorang wanita kepada Rey dari barisan anak tangga.


Sontak semua mata kini tertuju kepada seorang wanita paruh baya yang berada jauh di hadapan mereka bertiga.


" Sarah? " panggil Rina kepada Sarah.


" iya kak, maafkan Rey atas perkataan nya, Zifran mama minta maaf atas perkataan Rey kepada mu ya " ucap Sarah kepada Zifran.


" cih.. Ibu sama anak, sama sama perebut " cetus Zifran lancang


" Zifran? " teriak Rina kepada putranya itu.


" jaga omongan mu, atau kau pergi ke kamarmu sekarang " tukas Rina dengan emosi.


" ck menyebalkan " guman Zifran berlalu begitu saja meninggalkan ketiganya itu di sana.


" mama sudah mendingan? Apa masih sakit? " tanya Rey dengan penuh prihatin.


" mmh, mama baik baik saja, mama Rina yang selama ini menjaga mama, kau tidak perlu khawatir soal itu Rey " ucap Sarah kepada Rey.


Rey seketika menatap kearah Rina dan tersenyum sekilah kearah wanita tersebut.


" kita adalah keluarga Rey, Sarah sudah seperti adik ku sendiri, aku tau ini semua kesalahan papa kalian, bukan kesalahan kalian, kalian saling membenci hanya karena masalah yang di ciptakan oleh papa kalian berdua " jelas Rina kepada Rey.


" aku tau itu, lagi pula Zifran benar, meski aku anak kandung dari keluarga Kusuma, aku tidak ada hak untuk keluarga ini " jelas Rey lagi.


" tidak nak, tidak seperti itu " ujar Sarah mencoba menepikan perkataan Rey barusan.