
" apartemen yang ku tempati telah di ambil kembali, jadi aku pergi untuk mencari tempat tinggal baru untuk ku saat ini " ucap Erin beranjak turun dari tempat tidur pasien.
" kalau tidak keberatan aku bisa membantumu, mencari tempat tinggal baru untuk kau tempati " ucap Juan kepada Erin.
" mmh apa itu tidak masalah? " tanya Erin balik.
" tidak lagi pula kau tidak mau meminta tuan Rey bertanggung jawab kepadamu, hanya dengan cara seperti ini aku akan membantu mu " ujar Juan kepada Erin.
" baiklah terimakasih " ucap Erin.
" tidak perlu, aku hanya membantumu " titah Juan yang kini mempersilahkan Erin untuk keluar dari ruangan rawat tersebut terlebih dahulu dan diikuti dirinya di belakang gadis itu.
...~~~...
Setibanya di luar rumah sakit, Erin begitu juga Juan kini keduanya itu segera berlalu pergi meninggalkan halaman rumah sakit tersebut menggunakan sebuah mobil milik Juan, pria tersebut, dan menuju kembali ke sebuah tempat proyek pembangunan barusan.
Setibanya mereka berdua disana, Erin seketika menatap paku pembangunan yang tampak begitu besar di depan matanya, seperti bangunan hotel bahkan terbilang lebih besar dan memiliki begitu banyak tingkat gedung pada bangunan tersebut.
Erin seketika mengalihkan pandangan nya menatap kearah dimana Juan yang sudah keluar dari mobilnya dan berlalu menuju kedalam pembangunan tersebut.
" Jo? " panggil Juan kepada seseorang yang merupakan penanggung jawab terhadap proyek tersebut.
" ya tuan? " sahut Jonathan kepada Juan yang baru saja tiba di sana.
" kau urus dulu proyek nya, besok aku akan kembali lagi, dimana koper yang kau aman kan barusan? " ujar Juan kepad Jonathan.
" ohh koper nya aku hampir lupa, tunggu sebentar aku akan mengambilnya " ucap pria itu berlalu menuju kesebuah ruangan untuk mengambil koper milik Erin dan kini berlalu kembali menemui Juan dan memberikan koper tersebut.
" thanks sudah menjaganya, aku akan segera pergi " ucap Juan saat pria itu telah menerima koper tersebut dan beranjak pergi menemui Erin yang kini masih menunggunya di sebuah mobil.
Setibanya di mobil, Juan dengab cepat melajukan mobilnya meninggalkan kota tersebut dan melaju menuju kota sebelah.
" Juan? Kau ingin membawaku kemana? " tanya Erin yang tampak bingung saat dirinya di bawa oleh pria itu menuju ke sebuah tempat yang jauh dari kota tempat dirinya tinggal sebelum nya.
" mmh, bukan kah aku ingin membantu mu untuk mencari tempat tinggal, dan sekarang aku akan membawamu menuju tempat tinggal barumu dan kau akan tinggal di sana, dengan anak mu nanti " ujarnya dengan senyuman.
" secepat itu kau sudah menemukan nya? " ujar Erin menatap tak percaya.
" mmmh kau tenang saja, saat kau melihat nya ku yakin kau akan menyukainya nanti " titah Juan yang kini menancap gas mobilnya dan melaju cukup cepat melintasi kota tersebut.
Selang beberapa jam di perjalanan, di sebuah perumahan Bunga Santiya Elite (BS), Juan segera melajukan mobilnya memasuki perumahan Elite tersebut dan menuju ke salah satu rumah yang terbilang cukup besar, meski tampak sederhana.
" Juan? " panggil Erin sesaat dirinya menatap kearah rumah yang kini terpampang jelas di hadapannya.
" iya nona? " sahut Juan bingung.
" kenapa kau membawaku kemari? " tanya Erin kesekian kalinya.
" nona mulai sekarang kau tinggal disini terlebih dahulu, kurasa ini lumayan nyaman untuk kau tinggali " ujar Juan.
" apa? Juan aku bahkan tidak punya sepeserpun uang untuk menyewa rumah apalagi membeli rumah, dan sekarang kau membawaku kemari!? " titah Erin dengan wajah yang sulit di mengerti.
" nona, kau tidak perlu membeli atau membayar sewa rumah ini, kebetulan rumah ini.. Sudah di beli " ucapnya tampak ragu.
" siapa yang membelinya? Apa kau yang membelinya? " tanya Erib menerka.
" eng... I iya saya(berbohong) " sahut Juan berbohong.
" tidak.. Aku tidak bisa memberitahu nona kalau ini rumah kedua milik tuan Rey yang sengaja tidak di tempati " batin Juan dengan senyum kecut.
Bruuuukkk
sebuah pukulan kecil kini mendarat tepat di pundak Juan dan sontak membuat pria itu terperanjat kaget.
" apa yang kau pikirkan Juan? " tanya Erin menatap bingung Juan.
" ee oh tidak nona heheh " sahutnya dengan tersenyum kikuk.
" mm terimakasih atas bantuan mu, lain kali aku jika kau butuh bantuan ku, aku akan membantumu sebisaku " ujar Erin kepada Juan.
" ng t tidak perlu nona, ayo aku bantu untuk membawakan kopermu " titah Juan yang kini beranjak keluar dari mobil dan segera membawakan koper milik Erin menuju rumah tersebut.
Traaak.
Daaap daaap
Namun secara bersamaan dari arah taman rumah, seorang pria paruh baya kini memanggil mereka saat tiba di sana.
" loh nak Juan? " sapa pria paruh baya itu kepada Juan yang kini hendak membuka pintu rumah tersebut.
" iya pak? " sahut Juan saat dirinya menatap kearah pria tersebut.
" (melirik Erin bingun) apa tuan Rey ingin pindah kemari? " tanya pria tersebut kepada Juan.
Deg...
" (menatap Erin spontan) aaah tidak pak, ng... Tuan Rey belum kembali, baiklah kami permisi masuk dulu pak " ucap Juan mengakhiri obrolan tersebut begitu saja dan membawa masuk Erin kedalam rumah tersebut.
" gadis itu siapa? Apa dia istri nak Rey? Atau asisten nak Rey yang diminta untuk jaga rumah? " gumam pak Darmi pada dirinya sendiri.
" aa sudahlah lagi pula rumah ini sudah lama tidak di tempati semenjak nak Rey tinggal di rumahnya yang sekarang " titah Darmi yang kini beranjak pergi meninggalkan halaman rumah tersebut dan menuju kerumah yang terletak di ujung perumahan Elite itu.
Di dalam rumah.
" gimana apa kau menyukainya nona? " tanya Juan kepada Erin sesaat mereka tiba di sebuah ruang tamu yang cukup besar.
" ini lebih dari kata lumayan Juan, rumah ini sangat nyaman untuk di tinggali, dan ya jangan panggil aku nona lagi, panggil saja aku Erin, tidak enak rasanya jika kau terus terusan memanggil ku seperti itu Juan " titah Erin lagi.
" baik Erin, kalau begitu aku akan menaruh koper mu di kamar sana, kamar yang akan kau tempati " titah Juan yang kini beranjak menuju kesbiah kamar.
Namun tidak dengan Erin yang kini beranjak menuju kesebuah jendela dan membuka tirai yang menutupi kaca tersebut dan tampak sebuah pemandangan yang begitu indah, pemandangan yang belum pernah dirinya lihat.
" wow, taman bunga? Dengan beberapa kebun buah di halaman belakang!? " gumam Erin yang tampak begitu takjub melihat pemandangan tersebut yang begitu nyata dimata.
" Erin? " panggil Juan kepada Erin yang masih asik melihat kearah kebun
" Juan kemarilah, coba kau lihat, indah bukan? Bunga di sana! " ucapnya kepada Juan dan meminta pria itu untuk menatap kesebuah taman.
" mmh iya, tuan suka taman, begitu juga kebun bung.... " ucap Juan seketika tersadar dengan apa yang barusan dirinya katakan.
Deg...
" siapa? " tanya Erin yang tidak mengerti maksud perkataan Juan barusan.
" tidak... maksud ku tuan Rey juga menyukai taman, jadi aku sengaja membuat taman di belakang rumah " ujar Juan berbohong.
" ohh seperti itu " sahut Erin kini kembali menatap kagum taman tersebut.