The Lady Who Owns The CEO

The Lady Who Owns The CEO
Who's that.



" sudah lah ma, Rey tidak akan lama lama disini, lagi pula Rey masih ada urusan dan harus pulang " ucap Rey kepada Sarah.


" Rey, kau belum menemui papa mu, kenapa kau tidak tinggal sedikit lebih lama disini terlebih dahulu! " pinta Rina kepada Rey.


" tidak, aku sibuk, lain kali saja " ucap Rey beranjak pergi meninggalkan rumah itu begitu saja dan berlalu menuju mobilnya.


Namun sesaat Rey hendak masuk kedalam mobil tiba tiba sebuah suara kini menyapanya, suara yang tampak lekat di telinga pria itu, Rey menatap kearah suara tersebut yang dimana terlihat seorang pria paru baya tengah menatap dirinya dari kejauhan.


" Rey? " panggil nya pelan.


Rey tak bergeming melainkan beranjak masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobil tersebut meninggalkan perkarangan rumah itu untuk ke sekian kalinya.


" tuan besar? " panggil seorang anak buah milik pria itu.


" awasi putraku, awasi apa saja yang dia lakukan di luar sana " pinta tuan Ardan kepada anak buahnya itu.


" baik tuan, saya akan meminta beberapa anak lainnya untuk mengawasi tuan muda " tukas anak buah pria itu yang kini berlalu pergi begitu saja dari sana.


" begitu besar kebencian mu kepada ku Rey, bahkan bertemu dengan ku saja kau tidak mau " gumam tuan Ardan menatap jauh kearah depan.


" papa? " panggil Zifran kepada Ardan yang masih berada di sebuah roftoop rumah tersebut.


" Zifran? Ada apa kau kemari? " tanya Ardan kepada putranya itu.


" seharusnya aku yang bertanya kenapa papa ada di sini? Rey baru saja tiba di rumah ini dan sekarang dia sudah pergi " tukas Zifran dengan tatapan yang sulit di mengerti.


" papa tau, adik mu baru saja kembali meski itu hanya sesaat " timpal Ardan lagi.


" dia bukan adik ku, aku tidak akan pernah mengakuinya sebagai adiku, meski aku dan Rey berasal dari papa yang sama " jelas Zifran dengan egois.


" sampai kapan pun Rey tetap keluarga Kusuma, dia salah satu pewaris keluarga Kusuma, Zifran, jika kau tak menyukai adik mu, itu hak mu, tapi untuk pewaris tetap aku yang menentukan siapa yang pantas dan tidak " jelas Ardan menatap tajam putranya itu dan kini berlalu pergi begitu saja dari sana.


" ck, kenapa harus Rey dan Rey yang mereka utamakan, apa bagusnya, kita lihat saja siapa yang pantas mendapatkan ahli waris keluarga kusuma selain diriku " ujar Zifran dengan penuh keyakinan.


...***...


Pov Erin


Sepertinya waktu ku terbuang percuma cuma, bertemu Lio, entah apa yang akan pria ini ingin bicarakan kepadaku, dan meminta ku bertemu dengan nya di sebuah cafe tempat biasa diriku dan Lio kunjungi.


Lotely Cafe " Coffe and Deassert "


Daaap daaap


Suara langkah kaki berjalan menghampiri.


Di sebuah meja yang bertepatan pada sisi jendela cafe tersebut, tampak dari meja tersebut seorang pria tengah duduk sembari menyeruput secangkir cofe hitam.


" Lio? " sapaku sesaat mendapati sosok Lio yang tengah menunggu ku di cafe itu.


" Erin? Ku kira kau tidak akan datang, duduklah dulu " ucap Lio tanpa rasa bersalah dari kedua sorot mata laki laki itu.


" ada apa? Katakan? Aku tidak punya banyak waktu? " tukas ku sembari duduk di bangku hadapan Lio.


" (tersenyum penuh arti) jangan merasa paling sibuk Erin, aku ingin bertemu dengan mu, ada yang harus ku pertanyakan kepadamu " titah Lio dengan kedua mata menatap penuh tanda tanya.


" apa? Apa yang ingin kau tanyakan kepadaku? " tanya ku balik.


" di saat malam kejadian itu, kau pergi dan tidak pulang semalaman, apa kau bertemu dengan Reynan? " tanya nya penuh selidik.


" apa? Reynan? Aku tidak mengenal siapa Reynan? " titah ku dengan raut wajah yang tampak kebingungan.


" dengar Lio, kau benar saat kejadian malam itu aku benar benar tidak pulang, tapi aku tidak pernah bertemu dengan orang yang kau maksud, sudah buang buang waktu saja " timpal ku lagi yang kini beranjak bangun dari sana


" tapi hari ini ada seseorang yang datang mencarimu, pria itu berkata bahwa kalian pernah bertemu sebelumnya dan itupun hanya kebetulan saja " ujar Lio seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Deg..


aku seketika terdiam, tubuhku terasa membeku, namun tidak dengan pikiran ku yang berkecamuk entah karuan, yang benar saja jika pria waktu itu mencariku, tapi bagaimana bisa? bahkan aku tidak meninggalkan apapun disana!


Degg


" ponsel ku yang tertinggal! Astagah Erin bodoh kali kau, bagaimana aku sebodoh ini, kau meninggalkan ponsel mu dan memberi cela untuk pria itu menemukan ku. " batin ku memaki diriku sendiri.


" kenapa kau diam saja? jadi benar, pria itu Reynan? Kalian pernah bertemu sebelumnya? Apa yang kalian lakukan? Apa kau telah tidur bersama pria itu? Apa kalian juga telah melakukannya? " tanya Lio menerka.


" stopp!! Berhenti bertanya seperti itu! kalau iya kenapa? Kalau aku melakukan nya dan tidur bersamanya apa itu menjadi masalah mu? Lagi pula dia pria yang tidak sama sepertimu, dia lebih mapan dan juga kaya raya, puas kau " ucapku dengan penuh amarah.


" ck, sudah ku duga, kau sama seperti gadis pada umumnya Erin, kau meniduri pria kaya raya hanya untuk uang mereka bukan " tukas Lio dengan penuh nada penekanan.


Sreeek.


" jika kau berani kepada pria itu, maka apa salahnya aku mencoba dirimu, sayang! " timpal Lio dengan tangan yang mencengkram kuat tangan ku.


" bajingan, aku tidak mau " ucapku dengan nada penuh penekanan.


" jangan berlaga sok suci Erin, kau bahkan sudah tidak gadis lagi, meski pria itu telah mengambilnya terlebih dahulu dariku, jadi apa salahnya jika kita melakukannya " titah Lio lagi dan lagi.


" lepaskan aku, aku tidak mau " pinta Erin dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan tangan pria itu darinya.


BRUUUUKKK


Sebuah pukulan kini mendarat tepat di wajah Lio secara tiba tiba, sontak pukulan tersebut membuat para pengunjung cafe itu melihat kearah mereka bertiga.


" ****, siapa kau berani memukul ku? " pekik Lio menahan sakit pada wajahnya yang terkena pukulan.


" apa itu sakit! Tuan Argelio? " ucap seseorang yang barusan memukul.


" kau? " sahut Lio sesaat menatap kearah orang tersebut yang berdiri di hadapannya.


" kita bertemu lagi tuan!(tersenyum penuh arti) " ujar pria tersebut sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


" ck lihat saja kau nanti, aku akan membalasnya " tukas Lio berlalu pergi begitu saja dari cafe tersebut namun tidak dengan Erin yang tampak kebingungan akan sosok seseorang yang menolongnya itu.


" terimakasih tuan, kau tidak perlu repot membantu saya! " ucap Erin dengan penuh rasa terimakasih.


" apa kau tidak mengenaliku nona? " ucap orang tersebut seketika membuat Erin menatap kearahnya.


Deg...


" (terbelalak kaget) "