
Pov Erin
Tak biasanya malam malam begini sauasana terasa begitu dingin, meski sebagaimana aku berpakaian seperti ini, dengan dress mini yang selalu menjadi utama bagi ku, hari ini aku pergi kesebuah club yang cukup terkenal di kota tempat ku tinggal, club tersebut bernama Simla.
Hari ini aku berencana menemui seseorang yang tak lain teman ku Selin yang merupakan teman satu kantor tempat ku bekerja di salah satu perusahaan yang merupakan milik kekasih ku yang Reino Argelio, merupakan seorang pria yang berumur 28 tahun, pria yang jauh lebih tua dari ku.
Namun entah kenapa perasaan ku seketika tak karuan, saat Selin berbicara kepadaku mengenai perihal malam ini. Entahlah mungkin aku harus menemuinya terlebih dahulu.
Club.
" Erin? " panggil seseorang kepadaku sesaat aku hendak menaiki anak tangga.
ku pandang seseorang yang tampak jauh di hadapan ku, seorang gadis dengan pakaian dress hitam ya, dia Selin teman ku.
" Selin? " ucap ku yang kini beranjak menemuinya.
" kau sudah tiba? " tanya nya kepadaku.
" iya, ada apa kau memintaku kemari? " tanya Ku penuh kebingungan.
" ayo ikut aku terlebih dahulu, aku hanya ingin memastikan saja apa aku yang salah " ujar nya dengan wajah begitu sulit untuk ku artikan.
Aku beranjak mengikuti Selin yang dimana dirinya membawaku kesebuah ruangan yang di pesan khusus oleh seseorang, aku menatap bingung ruangan itu dan sesekali ku pandang teman ku itu.
" bukalah, ku harap ini semua hanya kebetulan saja Erin " titahnya dengan wajah terlihat sedih.
kupandang kembali sebuah pintu berwarna coklat itu dan ku beranikan diriku membuka pintu tersebut dan...
Deg...
Suara pria dan wanita, suara apa ini? ku dongakan kepalaku di balik pintu ruangan tersebut dan benar saja, apa yang kudengar dan ku lihat saat ini, ya kekasih ku bersama seorang wanita lain, bahkan mereka melakukan yang tak pantas untuk di lakukan oleh mereka.
Braaakk
deg..
" ohh ini yang kau maksud sibuk tuan Lio? Kau sibuk bermain dengan wanita lain di sini " ucap ku dengan menahan rasa sakit dan panas di mataku.
" Erin? Sayang tunggu.. " ucap pria tersebut beranjak bangun dari sana dan berencana menghampiri.
" berhenti di sana, jangan mendekatiku, aku tidak mau, kau tau kau sungguh menjijikan tuan Lio " ucap ku dengan air mata yang sudah tak sanggup ku bendung lagi.
" hei, kenapa kau begitu hah, aku melakukan semua ini karena kau selalu saja menolak ku, jadi aku menyewa Windi menjadi fatner ranjang ku hanya untuk malam ini, dan itu pun... "
" CUKUP!! kita akhiri ini semua, aku tidak mau berurusan dengan mu lagi " titah ku dengan emosi.
" ck, apa kau serius? Kau ingin putus dari ku, baiklah, kau pikir masih ada pria yang mau dengan gadis seperti mu, ku akui kau cantik, bahkan lebih cantik dari gadis yang pernah ku tiduri sebelumnya, tapi pria mana yang mau dengan gadis yang tidak tau di untung sepertimu, hanya aku yang bisa menerima mu Erin " tukas pria itu dengan angkuh.
" aku tidak peduli akan hal itu, dan aku tidak akan pernah menyesal putus dari mu " titah ku sembari pergi meninggalkan ruangan tersebut dan berlalu menuju luar club.
" arrrgh brengsek, pergi kau!? " teriak Lio dengan emosi kepada Windi.
" tapi... " sahut Windi mencoba menenangkan Lio.
" pergi, tinggalkan aku sendirian, jangan sampai aku meluapkan emosi ku kepada kau " tukas Lio lagi.
" ck semua ini gara gara gadis itu, dia mengganggu ketenangan ku dengan Lio " ucapnya seraya berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Di luar club.
" Erin? Tunggu kau mau kemana? " panggil Selin yang berlalu dengan terburu buru menghampiri temannya itu.
" kemana? Mau kemana kau malam malam begini? " tanya Selin bingung.
" club! Aku akan pergi ke club yang ada di kota sebelah, Mandala, aku akan ke club Mandala malam ini " ucapnya lagi.
" apa? Apa kau tau club itu sangat mahal, orang seperti kita mana bisa kesana, bahkan minuman sana dua kali lipat dari uang gaji kita pertahun " ucap Selin meyakinkan.
" aku tidak peduli, sebanyak apa uang yang akan ku habis kan malam ini, yang penting aku tidak pulang malam ini " ucap ku benar benar kalut.
tampak sebuah taxi melaju dengan kecepatan rata rata kini melintas di hadapan ku, dengan cepat ku lambaikan jemariku untuk menghentikan taxi itu dan melaju kesebuah club yang terletak cukup jauh dari kota tersebut.
" jalan Melati pak " pintaku kepada sopir taxi tersebut. Dengan cepat sopir taxi itu melajukan mobilnya melintasi pusat kota dan menuju kesebuah jalan yang akan menjadi tujuan ku saat itu.
" nona kita akan segera tiba, nona mau saya berhentikan dimana? " tanyanya padaku.
" Mandala pak " jawab ku singkat.
Dengan bingung wajah sopir itu menatap ku, aku tau bahwa di pikiran nya saat ini aku adalah wanita yang tak baik, wanita malam yang bahkan telah menjual dirinya kepada pria manapun itu.
" sudah sampai nona " ucapnya kepadaku.
" makasih pak, ambil saja kembalian nya " ucap ku yang kini beranjak keluar dari taxi tersebut dan berjalan masuk kedalam sebuah club yang bahkan pertama kalinya aku memasuki club tersebut malam ini.
" selamat malam nona, apa kau punya kartu Vip? " tanya seorang penjaga club tersebut.
" tidak! " jawab ku singkat.
Mungkin kali ini aku tidak akan bisa masuk, tampak kedua penjaga itu menatap ku dengan intens.
" Rom, apa class standar masih ada? " tanya penjaga club tersebut kepada temannya.
" tentu, kurasa masih tinggal beberapa meja " ucap pria tersebut bernama Romi.
" nona kau boleh masuk, kebetulan class standar masih memiliki beberapa meja kosong " ucap nya kepadaku.
" aku mau hight class, apa bisa? " tanya ku seketika membuat pria itu terdiam sejenak.
" hight class, nona jika kau ingin masuk hight class kau harus punya Vip " ucap pria tersebut.
" hanya dengan satu cara jika kau mau masuk hight class nona " sambung pria yang bernama Romi.
" kau harus membayarnya sebesar 300$ untuk permalam " timpalnya lagi.
" hei apa yang kau lakukan! " sahut teman pria tersebut kepadanya.
" tidak masalah, aku hanya ingin menghabiskan uangku, untuk malam ini, ( memeberikan 300$ secara chas ) ini! " ucapku kepada kedua pria tersebut.
Deg...
" Rom, apa yang kau lakukan, 300$, apa kau tau jika tuan tau soal ini, hight class hanya di dapatkan untuk tamu yang punya card Vip dan kau memberikan peluang untuk gadis tersebut " ucapnya panjang lebar.
" eng, lalu! " sahutnya lagi.
" lalu? " tanya nya bingung.
" ya kau berikan dia card Vip dan jadikan dia salah satu tamu di club ini astagah Juan " sahut Romi lagi.
Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan saat kedua pria itu tak henti hentinya berdebat.