The Lady Who Owns The CEO

The Lady Who Owns The CEO
Terungkap



" (menatap Erin yang terjatuh) Erin... " ucap Lio yang kinj menatap gadis itu yang masih berada di lantai.


" tidak perlu, aku tidak butuh bantuan mu, aku bisa sendiri " ucap Erin yang masih di delimuti kekesalan serta kekecewaan yang masih terlihat jelas pada wajah gadis itu.


" apa kau terluka? " tanya Lio kesekian kalinya.


" aku tidak perlu rasa simpati mu Lio " cetus Erin lagi.


" untuk apa kau peduli padanya, sudah lebih baik kita masuk sekarang " ujar Windi serayaenarik tangan Lio untuk ikut masuk bersamanya.


tapi tidak dengan Erin yng kini berlalu pergi meninggalkan apartemen itu untuk terakhirkalinya, dengan langkah tertatih sembari memegangi perutnya yang masih terasa sakit.


Di luar apartemen, di sebuah jalan tol yang bertepatan pada sebuah proyek pembangunan yang masih berlangsung, Erin yang kini sudah tiba di luar sana tampak gadis itu dengan wajah terlihat pucat akibat berjalan terlalu lama.


" tuhan, aku takut, bantu aku tuhan, siapapun aku mohon " batin Erin yang sudah terlihat lemah, seketika pandangannya perlahan lahan buram dan membuatnya hilang kesadaran dan akhirnya.


Brukk


Erin seketika jatuh pingsan begitu saja di sana, dan membuat banyak sepasang mata kini menatap kearahnya dan berlalu menghampirinya begitu saja.


" apa yang terjadi? Panggil ambulan? " ucap orang orang pada kerumunan tersebut.


Namun secara bersamaan dari arah kejauhan seseorang kini datang dan ikut melihat kejadian tersebut di sana.


" apa yang terjadi? Ada apa orang berkumpul di sini? " ucap seseorang yang datang dari arah pembangunan proyek tersebut.


" permisi, permisi!? " ucap suara seorang pria yang menerobos kerumunan tersebut.


Deg. .


" nona? " ucapnya saat dirinya sudah berada di tengah tengah kerumunan dan melihat keberadan gadis itu yang masih tergeletak di atas tanah.


" apa yang kalian lihat, panggil ambulan!? " teriak pria tersebut yang ternyata Juan, yang dimana pria itu tengah menghadiri sebuah proyek pembangunan yang di rencanakan oleh Rey beberapa minggu silam, untuk menjadikan kota tersebut menjadi salah satu perusahaan miliknya berkembang.


" nona sadarlah? " ucap Juan yang kini menepuk pelan pipih Erin yang tampal kurusan.


" astagah, tidak guna kalau aku berdiam disini saja " titah Juan yang kini menggendong tubuh Erin dan membawa gadis itu menuju mobilnya dan segera membawa gadis itu menuju rumah sakit terdekat.


" tuan ambulan nya gimana? " ucap seorang pria asing kepada Juan yang tampak tergesa gesa menggendong tubuh Erin ke mobilnya.


" lupakan, terlalu lama kalau menunggu " ucapnya.


Bruummmm


Suara deruan mobil yang kini melaju cukup deras melintasi jalan tol tersebut dan membawa gadis itu menuju kerumah sakit yang terletak tak jauh dari sana.


Rumah sakit Utama.


baaamm


Lagi lagi Juan sedikit membanting pintu mobilnya dan kini berdalih menggendong tubuh Erin dan membawanya menuju dalam rumah sakit tersebut untuk segera meminta pertolongan.


" dokter, periksa pasien ini dulu, saya mohon " ucap Juan yang begitu panik.


" enh b baik, saya akan periksa keadaan pasien dulu, tuan boleh tunggu disini sebentar " pinta dokter tersebut kepada Juan.


" baik saya tunggu disini " ucap Juan duduk di sebuah bangku tunggu pasien yang berada tepat di depan ruangan tersebut.


" ck.. untung tuan Rey tidak ada di sini, jika tuan Rey tau bisa bisa aku dalam masalah " gumamnya yang masih terlihat sedikit panik.


Selang tak lama kemudian dari balik ruangan tersebut, seseorang kini baru saja keluar dari dalam sana, Juan yang melihat kedatangan orang tersebut kini segera menghampirinya.


" bagaimana dokter, apa baik baik saja? " tanya Juan saat dokter tersebut tiba di sana


" ng bukan dokter, tapi.. Saya teman pasien " jawab Juan sedikit ragu


" begini tuan, sebenarnya saya ingin menyampaikan ini kepada kerabat atau suami dari pasien, kalau pasien sedang mengandung dan usia kandunganya sudah memasuki satu bulan 14 hari, dan pasien juga harus lebih di perhatikan lagi dalam kesehatan nya, dan harus lebih banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi baik untuk janinnya " jelas dokter tersebut kepada Juan dengan panjang lebar.


Deg..


" a apa dok, hamil? " ucap Juan kaget.


" iya tuan " sahut dokter lagi.


" tuan Rey bakalan punya anak? apa aku harus menelpon dan memberitahu tuan kabar ini, pasti tuan akan segera kembali kan!? " batin Juan yang masih terlihat kaget


" tapi bagaimana jika sebaliknya tuan tidak mau mengakui anaknya, aaaargg kacau bagaimana ini " umpat Juan


" apanya yang kacau tuan!? " sambung dokter tersebut kepada Juan


" aah tidak maksud saya, saya akan memberitahukan ini nanti kepada suaminya pasien, kalau begitu apa saya sudah boleh mengunjungi pasien dokter? " ujar Juan kepada dokter tersebut.


" silahkan tuan, saya permisi dulu " titah dokter tersebut yang kini berlalu pergi.


Cklek...


Suara pintu di buka dari luar.


Setibanya di dalam ruangan, tampak terlihat Erin yang kini tengah duduk di atas tempat tidur pasien seraya menatap keberadaan Juan yang kini ikut masuk kedalam sana.


" nona? " panggil Juan kepada Erin yang sudah tampak baikan.


Erin tak bergeming melainkan gadis itu beralih bertanya kepada pria tersebut.


" apa yang barusan dokter itu bicarakan? " tanyanya tanpa menjawab perkataan dari pria itu sebelumnya.


" tidak ada " jawab Juan berbohong.


" jangan berbohong, aku tau ada sesuatu yang dokter itu katakan " tukas Erin lagi.


Juan terdiam sejenak dan kini memberitahukan kepada Erin apa yang barusan dirinya bicarakan kepada dokter tersebut.


" kau hamil? Kenapa kau tidak mau memberitahukan ini kepada tuan Rey, aku yakin tuan akan bertanggung jawab terhadapmu " ujar Juan dengan hati hati.


" jangan beritahu tuan mu, aku tidak mau! " sela Erin


" nona kau tidak perlu egois, dokter bilang anak mu butuh asupan yang baik untuknya, dan jangan sampai kau kekurangan sedikit pun, jika kau meminya pertanggungan dari tuan aku yakin tuan akan menjaga kalian " ucap Juan menyakinkan.


" tidak, itu tidak perlu aku akan menjaganya dan membesarkan nya sendirian, aku akan tanggung semuanya karena ini kesalahan ku sendiri " ucap Erin dengan sedikit egois.


" tapi nona... "


" terimakasih sudah membantuku, aku akan membayar semuanya padamu nanti jika aku sudah mempunya uang " ujar Erin kesekian kalinyan


" tunggu nona, kau tidak perlu membayar itu semua, tapi aku mohon dengarkan aku sekali lagi, aku tau kau akan menolak jika aku meminta kau menerima penanggung jawaban dari tuan ku, tapi kali ini aku mohon biarkan aku membantu mu, selama kau mengandung anak dari tuan ku, biarkan aku yang membantu mu " titah Juan mencoba meyakinkan gadis itu kesekian kalinya.


" baiklah " sahut Erin


" nona terimakasih " ucap Juan dengan senyum tulus.


" mari nona aku antar kau pulang " timpal Juan kepada Erin


" koperku!! " ucap Erin seketika teringat akan koper dan tas miliknya.


" koper mu sudah di amankan nona, sebelum kemari beberapa pekerja proyek telah memberitahukan kalau mereka telah mengaman kan barang milikmu, eng ngomong ngomong kau mau pergi kemana? Membawa koper bersamamu? ujar Juan seraya bertanya kepada Erin.