
Tidak seperti biasanya pada hari hari yang Erin jalani, dimana di sebuah rumah yang kini Erin tempati tampak begitu terasa berbeda semenjak Juan sering kali datang mengunjungi tempat tinggal gadis itu.
Di sebuah ruangan yang terbalut dinding yang di lapisi cat berwarna putih dengan sedikit paduan warna biru gelap, menambah kesan yang begitu elegan.
Sreeek
suara gesekan meja yang di dorong begitu saja sehingga menyatu pada dinding putih yang ada di ruangan tengah rumah itu
" begini? " tanya Juan yang sudah tampak lelah bolak balik mendorong meja yang di perintahkan Erin untuk mengisi beberapa ruangan kosong di rumah itu.
" kau kenapa? " tanya Erin sesaat gadis itu menatap bingung Juan yang sudah terduduk di lantai dengan wajah terlihat lelah.
" nona, apa kita perlu beristirahat sejenak, punggung ku sudah terasa mau patah " ucap Juan yang kewalahan menanggapi sifat Erin yang suka mengatur ngatur sesuatu.
" baiklah, kau tunggu disini dulu, aku akan membuatkan minuman untuk mu dan beberapa makanan " ujar Erin yang kini beranjak pergi menuju dapur rumah.
Braaaaak
Tampak lelah, beginilah Juan, beberapa minggu belakangan ini dirinya telah mengawasi serta menjaga Erin, gadis yang selama ini tuan nya perintahkan kepadanya untuk mencari keberadaan gadis itu, meski sampai detik ini Juan masih belum juga memberitahukan keberadaan Erin kepada Rey hanya karena gadis itu yang selalu menolak meminta untuk tidak memberitahukan keberadaan nya kepada Rey.
" aaaah " hela Juan memandang langit ruangan itu dengan penuh tanda tanya.
" mau sampai kapan aku harus mengawasi gadis ini, kapan tuan akan kembali, sudah hampir 6 bulan tuan masih berada di london, dan hanya sesekali mengirim Gmail perusahaan setelah itu menanyakan kabar Erin, huh.. Sungguh lelah ternyata menjadi diriku ini huhuh " cetus Juan menangisi nasibnya yang kini bagaikan buah simalakama.
treeek
" ini minuman nya, minumlah terlebih dahulu, kau pasti lelah, soal meja nya aku cukup puas dengan penempatan nya " ujar Erin yang menatap kearah sudut ruangan yang dimana meja tersebut di letakan dengan simetris.
" aaahh (meminum minuman yang telah di berikan Erin) Erin? sudah berapa usia kandungan mu? " tanya Juan tampak bingung dengan perut Erin yang terlihat tidak terlalu besar.
" ohh, sudah hampir 6 bulan " ucap Erin menatap sekilah perutnya.
" tapi kenapa perut mu tidak terlihat begitu besar? " tanya Juan lagi dengan penuh kebingungan.
" mmh, itu aku menutupinya dengan sesuatu agar tidak terlihat saat aku bekerja " ujar Erin lagi menjelaskan.
" bekerja? Kau bekerja, dimana? " tanya Juan dengan antusias.
" kenapa aku baru tau saat ini jika kau bekerja? " timpal Juan dengan wajah penuh rasa penasaran
Erin terdiam sejenak sebelum dirinya benar benar menceritakan tempat dirinya bekerja kepada Juan, selama beberapa bulan terakhir di perusahaan Lions Group sampai detik ini, Erin masih menutupi nya dari pria tersebut.
" ohh aku bekerja di perusahaan Lions Group " jawab Erin
Deg..
bagai badai yang datang secara tiba tiba begitu saja, membuat Juan tampak terkejut dengan apa yang gadis itu katakan, sehingga membuat pikirannya kalut begitu saja.
bruukk
Sebuah pukulan kecil kini mendarat tepat di pundak Juan seketika membuyarkan lamunan pria tersebut begitu saja.
" kau kenapa? " tanya Erin dengan wajah tampak bingung mendapati Juan yang sering kali terlihat aneh baginya.
" ehh, t tidak heheh oh terimakasih untuk minuman nya, aku akan pergi sekarang, ada sesuatu yang harus aku kerjakan " ucap Juan dengan buru buru beranjak dari lantai keramik dan seraya berpamitan meninggalkan rumah tersebut dan menuju kembali kekediaman Kusuma.
" eh iya terimakasi sudah membantu ku Juan, hati hati di jalan " tukas Erin dengan wajah masih terlihat bingung sosok Juan yang tiba tiba berubah sedikit aneh di pikirannya.
***
proook prookk suara deruan tepuk tangan kini memenuhi seisi ruangan meeting yang dimana menampilkan sosok Erin yang tengah berada di depan ruangan, untuk membahas ditel berkas berkas yang selama ini telah dirinya siapkan dengan sempurnah.
tampak sepasang mata kini menatap kagum sosok Erin yang benar benar begitu menarik perhatian dari pria tersebut yang tak lain Zifran, dengan senyum bangganya pria itu menatap kearah Erin.
" baiklah, meeting hari ini cukup sampai disini dulu, terimakasi buat kalian yang sudah menyempatkan untuk hadir, kalian boleh melanjutkan pekerjaan kalian dan sampai bertemu minggu depan " titah Zifran yang kini mulai bersuara dan mengakhiri acara meeting soreh itu.
Satu persatu para staf kini beranjak keluar meninggalkan ruangan tersebut dan kembali ke meja mereka masing masing, namun tidak dengan Zifran, yang dimana pria itu masih asik berada di ruangan tersebut dengan mata yang kini tertuju kepada Erin yang sibuk mengemasi barang barang miliknya.
" kau mau pulang? " tanya Zifran di sela sela keheningan yang cukup lama di antara keduanya itu.
" ngg " gumam Erin yang kini menatap kearah Zifran yang masih stay di bangkunya.
" ohh saya kira anda sudah kembali ke ruangan anda tuan " ucap Erin kepada Zifran.
" nanti saja, sebentar lagi juga jam pulang, Erin apa kau mau pulang bersamaku? " tukas Zifran menawarkan etikat baik nya kepada Erin.
" saya rasa tuan tidak perlu mengantar saya pulang, saya bisa pulang sendiri kebetulan hari masih soreh, taxi juga masih ada " jawab Erin lagi
" jangan menolak, aku tidak suka seseorang menolak ku, jadi ayo aku antar kau pulang Erin " timpal Zifran mencoba untuk meyakinkan Erin agar gadis itu untuk tetap ikut bersamanya.
" baiklah, aku akan ikut bersama anda tuan " ucap Erin beranjak keluar bersama Zifran yang kini berjalan di samping gadis itu.
Daaap daaap
suara langkah kaki yang saling bersautan kini menelusuri sepanjang ruangan karyawan, dengan di iringi tatapan para karyawan yang kini menatap penuh tanda tanya, akan keduanya itu yang terlihat begitu dekat akhir akhir ini.
" pak Zifran tidak seperti biasanya pulang dengan seorang gadis, kenapa akhir akhir ini pak Zifran suka sekali pulang bareng seketaris barunya itu " bisik seorang wanita dri ruangan tersebut dengan wajah menatap bingung keduanya itu.
" entahlah, semenjak Luna menjadi seketaris pak Zifran, tidak pernah tu di ajak pulang bareng, apa lagi sampai di tunggui begitu " timpal teman wanita tersebut yang tak luput dari pandangan keduanya itu yang perlahan lahan hilang dari pandangan.
" bakalan ada kapal berlayar dong kalo sampai jadi tuh pak Zifran sama seketarisnya, wihh iri banget baru juga beberapa bulan kerja, eeh dah bakalan dapet status baru nih " cibir wanita tersebut tak henti hentinya membicarakan keduanya.