The Lady Who Owns The CEO

The Lady Who Owns The CEO
Menghindar



Deggg


" k kau? " ucapku pelan namun lidahku terasa keluh, apa yang kulihat sekarang kini yang ku takuti.


" nona? saya Juan, tuan meminta saya untuk membawa nona bertemu dengan tuan saat ini " ujar Juan yang ternyata pria itu telah menemukan Erin yang berada di sebuah cafe.


" tuan? Siapa yang kau maksud? " tanya Erin dengan wajah kebingungan.


" tuan Rey, orang yang pernah nona temui di bar pada malam itu " jelas Juan dengan hati hati.


Deg..


" yang benar saja, mana mungkin aku akan bertemu pria itu lagi " batin Erin.


" Nona? " panggil Juan membuyarkan lamunan Erin.


" tidak, aku tidak ingin terlibat dengan kalian lagi, Juan, jangan beritahu pria itu kalau kau telah menemukan ku, biarkan saja pertemuan malam itu seperti tidak pernah terjadi sebelumnya " jelas Erin panjang lebar.


" t tapi nona, bagaimana jika tuan... " ucap Juan seketika di selah begitu saja.


" kau katakan saja kalau kau tidak pernah bertemu dengan ku " ucap Erin lagi dan kini berlalu begitu saja dari cafe teesebut.


" ehh! " gumam Juan saat mendapati sosok Erin yang tiba tiba pergi dari sana.


" astagah bisa kacaw jika aku kehilangan gadis itu lagi " timpalnya seraya berpikir.


Namun saat Juan hendak menatap kesebuah jendela, namun tanpa sadar dirinya menyentuh sebuah ponsel di atas meja tersebut, ponsel itu tak lain milik Erin yang tertinggal di sana.


" ponsel? apa ini milik gadis itu? Kebetulan sekali jadi aku bisa melacaknya tanpa harus bersusah paya " tukasnya sembari mengotak atik ponsel tersebut.


" beres, sekarang tinggal ku kasih ke pelayan saja, agar ponselnya tidak hilang " gumam Juan yang kini beranjak menuju meja kasir di cafe tersebut, setelah memastikan ponsel itu benar benar aman, Juan segera berlalu meninggalkan cafe tersebut dan menuju kembali ke kota sebelah untuk menemui atasnyannya itu.


Namun setelah beberapa menit kepergian Juan, Erin yang baru saja tiba di cafe tersebut, dan berencana untuk mencari ponselnya kembali yang tertinggal di sana.


Di dalam cafe.


" astagah dimana aku meletakannya!? " gumam Erin sembari mencari ponselnya di atas meja.


Namun secara bersamaan seorang pelayan cafe kini menghampirinya dan bertanya kepada Erin saat itu.


" permisi nyonya? Apa anda kehilangan sesuatu? " tanya pelayan cafe tersebut kepada Erin.


" eng, iya saya tidak sengaja meninggalkan ponsel saya di sini, tapi sekarang sudah tidak ada " ucap Erin kepada pelayan tersebut.


" jadi itu ponsel anda, tunggu bentar ya nyonya, saya akan mengambilnya terlebih dahulu " ujar pelayan cafe tersebut berlalu menuju meja kasir untuk mengambil ponsel yang di titipkan kepadanya dan kini beranjak menghampiri Erin dan memberikan ponsel tersebut kepada gadis itu.


" ini ponsel anda nyonya! " ucap pelayan tersebut sembari menyodorkan ponsel tersebut kepada Erin


" terimakasih, kau telah menemukan ponsel ku " ucap Erin kepada pelayan tesebut.


" bukan saya nyonya, tapi seorang pria yang menemukannya dan menitipkannya kepada saya, saya hanya menyampaikan amanahnya saja " jelas pelayan tersebut kepada Erin dan kini berpamitan untuk kembali bekerja.


" seorang pria? Ohh baiklah, terimakasih! " ucap Erin lagi sembari berpikir sosok laki laki tersebut.


SEANE GROUP


Di sebuah ruangan Direktur.


" masih belum ada perkembangan juga? Kalian berdua mencarinya atau hanya berdiam saja hah? " ucap Rey terdengar emosi.


" kami sudah berusaha mencari gadis itu tuan, namun kami belum menemukannya sampai saat ini " timpal Juan berbohong.


" baik tuan, saya akan mencari gadis itu segera mungkin " jawab Juan lagi.


" baiklah, Rom kau ikut aku sekarang " pinta Rey kepada Romi.


" baik tuan, semogah berhasil teman, aku dan tuan akan segera kembali jika pabrik di London sudah teratasi kembali " titah Romi memberikan semangat kepada Juan yang merupakan teman dekatnya itu.


" pergilah, temani tuan disana, aku akan mengurus perusahaan dan mencari nona Erin " titah Juan kepada Romi dan meyakinkan temannya itu.


" Romi? " panggil Rey kepada Romi dari arah luar ruangan


" okeh aku duluan ya " ucap Romi kesekian kalinya.


Juan hanya mengangguk dan seraya menatap kearah perginya tuannya itu bersama Romi.


" ini saatnya untuk ku mengawasi nona, tanpa harus melibatkan tuan dan Romi sekarang " gumamnya menatap kesebuah layar pada ponsel miliknya yang dimana terpampang jelas sebuah titik merah pada layar ponsel itu.


" apartement? kemungkinan ponselnya telah di temukan, sekarang aku tinggal memantau dari sini saja " ujarnya lagi yang kini meletakan kembali ponselnya di saku celana miliknya itu.


...***...


Apartemen


Pov Erin


Tampak di luar cuaca begitu bersahabat, matahari bersinar terang, bahkan tidak ada sedikitpun awan di atas sana, namun kenapa Erin terlihat begitu tak bersemangat, bahkan dari raut wajah gadis itu tampak begitu pucat tak seperti biasanya.


panggilan tersambung.


" halo bibik? Ini aku Erin, bibik hari ini aku tidak ke toko dulu ya, entah kenapa hari ini badan ku terasa tak enak bibik " ucap Erin kepada seseorang dalam panggilan tersebut.


" kau kenapa Erin? Apa kau sakit? Lebih baik kau istirahat saja, urusan toko biar bibik yang jaga terlebih dahulu, setelah kau pulih kau bisa masuk kapan saja " tukas seorang wanita kepada Erin.


" terimakasih bibik, baiklah Erin matikan dulu telponya ya bik " ucap Erin yang kini mengakhiri panggilan tersebut.


trek...


" sepertinya aku butuh istirahat sejenak, setelah itu aku akan merasa sedikit baikan " timpalnya yang kini beralalu menuju kamar.


Tak terasa hari demi hari telah berlalu, sudah beberapa minggu terakhir Erin tak kunjung keluar dari apartemen miliknya, entah apa yang terjadi pada Erin saat ini.


took tokk


Suara pintu di ketuk dari luar.


" Erin? apa kau ada di dalam? Ini bik Resma, Erin buka pintunya? " ucap bik Resma kepada Erin yang dimana terlihat dari wajah wanita itu tampak begitu panik


Cklek.


Suara pintu terbuka dari dalam.


Erin yang baru saja tiba di ambang pintu apartemen miliknya tampak terlihat dari raut wajah gadis itu seperti sembab akibat menangis seharian.


" kau kenapa? Kenapa kau tidak pernah ketoko lagi selama 3 minggu ini Erin? Apa kau baik baik saja? Apa kau masih sakit? Bibik khawatir padamu? " ujar bibik kepada Erin yang tampak kurusan.


" tidak bibik aku baik baik saja, bibik tidak perlu khawatir, besok aku akan mulai bekerja lagi bibik " ujar Erin seperti menahan panas pada matanya.


" kau menangis nak? " tanya bik Resma yang menyadari kedua mata gadis itu yang tampak merah.


" tidak bibik " jawab Erin sedikit tersenyum.