The Lady Who Owns The CEO

The Lady Who Owns The CEO
Kecurigaan Zifran



" Erin, kau tinggal dimana? Biar aku antar kau pulang " tanya Zifran yang kini membuka kan pintu mobil untuk Erin.


Kini keduanya beranjak menaiki sebuah mobil hitam sedan yang sedari tadi terpakir di depan sebuh gedung perusahaan, Zifran segera melajukan mobil nya meninggalkan halaman perusahaan dan beralu menuju kesuatu tempat yang terbilang cukup jauh dari perusahaan nya berda.


" kau tinggal di sana sendirian? Seajuh ini? " titah Zifran sesaat pria itu masih melajukan mobilnya, dengan Erin yang kini duduk di samping pria itu.


" mmh iya, sudah lumayan lama aku tinggal sendirian di sana " jawab Erin


" gadis sepertimu apa tidak takut jika pulang malam sejauh ini, kenapa kau tidak memberitahuku, aku akan mencarikan apartemen terdekat untuk mu, agar kau tidak perlu jauh jauh untuk datang keperusahaan Erin!? " ujar Zifran yang tampak peduli akan gadis itu.


Erin terdiam tak menjawab perkataan pria itu melainkan dirinya hanya tersenyum dan kini kembali menatap jauh keluar jendela.


Senja yang begitu indah, membuat Erin merasa damai, mungkin di pikirannya hari ini seperti biasa, Juan akan mengunjunginya seperti hari hari sebelum nya.


Selang tak lama di perjalanan, kini mobil sedan yang mereka kendarai telah tiba di depan halaman sebuah rumah yang cukup besar.


" dimana rumah mu Erin? " tanya Zifran menatap kesana kemari mencari rumah gadis itu.


" aku tinggal di sini tuan, aku turun di sini saja " ucap Erin yang kini beranjak turun dari mobil milik Zifran.


" rumah ini? (menatap jauh rumah Erin tinggali) "


" apa tuan mau mampir kerumah sebentar, saya akan membuatkan tuan teh " ucap Erin.


Yang dimana dirinya menatap kearah Zifran, pria itu yang masih berdiri di balik mobilnya seraya menatap lekat rumah yang tak asing di pikirannya, rumah yang terbangun dengan gaya clasik eropa, bahkan rumah terbilang jauh dari rumah rumah penduduk di perumahan Elite di sana.


" bukan kah Rey punya rumah di sini? tapi dimana? Tidak mungkin Erin ini... " batin Zifran penuh tanda tanya.


" aaa tidak mungkin aku sudah lupa, aku yakin tempat tinggal Rey masih beberapa meter dari sini " timpal Zifran yang kini menatap jauh jalan yang tak berujung itu.


" tuan? " panggil Erin membuyarkan lamunan Zifran.


" ngg!, ohh baiklah aku akan mampir sebentar " jawab Zifran yang kini beranjak mengikuti Erin menuju masuk kedalam rumah itu.


***


Traaaak


Suara gelas yang di letakan di atas meja kaca, Erin memberikan secangkir tek serta beberapa biskuit sebagai cemilan untuk pria itu.


" silahkan tuan " ucap Erin kepada Zifran yang masih menatap lekat isi dalam rumah itu yang benar benar membuatnya bingung.


" Erin, sudah berapa lama kau membangun rumah ini? " tanya Zifran dengan hati hati.


" mmh, saya tidak membangun rumah ini tuan, tapi rumah ini di bangun oleh... " ucap Erin terpotong sesaat mendengar suara bell rumahnya berbunyi.


dringgg...


pov Juan


" mobil ini siapa ini? Kenapa bisa ada mobil asing yang parkir di depan rumah tuan, apa tuan sudah pulang? Bisa gawat kalau tuan bertemu dengan nona nantinya, tapi... jika tuan sudah pulang seharusnya Romi menghubungi ku kan!? " gumam Juan yang sedari tadi berdiri di depan pintu rumah tersebut dan memandangi mobil asing yang kini terpakir rapi di depan rumah atasannya itu.


Cklek...


Suara pintu terbuka dari dalam.


" Juan?? " sapa Erin sesaat gadis itu menatap keberadaan Juan di depan pintu rumah.


" ohh kau sudah pulang? Ku kira kau..... "


Deg. .


" t tuan Zifran!? " gumam Juan terkejut mendapati sosok Zifran yang kini ikut berada di dalam rumah itu bersama dengan Erin.


" Juan? Kau? " tukas Zifran menatap keberadaan Juan dengan wajah pucat pasih mendapati sosok Zifran di sana.


" kalian saling kenal? " tanya Erin yang kini ikut bersuara.


" dia... " ucap Zifran terpotong begitu saja.


" ng.. i iya kami pernah bertemu sebelum nya, jadi kami saling kenal " ucap Juan menyela perkataan Zifran.


Hancur sudah harapan Juan yang selama ini dirinya mencoba menyembunyikan sosok Erin di rumah tersebut namun takdir berkata lain, membuat keduanya itu bertemu begitu saja secara bersamaan, begitu juga dengan Zifran kecurigaan dirinya kini semangkin menjadi melihat keberadan Juan yang ternyata mengenali sosok Erin gadis itu.


" Erin boleh saya bicara sama Juan, kau masuk saja dulu kedalam, ada sesuatu yang harus saya bicarakan kepadanya " pinta Zifran kepada Erin


" ohh baiklah, Juan saya masuk duluan ya " ujar Erin yang kini beranjak meninggalkan keduanya itu di luar rumah.


sreeeeekkk


dengan cepat sebuah tangan kini menaraik kuat kerah baju Juan, dan membawanya menuju kesebuah mobil hitam yang terpakir cukup jauh dari sana.


Bruuuukk


Suara hempasan tubuh seseorang yang di dorong begitu kuat di atas mobil tersebut.


" sudah kuduga, kecurigaan ku benar dari tadi! " ucap Zifran berjalan pelan menghampiri Juan yang masih menahan kesakitan pada tubuhnya


" aakhh " pekik Juan menahan sakit pada tubuhnya akibat dorongan oleh Zifran kepadanya.


" Siapa Erin itu Juan? " tanya Zifran menarik kembali kerah baju Juan dan berbicara penuh penekanan pada pria itu.


tak ada jawaban dari Juan yang keluar dri mulut pria itu melainkan tatapan biasa biasa saja.


" katakan, siapa Erin dan apa ada sangkut pautnya dengan Rey? " Ucap Zifran menerka.


" t tidak ada, Erin tidak ada sangkut pautnya dengab tuan Rey " jawab Juan berbohog.


" jangan berbohong, atau aku akan menghabisimu di sini, jadi katakan yang sejujurnya siapa Erin sebenarnya dan apa hubungan nya dengan Reynan!? kenapa bisa gadis itu tinggal di rumah pribadi Rey? " titah Zifran yang tak henti hentinya.


brukkkk


Juan mendorong kuat tubuh Zifran, dan menatap dalam kedua bola mata pria itu dengan cukup tajam.


" sudah ku katakan tidak ada hubungan nya dengan tuan Rey, dia gadis yang ku temui jadi aku membawanya kemari dan memberikan nya tempat tinggal sementara " jelas Juan yang berusaha menutupi semuanya.


" tuan lebih baik kau pergi, jangan sampai seseorang melihat kejadian ini, bagaimana jika orang tau kalau putra pertama keluarga Kusuma melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain, dan nama baik tuan akan menjadi olok olokan nantinya " timpal Juan mencoba mengalihkan situasi di antara dirinya dan Zifran.


" cih.. Tak kusangka Rey punya anak buah yang cukup berani seperti mu, kita lihat saja, aku tidak akan berhenti mengawasi kau Juan " ucap Zifran dengan senyum jahatnya.


Bammm


Suara pintu mobil di tutup dari dalam, Zifran segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu dan Juan yang masih berada di sana dengan tubuh yang masih menahan sakit akibat didorong oleh Zifran kepadanya.


" apa yang harus aku lakukan sekarang! Tuan Zifran sudah mengetahui Erin tinggal di rumah ini, tidak mungkin aku harus meminta Erin untuk pergi dari sini secepatnya, ck " umpat Juan menatap jauh ujung jalan tersebut.