
Braaak
Tanpa aba aba, pria tersebut seketika memeluk tubuh kecil Erin dan menidurkannya di atas tempat tidur.
" apa ini pemula bagimu nona, kau tampak bukan ahli dalam melakukan nya, jadi jangan pancing kesbaraan ku untuk melakukan nya " ucap pria tersebut lagi dan lagi.
" ck, sudahlah kau tidak asik tuan, kau berkata seperti itu karena kau tidak mampu, aku bisa lebih dari pikiran mu tuan! " ucap Erin seketika merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur.
Namun secara bersamaan sauara bell pintu kamar tersebut berbunyi, dengan cepat pria tersebut beranjak keluar dan menemui seseorang di sana.
" siapa? " tanya nya sesaat menatap kearah seorang pelayan hotel sembari membawa sebuah teko yang berisikan air.
" air yang tuan minta " ucap pelayan hotel tersebut sembari memberikan teko itu kepada pria itu.
" air? Aku tidak meninta air sebelumnya, tapi yasudah aku sedang membutuhkannya saat ini " ucap pria itu segera mengambil air tersebut dan membawanya masuk kedalam kamar.
" ohh benarkah, apa aku tidak salah ruangan, perasaan tadi seseorang memintaku untuk mengantarkan airnya ke kamar 207 " gumam pelayan hotel itu dan sesekali memandang kearah pintu kamar 207 begitu juga pintu yang di sebrangnya 027.
Degg
" ehh 027 dan 207? Astagah bagaimana jika aku salah, aaah sudahlah aku akan mengambil air itu lagi dan mengantarkan nya ke kamar 027 " timpalnya berlalu dengan cepat.
Dalam kamar
Traaakk
" aaahh brengsek, kenapa mereka memberikan air yang sudah tercampur obat sebelumnya " ucap pria itu saat menatap kearah Erin yang benar benar sudah terlihat kepanasan.
Sreeekk
" tuan bantu aku, ini gerah sekali " ucapnya dengan wajah bersemu merah akibat air yang barusan di pinumnya.
pria itu terdiam sejenak sembari menatap dekat wajah Erin yang berada di hadapannya, bahkan suara nafas gadis itupun bisa terdengar jelas.
" astagah, apa yang ku pikirkan " batin pria itu seketika mengalihkan pandangannya.
" huh baiklah tidak ada pilihan lain untuk menghilangkan efeck obatnya " gumam pria tersebut yang kini menatap kembali wajah Erin yang yang sudah bersemu merah.
brukkk
" tuan!? " panggil Erin yang sudah kini berbaring di atas tempat tidur.
" apa? " sahut pria tersebut menatap kembali Erin yang begitu tampak mencuri perhatian
" bantu aku, aku kepanasan " ucap Erin dalam keadaan tak sadarkan dirinya.
" baiklah aku akan membantu mu " ucap pria itu yang kini membuka hela*an demi helai baju yang di kenakannya.
M*ch..
Satu kecupan kini mendarat tepat di bibir mungil Erin dan sedikit memperdalam kecupan tersebut.
Pov Reynan
perasaan ini, sial kenapa aku merasakan perasaan ini, ahh sudahlah mungkin perasaan ini sering terjadi saat aku melakukan nya.
" aahhh " satu suara lolos dari mulut Rey.
parah kenapa aku sulit menolaknya, tidak biasanya aku bermain dengan gadis yang membuatku merasakan seperti ini.
" tunggu! ini!? " gumam Rey seketika menghentikan tindakannya dan menatap lekat sebuah noda merah yang masih begitu segar.
" sial gadis ini masih " umpatnya lagi.
" percuma sudah terlanjur " timpalnya lagi sembari melanjutkan tindakannya itu.
Brukkk
Rey seketika menjatuhkan dirinya di samping tubuh Erin yang dan sesekali pria itu memberikannya sebuah kecupan dan meninggalkan tanda kepemilikannya di berbagai tempat di sana.
" tuan! Aku lelah " ucap Erin yang dimana gadis itu masih memejam kan matanya.
" tidurlah sayang, ku tau kau lelah " ucap Rey berbisik di telinga Erin dengan begitu manis.
Traak traakk
Suara jam berdetak.
Pagi sudah Erin yang baru saja bangun dari tidurnya kini merasakan sakit yang teramat di area miliknya.
" akhhawww " pekik Erin menahan sakit di area miliknya.
Deg...
Erin sontak terkejut mendapati sosok pria yang tertidur di sampingnya tanpa menggunakan sehelai benang sedikit pun, Erin terdiam sejenak dan seketika ingatannya kembali pada saat kejadian dirinya di bar begitu juga malam itu.
" astagah apa yang aku lakukan semalam, memalukan sekali " umpatnya pelan.
Erin dengan segenap tenaga beranjak bangun dari tempat tidur tersebut dan segera mengambil kembali pakaian nya dan segera mengenakan kembali pakaian miliknya.
Dan tak lupa Erin juga meninggalkan selembar kertas yang telah dirinya tulis dan begitu juga beberapa lembar uang di atasnya.
" maafkan aku tuan, aku harus pergi sekarang " ucapnya berlalu begitu saja meninggalkan kamar tersebut dan tak kembali lagi.
Pov Erin
Pagi ini benar benar membuat suasana hatiku berantakan, bahkan apa yang ku lakukan pada pria asing yang bahkan aku saja tidak mengenal dirinya.
" sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, tidak ada pilihan lain aku harus pergi dari negara ini " gumam ku beranjak menuju kembali kekota tempat ku tinggal untuk segera membereskan semua barang barang milik ku.
" tidak.. Jika aku pergi sekarang, aku akan kemana? Pekerjaan ku? Aaa lupakan, Lio, pria brengsek itu membuatku muak " gerutu Erin berlalu menuju sebuah taxi yang berhenti di depannya.
" pak jalan Garda no 24 ya " pinta Erin kepada sopir taxi tersebut.
" baik nona " ucap sopir taxi itu dan kini melajukan mobilnya menuju kesebuah jalan yang cukup jauh dari kota itu.
Hari telah menunjukan pukul 09.23 pagi, di sebuah hotel yang dimana terlihat Rey tengah duduk di sebuah sopa mini di dalam kamar yang semalam dirinya pesan.
" apa kau tidak melihat nya keluar dari kamar? " tanya Rey kepada Romi yang ternyata juga tiba di sana.
" tidak tuan, tidak ada gadis yang keluar dari kamar ini satu jam yang lalu " ucap Romi kepada Rey.
" ck, bagaimana bisa, seharusnya cctv di hotel menyala 24 jam bukan, bahkan mereka mematikan cctv mereka di saat saat seperti itu " gerutu Rey.
" mungkin mereka tidak mengutamakan cctv mereka di hotel mereka tuan " ujar Romi menelaah keadaan.
" astagah perturan konyol apa itu " cetus Rey menyandarkan tubuhnya di sopa.
" tuan? " panggil Romi sesaat pandangannya tertuju kesebuah lertas dan beberapa lembar uang yang di letakan di meja sampingnya.
" mm apa? " sahut Rey singkat.
" apa uang ini di berikan gadis itu kepada tuan? " tanya Romi seketika mengambil alih uang dan selembar kertas yang telah berisikan tulisan.
" uang? (mengingat kembali perkataan Erin) yang benar saja, dia benar benar memberiku uang untuk itu " tukas Rey beranjak dri sopa dan kini mengambil alih kertas yang ada di tangan Romi.
" apa ini? Dia bahakan meninggalkan sebuah pesan tertulis,(membaca pesan tersebut) Rom kau simpan jangan sampai hilang, dan ingat cari gadis itu sampai ketemu kau mengerti, aku tidak peduli sejauh mana gadis itu pergi saat ini, bawa dia kembali kepadaku " ucap Rey beranjak pergi meninggalkan kamar tersebut begitu saja, dan diikuti Romi yang berjalan di belakang pria itu.