
Belakangam ini Tasya seperti mengalami de'javu. Rasa-rasanya kejadian semalam telah di alaminya dua hingga tiga kali. Dan dia sangat yakin, keputusan selama berhari-hari untuk tak menyalakan lampu sudah benar.
"Kok bisa sih anak itu sampai gangguin gue, pantas saja setiap mau menyalakan lampu seperti ada yang janggal,gue tuh selalu ragu."
"Hanya ada dua kemungkinan, dia mau main-main atau menyelesaikan misinya," Kate menjelaskan. "Kalian pernah mikir gak sih, kenapa Aldo dan Hani yang dia bunuh terlebih dahulu. Kenapa bukan kita? Atau gue? Bisa aja kan gue mengerti permainan dia sebelum ataupun setelah di mulai dan mengingatkan kalian untuk selalu waspada."
"Menurut gue sih masuk akal kalau dia bunuh Hani tetlrbih dahulu. Hantu itu punya dendam pada Hani, tentang Hani di masa lalu, mungkin." Jeno kali ini berbicara serius.
"Nah bener banget," Tiro mengangguk-angguk. "Kebetulan Aldo juga punya kekurangan. Dia paling gampang di taklukin di antara kita."
"Gak mungkin," sergah Tasya. "Gak mungkin kalau dia pertama kali membunuh Aldo karna alasan kekurangannya. Keluarganya sudah sebisa mungkin menutupi semua itu. Aldo juga di kelilingi banyak penangkal."
Sebenarnya Tasya tak yakin dengan ucapannya. Namun terkadang perasaan tak rela akan kehilangan kekasihnya dengan cara seperti itu sesekali muncul.
"Sudah di samarkan ternyata," gumam Kate.
"Berarti keluarga Aldo itu tau banyak dong tentang hal-hal seperti ini?" Jeno bertanya.
"Hmm... mereka juga yang memberi tahu kalau gue itu punya aura positif yang ga semua orang punya. Awalnya gue gak percaya, gue sendiri aja gak tau apa-apa. Kok bisa sih mereka yang baru pertama kali gue temui sok-sokan tahu semua tentang gue." Tasya menunduk dalam.
"Nah, cocok" seru Jeno. "Keluarga Aldo gak mungkin menyamarkan kekurangan Aldo kalau dia tidak tahu apa-apa. Dan boneka itu gak mungkin bertahan selama bertahun-tahun bersama Hani tanpa melakukan apapun sebelum kita mainkan. Lo semua kan pinter tuh, coba simpulin." Nada bicaranya terdengar seperti sedang menantang lawan bicaranya.
"Hmm... jadi intinya, kita bisa dapatin semua jawaban itu ke keluarga Aldo dan orang-orang yang terlibat di masa lalu Hani, Tasya mungkin atau pembantu di rumah neneknya."
Kate merasa mual ketika melihat seseorang sedang memakan makanan yang di penuhi belatung di piringnya. Jelas orang itu tak bisa melihatnya. Pasti pemilik warung tempat mereka makan saat ini melakukan pesugihan. Entah untuk keberapa kalinya ia bersyukur karna berada di dekat Tasya. Tak ada satupun hal-hal aneh akan mendekari mereka semua.
"Masa iya sih, jangan gegabah deh. Bisa jadi ini tuh pancingan untuk mengalihkan perhatian kita agar masuk ke dalam permainan selanjutnya," khawatir Tasya. Dia tak mau sesuatu terjadi pada teman-temannya. Tasya tak mampu menghadapi ini semua seorang diri. Sekuat apapun dia, dia tetaplah seorang gadis yang selalu bergantung pada orang lain.
"Iya juga sih, masa iya orang meninggal bisa punya misi. Bukanya yang punya visi misi itu cuma human ?"
"Garing," ketus Tasya.
"Kerupuk," ujar Kate kemudia menggigit kerupuk yang sedari tadi berada di tangannya.
"Jangkrik," sinis Tiro.
***
Tak ada yang menyadari. Sebenarnya bukan hanya Tasya yang selalu mengalami kejadian aneh belakangan ini. Teror itu tak pernah berhenti menghantui mereka semua. Bahkan Tasya yang di sebut-sebut tak bisa di sentuh pun saat ini sudah mulai mendapat gangguan. Apa itu artinya kemampuan yang ia miliki sudah mulai luntur?
"Maaf, selama ini gue selalu mendominasi cerita, selalu ngeluh setiap kita ngumpul, dan gak pernah tahu dan dengar kabar kalian yang sebenarnya. Gue kira semua ini udah berakhir, dan pada akhirnya semua gangguan ini akan gue sendiri yang alami," lirih Tasya.
"Bukan salah lo Tas," Kate mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Pantasan tadi malam gue tungguin, lo gak muncul-muncul. Walaupun gak ada yang perlu di khwatirin, tapi siapa yang tau takdir. Bisa aja semalam gue jadi orang ketiga yang dia bunuh."
"Hemmm... gue gak sempet nolongin lo, satu-satunya cara yaitu buat lo tenang. Dia suka orang ketakutan. Namanya juga bocah, ya suka main." Ujar Kate. "Gue gak bisa milih antara lo dan orang tua gue, gue sayang kalian berdua. Tapi saat gue sadar ini hanya jebakan karna dia mau nyakitin keluarga gue, gue lebih milih untuk nolongin mereka."
"Kita berdua sih gak tau apa-apa tentang kalian tadi malam. Tapi jujur gue sama Jeno gak bisa tenang. Dia gak ngebiarin kita lepas. Kita gak bisa ngeluh di saat kondisi lo yang seperti ini. Kita cuma mau lo jangan pergi lagi hanya karna ngerasa semua kesialan ini berasal dari rasa benci anak itu ke lo." Tiro hanya tersenyum singkat sambil mebolak balik majalah minggu lalu milik Tasya yang menganggur di atas meja.
"Gue minta maaf," lirih Tasya sekali lagi.
"Bukan salah lo," tegas jeno. "Ini semua sudah terjadi, yang bisa kita lakukan saat ini memecahkan misteri. Kenapa ini semua terjadi? Apa sebenarnya yang mereka mau?"
Saat ini mereka semua tengah duduk melingkar. Menikmati kue-kue kesukaan mereka tanpa minat. Meminum minuma --yang selalu mereka perebutkan-- dengan paksa. Tak ada satu pun diantar mereka yang benar-benar fokus pada topik ini.
"Gue gak tau lagi harus apa," keluh Tasya. "Kalian bisa pergi tinggalin gue sendirian disini kalau kalian mau."
"Setelah semuanga terjadi lo suruh kita pergi Tas? Lo sih bisa tanpa kita, tapi kita bertiga gak bjsa tanpa lo!" Tukas Tiro.
"Gak ada yang perlu di debatkan. Cukup tenangkan diri, berfikir jernih, dan bertindak. Bukan cuma lo yang bingung Tas, kita semua bingung harus apa. Dan semua masalah pastinya lebih mudah di hadapi ketika kita semua bersama,"
walaupun terlihat seperti sedang putus asa, namun Kate bukanlah orang bodoh yang mau menyerah tanpa mencoba dan mengahiri semua ini denga keputus asaan yang mungkin akan bearkir seperti temannya, Ana.
Hari sudah mulai gelap. Bukan karna mereka lupa waktu karna keasikan ngobrol seperti dulu. Situasi dan suasan kali ini berbeda. Awalnya mereka bisa melalui semuanya, namun seiiring berjalannya waktu, rasa lelah pasti ada.
"Kita coba cara yang tadi siang gue bilang!"