
ALDO POV
Ada sedikit perasaan tak enak yang Aldo rasakan saat mulai berjalan keluar dari apartemennya. Ia merasa ada sesuatu yang mengikutinya. Ia juga bingung, bukanya apartemennya selama ini adalah tempat yang dia rasa paling aman?.
Aldo mencoba tak menghiraukannya dengan cara menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Walaupun saat ini ia tengah terjebak macet, ia tetap bisa melihat banyak kebahagian di mana-mana. Mulai dari beberapa anak yang bahagia karna ojek payungnya di butuhkan banyak orang yang kehujanan, hingga pengendara motor yang mau tak mau berpelukan dengan agar tak merasa kedinginan. semua itu tak luput dari penglihatan Aldo.
Ia tak pernah salah. Hujan memang menciptakan kebahagia tersendiri bagi setiap orang. Namun tidak untuk Aldo, malam ini ia begitu membenci hujan. Benar-benar benci!
Bahkan sampai detik ini pun hujan masih turun dengan derasnya. Mungkin saja bermaksud untuk membuat suasana hatinya buruk? Entahlah!
Ketika sampai di suatu tempat, Aldo menghentikan mobilnya di depan sebuah terowongan. Dia beberapa kali sempat mendengar rumor dan lagenda bahwa terowangan ini berhantu. Tak sedikit juga orang yang mengatakan ketika mengendarai kendaraan dan melintasi terowongan ini malam hari, akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Saat melintasinya, Aldo merasa ada yang janggal. Bukankah air hujan tak dapat jatuh membasahi kendaraan yang sedang melintasi terowongan? Lalu air apa yang menetes terus menerus di atap mobilnya? Semakin lama ia semakin mendengar jelas suara tetesan air yang turun ke atap mobilnya.
Tetapi hingga Aldo berhasil mencapai ujung terowongan, Aldo kembali menghela nafasnya lega karna tak ada sesuatu aneh yang benar-benar terjadi padanya.
***
Ttiiitt ttiittt... beberapa kali Aldo sempat menekan klakson mobilnya, tapi anak itu tak kunjung pergi. Dia hanya membalikkan badannya mencoba menatap Aldo dengan kedua matanya.
Aldo yang merasa khwatir karna takut terjadi apa-apa pada anak itu, lalu turun dari mobilnya. Ia kemudian menghampiri sang anak, "dek, jangan main di tengah jalan," ujarnya mencoba memberi tahu anak itu. Bukan hanya menghalangi jalan,tapi itu juga akan bahaya bagi keselamatannya.
"Orang tua kamu mana?"
Tak ada jawaban, anak itu tetap diam tak merespon sama sekali. Saat Aldo mendekatkan wajahnya pada anak itu, ia justru di lempari oleh boneka yang anak itu peluk sedari tadi. Tak main-main, lemparan boneka itu mampu membuatnya mundur beberapa langkah membuat semua orang yang melihatnya menjerit.
Aldo bisa mendengarkan jeritan itu dengan jelas sebelum sebuah truk tiba-tiba muncul dari belakang mobilnya menyambarnya begitu saja. Tanpa merasa bersalah, sang pengemudi justru menambah kecepatan kendaraannya hingga tubuh Aldo masuk kedalam kolong truk dan sempat terlindas oleh salah satu ban belakangnya.
Aldo yang masih sadar justru mencari keberadaan anak yang tadi sudah melemparinya. Di keadannya yang sedang berjuang antara hidup dan mati, ia masih mengkhwatirkan anak kecil yang telah membuatnya celaka.
Kedua mata Aldo berhasil menemukannya. Walaupun hanya samar-samar Aldo sangat yakin jika anak itu sekarang tengah berada di atas mobilnya menogkang-onkang-kan kakinya seraya tersenyum manis pada Aldo.