Tasya Story

Tasya Story
THIRTEENTH!



"kakak jahat!" Kata-kata itu terus menggema di pendengarannya dan mengikuti kemanapun ia pergi. Yap, ada dimana-mana.


Saat di kamar mandi, dia muncul dan mendudukkan dirinya dengan wastafel di gunakannya sebagai tempat duduk. Saat belajar, dia terus membolak balik halaman buku yang sedang Kate baca. Bahkan dengan sengaja ia duduk di pundaknya membuat air dari rambut panjangnya meneres membasahi beberapa bagian buku.


'Ck' Kate mulai kesal, itulah yang anak itu ingankan dari orang-orang yang ia ganggu. Membuat orang-orang kesal bagaikan mainan bagunya. "sungguh menyusahkan" guman Kate.


Saat Kate hendak tidur, lagi-lagi Kate menemukannya sedang memperhatikan dirinya dari atas lemari pakaian. Kate meliriknya sekilas lalu kembali menjadi dirinya. Pura-pura tak tahu.


Ketika membalikkan badan ke samping, entah sejak kapan anak itu sudah berada di sampingnya ikut merebahkan diri dengan kodisi tubuh basah kuyup. Kate pernah berfikir, apakah anak itu tak pernah mengeringkan tubuhnya? Apakah badannya selalu basah kuyup? Apakah hantu tak pernah merasa kedinginan?.


***


Lagi-lagi gangguan menghampirinya. Kate terbangun di tengah malam. Bukan karna mimpi buruk, namun karna ia merasa sesuatu mengenai punggung belakangnya. Ia kemudian menyalakan lampu, bercak darah terlihat jelas dari spray putih polos yang terpasang rapih pada tempat tidurnya.


Tangannya meraba-raba sekitar tempat yang terdapat bercak darah, ia menemukan isi kasurnya sedikit keluar. Bagaimana bisa?. Lalu Kate mengecek bawah tempat tidurnya.


Seorang anak kecil menoleh dari bawah tempat tidurnya, menampilkan senyuman yang lama kelamaan semakin melebar merobek kulit wajahnya hingga ketulang pipi. Kedua tangannya memegang boneka jelangkung yang sedang ia dan teman-temannya cari. Badan dari boneka itu terbuat dari kayu yang terlihat sangat runcing dan di tusuk-tusukkan pada bawah tempat tidurnya.


Karna telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Kate menyerah kemudian bangkit lalu mendudukkan diri di sisi tempat tidurnya. Sejak lahir ia memang di tuntut untuk semua ini. Tak mau ikut campur dan tak perduli dengan dunia mereka. Walaypun awalnya sangat sulit, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usianya ia mulai terbiasa dengan gangguan dan berbagai keusilan mereka. Dia menuntut dirinya sendiri untuk bisa menahan diri agar tak bereaksi berlebihan yang kemudian akan mengundang perhatian banyak orang. Karna itulah ia tumbuh menjadi seorang pribadi yang dingin dan cenderung tak perduli dengan keadaan orang-orang sekitarnya.


Satu lagi kelebihan yang ia miliki. Kate bisa membaca fikiran orang lain, dan itu sangatlah menyakitkan baginya.


"Mau lo apasih?" Tanya kate yang sudah tak tahan dengan semua gangguan yang ia terima. Walaupun hanya seorang anak kecil, namun sikapnya tak menunjukkan seperti anak kecil pada umumnya. Dia terlihat seperti menyimpan dendam, mungkin.


"Kakak jahat! Gak mau kasih tau pak polisi siapa yang bunuh aku" cemberutnya. Sekarang Kate tahu apa penyebab anak ini selalu basah kuyul dan tak oernah merasa kedinginan. Pertama, dia adalah korban pembunuhan, kemungkinan besar berhubungan dengan air, entah itu disiram ataupun di tenggelamkan. Kedua, dia adalah hantu, mana mungkin dia bisa merasa kedinginan.


"Urusannya sama gue apa?" Ketus Kate.


"Katanya kakak bisa baca fikiran orang, gimana sih" ujarnya kesal.


"Gue cuma bisa baca fikiran orang, bukan hantu" ucapnya tak kalah kesal.


"Oh gitu ya," ijarnya ber-oh ria ketika mendengar jawaban dari Kate. "Kalau gitu kakak baca fikiran temen kakak aja," lanjutnya.


Kate mengerutkan kening. Fikiran siapa yang harus ia baca?. Dia bisa membaca fikiran orang lain, tapi tidak untuk semua orang. Ada beberapa orang yang tak bisa ia baca, ada juga yang samar-samar. Kemampuannya satu ini juga tak berlaku pada teman-temannya, inilah alasan Kate menerima mereka sebagai temannya dulu. Namun rasa penasarannya berangsur berkurang ketika untuk pertama kalinya ia mengerti arti pertemanan yang sebenarnya.


Setelah mengucapkan semuanya dan menimbulkan tanda tanya besar difikirannya. Anak itupun lenyap, menghilang begitu saja bagaikan asap yang menghilang berbaur dengan udara disekitarnya dan meninggalkan sebuah boneka tempurung kelapa yang sangat lusuh namun tak basah.


Malam itu, ia benar-benar tak bisa terlelap ketika mengingat akan satu hal. Tak sembarang orang bisa memiliki boneka itu, apalagi dia berhasil menyimpannya sehak lama. Apa ini semua ada hubungannya dengan asal-usul boneka itu?