Tasya Story

Tasya Story
TWENTY FOURTH!



"Aldo." Panggil Tasya dengan hati berbunga-bunga di tengah taman bunga. Tasya tak mungkin salah lihat, itu benar Aldo.


Aldo yang merasa namanya di panggil seseorang kemudian berbalik dan tersenyum hangat lalu merentangkan tangannya agar Tasya datang memeluknya.


Tasya berlari secepat mungkin. Dia begitu merindukan kekasihnya. Saat jarak di antara mereka tinggal beberapa langkah lagi, Aldo berubah menjadi sosok hantu anak kecil yang selalu mengganggunya.


Anak itu terlihat sangat memprihatinkan. Kedua tangannya terantai oleh rantai besi dengan warna merah menyala karna terbakar dan sekujur tubuh yang di penuhi lebam. Lehernya terikat oleh tambang yang diikatkan pada sebuah pohon di tepi jurang. Dia mencoba mengulurkan tangannya memohon pertolongan pada Tasya. Sepertinya sebentar lagi dia akan didorong ke dasar jurang yang dibawahnya terdapat banyak hewan pemangsa.


"Kak, tolong aku," lirih gadis kecil itu.


Tasya diam mematung, berfikir apakah dia harus menolong anak itu atau pergi mencari Aldo. Tapi Tasya tak tega membiarkannya.


"Tasya, tolong," Saat hendak menolong, Tasya mendengar suara Aldo dari arah belakangnya. Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa mereka berdua meminta pertolongan Tasya. Ia tak bisa memilih harus menolong siapa terlebih dahulu. Saat ini posisi Tasya sangat dekat dengan anak itu, tapi Tasya mungkin membiarkan Aldo celaka. Apakah itu benar Aldo atau tipuan kedua?


Banyak sekali pertanyaa dan keraguan yang timbul difikirannya. Lagi-lagi fikirannya seolah sedang di perebutkan.


"Tasya tolong aku," teriak Aldo.


"Kaka," lirih gadis itu dan berusaha menggapai lengannya.


"Tasya, tolong aku Tasya," sekali lagi Aldo memanggilnya.


Karna bingung harus memilih siapa terlebih dahulu yang harus ia tolong, Tasya kemudian menutup kedua kupingmya dan memejamkan kedua matanya sesaat. Ia merasa perlu menenangkan diri agar bisa berfikir dan tak asal bertindak. Karna ini bukanlah tentang siapa yang harus ia tolong, tugasnya disini adalah mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah beberapa saat, Tasya mulai memasang kuping baik-baik, menajamkan pendengarannya, mendengarkan jeritan dan rintihan yang terdengar dalam satu waktu bersamaan dari mereka berdua. Berdua? Tasya hanya melihat dua orang di sekitarnya, namun ia mendengar dengan jelas ada tiga suara yang berbeda.


Tasya mencari-cari dari mana asal satu suara yang lainnya. Dan benar saja, saat mendongakkan kepalanya, Aldo berada tepat di atas kepalanya. Kali ini ia sangat yakin jika dia adalah Aldo yang asli, Aldo yang benar-benar membutuhkan pertolonganya.


Saat baru satu langkah, kedua sosok yang menyerupai Aldo tadi lenyap seketika dan hanya menyisakan dia dan Aldo saat ini. Berbeda dengan yang tadi, Aldo yang asli hanya mampu memanggilnya lirih dengan suara yang sangat menyedihkan.


Ketika menyadari keberadaan Tasya, senyum Aldo mengembang. Tangannya mencoba meraih lengan Tasya yang mengulurkan tangan. Tak lama, senyum itu menghilang dan berubah ketakutan.


"Lari tasya, lari," teriak Aldo. Namyn Aldo tak menghiraukannya, dia terus berupaya meraih Aldo tapi Aldi selalu menepisnya.


"Tidak, jangan mendekat. Pergi!" Usirnya sekali lagi.


Walau tak yakin dengan pilihannya, akhirnya Tasya memutuskan untuk pergi meninggalka Aldo. Ketika badannya sudah berbalik dengan sempurna, semuanya berubah menjadi hitam. Gelap. Dan setelah itu dia terbangun diatas ranjangnya denga kondisi tubuh yang banjir dengan air keringat dan nafas yang memburu.


Pemandangan pertama yang lihat adalah langit-pangit kamarnya yang dihiasi oleh tempelan bintang, bulan, dan di sebelahnya ia melihat wajah teman-temannya yang cemas. Lalu... anak itu? Ternyata dia juga ada disini, tersenyum ke arahnya dan berbisik, "panggil aku gara," setelah itu dia berubah menjadi seorang pria biasa dan berjalan keluar menembus dinding kamarnya.


"Kate lo juga liat dia kan?" Tanya Tasya pada Kate karna dia yakin jika teman-temannya tak mampu melihat itu.


"Enggak, tapi gue bisa ngerasain ada aira negatif di ruangan ini," jelasnya.


"Petunjuk apa yang berhasil lo dapat?" Tanya Tiro langsung pada intinya.


"Gak banyak sih, gue lihat Ada tiga Aldo. Mereka semua tampak menyedihkan dengan luka yang berbeda. Saat gue mendekati Aldo yang pertama, dia berubah menjadi sosok anak yang selalu ganggu kita. Walaupun gue gak sempat datangi Aldo ke dua, tapi gue yakin kalo Aldo ketiga itu adalah Aldo yang asli. Jadi gue lebih milih dia, dia keliatan seneng banget waktu tahu ada gue disana. Tapi tiba-tiba di berubah, dia gak mau gue tolongin, dia nepis tangan gue setiap gue hampir nyentuh dia. Dia juga ngusir gue bahkan berkali-kali memohon supaya gue pergi dari sana. Saat gue mutusin untuk pergi, semuanya berubah jadi gelap dan gue bangun."


"Tiga Aldo?" Kening Jeno sedikit mengerut. "Kok bisa sih."


"Jangan-jangan, dua dari tiga Aldo yang lo temuin sebenarnya ada niat gak baik sama lo, tapi karna lo punya aura positif jadi setiap lo deketin, mereka akan berubah jadi wujud asli mereka." Tebak Tiro.


"Bisa jadi, gue rasa juga kemampuan lo meningkat. Buktinya lo udah mulai bisa lihat makhluk lain sedangkan gue enggak. Gue yakin, kalau arwah yang gak bisa gue lihat itu berarti dia punya energi negatif yang kuat. Kita harus hati-hati," ujar Kate.


"Apa itu tandanya arwah Aldo gak tenang disana?"


"Heemm... Kalau menurut gue, kita harus selesain masalah ini. Walaupun itu mustahil bagi kita yang bukan apa-apa melawan mereka."


"Coba lo perjelas maksud dari kata 'mereka' itu apa?" Tuntut Jeno, "siapa aja?" Lanjutnya.


"Hmm... gini yah, gue rasa ini tuh terlalu mustahil dilakuin oleh seorang anak kecil walaupun dia punya energi yang besar gue yakin banget kalau dia enggak sendiri," ujar Kate.


"Jadi sebenarnya yang ganggu kita selama ini tuh bukan cuma dia?" Tasya tampak terkejud. "gila, pantesan aja main bunuh-bunuhan, padahal dia kan anak kecil."


"Oh iya, bukanya dulu waktu main jelangkung itu Kate sempat bilang kalau kita bukan hanya manggil dia, tapi mereka, inget gak?" Ujar Jeno.


"Iya gue inget," seru Tiro.


"Iya juga yah. Kalo di pikir-pikir masalah kita tuh lebih rumit setelah memainkan boneka itu," Jeno mengusao dagunya. Dia mencoba mengingat kejadian dimana dirinya di ganggu oleh anak itu saat berada di dalam lift apartememnya.