
Keesokan paginya setelah mereka semua mendapat gangguan, mereka kembali berkumpul, dimana lagi kalau bukan rumah Tasya. Ada yang kurang, Kate tak ada. Ponselnya tak bisa di hubungi sejak pagi tadi.
"Gue heran, diantara kita cuma lo doang yang gak kenal sial Tas" Ujar Tiro menatap lekat manik coklat sang Tasya.
"Heemm... kok bisa yah, pake penangkal apa lo Tas?" Tanya Jeno cekikikan.
"Iya, bagi-bagi dong" canda Hani menimpali guyonan Jeno.
"Kate kemana ya?" Tanya Tiro pada teman-temannya yang di balas dengan gelengan kepala. "Apa dia juga di ganggu seperti kita?"
"Mungkin, buktinya kalian semua di ganggu dan hanya gue yang enggak, ehh... atau belum ya?" Ujarnya memikirkan ucapannya sendiri.
Braakk...
Pintu rumah Tasya di dorong secara paksa dari arah luar menunjukkan seorang gadis berparas cantik menunjukka raut wajah emosinya namun terkesan dingin.
Ini sudah kesekian kalinya Tasya melihat Kate mendobrak pintu, perempuan itu benar-benar sangat kuat. Apakah salah jika Tasya pernah berfikir mengapa Kate tak menjadi atlet karate saja untuk memanfaatkan kelebihannya, bukan malah mendobrak pintu rumah orang lain seenaknya.
Kate kemudian berjalan masuk lalu mengambil posisi tepat di tengah teman-temannya dan mendudukkan bokongnya di salah satu kursi kosong.
Tak mau berbasa-basi, Kate segera mengeluarkan mengeluarkan boneka tempurung kelapa dan di lemparkannya tepat di hadapan Hani. "Apa lo bisa jelasin ke kita dari mana li dapet boneka itu?"
"Gak kebalik Kat? Harusnya kita yang nanya dari mana lo dapet boneka itu! Semalam kita cari tuh boneka ternyata lo yang ambil. Pantes aja gak ketemu" ujar Tiro menuduh Kate dengan nada suaranya yang tinggi.
"Apa jangan-jangan lo sengaja ya mau nyelakain kita dengan cara manggil arwah itu dan menyembunyikan boneka itu supaya kita gak bisa menyelesaikan ritual tadi malam. Jahat banget sih lo!" Timpal Hani tak kalah emosi.
"Apaan sih lo berdua, Kate gak mungki jahat sama kita" ujar Jeno melerai teman-temannya.
"Lo berdua lupaya, kita semua udah sepakat dari awal untuk memainkan permainan ini, lagian yang ngusulin ini li kan Han?" Ujarnya sembari memandang Hani yang sepertinya tak terima mendengar penjelasan Tasya. "Dan lo juga yang paling pertama setuju dan bujuk Kate buat ikut permainan ini kan Tir?" Sekali lagi Tasya mengingatkan temannya secara bergantian.
"Gue juga di ganggu sama seperti kalian" Kate mulai angkat suara. Pandangannya lurus kedepan seolah menerawang sesuatu, sesekali ia juga melirik ke arah Hani. "Dia merusak tempat tidur gue dengan cara menusuk-nusuk kasur gue menggunakan ini" ujarnya menunjukkan bagian runcing dari boneka itu.
"Dia seolah memberi suatu petunjuk, dan saat itu juga gue sadar akan satu hal. Ritual kemarin bukan sekedar permainan, sudah pasti pemilik boneka ini juga bukan orang biasa" Kate menghela nafasnya kemudian menatap tajam Hani. "Gak usah bertele-tele, jawab pertanyaan gue sesingkat mungkin. Lo dapat boneka ini dari mana?" Tanyanya mengangkat boneka itu hanya dengan satu tangannya.
"Gue kan pernah bilang, gue sering main permainan ini sejak kecil. Lagian itu boneka temen gue, bukan punya gue" jawabnya.
"Ya bisa lah" jawaban Hani mulai membuat Kate semakin curiga dan manarik perhatian teman-temannya.
"Kenapa?" Bentak Kate.
"Karna gue gak mungkin balikin boneka ini ke dia. Setiap gue mau buang boneka ini, gue selalu dihantui rada bersalah atas perbuatan gue di masa lalu. Puas lo?" Hani sudah tak tahan di sudutkan begitu, tak ada satupun yang membelanya. Semuanya bersikap seolah menuntut penjelasannya juga.
"Benerkan dugaan gue. Boneka ini gak akan dimiliki seseorang jika bukan dia yang membuatnya."
"Gue gak nyangka ternyata lo dalang di balik semua kejadian ini" kini giliran Hani yang disalahkan oleh Tiro.
"Tenang aja, anak itu cuma mengganggu kita, kecuali lo" ujar Kate seolah menunjuk Hani menggunakan arah pandang matanya.
"Kok gue sih" rengem Hani ketakutan.
"Dengerin gue, walaupun Hani yang memeberikan saran, tali ini semua gak akan terjadi kalau kita gak ada yang setuju. Buktinya, kita semua setuju dan antusias banget dari awal" lanjut Kate memberikan penjelasan pada teman-temannya.
"Iya, gak ada yang salah disini. Ini semua di luar kehendak kita, gak ada gunanya juga kalau kita terus-terusan berdebata" timpal Tasya.
"Sekarang kita harus gimana?" Tanya Jeno.
"Lo harus hati-hati Tas" lirih Kate memperingati Tasya.
"Gue kenapa emangnya?" Tanya Tasya bingung. Pasalnya, Kate hanya memberikan informasi yang setengah-setengah.
"Gue tau lo punya aura positif" terang Kate.
"Lo kok tau" tak ada yang tau jika Tasya memiliki aura positif selain dia dan keluarga Aldo. Namun, Tasya pun masih meragukan hal itu.
"Cuma nebak" jawab Kate sekenanya.
"Terus apa hubungannya dengan peringatan lo Kat? Justru karna gue punya aura positif gue bisa tenang dong , dia kan gak bisa nyentuh gue" seru Tasya.
"Tas, dia emang gak bisa nyentuh lo, tapi tidak dengan orang-orang yang lo sayang. Mungkin yang dia dapat akan lebih dari sekedar gangguan" ujarnya menjelaskan kekeliruan Tasya. Dirinya memamg aman tapi tidak dengan orang-orang di sekitarnya.