Tasya Story

Tasya Story
TWENTY THIRD



"Atas dasar apa gue harus percaya sama semua cerita lo Kate?" Tasya bersikeras tak mau meminta maaf pada arwah itu, dia yakin sekali jika ia tak pernah melihat seorang anak yang Kate cerutakan.


"Lo harus percaya, gue ini bisa melihat, gue kan indigo," jawab Kate yang berusaha keras meminta Tasya untuk meminta maaf pada arwah anak itu.


"Bagaimana kalau apa yang lo liat semua itu hanya tipuan? Bagaimana mungkin manusia bisa kembali ke masa lalu? Gak masuk akal banget Kate," Tasya tetap tak mau. Sebelumnya Tasya selalu percaya pada Kate, namun entah mengapa saat ini dia tak bisa percaya begitu saja.


"Kate, lo gak bisa dong maksa dia untuk minta maaf, itu hak Tasya. Apa urusannya Tasya sama semua ini? Kenapa juga anak itu dendam pada Tasya? bukanya yang ngebunuh dia itu si perempuan penculik yang memalsukan identitasnya kan?" Jeno sangat jengah dengan mereka berdua. Kate bersikeres memaksa Tasya untuk meminta maaf, dan entah dengan alasan apa Tasya juga berulang kali menolaknya. Pasti ada alasan kuat yang membuay Tasay melakukan ini.


"Gue juga gak yakin sih sebenarnya, tapi coba deh lo ingat-ingat lagi Tas, karna ini semua pasti ada hubungannya dengan kesalahn lo. Kalau enggak, gak mungkin dia yang tadinya hanya berniat mengganggu berbelok haluan jadi membunuh," ujar Kate.


"Gue gak yakin sih, tapi belakangan ini gue sering ngalamin de javu, tapi gak lama. Sebelum semuanya berhasil gue cerna, tiba-tiba semuanya hilang seperti di rebut secara paksa dari fikiran gue," keluh Tasya pada teman-temannya.


"Rasanya tuh kayak ada sosok yang memperebutkan posisi di fikiran gue. Mereka emang gak bisa nyentuh gue, tapi dengan mudahnya mereka mengobrak-abrik fikiran gue. Terkadang gue ngerasa bersalah setelah mendengar cerita lo Kate, tapi setelah itu fikiran lain muncul. Seolah-olah memberi peringatan agar gue hati-hati sama dia yang membuat gue ngerasa terancam," Tasya benar-benar mencertiakan semua yang ia rasakan, karna dia tahu, tak ada tempat ternyaman untuk menumpahkan semua keluh kesahnya selain pada teman.


"Apa yang lo rasain sekarang?" Kate ingin mengetes Tasya. Bukan mengetes kejujurannya, hanya memastikan saja jika tak ada yang benar-benar mengganggunya.


"Aldo," lirih Tasya.


"Menurut gue, ini pasti ada hubungannya dengan Aldo. Tapi apa ya?" Sangat sulit bagi Kate untuk menyatukan fuzzle yang berasal dari dua pemikiran yang berbeda.


"Mungkin aja ada yang mau Aldo sampaikan ke lo, tapi ada yang menghalangi. Jadi mereka tuh semacam perang untuk menguasai fikiran lo," tebak Jeno dengan mengandalkan teori anim yang sering ia lihat di televisi.


"Maksud lo, Aldo mencoba memberi tahu sesuatu tapi ada yang mencegahnya, gitu?" Tiro mencoba menyederhanakan kalimat Jeno yang terlalu tinggi bagi mereka.


"Bener banget," seru Jeno.


"Tinggi banget ya kata-katanya," Tasya tertawa lepas.


"Aldo, kalo bener itu lo, tolong kasih kita petunjuk," teriak Kate .


Tekk...


Ranting pohon di belakang mereka tiba-tiba patah. Mereka saling melemparkan tatapan satu sama lain. Dengan ukurannya ranting pohon itu yang cukup besar, tak mungkin jika ranting itu patah karna angin.


"Itu Aldo?" Tanya Jeno yang terkejud. Karna tak tahu melihat apapun, Kate hanya menggelengkan kepalanya.


"Gimana sih, lo kan indigo, kok gak tau kalau itu Aldo atau bukan," ujar Tiro yang masih setengah sadar.


Sedangkan Tasya, ketika mendapat petunjuk yang ia yakini itu adalah Aldo, ia segera menghampiri pohon itu dan memeluknya erat seperti sedang memeluk seseorang yang benar-benar ia rindukan.