Tasya Story

Tasya Story
TWENTY FIFTH!



Tak ada yang mengalahkan lucunya


suara anak kecil. Kecuali jika saat ini jam


satu malam dan kau sedang sendiri.



\*\*\*


Belakangi ini Tasya selalu mengalami insomnia setiap malam. Matanya tak bisa tertutuo sempurna sebelum lewat tengah malam. Setiap memasuki kamarnya, ia juga tak pernah merasa tenang. Matanya tak bisa melihat apapun karna kamarnya yang gelap sejak dua jam yang lalu.


Beberapa kali ia sempat mendengar suara aneh. Tangisan anak kecil yang lama kelamaan berubah menjadi tawa terbahak-bahak, bunyi pintu lemari yang seolah sedang di buka-tutup terus menerus, suara kaca kamar yang di ketuk. Dan yang lebih parah lagi, suara itu semua berasal dari dalam kamarnya sendiri.


Untung saja saar itu Tasya sudah mulai mengantuk --dan tak menghiraukan itu semua-- setelah berjuang selama berjam-jam. Mungkin ini karna dia merasa sedikit ketakutan setelah membaca cerita yang sangat menakutkan dari internet.


Mungkun sudah takdir, Tasya mengalami kejadian ini semua di saat dirinya tengah sendiri di rumah karna kedua orang tuanya sedang berada di luar kota.


Tasya merasa tidurnya sangat singkat. Dua melirik jam dinding di atad meja. 01.00, benar saja, dia hanya terlelap tak lebih dari satu jam.


Bulu kuduk Tasya berdiri, mungkin ini karna suhu dikamarnya terlaku rendah, di tambah lagi dengan cuaca buruk di luar dan yang sebentar lagi akan turun hujan.


Kriittt... suara pintu lemarinya di dampingnya kembali berderit. Sepertinya ada sosok yang berusaha keluar secara perlahana dari dalam sana.


Tasya menggigit bubir bawahnya mencoba untuk tetap tenang. Dia tidak bisa tertidur kembali karna khawatir dan merasa tak nyaman karna fikurannya terus bertanya, apa yang sebenarnya terjadi?


Dugh... tak salah lagi, memang ada yang tak beres saat ini. Secepat mungkin Tasya segera menyalakan lampu tidur yang berada di sampingnya. Saat itu juga Tasya menyesali tindakannya itu. Tasya sadar suara yang ia dengar tadi adalah suara seorang anak yang terlempar keluar dari dalam lemarinya.


"Kenapa lampunya di nyalain?"


"Akan aku matikan sekarang!" Suara dan badan Tasya mulai bergetar di tambah lagi dengan degub jantungnya yang sangat berdebar.


"Kenapa?"


Kuping Tasya berdengung seolah menolak setiap kara yang terucap dari mulut sosok didepannya.


"Mau tidur atau udah tau?"


Tasya mencoba untuk tak menghiraukannya lagi. Namun dia sudah tak tahan lagi saat wajahnya mulai merasakan belaian lembut namun berbau busuk. Tasya turun dari tempat tidurnya kemudian berlari secepat tenaga menuju ke lantai bawah dimana dia bisa menghubungi siapapun melalui telefon rumahnya.


Tasya mendengar suara barang-barang berjatuhan. Gedoran dan cakaran kuku pada pintu kayu kamarnya terdengar nyaring. Hanya menunggu waktu sebelum akhirnya rusak.


Tasya meneguk ludahnya. Jika pada umunya hantu akan muncul secara tiba-tiba dari arah yang tak terduga, anak ini justru memilih untuk mencul seperti anak kecil pada umumnya. Berlarian kesana kemari dan tertawa.


Tak ada pilihan lain, ia harus segera meminta bantuan. Kate, satu nama yang terlintas di pikirannya. Harusnya Kate sudah tahu jika saat ini Tasya sedang dalam bahaya seperti halnya dia yang mengetahui Hani dalam bahaya pada waktu itu.


"Ketahuan, hahahaha..."


Tasya sudah mengira itu. Cepat atau lambat pasti anak itu akan menemukannya.


Dengan keberanian yang masih sangat kecil, Tasya berusaha mendonggakkan kepalanya. Anak itu sedang berusaha memanjat besi pembatas disana. Tak lama, dia sudah berada di bawah dengan cara terjun bebas.


Cipratan darah berhamburan. Darah merayap mengikuti garis sebelum akhirnya mengenai kaki Tasya yang sedang berdiri di ujung sana.


Berbau busuk.


Anak itu lalu bangkit begitu saja seperti tak merasakan apapun. Sedangkan Tasya yang melihatnya saja merasa sangat pusing dan mual membayangkan nyerinya.


Kringg...kringg...kringg


Akhirnya bantuan yang ia harapkan datang. Tasya sangat yakin itu adalah Kate. Sebelum mengangkatnya Tasya melihat respon anak itu dan merasa memiliki sedikit kesempatan, sepertinya ada sesuatu dengan nada dering telfon itu.


"Tasya, lo gak perlu takut. Anak itu gak mungkun nyakitin lo, dia cuma mau main-main. Dan lo juga gak perlu tanggapi secara berlebihan. Cukup dengan pura-pura tak melihatnya, itu bisa membuat dia kesal dan berhenti bermain. Kalau lo bertanya kenapa gue gak datang nolongin lo sekarang, itu karna gue tau lo gak dalam bahaya." Tut...tut..tut..


Sambungan terputus. Kate bahkan tak memberikan Tasya kesempatan untuk berbicara sepatah katapun. Menelfon secara tiba-tiba dan pergi begitu saja.


Tanpa buang waktu lagi, Tasya segera melakukan apa yang Kate perintah kepadanya. Tasya menarik nafas, mengumpulkan keberaniannya terlebih dahulu. Ia kemudian berjalan begitu saja keninggalkan anak itu yang masih terdiam kaku di tempatnya, bahkan dengan beraninya Tasya menginjak genangan darah berbau busuk yang sempat membuatnya hampir pingsan tadi.


Tak disangka, tubuhnya bisa menembus sosok di depannya. Tasya sedikut terkejud, namun segera menepisnya jauh-jauh.