
"Haii," tiba-tiba mereka semua mendengar suara Tasya. Dan benar saja, saat ini Tasya sudah berada di belakang Kate lalu menarik kursi yang ada di sebelah Jeno dan menjatuhkan dirinya disana.
"Tasyaaaaa," teriak Kate yang sangat bahagia ketika melihat Tasya sudah kembali seperti Tasya yang ia kenal dulu. Walaupun itu hanya tipuan, ia sangat yakin jika senyumannya itu menyimpan banyak luka di dalam hatinya.
"Lu ngeremnya lama banget dah, udah netasin berapa anak?" Sindir Jeno yang sebenarnya sangat merindukan sahabatnya ini.
"Giliran gak ada lo cariin, sekarang orangnya udah ada lo gituin. Labil lo kayak anak tk!" Tiro kali ini menyela.
"Lo udah baikan Tas?" Gadis dingin di hadapannya itu bertanya dengan nada khawatir.
"Iya gak papa kok."
"Ck" entah mengapa Jeno terlihat sangat kesal pada Tasya hari ini. "Emang ya cewek, kalo di tanya kenapa jawabannya pasti gak papa."
"Lo marah sama gue Jen?" Tasya yang mulai menyadari sikap Jeno pun merasa jengah. "Maafin deh, gue udah ninggalin lo lama banget," kekehnya.
"Sok penting banget sih lo," cibir Jeno. Tasya hanya bisa tertawa melihat temannya yang sedang dalam mode marab.
"Eh iya, Hani mana?" Tanya Tasya yang tak melihat batang hidung temannya yang satu itu.
"Telat kali, biasanya juga kan gitu," jawab Tiro singkat.
"Perasaan gue kok gak enak yah," ujar Kate terus terang.
Hani, rumah, boneka, Thalia.
"Kate," Tiro memanggil. Kate menoleh, menatap pemuda yang menyentuh lengan atasnya dengan tatapan khawatir. "Lo gak pa-pa?"
"Iya gak pa-pa," dia mengangguk. Memijat pelipisnya lalu beralih ke pangkal hidungnya. Beberapa hari ini fikirannya sangat sulit di kontrol. Ia pun bingung, tak biasanya ia seperti ini.
***
Sudah dua hari ini Hani tidak masuk kuliah. Entah apa yang terjadi pada gadis itu. Sudah beberapa kali juga Tasya berusaha mencari kabar tentangnya, namun hasilnya nihil. Walaupun Hani jarang berada di sisinya saat dia sedang membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, tapi bagaimana pun juga dia tetaplah sahabatnya. Selamanya!
Selama ini bukannya Tasya tak sadar jika Hani seperti menjauhinya, Tasya sangat tahu sikap anak itu. Hani adalah orang yang tak mau ikut campur urusan orang lain, dia juga menghargai privasi orang lain. Itulah sebabnya Hani terlihat seperti tak begitu memperdulikannya.
Tasya sempat beberapa kali mengajak teman-temannya untuk menjenguk Hani, tapi mereka semua menolak.
Jujur, dia sangat merindukan Hani. Jika dia berada di sampingnya sekarang, sudah dapat di pastikan jika kuping Tasya akan sakit mendengar ocehan tak pentin dari bibir cerewetnya. Apalagi jika dia bersatu bersama Jeno.
Pelajaran pertama dimulai, membuat Tasya bisa sedikit melupakan perihal Hani yang sudah mengganggu pikirannya belakangan ini. Hari ini juga adalah hari pertama Tasya kembali kuliah dengan normal. Tak ada lagi ketakutan menghantuinya. Sudah cukup dia menyalahkan dirinya sendiri. Sekarang waktunya untuk bangkit.
***
"DOORRR," suara Jeno memecah keheningan.
"Hatiku sangat kacau," lanjut Tiro. Sepertinya suasana hatinya sedang baik hari ini.
"Ngelamuni apa sih Kat, serius banget. Muka lo sampai pucet gitu," tasya Menjatuhkan dirinya di samping Kate membuatnya sedikit bergeser.
Terlalu panjang ceritanya jika Kate harus menjawab pertanyaan Tasya. Dia juga yakin jika Tasya tak sedang benar-benar bertanya. Pasti dia mengetahui sesuatu tentangnya dan ingin memastikan semua itu dari ucapannya sendiri.
"KATEEEE!" Tasya memanggilnya lagi, Kate hanya menoleh dan menatapnya.
"Apa lo tau sesuatu Kat?" Tanya Tasya. Dia ingin sekali Kate menceritakan tentang dirinya tanpa ia tanya terlebih dahulu.
"Kalo gue gak salah nangkep, lo itu indigo ya?" Tanya Tiro -- yang mulai tertari dengan topik pembicaraan mereka --
Kemudian melipat kedua tangannya siap mendengar cerita.
"Iya juga yah," sahut Jeno. "Kalau enggak, lo gak mungkin tahu kalo hani waktu itu hampir mati, padahal dia kan lagi ada di dalam kamar mandi kamarnya. Orang-orang di rumahnya aja gak ada yang tau. Belum lagi tentang Tasya yang punya aura positif jadi setiap kita dekat sama dia, kita aman, dan yang terakhir Alm. Aldo. Lo tau dari mana kalau dia itu dalam bahaya?"
"Gue cuma nebak," elak Kate.
"Gak adil tau gak, lo tau semua tentang kita sedangkan kita gak tau apa-apa tentang lo," ujar Tasya hati-hati karna tak mau menyinggung perasaan Kate.
"Kalo gue indigo kalian mau apa? Bacain fikiran kalian? Atau mau nanya siapa korban selanjutnya? Percuma! Gue emang indigo tapi gak setiap waktu gue bisa liat. Walaupun terkadang gue bisa baca fikiran dan nasib seseorang," emosi Kate sedikit terpancing. Seharusnya dia diam saja tak perlu meladeni teman-temannya yang hanya ingin tahu.
Berbeda dengan Jeno dan Tiro yang tampat terkejud, Tasya justrj sedang menvoba untuk mencerna maksud dari perkataan Kate sebenarnya.
"Maksud lo apa?" Tanya Tasya.
"Apanya yang apa?" Kate balik bertanya.
"Korban selanjutnya. Gue yakin banget kalo tadi lo tuh bilang korban selanjutnya, maksud lo apa?" Tasya panik, ia mencoba untuk meyakinkan dirinya jika ini semua tak ada hubungannya dengan Hani.
"Ya gitu," jawabnya santai.
"Kate, jawab yang bener! Perasaan gue gak enak tau. Apa ini ada hubungannya dengan Hani yang sudah berhari-hari gak masuk?"
"Maybe," lagi-lagi dia hanya merespon semuanya dengan santai.
"Jangan main-main lo Kat, anak orang tuh," ujar Tiro.
"Lo gak main-main kan? Kalo lo lagi main-main, gue gak suka sama permainan lo. Gue juga kangen banget sama Hani, semenjak dia gak nongol gak ada lagi yang mau main sama gue," Jeno terlihat sangat sedih.
Tiba-tiba kepala Kate terdorong hingga keningnya mengenai meja di hadapannya. Jika saja tadi Tasya tak menggeser tempat sendok dan garpu, Kate tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika salah satu atai bahkan kedua matanya akan tertusuk.
Saat keningnya masih setia menyentuh meja, Kate sempat mengumpat dan membalikkan wajahnya ke arah kirk.
DUUKK...
Sebuah kepala terjun bebas dari atas tersaji rapih di atas meja seperti siap untuk disantap. Matanya melotot, dengan rambut panjang yang menutupi luka bekas bacok di samping wajahnya -- tepat di atas telinga--. Hanya dalam satu kedipan, semua kembali normal. Ini sudah terlalu biasa bagi seorang Kate.
"Lo gak papa?" Tanya mereka semua bersamaan.
"Enggak kok, huaaaa...." Kate menutup mulutnya dengam satu tangan. "Gue ngantuk banget," kekehnya.
"Kita bahas lain kali aja ya, gue masih bingung dan gak percaya, takutnya ini semua hanya tipuan. Sedangkan korban selanjutnya adalah salah datu diantara kita. Kan gak lucu," sekali lagi iya terkekeh untuk mencairkan suasana yang sedikit menegang.
"Ngelawak lu," ketus Tiro.
"Tau tuh, semua orang panik dia malah becanda," sahut Jeno.