Tasya Story

Tasya Story
FIFTEENTH



*HANI POV


Pagi itu Hani berniat berkunjung kedesa tempat tinggal neneknya, berhubung waktu libur telah tiba, Bunda dan Ayah mengizinkannya pergi bersama supir keluarga mereka. Ada sedikit rasa kecewaan yang Hani rasakan. Liburan indah yang telah lama ia nantikan harus kandas karna kesibukan kedua orang tuanya.


Perjalanan yang selalu ia lewati dengan canda tawa dan menikmati hembusan angin yang membelai kulit putihnya kini tak lagi ia rasakan. Langit seolah mewakili perasaan gadis kecil yang terduduk diam sembari memeluk boneka kelinci pemberian Ayahnya di tengah-tengah kursi mobil yang kebesaran, bahkan terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang begitu mungil.


Terkadang Hani merasa asing di rumahnya sendiri, tak ada yang benar-benar peduli dengannya. "Kenapa Bunda dan Ayahku tak seperti Mak dan Abahnya Thalia" fikiran itu terus berputar dia kepalanya seolah-olah otak kecilnya adalah pusatnya.


"Aku benci Thalia, dia selalu di sayang Mak dan Abahnya, teman-teman juga hanya mau bermain dengannya. Kalian jahat! Aku benci!" Jerit Hani dalam hatinya.


Ketika turun dari mobil, seseorang yang tak sedang Hani ingin temui justru yang paling pertama menyambutnya dengan senyum bahagia yang ia yakini berasal dari kebahagian hidupnya. Oh, Hani sangat benci itu!


"Hani" panggilnya dari arah belakang. "Hani, aku punya boneka baru" ujarnya sembari mengangkat sebuah boneka lusuh dan kotor yang tak ada imut-imutnya sama sekali.


Boneka itu? Ah ya! Hani sering melihatnya di film-film. Boneka yang digunakan oleh orang-orang dalam permainan tradisional bagi mereka yang percaya tahayul.


"Boneka kamu jelek" hina Hani lalu berlalu pergi meninggalkan Thalia yang masih termenung setelah mendengar hinaannya.


"Kamu gak mau main sama aku?" Tanya Thalia.


Hani pura-pura tak mendengarnya, ia terus berjalan dan sesekali berlari kecil menjauhi Thalia. Ada sedikit rasa senang di hatinya karna telah membuat Thalia sedih.


***


"Jelangkung jelangsat, Di sini ada pesta, Pesta kecil-kecilan, Jelangkung jelangsat, Datang tidak diundang, Pergi tidak diantar" lagu yang unik pikir Hani, dan kebetulan juga dia sedang mengadakan pesta minum teh kecil-kecilan bersama boneka-boneka kesayangannya.


Nenek yang mendengar seseorang menyebut mantra yang terlarang itu segera mencari sumber suara. Dan benar saja, cucunya terus menerus mengulang mantra itu dari balik pintu kamarnya.


"Hani" panggil nenek, nadanya sedikit meninggi membuat Hani terlonjak kaget.


"Apa sih Nek" jawabnya kesal, hampir saja gelas teh milik Cuty --bonekanya-- jatuh.


"Kamu jangan nyanyi itu lagi yah" pinta Nenek, kemudian mendekat ke arah Hani dan menggiringnya ke tepi ranjang. "Udah malam, tidur yah. Minum tehnya di lanjut besok aja. Kasian cuty, dia udah ngantuk" ujar nenek menunjuk boneka kucing milik Hani yang sudah tergeletak menyedihkan di atas lantai kamarnya.


"Kenapa Hani gak boleh nyanyi" tanya Hani mengalihkan pembicaraan karna dia masih mau melanjutkan pestanya.


"Kalo nenek bilang gak boleh, ya gak boleh. Kamu sekarang tidur, nenek mau kembali ke kamar" sebelum keluar, nenek menyempatkan diri untuk menyelimuti Hani dan mengecup singkat kening cucu kesayangannya.


Hani memejamkan matanya, tapi tak lama. Setelah mendengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup kembali, Hani bangkit dari tempat tidurnya kemudian mengendap-ngendap menuju kamar pembantu yang berada di belakang.


Hani mencari bibi, orang yang dengan senang hati selalu menceritakan apapun kepada Hani, tanpa ia minta. Namun kali ini lain, sebab Hani aka meminta bibi untuk menceritakan perihal lagu yang ia nyanyikan tadi.


Toktoktok...


Hani mengetuk pintunya perlahan, lalu memutar knop pintu kemudia masuk ke dalam tanpa permisi. Hani mendapati bibi yang sedang bersiap untuk tidur.


"Non Hani, ada apa malam-malam ke kamar bibi?" Tanya bibi ketika melihat Hani yang entah sejak kapan sudah berada di dalam kamarnya.


"Bibi tau gak lagu ini, Jelangkung jelangsat, Di sini ada pesta, Pesta kecil-kecilan, Jelangkung jelangsat, Datang tidak diundang, Pergi tidak diantar. Bibi tau gak? Tau gak?" tanya Hani sangat antusias. Bibi yang mendengar itu terbelalak kaget, bagaimana mungkin nyonya kecilnya itu bisa mantra kramat didesanya.


"Emang kenapa non?" Tanya bibi.


"Nenek ngelarang Hani nyanyi itu, bibi tau gak kenapa nenek ngelarang?" Mau tak mau bibi harus menjelaskannya, karna kalau tidak, bisa-bisa Hani merengek sampai besok dan tek membiarkannya istirahat dengan tenang malam ini.


"Non tau rumah tua di ujung jalan sana?" Hani mengangguk, dia senang akhirnya bibi mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tanpa harus merengek-rengek.


"Dulu, anak dari pemilik rumah disitu sangat nakal. Dia selalu mengganggu orang dan ingin tahu urusan orang lain. Suatu hari, dia menemukan boneka tempurung kelapa, orang-orang biasa menyebutnya jelangkung. Dia mendengar dari orang-orang, bahwa jelangkung itu bisa memberi tahu apa yang pemainnya tanyakan. Singkat cerita, dia mulai memainkan jelangkung itu setiap ada fikiran yang mengganggunya, sampai suatu malam, dia lupa melakukan ritual pengembalian setelah ritual pemanggilan, karna kecerobohannya hidupnya menjadi tak tenang dan selalu terncam karna diikuti dan diganggu banyak arwah. Dia ditemukan mati tergeletak di ruang bawah tanah tempat dimana dia sering memainkan jelangkung" terang bibi kepada Hani.


Setelah mendengar penjelasan bibi Hani tersenyum karna senang lalu pergi begitu saja.


Setelah mendengar penjelasan bibi, barulah Hani bisa terlelap dan tak sabar menunggu esok.


***


"Thalia kamu bawa boneka kan?" Tanya Hani memastikan bahwa Thalia membawa boneka yang ia butuhkan.


"Hmm... iya bawa, memangnya kenapa?"


"Kita main jelangkung yuk" ajak Hani.


"Bukannya main jelangkung itu gak boleh ya, Emak sama Abah selalu ngingetin Thalia buat gak main jelangkung" ujar Thalia.


"Gak papa kok, kan gak ada yang tau. Disini cuma ada kita berdua"


Karna tak mau membuat Hani sedih, mau tak mau Thalia mengiyakan saja ajakannya.


"Yaudah yuk, aku udah siapin kertas dan pensil. Kamu tenang aja gak usah takut, aku hafal kok cara manggilnya dan cara mengembalikannya" ujar Hani membanggakan diri karna sejak tadi pagi dia sudah berusaha menghafal beberapa mantra yang harus di rapalkan saat permainan.


"Jelangkung jelangsat, Di sini ada pesta, Pesta kecil-kecilan, Jelangkung jelangsat, Datang tidak diundang, Pergi tidak diantar" mantra pertama berhasil Hani ucapkan namun tak terjadi apa-apa.


"Jelangkung jelangsat, Di sini ada pesta, Pesta kecil-kecilan, Jelangkung jelangsat, Datang tidak diundang, Pergi tidak diantar" mantra kedua juga berhasil ia ucapkan namun tetap tak terjadi apa-apa.


"Jelangkung jelangsat, Di sini ada pesta, Pesta kecil-kecilan, Jelangkung jelangsat, Datang tidak diundang, Pergi tidak diantar" saat mantra ketiga berhasil di ucapkan tiba-tiba lampu kamar Hani pecah, mereka berdua menjerit karna terkejut. Selanjutnya pintu kamar di ketuk sangat keras oleh seseorang. Namun Hani tak mau terlihat lemah di mata Thalia, ia dengan beraninya membuka pintu dan mendapati bibi yang berdiri di sana.


Bibi terdiam menatap Hani dan Thalia secara bergantian. Kemudian masuk ke dalam kamar dan menghampiri Thalia yang ketakutan di sudut kamar. Tangannya terangkat menyentuh leher Thalia lalu....


"Aaaaaa Hanii, Tolonggg" jerit Thalia dari ujung sana dan berusaha melepaskan tangan yang mencekik lehernya.


"Hahahahahaha, anak nakal hahahahahaha" itulah kata-kata yang diucapkan berung-ulang oleh bibi.


"Nenek, Nenek, Nenek" Hani berusaha berlari mencari Nenek ke seluru penjuru rumah namu tak kunjung menemukannya. Air matanya sudah menetes hingga membasahi Cuty yang sedari tadi tak ia lepaskan dari pelukannya.


Saat kembali ke kamarnya, Hani mendapati Nenek dan beberapa warga yang membawa Thalia keluar rumah dan bibi yang tertidur lemah di atas kasurnya, entahlah, mungkin Bibi pingsan.


"Sudah Nenek bilang jangan nyanyikan itu Hani!" Bentak Nenek ketika menyadari kehadiran Hani di ujung pintu.


"Nenek kan cuma ngelarang Hani nyanyi, dan Nenek gak ngelarang Hani mainin boneka Thalia" jawab Hani membela diri. Walaupun dia sadar ini salahnya,ia tak mau di salahkan.


"Kalau saja Nenek tak tepat waktu, nyawa Thalia akan melayang. Kamu tau, hah?"


"Mana Hani tau, Hani kan cuma mau main doang bukan mau bunuh Thalia."


Nenek tak habis fikir, cucunya selalu saja begitu, melakukan apapun yang dia mau tanpa memikirkan resiko kedepannya.


***


Keesokan Harinya, Hani bertemu dengan seorang anak gadis seusianya.


"Sepertinya aku kenal dia" gumam Hani sembari memperhatikan anak itu.


"Pembunuh!" Ujarnyaa tepat di kuping kiri Hani. Oh, sejak kapan anak itu berada di sisinya.


" K A U P E M B U N U H ! " ujarnya lagi lalu tertawa ria seolah-olah menikmati ekspresi ketakutan di wajah Hani. Tak lama, ia pun mulai menangis meraung-raung dan mulai menjambaki rambut Hani.


"Nenekkkkkkk haaa aaa aaaa Nenekkkkk" tangis Hani pecah berpadu dengan suara jeritan gadis di sampingnya.


"Hey, kamu apakan cucu saya" ujar Nenek dari dalam rumah dan berlari menghampiri cucunya yang berteriak kesakitan.


"Bibi, Biii, cepetan sini" seketika suasana rumah Nenek menjadi riuh mengundang warga sekitar karna jeritan dua gadis kecil ditambah lagi dengan teriakan dari Nenek dan Bibi yang berusaha memisahkan mereka.


"Thalia sayang, udah yah, udah" ujar seorang wanita paruh baya yang memcoba menenangkan anaknya. Semua orang yang ada di situ terkejud, apakah itu Thalia? Bagaimana mungkin!


"Thalia" lirih Hani mencoba menatap kedua manik coklat gadis yang ia yakini adalah teman mainnya kemarin. Thalia.


Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Thalia menjadi seperti itu? Hani memang membenci Thalia, tapi ia tak pernah memilik fikiran untuk menyakitinya, apalagi membuatnya menjadi seperti ini hanya dalam satu malam*.