Tasya Story

Tasya Story
TWENTY FIRST!



Tak ada yang menyangka sama sekali jika firasat buruk yang Tasya rasakan benar-benar terjadi. Pagi tadi, Tasya di hubungi ileh keluarga Hani.


Hani di temukan meninggal karna gantung diri di sebuah ruangan kosong di rumahnya sendiri. Kedua orang tuanya bilang, mereka tak melihat Hani sejak semalam dan keesokan paginya ketika di cari, Hani sudah meninggal dengan kindisi tubuhnya yang masih tergantung. Saat mereka masuk ke ruangan, ruangan itu yerkunci dari dalam dan yang anehnya lagi tak di temukan bangku atau apapun yang bisa di gunakan untuknya naik mengganyungkan diri. Namun, di bawah tubuh hani terdapat genangan air.


Polisi sudah dapat menyimpilkan jika dia naik mengganyungkan dirinya menggunakan es batu. Lalu beberapa jam kemudian es pun mencair menjadi genangan air.


Berbeda dengan Kate, dia melihat ada keganjalan disini. Memang tak ada satupun benda yang bisa digunakan untuk menggantungkan dirinya sendiri selain seutas tali yang masih menggantung di lehernya, namun Kate menemukan boneka yang tergeletak tepat di sudut ruangan . Kate juga bingung mengapa feeling Tasya bisa tepat sasaran. Setaunya Tasya hanya memiliki aura positif yang bisa dilihat olehnya, orang-orang yang indigo, dan arwah, karna terlihat sangat jelas mengalir di darahnya.


"Tasya," kate hanya mau meyakinkan dirinya. Tidak ada sedikitpun rasa curiga terhadap Tasya. "Apa lo tau sesuatu?" Kate bertanya.


"Enggak, gue gak tau apa-apa. Gue cuma ngerasa ada yang aneh aja. Gue juga gak kepikiran kalau Hani akan bernasib sama seperti Aldi," Tasya tak bisa lagi membendung air matanya. Cairan itu keluar dari mata sembab Tasya dan mengalir membasahi kedua pipinya.


"Bukan salah lo kok Tas, ini semua udah kehendak tuhan. Dengan atau tanpa arwah itu pun kalau sudah takdirnya Kate meninggal, yaudah. Lo gak boleh terus menerus menyalahkan diri lo sendiri yang bahkan gak tahu apa-apa," entah waktunya tepat atau tidak, tapi Tiro tak bisa membiarkan dirinya melihat Tasya yang selalu menyalahkan dirinya lalu mengungkit dan menyama-nyamakan kejadian ini dengan kejadian yang Aldo alami.


Selain Tasya, ada satu orang lagi yang meraaa sangat kehilangan. Jeno tak pernah membayangkan bagaimana hari-harinya tanpa kehadiran Hani. Nyinyirannya yang selalu membuat Jeno kesal. Sikap usil yang sama-sama mereka miliki untuk mengganggu teman-temannya yang lain. Hani adalah satu-satunya orang yang tak pernah merasa terganggu dengan gangguan Jeno. Saat bersama Hani, Jeno tak pernah merasa sendiri.


"Gue terakhir ketemu Hani kemarin. Kelakuan dia sedikit aneh sih, gue yakin banget ada yang dia sembunyiin dari kita.


Gubrakk...


Suara benda jatuh yang Jeno dengar itu berasal dari kamar Hani yang berada di lantai dua. Jeno segera berlari menghampiri gadis itu, saat pintu telah terbuka, Jeno menemukan Hani yang sudah tergeletak di bawah kasurnya.


Semenjak Hani memutuskan untuk membolos beberapa hari yang lalu, Jeno tak pernah absen menjenguk temannya ini. Walaupun terlihat baik-baik saja, tapi Jeno tahu ada sesuatu yang Hani sedang hadapi saat ini, entah itu masalah keluarga atau apapun itu.


"Hani lo gak pa-pa?" Jeno berusaha mengangkat tubuh Hani dan mendudukkannya di atas kasur.


Jeno menggeleng-gelengkan kepalanya heran, "ada-ada saja anak itu," batinnya.


"Itu kursi kok kebalik gitu sih, kamar lo juga kok berantakan, tumben lo jorok," begitulah Jeno. Jika bertemu dengan Hani, mulutnya tak pernah bisa berhenti untuk nyinyir ataupu hanya sekedar menghina Hani.


"Kan-kan, otak lo udah miring nih. Habis kepentok apaan lo?" Hani menaikkan sebelah alisnya tak mengerti apa yang sedang Jeno katakan.


"Pake piyama, sendal bulu-bulu tapi pake dasi. Gak jelas!" Lanjut Jeno.


"Lo tuh yang gak jelas, main masuk aja ke rumah orang. Langsung masuk lagi," ketus Hani. "Ngomong-ngomong, jangan cerita kesiapa-siapa ya Jen, gue malus," ujar Hani memohon dengan menyatukan kedua tangannya di depan dada.


Itulah percakapan terkahir Jeno dan Hani. Jeni masih ingat bagaimana bahagianya mereka kemarin sore menghabiskan waktu bersama hinggal larut malam. Jeno juga tak peenah menyangka itu adalah pertemuan terakhirnya.


"Li semua gak sadar?" Tanya Kate yang menyadari sedikit kejadian yang Jenk ceritakan pada pada mereka semua.


"Sadar apa? Gak ada yang aneh kok menurut gue," ungkap Tiro.


"Eh iya, bukanya Hani itu gak punya dasi, dia kan gak suka pakai dasi makanya gak pernah pakai," Tasya mulai merasa ada yang janggal juga.


"Itu dia maksud gue, kemarin juga dia baik banget, gak nyebelin kayak biasanya. Apa dia emang udah ngerencanain ini pas gue di rumahnya?" Jeni berbicara seolah sedang bertanya dengan dirinya sendiri.


"Bukan ngerencanain lagi, dia emang lagi percobaan bunuh diri Jen, tapi gagal dan kebetulan ada lo disitu yang malah ngebantuin dia," semua teman-temannya terkejud, bahkan tak percaya. Bagaimana munhkin gadis semanis Hani berbuat seperti ini.


"Gue rasa kita gak perlu ikut campur masalah dia, gue juga gak mau mencari tahu apa masalah Hani sebenarnya. Jujur gue capek! Seberat apapun masalah, bunuh diri itu bukan jalan keluar. Ini semua pilihan dia, dia fikir dengan cara seperti ini dia akan tenang? Dia bahkan gak akan ngerasain ketenangan lagi setelah ini," kedamaian yang Hani harapkan mustahil terwujud, memutus nyawa sendiri tanpa izin jelas perbuat terlarang.