
Sebelum membaca cerita ini, kita flasback yuk ke bab..... , disitu ada berita yang Tasya baca dari salah satu koran.
Happy reading!♡
***
"Gue rasa kita gak perlu ikut campur masalah dia, gue juga gak mau mencari tahu apa masalah Hani sebenarnya. Jujur gue capek! Seberat apapun masalah, bunuh diri itu bukan jalan keluar. Ini semua pilihan dia, dia fikir dengan dia mati hidupnya akan tenang? Dia bahkan gak akan ngerasain ketenangan lagi setelah ini," kedamaian yang Hani harapkan mustahil terwujud, memutus nyawa sendiri tanpa izin jelas perbuat terlarang.
"Kalian tenang aja, Hani gak benar-benar peegi kok. Gue kan udah bilang, dia tuh gak akan merasa tenang lagi setelah ini. Jadi dia masih ada disini, cuma gak bisa gabubg aja, kan ada Tasya," ujar Kate. Sebenarnya sejak tadi, di sudah melihat Hani yang berada yang sedang duduk di bangku taman depan rumahnya sendiri. Tubuh jangkunya kini terlihat lebih kurus dan kurang bertenaga, ditambah lagi dengan luka lebam di sekitar area lehernya terlihat sangat jelas. Kate beberapa kali melihat Hani mencoba mengulurkan tangannya meminta pertolingan namun segera ia tepis. Untung saja saat ini ia sedang bersama Tasya, jadi setiap dia mencoba mendekat, entah mengapa tubuhnya seolah tersengat aliran listrik dan menghilang seketika.
"Terus gimana?" Sama seperti Tasya, Jeno tak bisa diam saja membiarkan arwah Hani menggantung. Dia harus membantu Hani bagaimana pun juga.
"Mau gak mau, sulit ataupun mudah, kita harus bantu Hani," tegas Tiro. "Ini semua terjadi karna kesalahan kita, dimana hati lo? Apa li tega ngebiarin Hani menanggung ini semua? Seenggaknya kita bantu dis supaya arwahnya bisa tenang di alam sana."
"Ini semua bukan salah kita, ini semua salah dia!" Kate menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Terserah, mau dia ataupu kita yang salah, kita tetap harus membantu!" Ujar Tasya tak mau di bantah.
"Tau apa lo tentang ini semua? Apa bisa lo jelasin ke gue, apa hubungan lo sama anak kecil itu, hah?" Tanya Kate.
"Maksud lo apa? Gue gak tau apa-apa. Bahkan gue juga gak pernah lihat dia sebelumnya," jawab Tasya.
" P E M B O H O N G ! "
"Maksud lo apasih, bisa gak lo tuh to the point aja? Gue tau kalau lo tau semuanya tentang kita termasuk gue. Wajar kalo gue gak tau apa-apa!" Emosi Tasya mulai tersulut, karna secara tak langsung Kate menyalahkan Tasya atas kejadian ini.
"Wajar menurut lo? Wajar? Lo sadar gak, lo itu udah ngebunuh dia! Itu sebabnya dia mau lo mati, tapi gak bisa. Dia gak bisa bunuh lo, tapi dia bisa buat lo menderita dengan cara membunuh kita satu persatu!" Entah dari mana pemikirannya itu timbul. Kate merasa tak bisa mengontrol dirinya sendiri, seolah-olah dia sedang di jalankan oleh seseorang dari luar tubuhnya.
"Ko lo ngoming gitu sih?" Tasya tak menyangka jika Kate akan berbicara sekasar itu padanya.
"Kate!" Tiro membentak Kate, kate kemudian menoleh, menatap kedua mata Tiro dalam-dalam. "Gue tau lo bukan Kate, siapa lo?" Tanya Tiro dengan berteriak seraya memegang lengan Kate agar tak kabur.
"Hahahahaha hihihihihi hahahahahaha," Kate tak menjawab, dia terus menerus tertawa, kaadang terbahak-bahak kadang juga tawa yang sangat menyedihkan.
Jeno menarik rambut Kate perlahan agar wajahnya mendongak menatap balik wajahnya yang sedang marah. "Apa lo yang udah ngebunuh temen-temen gue?" Saat tau Kate sedang kerasukan, satu pertanyaan tang langsung timbul di pikirannya. Aldo meninggal karna kecelakaan sedangka Hani bunuh diri. Jeno mau memastikan apakah kejadian yang mereka alami ada sangkut pautnya dengan anak itu.
"Siapa yang membunuh? Aku gak ngapa-ngapain mereka kok, hahahaha," lagi-lagi dia tertawa sambil melompat-lompat dan bertepuk tangan, seperti sedang menikmati ketakutan di wajah mereka semua.
"JAWAB YANG BENAR!" ketika Tiro membentak Kate, tiba-tiba Kate tersadar. Dia kaget atas tindakan Tiro yang membentak tepat di depan wajahnya, lalu tangan Jeno yang masih setia menarik Rambutnya membuatnya sedikit pening. Tasya? Oh, apa yang terjadi apa yang terjadi pada gadis itu? dia terduduk tak berdaya di hadapannya membuat hatinya teriris. Kate memang paling tak bisa melihat Tasya menangis seperti ini.
"Kate, Kate lo gak pa-pa kan? Gue takut lo ninggalin gue juga kayak mereka," Tasya segera berhamburan memeluk Kate.
"Tadi gue kaya tukeran jiwa sama anak itu, dia nguasain tubuh gue, sedangkan gue diajak ke masa lalunya dia," ujar Kate dengan jari yang memijat pangkal hidungnya karna masih merada sangat pusing.
"Bisa gitu ya?" Seru Tiro kagumm.
"Keren," mata Jeno berbinar mendengar cerita Kate.
"Apa yang lo liat?" Tanya Tasya.
"Gue ngeliat dia di tarik sama perempuan yang gak gue kenal, dia tarik paksa dan di tengah koridor jampus, merema bertua ketemu sama lo."
"Terus, terus!" Jeno sangat tak sabar mendengar kelanjutannya.
"Anak itu nangis, dia udah gak bisa ngomong saking lamanya nangis. Dia cuma berharap lo nolongin dia, tapi nyatanya enggak. Jangankan menolong, noleh aja enggak! Jahat banget sih lo," ujar Kate pada Tasya.
"Karna bingung, perempuan itu membawa si anak sampai ke kamar mandi belakang kampus, dia tahu kalo kamar mandi itu udah lama gak di pake, makanya dia bawa kesitu. Dia coba nelfon orang tuanya buat minta tebusan, bukanya memberi tebusan untuk anaknya, orang tuanya malah melaporkan ini semua ke polisi atas tindak penculikam. Perempuan ini marah, dia malah ngebunuh si anak ini dengan cara di tenggelamkan di bak kamar mandi sekolah sampai kehabisan nafas," air mata Kate mulai mengalir ketika mengingat kembali apa yang ia lihat pada saat itu.
"Satu lagi, dia suka hujan, sama seperti Aldo. Itulah mengapa orang paling pertama yang dia ambil adalah Aldo. Orang yang awalnya begitu kagum dengan indahnya hujan di buat menjadi sangat membenci hujan," Kate mencoba menetralkan perasaannya agar bisa melanjutkan cerita.
"Karna pada saat hujan lah dia di culik, sudah sangat lama ia menunggu tutinnya hujan dan ketika hujan sudah turun, ternyata itu adalah hujan terakhirnya."
Kate sudah tak mampu menceritakannya lagi, dia tak bisa! Ucapan Kate mulai tak jelas, Tasya mengulurkan tangannya memeluk tubuh Kate yang bergetar hebat. Dia juga merasa sangat bersalah, namun tak ada satupun yang dia ingat dari kejadian itu.
Seingat Tasya, dia juga tak pernah mengalami kecelakaan yang mebuat ingatan menjadi buruk atau yang lebih parahnya lagi amnesia. Entahlah, saat ini tugasnya adalah menenangka Kate terlebih dahulu. Dia terlihat sangat membutuhkan dirinya saat ini.
"Tasya," panggil Kate di sela-sela isakannya.
"Hmm.." gumam Tasya.
"Apa lo pernah baca berita tentang seseorang yang memalsukan identitsanya?"
"Kok lo tau? Apa ada hubungannya dengan ini semua?" Tasya balik bertanya.
"Orang yang memalsukan identitasnya ini adalah pembunuhnya Tasya, sekarang lo udah inget?" Kate sanga yakin jika tafi ia juga melihat Tasya yang sedang membaca sebuah koran di rumahnya. Sebenarnya itu bukan sekedar berita, tapi itu adalah clue hanya saja Tasya tak menyadarinya. Bukan hanya sekali dua kali, tapi sudah banyak kali ia di beri ingatannya namun seperti ada yang menghalang-halangi itu semua.
"Iya, gue inget kok. Udah jangan di fikirin lagi ya Kate. Lo istirahat aja," ujar Tasya yang masih setia berada di sisinya.