
"Lo harus hati-hati Tas," lirih Kate memperingati Tasya.
"Gue kenapa emangnya?" Tanya Tasya bingung. Pasalnya, Kate hanya memberikan informasi yang setengah-setengah.
"Gue tau lo punya aura positif," terang Kate.
"Lo kok tau," tak ada yang tau jika Tasya memiliki aura positif selain dia dan keluarga Aldo. Namun, Tasya pun masih meragukan hal itu.
"Cuma nebak," jawab Kate sekenanya.
"Terus apa hubungannya dengan peringatan lo Kat? Justru karna gue punya aura positif gue bisa tenang dong , dia kan gak bisa nyentuh gue," seru Tasya.
"Tas, dia emang gak bisa nyentuh lo, tapi tidak dengan orang-orang yang lo sayang. Mungkin yang dia dapat akan lebih dari sekedar gangguan," ujarnya menjelaskan kekeliruan Tasya. Dirinya memamg aman tapi tidak dengan orang-orang di sekitarnya.
Saat itu juga tubuh Tasya menegang. Matanya membola namun tatapannya kosong karna terkejud dengan ucapan Kate. Kuku tangannya memutih. Dadanya naik turun guna mengatur nafasnya yang memburu. "Aldo," satu kata yang ia ucapkan mampu membuat teman-temannya yang mendengar merasa panik dan tanpa mereka semua sadari, seorang Kate tersenyum penuh arti. "Anak ini sangat cerdik," ujar Kate dalam hatinya.
"Aldo dalam bahaya Tas," lagi-lagi Kate memberikannya clue seolah-olah ia memang mengetahui seseuatu namun enggan untuk memberitahunya.
Kate menatap lurus manik coklat Tasya. Dia berusaha untuk tetap tenang. Kate sudah menduga ini sebelumnya. Jika Tasya tak bisa di sentuh, maka kemungkinan besar Aldo sedang dalam bahaya.
"Malam ini Aldo akan pulang ke rumah orang tuanya kan?" Tebak Kate dan di balas anggukan oleh Tasya. Jika kalian bertanya kemana perginya teman-teman Tasya yang lain, maka jawabannya yaitu, teman-teman Tasya semua ada di disana. Mereka semua hanya diam mencoba untuk mencerna kemana arah pembicaraan Kate dan Tasya.
"Hubungin dia, Aldo gak boleh kemana-mana malam ini," perintah Kate pada Tasya.
"Udah, tapi gak bisa. Handphone-nya mati."
"Kita harus bertindak, Aldo gak boleh keluar dari apartemennya. Tempat paling aman disini hanya apartemennya, karna di sana sudah di beri penangkal," lanjut Kate. Tasya semakin panik, ia sangat Khawatir jika Aldo kenapa-napa.
"Lakuin sesuatu Kat," Tasya memohon pada Kate, Tasya yakin jika Kate memiliki keistimewahan seperti keluarga Aldo. Buktinya dia mengetahui semua rahasia tentang kelebihannya dan kekurangan Aldo.
"Gimana kalo kita datangin aprtemennya," kata Tiro yang sudah mulai paham situasi apa yang sedang dihadapinya saat ini.
"Gue bawa mobil," seru Jeno mengangkat tangan kanannya yang menggenggam sebuah kunci.
"Tunggu apalagi?" Ujar Tiro kemudian segera naik ke kursi pengemudi setelah merebut kunci mobil dari tangan Jeno.
Sepertinya Dewi Fortuna sedang tak berpihak pada mereka. Baru saja beberapa menit yang lalu mobil yang Tiro kendarai menembus jalanan, kemacetan sudah lama menunggu mereka di depan.
Akhirnya setelah selama dua puluh menit mobil tak bisa bergerak maju maupun mundur, perlahan dapat kembali bergerak, "ini lurus atau belok Tas?" Tanya Tiro pada Tasya.
"Belok," lirih Tasya tepat di telinga Tiro, membuatnya sedikit tersentak lalu memilih kembali fokus pada kemudinya.
Tak lama setelah berbelok atas arahan dari Tasya, Tiro merasa ada yang aneh. "Apakah betul ini jalannya?" Walaupun tak pernah sekalipun berkunjung ke apartemen Aldo, rasanya Tiro pernah melewati jalan ini saat...
Tiiiitttt.... Tiro refleks menekan klakson mobil ketika melihat cahaya silau dari kendaraan lain di depannya.
Ngiunggg... angin terdengar begitu jelas karna mobil yang Tiro kendarai masih melaju dengan kecepatan tinggi dan belum sempat mengijak rem.
Ciiittttt... decitan mobil sangat keras ketika Tiro berhasil menginjakkan kakinya pada rem mobil.
Brrruuukkk... mobil baru bisa berhenti ketika dengan sengaja Tiro menabrakkannya ke pohon besar di atas trotoar.
"Sayang, padahal sedikit lagi kalian semua akan mati!" Kalimat itu terdengar begitu tajam di pendengaran Tiro. Ia sangat yakin jika itu adalah suara Tasya. Suara yang sama ketika Tasya memberi arahan untuk belok di pertigaan tadi.
"Kenapa-kenapa?" Semua orang yang berada dalam mobil terbangun setelah Tiro menabrakkan mobil pada tangkal pohon.
Tiro segera membalikkan badan kebelakang, menyalakan lampu mobil agar penglihatannya jelas. "Lo mau bunuh kita semua ya Tas?" Tanya Tiro dengan dengan wajah yang sudah memerah menahan emosi.
"Maksud lo apa?" Bukanya menjawab, Tasya malah balik bertanya membuat Tiro sedikit geram.
"Lo yang nyetir, kok lo juga sih yang nyalahin orang Tir," tanya Hani heran.
"Lo sendiri yang nabrakin mobil gue ke pohon, kok lo malah limpahin kesalahan lo ke Tasya sih," timpal Jeno.
"Belain aja terus," bentak Tiro pada kedua temannya. "Niat kita baik Tas, mau nolongin pacar lo yang dalam bahaya, dan lo dengan gak tau malunya mau bunuh kita semua. Salah gue apa Tas? Salah kita apa?" Tiro benar-benar mengeluarkan unek-uneknya. Jika bukan karna Tasya adalah sahabatnya, dia tak mau ikut campur dalam masalah ini.
Semua orang kemudia melirik Tasya, meminta penjelasan. Tidak mungkin jika saat ini Tiro sedang bercanda atau hanya sekedar mengarang cerita. Tiro bukan Drama King!.
"Sumpah gue gak tau apa-apa, gue juga gak ngerasa nunjukkin arah ke lo. Sejak macet di depan lampu merah sana, gue udah ketiduran. Gue juga udah bilang ke Kate buat nunjukkin arah jalan ke lo. Sekali lagi sumpah, gue gak tau apa-apa dan gue juga gak tau sekarang kita ada dimana," tangis Tasya pecah. Seharusnya saat ini ia sudah berada di samping Aldo untuk mencegahnya pergi. Namun entah apa yamg terjadi, dia juga bingung sekaligus sedih ketika di tuduh mau membunuh teman-temannya. Tak mungkin Tasya melakukan itu, Tasya sangat menyayangi teman-temannya.
Hani yang tak kuasa melihat Tasya di perlakukan kasar seperti itu kemudian menariknya ke dalam pelukannya. Mengusap-usap punggung wanita itu hingga merasa tenang.
"Gue percaya kok sama lo Tas, lo gak mungkin celakain kita semua," ujar Jeno sangat yakin.
"Bukan Tasya pelakunya Tir," tandas Kate.
"Terus siapa, hah? Lo? Lo? Atau lo?" Tunjuk Tiro berturut-turut pada Kate, Hani, dan Jeno secara bergantian.
"Dia berulah lagi," ucap Kate mantap. Matanya lurus kedepan tanpa menoleh sedikitpun. Semuanya terdiam. Hanya isakan tangis Tasya yang masih terdengar.
"Oke, kita belum terlalu jauh masuk ke wilayah ini. Kalo pun kita mau kembali, kita butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk di tempuh dengan berjalan kaki," ujar Tiro.
"Gak masalah, setelah sampai disana, kita bisa cari taxi atau angkutan umum ke apartemen Aldo," lanjut Jeno.
Saat hendak keluar, tiba-tiba hujan deras mengguyur. Mereka semua bingunng. Tak mungkin jika mereka harus memaksakan diri untuk berjalan sejauh itu dengan keadaan hujan yang sangat deras. Jika begitu, bukan hanya nyawa Aldo yang sedang terancam, mereka semua juga akan celaka. Selain jalan yang sedikit curam, sepanjang jalanan juga tak di beri penerangan sedikitpun, di tambah lagi dengan air hujan yang akan membuat jalan menjadi licin.
Tasya tak boleh egois, ia juga harus memikirkan keselamatan teman-temannya.