
Malam ini merupaka malam tersial kedua yang pernah Hani alami karna kecerobohannya sendiri.
Sebenarnya sudah lama ia ingin membuangnya, namun selalu ia urungkan. Setiap ia berniat membuang boneka itu, rasa bersalah selalu menghantui malam sunyinya lalu meningatkannya kembali akan kepingan memori masa kecilnya yang harusnya di penuhi dengan canda tawa dan kebahagian gadis seusianya.
Lamunan Hani terhenti ketika ia mendengar suara aliran air dari keran kamar mandi belakang. Kebetulan ia sedang berada di dapur, baru saja selesai makan malam. Sendiri.
"Pasti Bibi lupa lagi nutup keran air" gumam Hani kemudian berjalan menuju kamar mandi lalu menutup kerannya.
Setelah itu Hani segera membersihkan bekas makannya di meja makan tak lupa mencuci piring dan gelas bekasnya. Saat sedang mengeringkan tangan, ia kembali mendengar keran air yang mengalir. "Baru aja di matiin" gerutu Hani dalam hatinya.
"Siapa sih yang masuk kamar mandi gak nutup keran air" teriak Hani dari luar kamar mandi, tak mendengar jawaban. Ia pun pasrah dan kembali masuk untuk menutup keran.
Ketika telah keluar dari kamar mandi, dia kemudian segera masuk ke dalam kamarnya. Berniat untuk beristirahat setelah mengisi perutnya yang keroncongan.
Baru beberapa langkah masuk, Hani mendengar wastafel kamar mandinya terbuka, untuk yang ketiga kalinya ia masuk dan menutup keran wastafel kamarnya. "Tadi kamar mandi dapur, sekarang kamar mandi di kamar Hani, siapa sih yang udah pake tapi lupa nutup" keluhnya.
Setelah itu ia keluar dari kamar mandi, namun lagi-lagi langkahmya terhenti ketika mendengar suara dari keran air lagi, ia kemudiam berfikir "Apa kerannya rusak ya" ujarnya dalam hati lalu dan kembali kedalam, mematikan keran dan menempatkan tangannya tepat di bawah keran wastafel kamar mandinya lalu menunggi beberapa saat, siapa tahu kerannya akan terbuka lagi karna rusak.
"Gak rusak kok" gumamnya kemudian hendak berbalik keluar namun terhenti ketika lagi-lagi keran itu menyala. "Pasti rusak" dia yakin sekali keran itu rusak, karna tak lama setelah ditutup keran itu akan terbuka lagi dengan sendirinya lalu mengalirkan air seolah akan memabanjiri wastafelnya.
Saat tangannya hendak menyentuh keran, tiba-tiba benda keras terlempar mengenai belakang kepalanya hingga keningnya hampir menambrak kaca wastafel. Sakit, namun tak parah. Setelah kembali sadar, benda keras itu kembali terlempar tepat pada keningnya seolah-olah memintanya mendongakkan kepala.
Kepala Hani mendongak secara paksa menampilkan pantulan sosok anak kecil di cermin depan wajahnya dan lagi-lagi benda keras itu terlempar, namun kali ini tak menyentuh bagian kepala Hani karna dia berhasil menghindarinya. Namun, benda itu berhasil mengenai kaca tepat di hadapannya lalu seolah melemparkan serpihan kecil kaca hingga mengenai wajahnya.
Hani berusaha membalikkan badannya,lalu dia menemukan boneka yang sedang ia dan teman-temannya cari.
"Kakak cari aku ya?" Tanya seorang gadis kecil yang tiba-tiba muncul di samping boneka itu.
***
"Kate, lo pikun ya?" Terkadang Tasya di buat heran, apa bisa gadis sepintar Kate yang selalu di banggakan dosen sebenarnya adalah seorang gadis yang pelupa.
"Kate, woy ini masih lu kan? Atau bukan? Katakan sesuatu Kate!" Ujar Tasya lagi dengan nada lebaynya seolah-olah mencurigai seseorang yang berada di sampingnya sebenarnya bukanlah Kate.
"Kateeeeee" ujar Tasya lagi yang sudah kesal. "Oh, gue tau pasti lo mau ngasih gue surprise ya? Tapikan ulang tahun gue bulan depan. Tuh kan lupa lagi kan lo, rumah gue lupa, tanggal ulang tahun gue juga lupa, terus yang lo inget tuh apa? Siapa? Dimana?"
Kate tak menghiraukan segala upaya yang Tasya lakukan untuk membuatnya bicara, toh kalau dia menjawabnya hanya membuatnya semakin ribut saja, tak di jawab saja sudah sangat mengganggu apalagi jika di jawab. Huhh...
"Turun" mobil Kate berhenti tepat di depan rumah mewah Hani. Ia menginstrupsi Hani agar segera turun dari mobilnya, Tasya yang tak mengerti hanya patuh untuk segera turun.
Kate menarik tangan Tasya mendekati pagar rumah Hani, ungtunglah pagatnya belum terkunci, "Mungkin orang-orang di rumahnya belum pulang", fikir Kate.
"Kita mau ngapain sih Kat?" Tanya Tasya yang benar-benar bingung. Apa maksudnya semua ini, harusnya Kate mengantarnya pulang dengan selamat bukan malah berbelok haluan dan menuju rumah Hani yang jaraknya cukup jauh dari kediamannya.
"Lo bisa diem gak sih?" Pertanyaan Kate terdengar bukan seperti pertanyaan melainkan perintah untuknya untuk diam dan cukup mendengarkan apa arahan dan perintah dari Kate selanjutnya.
Setelah berhasil melewati pintu gerbang, Kate mulai berlari kearah pintu utama dirumah itu, dia heran, mengapa semua pintu tak ada yang terkunci. Seharusnya, jika dia memang benar-benar ingin melakukan sesuatu pasti dia akan memastikan tak ada seorangpun yang dapat menolongnya.
"Lo tau dimana kamarnya Hani?" Tanya Kate yang kebingungan setelah masuk, dia tak pernah mengira jika ada banyak sekali pintu di rumah ini, tak ingin mbuang banyak waktu akhirnya di bertanya.
Brakkk....
***
"Aaaaaaaaa" jerit Hani ketika melihat seorang anak kecil yang pernah ia lihat ketika sedang belajar bersama teman-temannya di kampus. Yap, anak kecil yang tek henti-hentinya meneteskan air dari rambut panjangnya yang membuat buku mereka semua basah dan disitu pulalah awal mula kejadian-kejadian tak masuk akal mulai menghantuinya kembali. Kembali!
"Pergiii" ujar Hani yang berusaha untuk membuka pintu kamar mandinya dengan cara mendorong pintu namun tak berhasil.
"Tolonggggg, buka pintunya, tolonggg!!" Ujarnya yang mualai terisak. "Gue mohon!"
"Pintunya di tarik kak, bukan di dorong" ujarnya seraya memperlihatkan senyum simpulnya.
Hani berusaha tak menghiraukan anak itu. Ia segera menarik knop pintu lalu berbalik, belum sempat dia melangkahkan kaki, tiba-tiba boneka tempurung tadi sudah berada di depan wajahnya, melayang-layang dan tak lama terlempar ke arahnya, lagi-lagi kening Hani menjadi sasaran anak itu.
Hani terdorong ke arah belakang hingga membentur ujung buthub lalu dia terjatuh kebelakang dengan kepala belakangnya yang terlebih dahulu menyentuh air yang entah sejak kapan sudah memenuhi buthubnya.
***
"Aaaaaaa"
"Tolonggggg, buka pintunya, tolonggg!!"
"Gue mohon!"
Kate dan Hani terkejud ketika masuk kedalam kamar Hani dan mendengar jeritan seseorang dari bilik kamar mandi. Kaki panjangnya berusaha secepat mungkin melangkah menuju sumber suara yang menjerit-jerit memohon pertolongan.
Saat hendak membuka pintu, pintu sudah lebih dulu terbuka menampilkan sosok Hani dan wajahn sudah pucatnya entah karna ketakutan atau kedinginan karna sudah terlalu lama berada di kamar mandi.
Sebelum Hani keluar, Tasya dan Kate terlonjak kaget lagi ketika Hani terdorong kembali masuk seperti ada sesuatu yang mendorongnya kebelakang membuatnya badannya terjatuh dan tenggelam di buthubnya sendiri.
***
Hani berusaha menaik turunkan tangannya agar tak tenggelam, namun apa daya, tenaganya sudah tak ada, dia juga sudah tak bisa berfikir lagi karna kepalanya yang terlalu sakit di tambah lagi pasokan udara di paru-parunya sudah mulai habis.
Dalam diam dia berusaha memohon pertolongan walaupun dia tahu tak ada seorangpun yang mampu mendengarnya.
Tawa ria anak kecil yang berlompat-lompat tak lupa dengan tepuk tangan ciri khas anak-anak begitu menggema di pendengarannya. Namun itu tak berlangsung lama, suara dobrakan pintu berhasil menghentikan tawa menyakitkan itu.
***
Brakkk...
Lagi-lagi Kate membuka pintu dengan cara mendobraknya, memaksa masuk ke dalam karna sudah tak tahan mendengar jeritan temannya yang sedang di permainkan oleh anak kecil dengan kejamnya.
Pemandangan menyedihka ia dapat ketika pintu berhasil terbuka. Serpihan kaca tajam bertebaran di lantai kamar mandi membuat bercak darah yang ia yakini adalah darah dari kaki Hani yang tak sengaja menginjaknya.
Kate dan Tasya berusaha mengangkat tubuh Hani yang sudah basah kuyup setelah tenggelam beberapa saat. Hampir saja nyawanya habis di tangan hantu itu.